Pengganti Calon Suami Azzalea

Pengganti Calon Suami Azzalea
MAAF!


__ADS_3

"Segarnya!" Randu melemparkan handuk bekas pakainya ke atas kasur. Azzalea yang baru selesai mengeringkan rambut, segera memungut handuk Randu, lalu meletakkannya di tempat yang seharusnya.


Hari sudah beranjak malam, dan semua rangkaian acara pernikahan Randu dan Lea di rumah keluarga Andreas sudah selesai. Tapi bukan berarti tidak ada acara lagi setelah ini, karena kata Mama Rika, nanti beliau akan menggelar acara di villa juga untuk para warga di kampung Eyang Wida. Dan juga ada acara satu lagi di ballroom hotel dimana tamu yang ahdir nantinya adalah teman-teman serta kolega bisnis Mama Rika.


Entahlah!


Membayangkan semua acara itu rasanya Lea sudah capek. Tapi kata Randu cukup dijalani saja karena itu adalah kemauan sang mama.


"Duduk disini, Lea!"


"Kau tadi sudah makan, kan?" Randu menepuk ruang kosong di sampingnya. Saat ini Randu memang sedang duduk di tepi ranjang Lea yang sudah berubah mebjadi ranjang pengantin sejak semalam . Mungkin bedanya semalam belum ada kelopak bunga di seantero kamar Lea.


"Sudah. Kan tadi aku makan bersamamu," jawab Lea yang masih berdiri di dekat pintu kamar mandi seraya menundukkan wajahnya.


"Oh, iya. Aku lupa!" Randu terkekeh dan kembali memanggil Lea yang tak kunjung menghampirinya.


"Lea!" Panggil Randu lagi.


"Ya!" Lea menatap sejenak pada wajah Randu, sebelum kemudian wanita itu kembali menundukkan pandangannya.


"Duduk sini!" Panggil Randu sekali lagi yang mulai gemas sekarang.


Lea melangkah ragu ke arah Randu sebelum tiba-tiba wanita itu bersimpuh di depan Randu.


"Lea, kamu kenapa?" Tanya Randu bingung. Randu dengan cepat membimbing Lea agar bangkit, lalu duduk di sebelahnya.


"Maaf!" Cicit Lea yang tiba-tiba sudah bersimbah airmata. Sebenarnya sudah sejak acara tadi Lea menahan tangisnya agar tak pecah. Dan sekarang, Lea tak bisa menahannya lagi.


"Maaf untuk?" Tanya Randu bingung.


"Untuk sikap ketus, kasar, dan semua sikap burukku kemarin-kemarin."


"Aku sidah meremehkanmu, selalu mencibirmu dan tidak pernah menghargai apapun yang kamu lakukan. Aku bahkan tak sedikitpun mengucapkan terimakasih kasih pada kau yang sudah tulus membantuku saat acara pertunangan-" suara Lea tercekat dan wanita itu kini menangis sesenggukan.


"Aku benar-benar malu padamu, Randu!"


"Aku merasa tak punya muka lagi saat berada di depanmu," cicit Lea lagi tanpa sedikitpun menatap pada Randu. Wanita itu terus saja menundukkan wajahnya,seolah menunjukkan kalau Lea benar-benar merasa malu pada Randu atas sikapnya di masa lalu.


"Tidak punya muka?"


"Lalu ini apa?" Randu malah terkekeh seraya mengusap wajah Lea. Namun Lea tetap saja tak berani menatap pada wajah Randu.


"Lea," Panggil Randu lembut.


"Iya," jawan Kea tetap menundukkan wajahnya.


"Ck! Coba tatap mataku! Atau minimal tatal saja wajahku!" Randu sudah menangkup gemas wajah Lea yangvterus saja menundukkan pandangannya.


"Enggak!' Lea menggeleng segan.


"Kenapa? Kau marah padaku?" Tanya Randu berprasangka.


"Sama sekali tidak!" Sanggah Lea cepat.


"Lalu?"


"Tatap mata aku!" Titah Randu sekali lagi, hingba akhirnya Lea mau mengangkat sedikit wajahnya, dan menatap pada kedua netra Randu.

__ADS_1


"Iya begitu!" Randu mengulas senyum tulusnya pada Lea yang malah kembali menundukkan wajahnya.


Ya ampun!


"Ck! Azzalea!" Randu kembali menangkup wajah Lea dan terus memaksa wanita yang sudah jadu istrinya tersebut untuk tak lagi menundukkan wajah.


"Tetap seperti ini, oke!" Ucap Randu seraya menatap ke dalam kedua netra Lea yang akhirnya mau membalas tatapan Randu.


"Kau tidak sakit hati atas sikap serta ucapanku di masa lalu?" Tanya Lea ragu.


Namun Randu dengan cepat menggeleng.


"Aku mencintaimu!" Ucap Randu bersungguh-sungguh.


"Kenapa?" Tanya Lea lagi.


"Apanya yang kenapa?" Randu balik bertanya bingung.


"Kenapa kau mencintaiku?" Lea memperjelas pertanyaannya.


"Memang harus ada alasan kenapa kita mencintai seseorang?"


"Tentu saja!"


Randu lantas mengendikkan kedua bahunya.


"Aku mencintaimu karena aku jatuh cinta padamu!" Jawab Randu aneh.


Lea hanya mengernyit lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lea juga bingung dengan jawaban aneh Randu, karena biasanya orang akan mengatakan alasan aku mencintaimu karena kau cantik, atau kau baik, atau karena kau manis.


Tapi ini, karena Randu jatuh cinta pada Lea?


Tak ada sama sekali penjelasan dari Randu!


"Ada apa? Jawabanku salah, ya?" Tanya Randu seraya tertawa kecil.


"Tidak!" Lea menggeleng dengan cepat dan gadis itu menghapus sisa-sisa airmata yang masih menggenang di sudut matanya.


"Aku sebenarnya juga tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta padamu. Tapi kata Mayra dan Haezel, aku mungkin mengalami yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan tak pernah ada alasan pasti juga kenapa seseorang bisa langsung jatuh cinta pada pandangan pertama."


"Mungkin itu juga efek lain dari aku yang kelamaan menjomblo," ujar Randu lagi seraya terkekeh.


Lea ikut tertawa kecil mendengar teori aneh dari Randu.


"Mungkin sebaiknya memang tidak usah kita pikirkan alasannya," tukas Lea yang langsung diiyakan oleh Randu.


"Ayo tidur dan beristirahat!" Ajak Randu selanjutnya pada Lea yang hanya mengangguk samar. Randu naik duluan ke ayas ranjang dan membersihkan terlebih dahulu kelopak bunga yang memenuhi ranjang Lea.


"Rasanya geli tidur di atas bunga," kekeh Randu sambil terusembersihkan kelopak bunga yang ternyata lumayan banyak juga. Lea ikut naik ke atas ranjang dan memvantu Randu membersihkan ranjang dari kelopak bunga.


"Sudah bersih-" Tangan Randu dan tangan Lea tak sengaja saling bertabrakan dan hal itu langsung membuat Lea salah tingkah.


"Silahkan tidur!" Ucao Lea sedikit tergagap, seraya betingsut mundur ke tepi ranjang.


"Kau tidak tidur?" Tanya Randu yang sudah menyalakan televisi.


"Iya, aku akan tidur di sini." Lea menunjuk ke tepi ranjang.

__ADS_1


"Tidak takut jatuh?" Tanya Randu yang sekarang sudah ganti berbaring miring ke atah Lea.


"Kita sudah suami istri, lho! Sudah sah!" Ujar Randu lagi mengingatkan.


"Iya, trus?" Tanya Lea pura-pura polos.


"Kan biasanya suami istri itu kalau tidur berpelukan," ujar Randu yang sebenarnya entah sedang menggoda atau memberitahu Lea.


"Begitu, ya?" Lea masih pura-pura polos.


"Iya!" Randu sudah kembali tidur telentang, lalu melipat kedua tangannya di belakang kepala dan memakainya sebagai bantal. Sementara Lea juga sudah berbaring di samping Randu sambil sedikit mebjaga jarak. Lea juga menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas dada.


"Filmnya bagus!" Gumam Randu yang sudah selesai memilih-milih film yang akan ia tonton.


"Itu film dewasa. Kenapa menonton film dewasa?" Komentar Lea seraya menyamankan posisi kepalanya di atas bantal.


"Kan kita sudah sama-sama dewasa!" Jawab Randu santai sambil kedua matanya tetap fokus pada layar televisi.


"Nanti kalau mau praktek juga tinggal buka baju," sambung Randu lagi yang langsung membuat wajah Lea memerah.


Sejenak Randu dan Lea tak saling bicara dan keduanya fokus pada adegan di film, dimana kedua tokohnya sedang melakukan for*play sebelum bercinta. Randu tetap fokus, sementara Lea mulai sedikit gelisah. Wanita itu beberapa kali mengusap telinga serta tengkuknya sendiri saat menyaksikan si pria di dalam film sedang mencecap dan menciumi telinga, tengkuk, lalu lehet si wanita.


"Aaaarrgghh!"


Des*han dari pria dan wanita di dalam film tiba-tiba menggema di kamar. Randu langsung terkekeh dan segera memelankan volume televisi.


"Tiba-tiba sedikit panas!" Ujar Randu seraya menanggalkan kausnya. Randu lalu melemparkan kausnya serampangan dan kembali menonton film tadi. Adegan di dalam film sudah semakin panas sekarang namun baik Lea maupun Randu masih sama-sama diam.


Randu menoleh ke arah Lea yang masih fokus melihat adegan di televisi. Tangan Randu lalu sedikit iseng dan bergerak ke arah Lea.


"Hah!" Lea tersentak kaget saat tangan Randu tiba-tiba sudah berada di atas pahanya. Lea juga refleks menyentak tangan Randu karena kaget. Namun bukannya marah, Randu malah tergelak.


"Kaget, ya?" Tanya Randu yang malah membuat Lea salah tingkah.


"Maaf, aku tak bermaksud!" Ucap Lea penuh sesal.


"Tidak apa-apa!" Jawab Randu santai. Randu lalu bangun dan sedikit menggeser tubuhnya ke arah Lea yang hanya diam.


Randu sudah semakin dekat ke arah Lea yang mendadak merasakan tibuhnya yang seperti lengket dengan kasur. Lea seolah tak bisa lagi bergerak, saat tiba-tiba Randu setengah berbisik,


"Aku cuma mau tanya apa guling di kamarmu cuma ada satu?"


"Hah?" Lea menoleh dan menatap bingung pada Randu.


"Aku terbiasa tidur sambil memeluk guling, tapi sejak tadi aku melohat gulingnya terus saja kau peluk," Randu menuding ke arah guling yang memang sedang dikekepi Lea sekarang.


"Eh," Lea kembali salah tingkah dan hendak memberikan guling di pelukannya pada Randu. Namun tanpa Lea duga, Randu malah sudah membuat gerakan cepat dan pria itu tiba-tiba sudah menarik Lea ke dalam pelukannya...


"Bagaimana kalau aku memelukmu saja sebagai pengganti guling malam ini?"


.


.


.


Modus!

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2