
"Om Randu!" Seru Zelyra saat Randu baru tiba di rumah Haezel yang masih menjadi satu dengan Analogy kafe milik kedua orang tua Haezel.
Eh, bukannya milik Oma dan Opanya Haezel, ya?
Entahlah, Randu juga bingung kafe itu milik siapa. Anggap saja sebagai kafe keluarga Biantara!
"Halo, Zelyra!" Randu langsung menggendong putri dari Haezel dan Mayra tersebut lalu mencubit pipinya dengan gemas berulang-ulang.
"Om Randu bawa apa itu?" Tanya Zelyra seraya menunjuk ke beberapa paperbag yang tadi dibawa oleh Randu.
"Hadiah! Untuk Zelyra!" Jawab Randu penuh semangat.
"Hah!" Zelyra langsung berekspresi kaget sekaligus lebay.
"Semuanya buat Zelyra?" Tanya gadis lima tahun itu dengan wajah yang sudah berbinar.
"Tentu saja! Cepat ambil!" Randu menurunkan Zelyra dari gendongannya dan gadis kecil itu langsung menghampiri semua paperbag yang tadi dibawa oleh Randu.
"Kau bawa apa untuk Zelyra-" Mayra yang baru keluar dari kafe langsung kaget melohat banyaknya hadiah yang dibawa Randu untuk Zelyra.
"Astaga! Kenapa kau memberikan banyak sekali hadiah untuk Zelyra, Randu? Ulang tahun Zelyra masih lama!" Ujar Mayra yang merasa kaget dengan hadiah Randu untuk Zelyra.
"Memangnya harus menunggu Zelyra ulang tahun dulu baru boleh membelikannya hadiah? Tidak harus, kan?" Tukas Randu seraya berekspresi santai.
"Dad! Lihat!" Zelyra berseru pada Haezel yang baru turun dari lantai dua.
Ya, rumah Haezel dan Mayra memanggil berada di atas kafe Analogy. Randu awalnya juga heran kenapa membangun rumah harus di atas atap begitu! Tapi kata Haezel itu untuk penghematan di lahan yang terbatas. Dan mereka juga memasang pagar pengaman di tangga saat dulu Zelyra masih balita, jadi mereka tak khawatir Zelyra akan terjungkal dari tangga saat bocah itu sedang aktif bergerak.
"Apa itu, Lyra? Boneka boba raksasa?" Tanya Haezel seraya menghampiri sang putri dan hadiah dari Randu yang sudah berserak tak karuan. Mayra bergegas membereskan kekacauan yang dibuat sang putri.
"Ada juga kuda poni, mainan make up!"
"Barbie dan koleksi gaun putri. Lalu ini." Zelyra menunjukkan satu paperbag berisi aneka snack dan camilan pada Haezel.
"Waaahhh! Lyra tak perlu jajan lagi sekarang, Dad!" Celetuk Zelyra merasa senang.
"Kau baru saja menghabiskan satu bulan gajimu hanya untuk membeli semua ini, Randu?" Tanya Haezel menatap tak senang pada Randu yang hanya meringis.
"Ya! Aku sudah boleh menjadi menantumu sekarang, Dad?" Randu balik bertanya pada Haezel dan Mayra yang turut mendengarnya sontak langsung batuk-batuk karena tersedak ludahnya sendiri.
Randu mau jadi menantu Haezel?
Sepertinya pria itu mulai sinting!
"Menantu itu apa, Dad? Dan kenapa Om Randu memanggil Dad pada Dad?" Cecar Zelyra dengan raut wajah keponya.
"Om Randu hanya sedang berkelakar, Sayang! Lyra main lagi, ya!" Jawab Haezel seraya menyuruh sang putri untuk kembali bermain bersama mainan yang dibawakan oleh Randu.
Sedangkan Haezel langsung mengajak Randu untuk duduk di kursi yang sedikit jauh dari Zelyra dan Mayra.
"Ada apa? Kau sedang ada masalah?" Tanya Haezel yang sepertinya sudah langsung paham.
"Tidak ada!" Jawab Randu berdusta.
__ADS_1
"Kau mau membohongiku? Coba saja kalau bisa!" Tantang Haezel yang langsung membuat Randu berdecak.
"Lea sudah pulang ke rumah," Randu akhirnya mengaku.
"Tapi dia pulang bersama Rayyen dan mereka akan menikah!" Lanjut Randu lagi bersamaan dengan Mayra yang sudah datang untuk menyuguhkan dua cangkir kopi untuk Randu dan Haezel.
"Terima kasih, Mayra!" Ucap Randu pada istri Haezel tersebut.
"Siapa yang akan menikah?" Tanya Mayra yang rupanya mendengar cerita Randu pada Haezel tadi.
"Lea dan Rayyen," jawab Randu seraya tersenyum kecut. Randu kemudian menyesap kopinya dan diam untuk beberapa saat.
"Jadi Rayyen Rayyen itu sudah kembali dan Lea membuangmu begitu saja?" Tanya Haezel seraya menatap prihatin pada Randu.
"Tugasku sebagai tunangan pura-pura memang sudah selesai!" Randu mengoreksi kalimat Haezel.
"Lalu kenapa kau tidak mengatakan perasaanmu yang sebenarnya pada Lea?" Gantian Mayra yang bertanya pada Randu.
"Sudah!" Jawab Randu cepat
"Aku bahkan mengatakannya di depan kedua orang tua Lea!" Lanjut Randu lagi.
"Lalu tanggapan kedua orang tua Lea?" Tanya Haezel dan Mayra kompak.
Randu tak langsung menjawab dan pria itu menghela nafas panjang terlebih dahulu.
"Uncle Daniel menyuruhku pergi dan tak usah menemui Lea lagi, karena menurutnya aku tak pantas untuk Lea," jawab Randu akhirnya seraya kembali tersenyum kecut.
"Ya, kau memang tak pantas untuk Lea karena kau terlalu tulus dan baik!" Celetuk Haezel yang langsung membuat Randu menatap tak mengerti ke arah sahabatnya tersebut.
"Kau tidak usah lagi mengusik hidup Lea-"
"Aku sudah tak mengusiknya!" Sergah Randu cepat.
"Iya! Tidak perlu nge-gas!" Seloroh Haezel yang malah terkekeh.
Teman macam apa itu!
"Kau juga tak usah menyelidiki soal Rayyen," sambung Haezel lagi.
"Apa maksudmu bicara begitu? Memangnya kau pikir selama ini aku menyelidiki hidup pria pengangguran yang tinggal di apartemen tengah kota itu? Semua transaksi keuangan yang dilakukan Rayyen, siapa yang menanggungnya? Lea!" Cerocos Randu yang malah mengungkapkan semua hal yang sudah ia selidiki dari Rayyen pada Haezel yang langsung memcibir.
"Kau baru saja buka kartu, Bung!" Haezel menahan tawa, lalu menyesap kopinya yang sedikit lain.
"Sayang!" Panggil Haezel pada Mayra yang sudah kembali menemani Zelyra bermain.
"Iya, ada apa?"
"Kau lupa memasukkan gula ke dalam kopiku-"
"Tukar saja!" Randu tiba-tiba sudah menukar kopinya dengan kopi Haezel, lalu pria itu meneguk kopi Haezel yang tanpa gula hingga tandas tak bersisa.
Oh, ya!
__ADS_1
Randu yang sedang frustasi!
"Kopiku kemanisan tadi! Aku mau protes pada Mayra sebenarnya tapi takut dia tersinggung dan menolakku menjadi menantunya," ucap Haezel yang langsung membuat Haezel dan Mayra saling bertatapan.
Ternyata patah hati membuat Randu mengalihkan orientasi s*ksualnya dari tertarik pada wanita dewasa menjadi tertarik pada anak-anak.
Bahaya sekali!
"Kau ingat bunyi pasal 290 KUHP, kan?" Haezel menatap aneh pada Randu yang langsung terlihat mengingat-ingat.
"Perbuatan cabul terhadap anak dibawah umur-"
"Bagus kalau kau ingat!" Sergah Haezel cepat yang langsung membuat Randu berdecak.
"Kau pikir aku pedofil!" Gerutu Randu yang sontak membuat Haezel tergelak.
"Jadi, kau mau menunggu Zelyra hingga genap dua puluh lima tahun? Kau sudah jadi kakek-kakek nanti!" Ledek Haezel pada Randu.
"Usia legal age itu dua puluh satu tahun! Kau malah menikahi Mayra di usia Mayra yang baru delapan belas tahun! Pedofil teriak pedofil!" Cibir Randu yang langsung membuat Haezel melengos.
"Aku menikahi Mayra agar dia bisa lanjut kuliah!" Kilah Haezel beralasan.
"Cih, alasan!" Cibit Randu sekali lagi.
"Ini kopinya. Pakai satu sendok gula!" Ucap Mayra seraya menukar kopi di depan Haezel dengan kopi yang baru ia buat.
"Berikan padaku! Ini tadi kopiku!" Randu mengambil kembali kopi yang hendak dibawa oleh Mayra.
"Tidak kembung minum dua cangkir kopi?" Tanya Mayra dengan ekspresi heran pada Randu.
"Tidak! Biasa juga minum satu teko di kantor," jawab Randu sombong.
"Kau tadi masak apa, May?" Tanya Randu selanjutnya pada Mayra.
"Mom masak ayam goreng saus asam manis, sayur bayam dan jagung, orak-arik telur, dan bakwan, Om!" Jawab Zelyra cepat yang langsung membuat Randu mengusap perutnya sendiri.
"Makan besar!" Seru Randu penuh semangat.
Randu lalu bangkit berdiri dan membawa Zelyra ke dalam gendongannya
"Ayo makan bareng Om Randu!" Ajak Randu pada Zelyra yang langsung bersorak senang.
"Sama kuda poni juga!" Zelyra mengangkat tinggi-tinggi boneka kuda poni pemberian Randu.
"Iya!!" Seru Randu dan pria itupun bergegas naik tangga masih sambil menggendomg Zelyra dan kuda poni Zelyra.
"Dia sedang patah hati," ujar Haezel pada Mayra yang hanya mengangguk. Pasangan suami istri itu lalu menyusul Randu dan Zelyra naik ke atas.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.