Pengganti Calon Suami Azzalea

Pengganti Calon Suami Azzalea
MENDADAK TIDAK MUAT


__ADS_3

"Tidak muat, Sayang!" Ucap Randu saat Lea meminta bantuannya untuk menaikkan ritsleting gaun yang akan Lea pakai ke acara pernikahan Rania dan Pandu.


"Muat! Kemarin aku coba masih muat!" Sergah Lea tak percaya.


"Tidak muat!"


"Lihat! Ritsletingnya tidak bisa naik!" Randu kembali berusaha menaikkan ritsleting gaun Lea, namun tetap tak berhasil.


"Aku salah pakai bra apa, ya? Kok bisa nggak muat?" gumam Lea yang langsung dengan cepat membuka branya, lalu mengganti dengan bra lain.


"Dada kamu membesar aku rasa," pendapat Randu seraya merem*s dada Lea untuk memastikan.


"Randu!" Tegur Lea yang langsung memukul tangan Randu dan suami Lea itu malah terkekeh.


Lea sudah kembali memakai bra yang baru dan menyuruh Randu untuk kembali menaikkan ritsleting gaunnya.


"Masih nggak bisa, Sayang! Nanti gaunnya sobek kalau aku paksa!" ujar Randu kembali memberikan laporan.


"Kok bisa, sih?" Lea masih bertanya-tanya.


"Dada kamu memang membesar," ujar Randu memberikan laporan setelah tadi ia memeriksa secara langsung.


"Salahmu!" Sergah Lea galak.


"Gara-gara setiap malam kamu remas dan kamu hisap!" Cerocos Lea lagi yang tetap menyalahkan Randu.


"Lalu mau bagaimana? Pakai gaun lain saja!" Ujar Randu memberikan saran.


"Nanti Mama marah! Ini kan gaunnya sama dengan yang dipake mama! Bagaimana, sih, kamu!" Sungut Lea yang masih berputar-putar di depan kaca sembari berpikir bagaimana mengakali gaunnya yang mendadak jadi tak muat.


"Aku gendutan, ya?" Tanya Lea yang masih memperhatikan tubuhnya di cermin.


"Iya, tapi dada kamu saja!" Jawab Randu seraya terkekeh.


"Pakai jaket aku mau? Buat nutupin bagian belakang," Cetus Randu tiba-tiba yang langsung membuat Lea mendapatkan ide.


Lea membuka lemarinya, dan mengambil blazer hiasan renda-renda yang untunglah warnanya netral. Jadi tak terlalu bertabrakan saat Lea kombinasikan dengan gaunnya yang berwarna hijau olive.


"Sudah!" Ujar Lea seraya berputar lagi di depan kaca untuk memastikan tak ada yang salah dengan penampilannya.


"Cantik!" Puji Randu seraya mendekap Lea.


"Randu!" Lea sedikit menggeliat.


"Apa? Cuma didekap! Takut sekali aku terjang," kekeh Randu yang langsung membuat Lea merengut.


"Kan tadi sudah!" Cicit Lea mengingatkan.


"Iya, siapa juga yang minta lagi? Kamu?" Goda Randu seraya mencolek hidung Lea.


"Ck! Kamu itu yang diam-diam menghanyutkan!"


"Dulu saja sok kalem di awal kita kenal. Udah nikah jadi buas!" Cibir Lea yang langsung membuat Randu tergelak.


"Maksudnya buas bagaimana?" Tanya Randu yang masih tergelak.


"Ya kamu itu! Buas kalau di ranjang! Kadang aku udah lemes masih aja diterjang," Cerocos Kea yang kembali membuat Randu terkekeh.


"Kamunya juga nggak nolak!" Randu sedikit merapikan rambut Lea.


"Ayo keluar!" Ajak Randu selanjutnya dan Lea hanya mengangguk.


Acara pernikahan Rania memang hanya digelar di rumah Mama Rika.


Hanya di rumah!


Tapi kalau rumahnya sudah besar seperti istana, ya jangan tanya dekorasinya seperti apa!


Menikah di rumah tapi melebihi dekorasi menikah di gedung!


Belum lagi keluarga Pandu yang masih ada darah biru dan keturunan ningrat, membuat acara semakin mewah,namun tetap sakral tentu saja karena adat istiadatnya masih kental.


"Loh, kok pakai jaket?" Tanya Mama Rika saat melihat Lea yang baru keluar bersama Randu.


"Bajunya mendadak sempit, Ma!" Jawab Lea sedikit meringis.


"Nggak bisa ditarik ke atas ritsletingnya, Ma!" Timpal Randu ikut-ikutan menjelaskan.

__ADS_1


"Kok bisa? Beberapa hari yang lalu kata kamu masih muat, Azza?" Tanya Mama Rika bingung.


"Iya, Lea juga nggak ngerti, Ma!"


"Kebanyakan kamu tiup jangan-jangan, Ndu! Makanya Azza mengembang," seloroh Mama Rika yang langsung membuat Randu terkekeh.


"Memangnya balon, Ma!" Sahut Randu serata merangkul Lea yang wajahnya mendadak berubah pucat.


"Kamu tadi sudah makan?" Tanya Randu berbisik pada Lea.


"Sudah, tadi kan makan sama kamu," jawab Lea yang tangannya mulai berkeringat.


"Aduh!" Lea sedikit terhuyung, namun Randu dengan cepat menahan tubuh istrinya tersebut.


"Kok aku mual, ya?" Bisik Lea pada Randu.


"Mual? Masuk angin?" Tanya Randu memastikan.


"Nggak tahu. Perut aku kayak diaduk-aduk pakai centong nasi," Bisik Lea lagi.


"Duduk dulu!" Randu akhirnya membimbing Lea untuk duduk lalu memberikan air hangat untuk istrinya tersebut.


Namun bukannya membaik, wajah Lea malah kian pucat.


"Azza, ayo kita jemput Rania!" Ajak Mama Rika seraya menghampiri Lea yang masih duduk dan menggenggam tangan Randu.


"Loh, kamu sakit, Azza?"


"Randu, Azza kenapa?" Cecar Mama Rika meminta penjelasan Randu.


"Randu juga tidak tahu, Ma! Kata Lea perutnya mual-"


"Pusing juga, Ndu!" Lea sudah menyandarkan kepalanya di pundak Randu.


Randu segera meletakkan punggung tangannya di kening Lea untuk mengecek suhu istrinya tersebut.


"Nggak demam," gumam Randu.


"Kamu bawa Azza masuk dulu sana! Nanti mama telponkan dokter!" Perintah Mama Rika yang terlihat sudah khawatir.


"Kok malah mikirin Rania!"


"Sudah, istirahat dulu saja di dalam!" Mama Rika membantu membimbing Lea untuk bangkit berdiri. Namun saat Lea dan Randu baru berjalan beberapa langkah, tubuh Lea tiba-tiba sudah terkulai dan hampir jatuh ke lantai.


Beruntung Randu sigap menahan dan segera menggendong istrinya tersebut, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


****


Lea membuka mata dan kepalanya masih sedikit berdebum. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan, dimana ada Randu, Mama Rika, serta Rania yang masih mengenakan baju pengantinnya.


"Mbak Azza, sudah bangun?" Tanya Rania memastikan.


"Kamu belum jadi nikah, Ra? Kok masih disini?" Tanya Lea yang langsung membuat Rania terkikik.


"Sudah, Mbak! Sudah sah!" Rania memamerkan cincin pernikahan yang kini tersemat di jari manis Rania.


"Acaranya sudah selesai?" Tanya Lea lagi yang sudah ganti menatap pada Randu dan Mama Rika.


"Para tamu masih menikmati hidangan," tukas Randu seraya menghampiri Lea.


"Kamu yakin, tadi pagi sudah makan?" Tanya Randu sekali lagi pada Lea.


"Sudah! Kan tadi aku makan sama kamu." Jawab Lea cepat.


"Tapi cuma sedikit," komentar Randu.


"Iya, makanannya rasanya aneh," cicit Lea yang sepertinya takut didengar oleh Mama Rika.


"Makanannya rasanya aneh katanya, Ma!" Lapor Randu pada Mama Rika dengan suara lantang yang langsung berhadiah cubitan dari Lea.


"Enggak, kok, Ma!" Sergah Lea cepat membantah laporan Randu.


"Sudah, langsung disuruh test saja, Mas!" Celetuk Rania yang langsung membuat Lea mengernyit bingung.


Test?


Test apa?

__ADS_1


"Rania, kamu ke depan sana! Temui para tamu!" Usir Mama Rika pada Rania yang kepo.


"Bentar, Ma! Rania kan penasaran! Mbak Azza beneran hamil apa enggak!" Tolak Rania beralasan yang langsung membuat Lea membelalakkan kedua matanya.


"Hamil? Siapa yang hamil?" Lea menatap linglung pada Randu yang tiba-tiba sudah mengeluarkan dua bungkus testpack dan menunjukkannya pada Lea.


"Tadi dokter sudah datang memeriksa kamu. Tekanan darahmu sedikit rendah, tapi selebihnya kau baik-baik saja. Lalu dokter juga menyarankan untuk testpack dulu karena gejala yang kau alami mirip gejala ibu hamil di trimester awal." Jelas Randu panjang lebar pada Lea yang masih terlihat shock.


"Jadi, kapan terakhir kau mendapatkan tamu bulanan?" Tanya Randu selanjutnya yang langsung membuat Lea mengingat-ingat.


Kapan Lea terakhir mendapatkan tamu bulanan?


Kenapa Lea tak bisa ingat?


Kapan?


Kapan?


"Kapan, Mbak?" Tanya Rania tak sabar.


"Aku lupa!" Jawab Lea seraya menatap linglung pada Randu, Rania, dan Mama Rika.


"Sepertinya sudah lama sekali," lanjut Lea lagi.


"Sebelum aku menikah. Saat di rumah Eyang," gumam Lea lagi mengingat-ingat.


"Wah, beneran hamil berarti!" Seloroh Rania penuh semangat.


"Bantu dia bangun dan melakukan test, Randu!" Titah Mama Rika pada sang putra.


Randu sigap membantu Lea untuk bangun lalu membimbingnya masuk ke dalam toilet.


"Aku belum mau punya anak, Ndu!" Lea memukul lengan Randu saat mereka berdua sudah berada di dalam toilet.


"Ssssttttt! Tidak boleh ngomong begitu!" Randu menyodorkan sebuah gelas untuk menampung air seni Lea.


"Ini semua gara-gara kamu!" Lea kembali menyalahkan Randu.


"Iya, gara-gara aku! Nanti aku tanggung jawab dan nggak bakal kabur!" Jawab Randu yang malah mengajak berkelakar.


"Sudah?" Tanya Randu pada Lea yang masih buang air kecil.


"Nih!" Lea menyodorkan gelas pemberian Randu tadi dengan wajah cemberut.


"Aku test langsung saja," ucap Randu yang sudah sangat bersemangat. Sementara Lea masih merengut pada Randu.


"Mas, udah belum? Kok lama?" Seru Rania dari luar toilet.


"Di test di luar saja kenapa? Rania dan Mama juga penasaran, Mas!" Seru Rania lagi.


"Sebentar!" Jawab Randu yang sudah membuka kemasan testpack lalu mencelupkannya dengan hati-hati ke dalam air seni Lea.


"Satu garis, satu garis, please satu garis saja!" Gumam Lea yang sudah ikut menunggu hasilnya.


Satu garis merah sudah terlihat dengan jelas, lalu beberapa detik kemudian satu lagi garis merah juga terlihat dengan sangat jelas.


Sangat jelas!


Sekarang ada dua garis merah di testpack yang menunjukkan kalau Lea sedang hamil.


Lea hamil!


"Yess!" Randu bersorak senang dan Lea langsung jatuh pingsan lagi.


Hah?


"Lea!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2