Pengganti Calon Suami Azzalea

Pengganti Calon Suami Azzalea
TERNYATA


__ADS_3

Lea masih ternganga saat Randu menjalankan mobil dan masuk ke halaman rumah besar bernuansa klasik tersebu.


"Ini rumahmu?" Tanya Lea pada Randu.


"Bukan! Ini rumah kedua orangtuaku," jawab Randu seraya membuka sabuk pengaman.


"Ayo turun! Kau bisa istirahat dulu sebelum kita ke rumah sakit," ajak Randu pada Lea yang masih melongo.


"Psssttt!!" Randu menggerakkan tangannya di depan wajah Lea.


"Apa?" Jawab Lea tergagap.


"Ayo turun! Kenapa malah melamun?" Ajak Randu sekali lagi seraya membantu melepaskan sabuk pengaman Lea.


"Aku bisa sendiri!" Tolak Lea yang langsung dengan cepat melepaskan sabuk pengamannya, lalu turun bersama Randu dan masuk ke dalam rumah besar tadi.


"Mas Randu, sudah pulang?" Tanya seorang wanita paruh baya yang berpakaian ala pelayan. Sepertinya itu adalah maid di rumah besar ini.


"Iya!"


"Bagaimana kabarnya, Mbok Yah?" Randu tanpa canggung memeluk wqnita paruh baya tadi seraya bertanya kabar dan beberapa hal lain.


"Baik, Mas!"


"Rania di rumah sakit?" Tanya Randu selanjutnya.


Rania adalah adik Randu seingat Lea.


Eh, benar atau tidak, ya?


"Belum pulang kuliah, Mas!" Jawab maid yang dipanggil Mbok Yah oleh Randu tadi.


"Mama di rumah sakit sendiri berarti?" Tanya Randu memastikan.


"Ada maid yang menjaga Nyonya, Mas!"


"Oh." Randu hanya membulatkan bibirnya.


"Ini siapa? Istri Mas Randu?" Tanya Mbok Yah selanjutnya.


"Hah? Bukan, Mbok!" Jawab Lea cepat.


"Calon," jawab Randu santai.


"Ck! Calon apa, sih!" Gumam Lea seraya menatap tak senang pada Randu.


"Calon istri! Kan kita sudah tunangan," ujar Randu yang malah merangkul pundak Lea yang langsung menggeliat-geliat.


"Wah, sudah tunangan, Mas Randu? Kok nggak ngabarin ke sini?" Tanya Mbok Yah yang terlihat kaget sekaligus senang.


"Acaranya dadakan, Mbok!" Ujar Randu menjelaskan.


"Tapi nanti menikahnya disini dan tidak dadakan, kan?" Tanya Mbok Yah lagi.


"Iya, tentu saja!" Jawab Randu cepat.


"Siapa juga yang mau nikah sama kamu," gumam Lea dengan nada sinis pada Randu.


"Kenapa? Kau ingin istirahat?" Randu tiba-tiba sudah mengacak rambut Lea


"Randu!" Geram Lea pada Randu yang malah terkekeh tanpa dosa.


"Mbok,tolong antarkan Lea ke kamar, agar bisa istirahat!" Titah Randu pada Mbok Yah yang langsung mengangguk.

__ADS_1


"Mari, Mbak Lea!" Ajak Mbok Yah pada Lea yang masih menatap Randu dengan sengit.


"Sana istirahat!" Ucap Randu pada Lea masih dengan raut tanpa dosa. Lea tak protes lagi dan memilih untuk mengikuti langkah Mbok Yah.


Rumah besar milik orang tua Randu ini memang hanya terdiri dari satu lantai. Tapi bangunannya begitu besar dan luas. Lea tak berhenti mengedarkan pandangannya, saat Mbok Yah mengajaknya ke deretan kamar yang di depannya langsung berhadapan dengan kolam panjang.


Aneh sekali!


Ada beberapa kamar di tepi kolam tersebut. Lea juga tidak tahu itu kamar siapa saja dan anggota keluarga Randu ada berapa banyak.


"Inj kamar khusus tamu, Mbak!" Ujar Mbok Yah memberitahu Lea yang masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling kolam yang memang terlihat asri dan memanjakan mata.


Kalau kamar Mas Randu, Mbak Rania, dan Nyonya ada di sana," ujar Mbok Ya lagi menunjuk ke sisi lain bangunan yang terdapat taman lumayan luas.


"Randu berapa bersaudara, Mbok?" Tanya Lea yang mulai kepo dengan keluarga Randu.


"Dua bersaudara. Mbak Rania, adik Mas Randu masih kuliah semester enam," terang Mbok Yah.


"Mas Randu itu tak pernah membawa pacar ke rumah, Mbak! Baru Mbak Lea ini yang dibawa ke rumah," cerita Mbok Yah lagi.


"Masa, sih?" Gumam Lea tak percaya.


"Terus Mas Randu juga jarang pulang ke sini sejak keluarganya pindah ke sini." Ujar Mbok Yah lagi.


"Memang sebelumnya keluarga Randu tinggal dimana?" Tanya Lea lagi pada Mbok Yah.


Lea dan Mbok Yah sudah tiba di depan kamar yang akan menjadi kamar Lea malam ini.


"Di kota S," jelas Mbok Yah.


"Tapi rumah yang di kota S sudah dijual. Jadu Mas Randu tinggal di apartemen katanya," jelas Mbok Yah lagi.


"Ya! Dia tinggal sendiri di apartemen, Mbok! Kenapa orangtuanya tudak memberikan maid untuk Randu? Bukanlah maid disini ada banyak?" Tanya Lea lagi semakin penasaran.


Pria sekaya Randu, malah bekerja sebagai detektif dan tinggal di apartemen standar tanpa maid sama sekali. Malah terkesan seperti pria kere.


Apa maksudnya coba, Randu menjalani hidup semacam itu?


"Mas Randu yang tidak mau, Mbak!" Jaeab Mbok Yah seraya terkekeh.


"Sejak dulu,Mas Randu itu gaya hidupnya selalu sederhana, padahal fasilitas dari Nyonya berlimpah." sambung Mbok Yah lagi. Lea hanya manggut-manggut sebelum kemudian gadis itu pamit pada Mbok Yah untuk beristirahat.


****


Tok tok tok!


Lea mengerjapkan matanya, saat telinga gadis itu menangkap suara ketukan di pintu kamar.


Segera Lea meraih ponselnya di atas nakas untuk melihat sekarang jam berapa.


Eh, di dinding ada jam besar yang menunjukkan pukul tiga sore padahal.


Tok tok tok!


"Lea! Kau masih tidur?" Itu adalh suara Randu dan Lea bergegas bangun untuk membuka pintu. Namun saat Lea membuka pintu dan mendapati Randu yang sudah rapi, sesaat Lea merasa seperti gelandangan sekarang.


"Sudah bangun?" Tanya Randu memindai Lea yang masih bermuka bantal. Mana Lea belum cuci muka juga!


Hadeeeeh!


"Iya udah buka pintu berarti udah bangun! Kamu pikir aku ngelindur?" Jawab Lea bersungut.


"Ba!"

__ADS_1


Lea sontak terkejut saat seorang gadis berperawakan mungil tiba-tiba muncul dari balik punggung Randu.


Ya ampun!


"Jadi ini yang namanya Mbak Lea, Mas?" Tanya gadis itu dengan suara medok.


"Iya!" Jawab Randu singkat.


"Cantik, ya!" Puji gadis itu yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Lea dan menggamit lengan Lea.


"Ini Rania, adikku," ujar Randu memperkenalkan Rania pada Lea yang langsung membulatkan bibirnya.


"Aku belum mandi, Rania!" Lea melepaskan gamitan lengan Rania karena merasa canggung.


"Yaudah, Mbak Lea mandi saja dulu! Nanti baru kita ke rumah sakit buat jenguk Mama."


"Nanti Mama pasti seneng banget dan langsung sembuh kalau lihat Mas Randu bawa pulang calon istri cantik begini," Cerocos Rania begiti antusias.


"Iyalah langsung sembuh! Orang sakitnya cuma pura-pura!" Gumam Randu yang lumayan keras untuk di dengar oleh Lea. Tentu saja hal itu langsung membuat Lea mengernyit.


"Mama sakit beneran, Mas! Bukan pura-pura!" Sergah Rania yang rupanya juga mendengar gumaman Randu.


"Badannya Mama itu demam tadi malam! Makanya Rania langsung membawanya kd UGD dan menelepon Mas Randu!" Cerocos Rania menceramahi Randu. Lea benar-benar ingin tertawa sekarang melihat Randu yang tinggi besar diceramahi oleh adiknya yang mungil.


"Iya, iya!" Jawab Randu seraya mengacak rambut Rania.


"Yaudah kamu mandi aja dulu, Le!" Randu mengangsurkan sebuah paperbag pada Lea.


"Aku bawa baju ganti kok di tas," ujar Lda memberitahu Randu. Lagipula, Lea merasa tak nyaman jika harus memakai baju baru atau baju orang lain yang mungkin tak akan sesuai seleranya.


"Pakai saja!" Paksa Randu.


"Memang kenapa? Baju yang itu ada sumpalan-"


Randu tiba-tiba sudah membekap mulut Lea sebelum kalimat Lea selesai.


"Apa, sih?" Protes Lea mendelik pada Randu.


"Kau tak perlu lagi pakai sumpalan!" Bisik Randu di telinga Lea.


"Ciyee, udah bisik-bisik!"


"Rania tunggu di depan aja, ya!" Pamit Lea yang sudah ngacir pergi meninggalkan Randu dan Lea.


"Lepas!" Ronta Lea seraya melepaskan tubuhnya yang ternyata juga sudah didekap Randu.


Ck! Cari kesempatan sekali!


"Cepat mandi!" Titah Randu sekali lagi pada Lea bersamaan dengan ponsel pria itu yang berdering.


"Iya, aku mandi!" Jawab Lea bersungut.


"Angkat itu telepon! Berisik!" Pungkas Lea sebelum gadis itu menutup pintu kamar dengan keras hingga membuat Randu sedikit terlonjak.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2