
Lea baru pulang dari mengantar pesanan donat, saat ia melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah Eyang Wida.
Siapa yang datang?
Lea segera masuk ke teras, dan lagi-lagi gadis itu harus menundukkan wajahnya, saat melihat Randu yang sudah duduk di teras rumah Eyang Wida.
Ya ampun!
Lea kira rencana Rania untuk datang ke rumah Eyang Wida itu hanya kelakaran saja! Ternyata....
"Baru pulang?" Sapa Randu pada Lea yang langsung salah tingkah.
"Iya, habis antar pesanan kue," jawab Lea dan Randu hanya mengangguk, lalu sibuk mengutak-atik ponselnya lagi.
"Eh, Mbak Azza sudah pulang!" Celetuk Rania yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
"Ayo masuk, Mbak!" Ajak Rania selanjutnya seraya menggandeng tangan Lea, lalu mengajaknya masuk ke rumah Eyang Wida. Sementara Randu tak beranjak sedikitpun dari kursi teras dan pria itu juga tetap fokus pada ponselnya.
"Jadi kalian sudah saling kenal sebelumnya?" Tanya Eyang Wida yang melihat keakraban Rania dan Lea.
"Sudah, Eyang!" Jawab Rania dan Lea serempak.
"Mbak Lea ini kan sebelumnya tunang-" Lea dengan cepat membungkam mulut Rania yang hampir mengatakan pada Eyang Wida kalau ia pernah bertunangan dengan Randu.
Ya ampun!
Itu hanya sandiwara!
"Kenapa, sih, Mbak?" Tanya Rania bingung.
"Nggak apa-apa!" Jawab Lea salah tingkah seraya tersenyum kaku.
"Jadi, tadi disini udah lama? Kok nggak ngabarin dulu, sih? Aku kan belum bikin donatnya," Cerocos Lea mengalihkan pembicaraan.
"Oh, nggak usah, Mbak!"
"Lea dan Mas Randu sudah belanja bahan-bahan donat tadi, nanti kita bikin di villa saja rame-rame biar seru!"
"Kemarin dua hari Rania kan foto pre wedding sama Mas Sayang-"
"Eh, Mas Pandu maksudnya," Rania terkikik sendiri.
"Jadi Rania nggak bisa kesini nyamperin Mbak Lea. Jangan dikira Rania ngambek sama Mbak Lea, ya! Rania nggak ngambek, kok! Rania cuma lagi foto preweedding aja kemarin," Cerocos Rania panjang lebar yang hanya membuat Lea mengangguk sekaligus menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Memang kapan Lea berpikir kalau Rania ngambek padanya?
"Jadi, foto prewedding-nya udah kelar?" Tanya Lea memastikan.
"Udah dong! Nanti kita ke villa bikin donat, ya!" jawab Lea antusias.
"Kenapa bikinnya nggak disini saja?" Tawar Lea yang merasa sungkan jika harus kembali ke villa. Lea masih tak punya muka di depan Randu.
"Ck! Di villa lebih luas, Mbak!" Sergah Rania beralasan.
"Eyang nanti ikut ke villa, ya!" Ajak Rania juga pada Eyang Wida.
"Eyang disini saja, Ran! Masih mau cabut-cabut rumput di depan," tukas Eyang Wida beralasan.
"Yah!"
"Eyang juga sudah bosan makan donatnya Lea. Sakit gigi!" Ujar Eyang Wida lagi.
"Kan udah Lea kasih yang polosan, Eyang! Masa masih sakit gigi?" Cicit Lea yang sontak membuat Rania tergelak.
"Pisang kukus sama ubi rebus lebih enak, ya, Eyang?" Tanya Rania sok tahu.
"Betul itu!" Jawab Eyang Wida seraya mengacungkan jempolnya.
Ternyata benar kata para warga, Rania adalah gadis supel yang mudah bergaul dengan siapa saja.
"Yaudah, ayo langsung ke villa, Mbak! Keburu sore nanti!" Ajak Rania akhirnya pada Lea.
__ADS_1
"Aku belum masak buat Eyang-"
"Tadi Eyang sudah dibawain makanan sama Nak Ran, Lea!" Sela Eyang Wida cepat.
"Oh," Lea akhirnya tak punya alasan untuk mengelak lagi.
"Eyang yakin tak mau ikut?" Tanya Lea sekali lagi masih berharap.
"Eyang di rumah saja!" Jawab Eyang Wida bersungguh-sungguh.
"Ayo, Mbak!" Ajak Rania sekali lagi.
"Iya! Peralatannya sudah ada juga di villa?" Tanya Lea memastikan.
"Udah komplit! Cuma tangannya Mbak Lea aja yang belum ada!" Jawab Rania seraya terkekeh.
Lea akhirnya berpamitan pada Eyang Wida, lalu mengekori Rania keluar dari rumah Eyang Wida. Dan Randu masih tetap di posisinya tadi sambil main ponsel.
"Ayo, Mas! Jangan liatin ponsel terus!" Ajak Rania pada sang kakak.
"Siap!" Jawab Randu yang langsung berpamitan pada Eyang Wida.
Randu lalu menyusul Rania dan Lea yang sudah terlebih dahulu masuk ke mobil.
****
"Udah bisa dibuletin?" Tanya Rania setelah Lea selesai menguleni adonan donat.
"Belum! Tunggu mengembang dulu tiga puluh menit," jawab Lea seeaya menutup baskom berisi adonan dengan serbet basah.
"Crew fotografinya mana, Ra? Kok nggak kelihatan?" Tanya Lea karena mendapati villa yang sepi. Hanya ada Lea, Rania, Randu, dan satu lagi pria yang sepertinya adalah calon suami Rania.
"Udah pada pulang duluan, Mbak? Kan foto prewedding-nya juga udah kelar," jawab Rania santai.
"Trus nanti yang makan donatnya siapa? Aku udah bikin takaran banyak tadi."
"Kan ada Mas Randu! Kemarin saja satu box donat coklat dia habisin sendiri. Eh, masih nyomot yang warna warni juga," cerita Rania seraya terkekeh.
"Tenang saja! Bakal kemakan semua donatnya dan tidak akan ada yang terbuang percuma! Nggak baik buang-buang makanan," Cerocos Rania lagi berkata-kata dengan bijak.
"Diajak main catur malah tidur!" Gerutu Randu yang tiba-tiba sudah muncul di dapur.
"Kenapa, Mas?" Tanya Rania yang mendengar gerutuan Randu.
"Itu, Mas sayangmu! Diajak main catur malah ketiduran!" Jawab Randu dengan raut wajah kesal.
Rania sontak tergelak mendengar laporan Randu.
"Mas Pandu kan memang hobi tidur, Mas! Kadang kalau lagi video call sama Rania itu dia malah tidur juga, ponselnya masih menyala," cerita Rania lagi masih sambil tergelak.
"Trus donatnya mana, Rania?" Tanya Randu seraya celingukan mencari donat.
"Masih nunggu adonan ngembang kata Mbak Azza."
"Kenapa nggak ditiup aja biar cepat ngembang, ya?" Gumam Rania yang sontak membuat Lea menahan tawa. Namun Lea tak benar-benar tertawa karena ada Randu dan Lea masih merasa tak enak hati pada abang dari Rania itu.
"Memangnya kamu pikir balon?" Sahut Randu seraya membuka kemasan meses warna coklat di dalam plastik, lalu menuangnya ke mangkuk dan menyendokinya.
Lah!
Nggak sakit gigi memang?
"Mas, kenapa nggak balikan sama Mbak Azza aja, sih? Kan Mama juga udah suka sama Mbak Azza!"
"Trus satu-satunya cewek yang pernah Mas Randu bawa ke rumah buat dikenalin ke Mama itu juga cuma mbak Azza!" Cerocos Rania panjang lebar yang entah sedang mengompori atau memberikan saran.
"Kan aku sudah bilang, kalau sebelumnya itu kau nggak pernah punya pacar! Jadi mau bawa pulang siapa?" Sahut Randu seraya berdecak.
"Iya, trus kenapa malah putus sama Mbak Azza kemarin? Kenapa nggak lanjut aja?" Cecar Rania lagi.
"Azza mau fokus pada karienya!" Jawab Randu yang entah mengapa malah ikut-ikutan memanggil Lea dengan sebutan Azza.
__ADS_1
Sedangkan Lea tetap membisu dan sedikit bertanya kenapa Randu memakai alasan Lea sibuk dengan karier alih-alih berkata jujur kalau alasan Randu dan Lea putus adalah karena memang kemarin itu mereka hanya sandiwara. Randu seolqh sedang menutupi keburukan Lea di depan keluarganya. Kenapa?
"Ya Mas Randu dukung kariernya Mbak Azza, dong! Bukan malah diputusin!" Omel Rania pada Randu yang hanya berdecak.
"Mas Randu buatin Resto kah. Atau kedai donat kah untuk Mbak Azza kalau nanti udah jadi istrinya Mas Randu!"
"Kayak Mama kemarin yang mau beli B&D Resto biar bisa mecat Mbak Azza."
"Hah?" Lea sontak teenganga dengan cerocosan Rania.
"Kenapa Mama kamu mau mecat aku dari B&D Resto?" Tanya Lea bingung.
"Biar Mbak Azza jadi pengangguran trus mau nikah sama Mas Randu," jawab Rania jujur yang sekali lagi langsing membuat Lea ternganga.
"Mama ya gitu orangnya, Mbak! Kalau mau sesuatu selalu totalitas!"
"Mas Randu itu yang payah, nggak bisa jaga hubungan dia sama mbak Azza. Trus malah kemarin juga sok-sokan bilang mau bawa mantu lain buat Mama! Tapi mana? Nggak ada, kan?"
"Udah! Balikan aja sama Mbak Azza! Rania dukung, kok!" Cerocos Rania panjang lebar seolah gadis itu tak bernafas.
"Kata siapa nggak ada! Sudah ada dan Mas sudah mau melamarnya setelah besok kita pulang!" Jawab Randu tegas yang langsung membuat Lea batuk-batuk karena tersedak ludahnya sendiri.
"Maaf, aku ambil minum dulu!" Izin Lea seraya meninggalkan Randu dan Rania yang masih berdebat
"Sudah ada? Benar?" Tanya Rania memastikan.
"Iya!" Jawab Randu yakin.
"Ini prewedding kamu kan udah selesai! Sore ini Mas mau pulang, biar besok pagi Mas bisa langsung melamar calon istri mas!" Ucap Randu lagi dengan nada sungguh-sungguh dan sama sekali tak ada keraguan di sana.
Ternyata benar!
Randu sudah punya calon istri.
Lea kembali meneguk minuman di gelasnya demi menepis perasaan aneh yang sedikit sakit di dalam hatinya.
Memang Lea mengharapkan apa dari Randu? Sebelumnya saja sikap Lea sudah sangat meremehkan Randu. Jadi meskipun waktu itu Randu pernah bilang kalau ia mencintai Lea, tapi mungkin sekarang rasa cinta Randu sudah menguap pergi dan pria itu akhirnya menemukan gadis yang seribu kali lebih baik.
Ya, Randu memang pantas mendapatkannya!
Dan Lea mungkin akan memperpanjang liburannya di rumah Eyang saja!
"Mbak Azza! Donatnya sudah belum?" Pertanyaan Rania menyentak lamunan Lea.
"Eh, sudah kayaknya," jawab Lea sedikit tergagap. Lea sehera memeriksa adonan donat yang sudah mengembang sampai sebaskom penuh. Segera Lea mengeksekusinya bersama Rania. Sedangkan Randu sudah menghilang entah kemana.
"Mbak Azza nggak patah hati, Mas Randu mau melamar gadis lain?" Tanya Rania iseng.
Lea hanya menggeleng dan memaksa untuk mengulas senyum meskipun hatinya terasa perih.
Sepertinya lebih perih ketimbang saat Lea tahu dirinya sudah ditipu habis-habisan oleh Rayyen kemarin.
"Oh, iya! Mbak Azza kan mau fokus jadi koki dan jualan donat!"
"Nanti Rania bantuin promo, ya, Mbak! Biar segera bisa buka kedai donat dan Mbak Azza juga cepat ketemu jodoh," ucap Rania lagi yang kali ini ganti membuat Lea mengangguk.
"Iya."
.
.
.
Butuh hansaplast buat hatimu yang potek, Lea?
🤣🤣🤣
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1