Pengganti Calon Suami Azzalea

Pengganti Calon Suami Azzalea
MENENANGKAN DIRI


__ADS_3

"Sudah kubilang untuk tidak lagi mengganggu Lea!" Haezel menggeram pada Randu saat pria itu membelokkan mobil ke arah B&D Resto. Tadi Haezel dan Randu memang baru kemabli dari tempat kejadian perkara, sebuah kasus pembunuhan.


Lalu Randu mengeluh lapar dan akhirnya pria itu malah membelokkan mobilnya ke B&D Resto.


"Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan Lea! Aku mampir kesini karena aku suka masakan disini." Ujar Randu beralasan.


"Biasanya aku juga pesan online, tapi berhubung tadi kita lewat,jadi sesekali bolehlah makan di tempat!"tukas Randu lagi seraya turun dari mobil dan meninggalkan Haezel yang hanya mendengus.


"Nanti aku yang traktir, Pak Kepala!" Seru Randu lagi seraya memberikan kode pada Haezel agar segera turun dan tidak terus-terusan bertapa di dalam mobil.


"Lalu kita bungkuskan juga untuk Mayra dan Zelyra!" Sambung Randu lagi seraya melongokkan kepala ke dalam mobil karena Haezel yang masih belum turun juga. Mayra memang sedang tidak enak badan dua hari ini. Randu sudah berulang kali menyuruh Haezel membelikan testpack untuk Mayra karena mungkin saja Zelyra akan punya adik. Tapi kata Haezel, Mayra tidak hamil dan Haezel benar-benar yakin akan hal itu.


Terserahlah!


"Baiklah!" Haezel akhirnya membuka sabuk pengamannya setelah bujukan panjang kali lebar dari Randu. Sudah seperti gadis remaja ngambek saja yang harus dibujuk agar mau turun dari mobil.


"Kau yang traktir, ya!" Tukas Haezel mengingatkan perkataab Randu tadi


"Iya!"


"Tapi besok aku cuti," ucap Randu mengajukan syarat yang sontak membuat Haezel melotot horor ke arah pria itu.


"Hanya satu hari!" Sergah Randu cepat.


"Mau kemana?" Tanya Haezel penuh selidik.


"Adikku lamaran. Jadi sebagai abang yang baik,aku harus mendampinginya," jawab Randu menjelaskan pada Haezel yang langsung manggut-manggut.


"Sebaiknya memang begitu!"


"Jadi, aku dapat izin, Pak Kepala?" Tajya Randu sekali lagi memastikan.


"Ya! Hanya sehari, kan?"


"Ayo traktir aku makan dulu!" Ajak Haezel seraya merangkul Randu yang terkekeh untuk masuk ke B&D Resto.


****


"Aaarrrggh!" Lea berteriak frustasi setelah ia sampai di halaman parkir B&D Resto. Lea memukul-mukul stir mobilnya sendiri demi meluapkan rasa marah,kesal, sekaligus frustasi di hatinya.


"Rayyen baj*ngan!"


"Aku membencimu!"


"Semoga kau mati diseruduk truk!" Gerutu Lea yang tak berhenti mengucapkan sumpah serapah untuk Rayyen.


Lea melepaskan sabuk pengamannya, lalu turun dari mobil dan membanting pintu mobililnya dengan kasar. Lea masuk ke B&D Resto masih dengan perasaan kesal sekaligus marah. Tepat di pintu masuk B&D Resto, Lea hamoir menabrak Randu dan Haezel yang keluar dari restorant milik Opa Dev tersebut.


Apa?


Sedang apa Randu di restoran ini?


"Hati-hati pada Rayyen dan berhentilah menghamburkan uangmu untuk pria itu!"


"Bisa-bisanya Lea kembali pada pria pengecut yang hampir membuatnya malu di acara pertunangan dan malah bersikap ketus pada Randu yang jelas-jelas sudah dengan tulus membantu menyelamatkan acara pertunangannya."


"Dia bahkan sama sekali tak mengucapkan terima kasih pada Randu!"


"Papimu mengusir Randu karena Randu memang tak pantas untuk Lea, Ryan! Randu terlalu tulus dan baik untuk Lea yang begitu keras kepala dan tidak mau dinasehati!"


"Hai, Lea!" Sapaan Haezel membuyarkan lamunan Lea dan membuat gadis itu sedikit salah tingkah.


"Kata Keano, pernikahanmu dengan Rayyen akan digelar lusa. Selamat!" Randu mengulurkan tangannya pada Lea yang ekspresi wajahnya tak lagi bisa dijelaskan dengan kata-kata. Gadis itu juga sudah dengan cepat membuang tatapannya seolah ia enggan membalas tatapan Randu kepadanya.


Haezel segera menyentak tangan Randu dan memberikan kode agar Randu menurunkan tangannya yang tak dibalas oleh Lea.


"Baiklah! Kita tak saling ke-" kalimat Randu belum selesai saat Lea sudah dengan cepat masuk ke B&D Resto meninggalkan Randu dan Haezel tanpa basa-basi sedikitpun

__ADS_1


"Sombong!" Gumam Haezel yang terlihat kesal dengan sikap Lea.


"Kalau dilihat dari raut wajahnya seperti orang yang tengah tertekan," pendapat Randu yang ternyata memperhatikan secara detail raut wajah Lea.


"Tertekan karena akan menikah dengan pria pengecut mungkin," Haezel terkekeh dan sedikit berkelakar.


"Kau tidak akan datang ke pernikahan Lea, kan?" Tanya Haezel memastikan.


"Bukannya kau sendiri yang menyuruhku untuk tak lagi mengusik hidup gadis itu?" Randu membalikkan kata-kata Haezel.


"Bagus sekali! Kau boleh ambil cuti selama tiga hari!" Tukas Haezel seraya berjalan cepat ke arah mobil Randu.


"Serius, Pak Kepala?"


"Yess!" Randu bersorak senanv dan langsung menyusul Haezel untuk masuk ke mobilnya.


"Kita antar makanan untuk Mayra dulu sebelum kembali ke kantor," ujar Haezel sesaat sebelum Randu melajukan mobilnya.


"Siap!"


"Saatnya bertemu calon istri dan calon mertua!" Seloroh Randu seraya melajukan mobilnya meninggalkan B&D Resto.


Dasar Randu sinting!


****


Prang!


"Aaarrrggh!" Lea menggeram frustasi saat lagi-lagi ia menjatuhkan sendok yang akan ia pakai untuk mencicipi makanan yang hendak disajikan pada tamu.


"Chef!"


"Apa?" Jawab Lea galak pada koki bawahannya yang langsung terlihat segan.


"Stok beberapa bahan makanan sudah habis dan banyak pesanan yang sudah ditolak."


"Bagaimana bisa?" Lea mengambil daftar bagan makanan yang dipegang oleh bawahannya tersebut lalu membaca satu persatu.


"Lea, jenaoa banyak pesanan tamu yang ditolak?" Tanya Uncle Abi seraya menghampiri Lea.


"Bahan kosong!" Jawab Lea seraya menghentakkan satu kakinya ke lantai.


"Bagaimana ceritanya bisa kosong, Lea? Kau tidak memeriksa stok kemarin?" Kali ini gantian Keano yang mencecar Lea.


"Ck! Kenapa semua hal harus aku yang melakukan?" Lea melepaskan topinya, lalu meremas benda itu dengan frustasi, sebelum kemudian gadis itu keluar melalui pintu belakang dapur.


Keano dan Uncle Abi saling bertatap pandang sebelum akhirnya mereka memanggil asisten kepala koki untuk menangani kekacauan ini.


****


"Keano!" Panggil Lea pada Keano yang sudah bersiap untuk pulang.


"Hai. Sudah lebih baik?" Tanya Keano yang langsung mengajak Lea untuk duduk di salah satu meja yang ada di dalam B&D Resto.


"Sedikit," jawab Lea lirih.


"Aku turut prihatin atas batalnya-"


"Tidak usah dibahas!" Sela Lea cepat memotong kalimat Keano.


"Baiklah, maaf!" Ponsel Keano tiba-tiba berdering.


"Sebentar!" Izin Keano seraya melohat siapa yang meneleponnya.


"Rossie," gumam Keano yang tentu saja didengar oleh Lea.


"Kau angkat saja dulu! Aku akan duduk disini dan menunggu," ujar Lea pada Keano yang terlihat ragu untuk mengangkat telepon dari sang gebetan.

__ADS_1


Tidak tahu masih jadi gebetan atau sudah jadian!


Bisa ada peperangan besar antara Keano dan Fairel jika Keano dan Rossie benar jadian.


Tapi kenapa juga menelepon malam-malam kalau tidak ada something?


"Baiklah, sebentar!" Pamit Keano seraya sedikit menjauh dari Lea dan mulao berbicara pada Rossie.


Sementara Lea hanya mengedarkan pandangannya ke dalam resto yangvsudah sepi. Hanay tinggal beberapa karyawan yang masih membersihkan meja dan mengepel lantai.


Tak berselang lama, Keano sudah kembali ke hadapan Lea.


"Jadi, kau tadi ingin bicara apa?" Tanya Keano to the point.


"Aku minta maaf sebelumnya karena belum bisa mengembalikan uangmu yang kemarin," ucap Lea merasa tak enak hati.


"Santai saja! Aku belum terlalu butuh." Ujar Keano dengan nada santai.


"Dan...." Lea terlihat ragu untuk mengatakannya.


"Dan apa?" Keano mengernyit penasaran.


"Aku boleh pinjam lagi uangmu lima juta?" Lea meringis tak enak pada Keano.


"Kau hisa mengambil gajiku bulan depan sebagai gantinya-"


"Kau akan memnerikannya pada Rayyen lagi?" Sela Keano menatap tak suka pada Lea.


"Bukan!" Sergah Lea cepat.


"Maksudku tidak!" Lea mengulangi jawabannya.


"Aku ingin menenangkan diri ke siatu tempat, dan aku butuh uang pegangan."


"Aku tak punya uang sepeserpun di dalam rekeningku," ungkap Lea menatap melas pada Keano.


"Kau mau kemana, Lea? Lusa Ryan menikah." Tanya Keano yang mendadak jadi iba pada Lea.


"Aku tak akan datang." Putus Lea.


"Aku hanya ingin menennagkan diri," lanjut Lea lagi.


"Menenangkan diri kemana?" Tanya Keano tegas.


"Kemana saja asal bukan di kota ini!" Lea menyeka airmata yang mendadak jatuh di kedua pipinya.


Keano menghela nafas, lalu mengulurkqn tangannya untuk menepuk punggung sang sepupu.


"Kau akan pamit pada Aunty Thalia dan Uncle Daniel?" Tanya Keano lagi dan Lea langsung menggeleng.


"Mereka bahkan tak peduli lagi padaku. Mereka sudah marah dan kecewa kepadaku." Airmata Lea kembali berlinang.


"Kau harus pamit, Lea!" Nasehat Keano.


"Nanti aku akan menelepon jika sudah sampai," ujar Lea yang langsung membuat Keano kembali menghela nafas.


"Mau ditransfer kemana uangnya?" Tanya Keano akhirnya.


"Aku minta cash saja!" Jawab Lea cepat.


"Baiklah! Nanti kita ke ATM dulu," ujar Keano yang langsung membuat Lea mengangguk setuju.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2