Pengganti Calon Suami Azzalea

Pengganti Calon Suami Azzalea
DIJODOHKAN?


__ADS_3

Lea membuka serbet yang menutupi adonan donatnya dan gadis itu langsung terkejut saat mendapati adonan donat yang bentuknya masih seperti sedia kala dan tak mengembang sama sekali.


Kenapa lagi sekarang?


Lea mengendus aroma adonannya, saat kemudian pandangannya tertumbuk pada kemasan ragi instan yang masih utuh di atas meja.


Oh, sial!


Lea lupa memasukkan ragi instant ke dalam adonan donatnya. Lalu sekarang adonan Lea jadi adonan apa? Bakwan?


"Hhhhh!" Lea menggeram frustasi karena ini kali kedua ia membuat kesalahan saat membuat adonan kue. Kemarin saat Lea membuat brownies, ia bahkan lupa memasukkan gula ke adonan.


"Kok malah bengong, Lea? Itu donatnya belum dicetak?" Tegur Eyang Wida yang langsung membuat Lea kaget.


"Eh,"


"Itu, donat kamu kenapa nggak dicetak dan malah dipelototi?" Tanya Eyang Wida lagi.


"Gagal, Eyang!" Jawab Lea lesu.


"Gagal bagaimana? Gulanya lupa masuk kayak brownies kemarin?" Tebak Eyang Wida yang langsung membuat Lea meringis.


"Yang ini raginya belum masuk," ujar Lea seraya menunjukkan sebungkus ragi instant yang masih utuh.


"Istirahat dulu saja kalau capek, Lea!"


"Eyang lihat kamu semingguan ini sembrono terus kayak orang linglung! Mikirin apa, to?" Eyang Wida geleng-geleng kepala lalu berlalu meninggalkan Lea di dapur.


"Mikirin Randu yang mau nikah, Eyang," gumam Lea dengan mimik wajah sedih.


Seminggu yang lalu, Rania memang sudah pamit pulang, dan Randu malah sudah pulang duluan sehari sebelumnya tanpa pamit pada Lea.


Lagipula, untuk apa juga Randu pamit pada Lea.


Sikap Lea sebelumnya saja ketus sekali pada Randu dan tak bersahabat. Randu juga cenderung cuek pada Lea saat kemarin mereka berjumpa di villa. Mungkin pria itu sudah sangat sakit hati atas sikap Lea sebelumnya.


Lea akhirnya mengambil adonan donat yang gagal tadi dan akan menjadikannya kue kepang saja, lalu nanti akan Lea bagikan ke anak-anak.


****

__ADS_1


Hari beranjak malam.


Lea baru saja akan menutup tirai jendela di rumah Eyang Wida, saat sebuah mobil berhenti di depan rumah.


Siapa lagi yang datang?


Mustahil Rania datang ke sini lagi, kan?


Lea mengamati dengan seksama, mobil yang berhenti di depan rumah Eyang Widq tersebut, hingga akhirnya Lea ingat.


"Mobil Papi!" Pekik Lea saat melihqt Papi Daniel dan Mami Thalia turun dari mobil.


"Sial!" Cicit Lea yang langsung berlari masuk ke kamar dan mengabaikan suara ketukan di pintu.


"Siapa yang datang, Lea? Kok malah lari kayak lihat hantu!" Cerocos Eyang Wida yang segera membuka pintu depan.


"Malam, Bu!" Sapa Papi Daniel yang langsung memeluk Eyang Wida. Pun dengan Mami Thalia yang juga langsung melepaskan rindu pada sang ibu mertua.


"Ayo masuk!"


"Kesini kok ya malam-malam begini!" Omel Eyang Wida pada Papi Daniel dan Mami Thalia.


"Lea!" Panggil Eyang Wida selanjutnya yang langsung membuat Mami Thalia dan Papi Daniel bertukar pandang.


"Lea mereporkan disini, Bu?" Tanya Papi Daniel selanjutnya berbasa-basi.


"Dia jualan donat dan kue! Sama sekali tak merepotkan!" Jelas Eyang Wida.


"Mana ini anak!"


"Lea! Ini ibu bapak kamu datang! Kok malah ngumpet!" Omel Eyang Widq yang hebdqk bangkit berdiri, namun Lea sudah terlebih dulu keluar dari kamar dan menghampiri Eyang Wida, Papi Daniel dan Mami Thalia.


"Mami, Papi," sapa Lea dengan wajah tertunduk karena merasa bersalah pada kedua orangtuanya tersebut.


"Senang yang kabur dari rumah?" Sindir Mami Thalia pelan, saat Lea mencium punggung tangannya.


Saat itulah tiba-tiba tangis Lea pecah.


"Lea minta maaf, Mi! Pi!" Ucap Lea seraya bersimpuh di kaki Mami Thalia dan Papi Daniel.

__ADS_1


"Sebentar sebentar! Ini sebenarnya ada apa, Daniel! Kenapa Lea nangis-nangis dan minta maaf?" Tanya Eyang Wida bingung.


"Jadi sebenarnya, kemarin saat Lea pergi ke sini itu Lea tidak pamit, Bu!"


"Kami sampai kebingungan mencari Lea karena dia juga tidak bawa ponsel!" Jelas Papi Daniel panjang lebar pada Eyang Wida.


"Benar itu, Lea? Lalu kenapa kemarin kamu bilang ke eyang kalau kamu sudah pamit?" Tanya Eyang Wida yang terlihat kecewa.


"Lea minta maaf, Eyang! Lea hanya ingin menenangkan diri disini dan melupakan semua masalah Lea," cicit Lea beralasan.


"Tapi sekarang Lea sadar, kalau perbuatan Lea salah!"


"Seharusnya Lea pamit sama Mami dan Papi sebelum kesini," ujar Lea yang akhirnya sudah menyadari kesalahannya.


"Sudah, bangun!" Mami Thalia membimbing Lea untuk bangkit dari bersimpuh.


"Mami dan Papi sudah memaafkan semua kesalahan kami yang sebelum-sebelumnya, Lea!" Ujar Mami Thalia lagi yang langsung membuat Lea bernafas lega.


"Tapi Mami dan Papi huga sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dengan pria pilihan kami berdua, agar kamu tidak salah memilik calon suami lagi seperti kemarin!" Ucap Papi Daniel yang tak jadi membuat Lea bernafas lega.


"Dijodohkan, Pi?" Tanya Lea kaget.


"Iya dan hari pernikahanmu juga sudah ditentukan, makanya ini Mami dan Papi menjemputmu kemari," tukas Mami Thalia lagi.


"Sudah nurut saja, Lea! Jodoh pilihan orang tua itu pasti sudah yang terbaik. Tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya bahagia," ujar Eyang Wida menasehati Lea yang akhirnya hanya mengangguk pasrah.


"Iya, Eyang!"


Dijodohkan dengan pria asing entah siapa.


Mungkin ini memang yang terbaik untuk Lea saat ini, ketimbang Lea galau terus karena Randu juga akan menikahi kekasihnya sebentar lagi!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2