
Tok tok tok!
Lea baru membuka mata, saat terdengar ketukan di pintu kamarnya.
Ya ampun!
Siapa juga yang mengganggu Lea pagi-pagi buta begini?
Jam di kamar Lea bahkan baru menunjukkan pukul setengah enam pagi!
Tok tok tok!
"Lea!"
Kembali terdengar suara ketukan diiringi oleh panggilan yang sepertinya dari Randu.
Hah?
Sedang apa Randu di depan kamar Lea pagi-pagi buta begini?
Dasar kurang kerjaan!
"Lea!-"
"Apa?" Jawab Lea yang sudah membuka pintu kamar dan mendelik pada Randu.
"Kau baru bangun? Kita harus berangkat pagi-pagi," tanya Randu setelah memindai penampilan Lea dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Hoaaaaam!" Lea menguap dan segera menutup mulutnya yang membuka lebar dengan telapak tangan.
"Aku masih ngantuk! Kau pulang saja sendiri!" Tukas Lea seraya mengucek kedua matanya dan pura-pura mengantuk.
"Rapi bukankah semalam kau sudah berjanji untuk ikut bersamaku?" Tanya Randu yang langsung membuat Lea mendengus.
"Aku tak berjanji apapun padamu tadi malam! Tudak usah mengarang!" Lea menuding ke arah Randu yang hanya berekspresi datar.
"Ikutlah denganku, Lea!" Pinta Randu dengan nada lembut.
"Kalau aku tak mau?" Lea sudah ganti bersedekap pada Randu.
"Mmmmmm, aku akan mengatakan pada Uncle Daniel kalau Rayyen sebenarnya kabur saat acara-" kalimat Randu belum selesai saat Lea tiba-tiba sudah membekap mulut pria itu dengan tangannya.
Bukan apa-apa!
Tapi Ryan baru saja keluar dari kamarnya yang berhadapan dengan kamar Lea.
Lea tentu saja tidak mau saudara kembarnya itu mendengar kalimat Randu barusan tentang Rayyen!
"Pweeet! Masih pagi sudah pacaran!" Cibir Ryan seraya bersiul.
"Mana ada!" Sergah Lea yang cepat-cepat menyingkirkan tangannya dari mulut Randu. Namun Lea kalah cepat dari Randu yang tiba-tiba malah sudah menggenggam tangannya.
Sial!
"Kan sebentar lagi sah! Jadi ini sedang latihan!" Ujar Randu seraya tersenyum ke arah Ryan yang langsung terkekeh.
"Bisa saja, Bang!" Ryan meninju pundak Randu masih sambil terkekeh.
"Ngomong-ngomong, kau sering latihan juga bersama Nona, kan?" Tanya Randu seraya menaik turunkan alisnya ke arah Ryan.
"Hahaha! Masih dalam batas wajar!" Sergah Ryan seraya tergelak.
"Kalau kebablasan, langsung aku laporkan ke Papi!" Lea menuding licik pada Ryan.
"Mana ada! Ryan dan Nona tak akan kebablasan sebelum sah!" Sergah Ryan yang langsung membuat Lea memutar bola matanya.
__ADS_1
"Ryan mau olahraga!"
"Abang Randu mau ikut?" Tawar Ryan pada Randu yang masih menggenggam tangan Lea.
Ya ampun! Lea bahkan tak menyadarinya sejak tadi!
"Aku harus segera berangkat setelah Lea mandi dan bersiap. Kapan-kapan daja kiga olahraga bareng," tolak Randu beralasan.
"Baiklah!" Ryan segera berlalu meninggalkan Randu dan juga Lea.
"Lepas!" Lea menyentak tangan Randu dengan kasar.
"Mandi sana! Lalu kita berangkat," tutah Randu pada Lea.
"Sudah kubilang, kalau aku tak akan ikut bersamamu!" Lea kembali menuding ke arah Randu.
"Begitu, ya!" Randu menghela nafas lalu melongok ke lantai satu.
"Ah, kebetulan papi Dan sedang sarapan. Mungkin ini yang tepat untuk melapor," Randu sudah berlalu dari hadapan Lea dan hendak menuju ke tangga, saat Lea akhirnya paham dengan kalimat Randu barusan.
"Randu, Randu!" Lea buru-buru menyusul Randu dan menahan langkah pria itu.
Ya ampun!
Lea tak percaya kalau ia akan pergi bersama Randu untuk bertemu keliarga pria menyebalkan ini!
Bagaimana kalau nanti keluarga Randu benar-benar menyangka Lea adalah calon menantu mereka?
Kacau sudah semuanya!
"Jadi bagaimana?" Randu tersenyum licik pada Lea.
"Baiklah, aku ikut!" Jawab Lea seraya menghentakkan satu kakinya demi meluapkan rasa kesal dalam hatinya. Sedangkan Randu malah langsung tertawa penuh kemenangan.
Dasar!
Biar saja!
Lea sedang kesal sekarang!
****
"Apa masih jauh?" Tanya Lea saat mobilnya yang dikemudikan oleh Randu keluar dari pintu tol.
Sudah hampir dua jam Lea dan Randu menempuh perjalanan menuju ke rumah orang tua Randu.
Eh, tapi bukankah mamanya Randu sedang dirawat di rumah sakit?
Jadi mungkin sekarang Randu dan Lea akan langsung menuju ke rumah sakit tempat mamanya Randu dirawat.
"Sebentar lagi sampai!"
"Rumah orang tuaku kebetulan dekat dengan jalan tol," Randu tertawa renyah, padahal tak ada sesuatu yang lucu.
"Bukankah mama kamu sedang dirawat di rumah sakit? Kenapa kita tak langsung ke rumah sakit saja?" Tanya Lea seraya menoleh ke arah Randu yang masih fokus mengemudi.
"Kita ke rumah dulu untuk mengambil bantal," jawab Randu beralasan.
"Bantal?" Lea melebarkan kefua matanya dan mendadak merasa bingung.
Untuk apa mengambil bantal? Memangnya Randu mau mengajak Randu berkemah.
"Atau kau mau memakai sesuatu yang lain untuk ganjalan perutmu? Kau punya ide?" Ujar Randu lagi yang semakin membuat Lea bingung.
Ganjalan perut?
__ADS_1
Maksudnya apa?
"Apa maksudmu, Randu? Kau mau menyuruhku memakai ganjalan perut, begitu?" Tanya Lea tak paham.
"Ya!"
"Aku sudah membantumu menjadi pengganti Rayyen saat pacarmu itu kabur dan menyelamatkanmu dari kemurkaan keluargamu. Jadi sekarang gantian kau yang garus membantuku!" Tutur Randu yang benar-benar membuat Lea bingung sebingung-bingungnya.
"Membantu apa maksudmu?" Tanya Lea semakin tak paham.
"Membantu menyelamatkan aku dari perjodohan konyol yang direncanakan mamaku."
"Sebenarnya ini kali kelima mama pura-pura sakit parah dan minta dirawat padahal sebenarnya mama hanya baik-baik saja. Mama akan berakting seolah umurnya hanya tinggal beberapa jam lagi, lalu ia akan minta aku menikah dengan seorang gadis."
"Lalu kenapa kau tidak menuruti kemauan mamamu?" Tanya Lea penuh selidik.
"Karena sebelum-sebelumnya aku memang belum mau menikah!"
"Aku sedang menikmati karierku yang mulai menanjak," ujar Randu entah sedang bercerita atau sedang pamer.
"Lalu sekarang, kau masih belum mau menikah juga?" Tanya Lea lagi semakin kepo.
"Aku sudah siap menikah sekarang! Tapi bukan dengan gadis pilihan Mama!"
"Aku sudah punya gadis pilihanku sendiri," Randu menatap aneh pada Lea meskipun hanya sesekali karena pria itu masih fokus mengemudi.
"Gadis itu bukan aku, kan?" Tanya Lea to the point karena tatapan Randu kepadanya benar-benar membuat cemas.
"Memangnya jenaoa kalau kau? Bukankah saat ini kita sudah bertunangan dan hanya tinggal menuju ke jenjang selanjutnya, yaitu menikah," jawab Randu seolah tanoa beban.
"Ck! Berapa kali harus kukatakan kalau tunangan ini hanya sandiwara, Randu!" Geram Lea merasa geregetan pada Randu.
"Sudahlah! Aku tak akan mau mengikuti ide konyolmu untuk memakai ganjalan perut!"
"Kalau kau minta aku membantumu membatalkan perjodohanmu dengan gadis pilihan mamamu, oke! Aku akan membantu!"
"Tapi sekali lagi aku tegaskan, kalau ini hanya sebatas sandiwara dan kita tak akan menikah sampai kapanpun!"
"Karena aku hanya akan menikah dengan Rayyen!" Ucap Lea panjang lebar dengan nada berapi-api. Dan tanggapan Randu selalu seperti sebelum-sebelumya! Santai seolah tanpa beban.
"Kau paham dengan semua kalimatku barusan, kan?" Tanya Lea lagi memastikan.
"Paham! Sangat paham!" Jawab Randu seraya menginjak pedal rem. Kini mobil Lea yang dikemudikan oleh Randu sudah berhenti di depan rumah berpagar besi tinggi yang terlihat mencolok dari rumah-rumah di sekitarnya.
Ini rumah siapa memang?
Randu membunyikan klakson tuga kali, saat seorang security sudah keluar dan menghampiri Randu.
"Mas Randu sudah pulang?" Sapa security itu yang terlihat segan pada Randu.
"Tolong buka pintunya, Pak!" Titah Randu pada sang security.
"Siap, Mas!"
Tak berselang lama, pintu gerbang sudah dibuka dengan lebar, dan sebuah rumah bernuansa klasik yang begitu besar dan apik, terhampar di hadapan Lea sekarang.
Astaga!
Siapa sebenarnya Randu ini?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.