Pengganti Calon Suami Azzalea

Pengganti Calon Suami Azzalea
SANDIWARA SELESAI!


__ADS_3

"Saya sebenarnya sudah jatuh cinta pada Lea, Uncle! Jatuh cinta sebagai Randu dan bukan sebagai tunangan pura-pura!" ucap Randu dengan nada tegas pada Papi Daniel dan Mami Thalia.


"Yang benar saja, Randu!"


"Hubungan diantara kita kemarin itu hanya pura-pura! Hanya sandiwara!" Sergah Lea yang sepertinya tak terima dengan pengakuan serta alasan Randu.


"Dan aku hanya mencintai Rayyen!" Ucap Lea lagi pada Randu dengan nada tegas.


"Meskipun itu hanya sandiwara, kau tetap tunanganku, Lea! Karena saat itu aku yang sudah menyematkan cincin di jarimu dan sebaliknya, kau juga sudah menyematkan cincin di jariku!" Randu menunjukkan cincin pertunangannya pada Lea.


"Itu milik Rayyen!" Lea dengan cepat mengambil cincin yang longgar di jari Randu itu lalu memberikannya pada Rayyen.


"Dan sekali lagi aku tegaskan, Randu! Kalau hubungan kita kemarin itu hanya sandiwara! Dan sekarang sandiwara itu sudah selesai! Rayyen sudah pulang dan kembali, jadi tugasmu sebagai pengganti Rayyen juga sudah selesai!" Tukas Lea panjang lebar pada Randu yang hanya diam.


Papi Daniel menghela nafas dan kembali memijit pelipisnya.


"Sebaiknya kau pergi, Randu!" Ucap papi Daniel selanjutnya pada Randu yang raut wajahnya terlihat kecewa.


"Tapi, Uncle! Randu mencintai-"


"Kau tidak dengar barusan kalau Lea tidak mencintaimu dan dia hanya mencintai Rayyen!" Papi Daniel sudah berucap tegas pada Randu.


"Pergi sekarang dan jangan mendekati Lea lagi!" Usir Papi Daniel lebih tegas pada Randu yang hanya bergeming.


"Kau tidak pantas untuk Lea!" Sambung Papi Daniel lagi dengan suara lirih.


Namun Randu tetap keras kepala dan masih tak bergerak dari tempatnya.


"Pergi sekarang, Randu! Apa kau tidak punya telinga?" Perintah Papi Daniel lebih tegas lagi sebelum kemudian pria paruh baya itu memanggil Ryan.


"Ryan! Bawa Randu pergi dari rumah ini!"


"Iya, Pi!" Jawab Ryan yang langsung dengan cepat membawa Randu keluar dari ruang tamu.


"Kau tidak pantas untuk Lea, karena kau terlalu baik dan tulus, Randu!" Gumam Papi Daniel setelah Randu diseret keluar oleh Ryan. Mami Thalia yang mendengar gumaman sang suami hanya mengusap lengan papi Daniel. Mami Thalia tahu, pasti berat untuk Papi Daniel mengusir Randu yang selalu bersikap baik dan pandai mengambil hati semua keluarga Andreas. Sekalipun Randu sudah membantu Lea berbohong, tapi ketulusan Randu memang tak perlu diragukan lagi.


Tak berselang lama, Ryan sudah kembali lagi tanpa Randu.


"Kau sudah menyuruhnya pergi, Ryan?" Tanya Papi Daniel pada sang putra.


"Sudah, Pi! Randu langsung pergi tadi," jawab Ryan.


"Jadi, semua kesalahpahaman ini sudah selesai, kan, Pi?" Tanya Lea memecah kebisuan. Gadis itu menatap bergantian pada Papi Daniel dan Mami Thalia.


"Papi dan Mami sudah merestui hubungan Lea dan Rayyen, kan?" Tanya Lea lagi yang kini sudah menggamit lengan Rayyen yang bahkan ekspresi wajahnya tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

__ADS_1


"Ya!"


"Jika kau merasa bahagia bersama pria pilihanmu itu, silahkan saja!" Jawab Papi Daniel dengan ekspresi datar.


"Yess! Kau dengar itu, Sayang! Itu artinya, kita bisa segera mempersiapkan pernikahan kita!" Ucap Lea penuh semangat pada Rayyen yang bahkan tak terlihat antusias sama sekali.


Jangan-jangan memang pria itu tak ada niat untuk menikahi Lea!


Papi Daniel tak berkata apa-apa lagi dan pria paruh baya itu segera masuk ke dalam meninggalkan Lea yang masih bersorak senang. Mami Thalia juga langsung mengekori sang suami dan kini hanya tinggal Lea, Rayyen, dan juga Ryan di ruang tamu kediaman Andreas.


"Ehem!" Ryan berdehem sejenak sebelum pria itu mendekat ke arah Rayyen dan Lea yang masih saja girang.


"Ngomong-ngomong, Abang Rayyen!"


"Aku disini cuma mau meluruskan kalau meskipun aku dan Lea adalah anak kembar, tapi Lea adalah kakakku. Jadi tolong lain kali jangan memanggilku Abang Ryan lagi karena nantinya aku akan menjadi adik iparmu," ujar Ryan panjang lebar pada Rayyen.


"Ck! Hal seperti itu saja kamu permasalahkan, Ryan!" Omel Lea pada Ryan.


"Lagipula, Rayyen kan memang belum tahu! Jadi ya dimaklumi saja jika tadi ia tak sengaja memanggilmu abang!" Sergah Lea lagi bersungut-sungut pada Ryan.


"Iya, justru karena itupah aku memberitahu Rayyen agar dia tahu!" Tukas Ryan beralasan.


"Aku tahu!" Sergah Rayyen cepat.


"Bagus!" Ryan menjentikkan jarinya di depan wajah Rayyen bersamaan dengan ponsel pria itu yang berdering.


Ryan langsung masuk ke dalam sambil masih bicara dengan Nona. Suaranya sudah tak terdengar lagi dan kini hanya tinggal Rayyen dan Lea di ruang tamu.


"Aku masih sangat bahagia, Sayang!" Lea sudah menyandarkan kepalanyabdi pundak Rayyen dan gadis itu tak berhenti mengulas senyum bahagia.


"Kenapa semuanya seperti mudah sekali, Lea? Aku benar-benar tak menyangka jika papi dan mamimu akan langsung merestui hubungan kita," ujar Rayyen merasa bingung.


Mungkin tadinya Rayyen pikir akan ada drama lebay dan ancaman-ancaman dari Lea untuk membujuk orang tua Lea yang keras kepala.


"Mungkin ini memang pertanda, Sayang!" Ucap Lea sok teoritis.


"Pertanda apa?" Tanya Rayyen tak paham.


"Pertanda kalau kita memang jodoh! Makanya jalan kota menuju pelaminan dimudahkan seperti ini!" Jawab Lea seraya tertawa bahagia.


"Pelaminan, ya?"


"Apa kita harus buru-buru menikahnya, Sayang?" Tanya Rayyen terlihat ragu.


"Tentu saja, Rayyen! Memangnya kenapa? Kau tidak mau kita menikah?" Cecar Lea yang mulai emosi.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, Sayang! Hanya saja, aku merasa belum terlalu siap."


"Maksudku, aku belum punya tempat tinggal tetap, lalu pekerjaanku juga sedang bermasalah!" Ujar Rayyen beralasan.


"Ck! Itu bukan masalah seius, Rayyen!" Jawab Lea santai.


"Masalah tempat tinggal, nanti kita bisa mencicilnya berdua!"


"Apa kau akan tetap bekerja setelah kita menikah nanti?" Tanya Rayyen menyela.


"Tentu saja! Aku akan tetap bekerja samlai finansial kita stabil. Dan kita nanti mdnunda momongan saja dulu karena aku juga kurang suka dengan anak-anak," tukas Lea lagi mengungkapkan rencananya.


"Jadi masalah tempat tinggal, kita nanti bisa mencicilnya berdua dan untuk pekerjaanmu yang kerap bermasalah itu aku punya solusi terbaik!" Ujar Lea panjang lebar memaparkan rencana hidupnya ke depan pada Rayyen.


"Solusi apa?" Tanya Rayyen penasaran.


"Kau buka usaha kuliner saja bagaimana? Nanti aku yang akan memberikanmu modal dan pelatihan sekalian!" Ujar Lea menuturkan sarannya pada Rayyen.


"Aku tak terlalu lihai memasak. Bisakah jika usahanya pakai karyawan saja dan aku hanya mengawasi?" Tanya Rayyen sedikit bernegosiasi dengan Lea.


"Begitu juga tak masalah asal kau nyaman," jawab Lea akhirnya mengiyakan tawaran Rayyen.


"Jadi, kau mau usaha apa?" Tanya Lea lagi.


"Ayam geprek dan ayam katsu sepertinya sedang naik daun," jawab Rayyen cepat.


"Ide bagus!"


"Nanti kita akan mulai mencari tempat dan perlengkapan-"


"Bagaimana kalau aku saja yang mengurus semuanya dan kau cukup mengeluarkan modal saja, Sayang!"


"Kau pasti sudah lelah bekerja sebagai kepala koki di Resto Opamu," sela Rayyen memberikan solusi lain.


"Oke! Aku setuju!" Jawab Lea cepat.


"Nanti aku transfer uang modalnya ke rekeningmu," sambung Lea lagi dan Rayyen langsung mengangguk setuju.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2