Pengganti Calon Suami Azzalea

Pengganti Calon Suami Azzalea
DONAT


__ADS_3

"Donat!" Celetuk Rania dengan raut wajah lebay, saat melihat donat dengan topping meses warna-warni di dalam box transparan.


"Mau, Mbak Ran? Baru saja diantar, lho!" Tawar ibu penjual warung seraya membuka kotak transparan berisi donat tadi.


Rania memang biasa dipanggil Mbak Ran di desa sini. Kalau Rania dipanggil MbakRan, nanti Mas Randu jadi MasRan berarti, ya. Hahaha.


Rania langsung mengambil satu buah donat yang berhiaskan meses warna ungu, lalu menggigit dan mencicipinya.


"Enak!"


"Empuk!" Komentar Rania seraya mengambil lagi dia donat dan menggigitnya bergantian.


"Yang bikin siapa ini, Bu?" Tanya Rania dengan mulut penuh donat.


"Lia!" Jawab ibu pemilik warung.


"Lia siapa?" Tanya Rania bingung. Meskipun Rania tidak tinggal di desa ini, tapi hampir semua penduduk desa Rania kenal. Dan perasaan Rania, tak ada warga bernama Lia, kecualu bayi empat bulan bernama Amalia yang rumahnya di ujung jalan.


Masa iya bayi empat bulan bisa membuat donat?


"Cucunya Eyang Wida!" Jelas ibu pemilik warung akhirnya.


"Oooh! Memang sekarang cucunya Eyang Wida tinggal disini?" Tanya Rania selanjutnya.


"Katanya begitu. Jualan donat dan terima pesanan juga buat acara."


"Tapi donatnya enak, Bu!"


"Ini satu kotak saya bisa habis sendiri," kekeh Rania yang tak berhenti mencomoti donat di dalam box.


"Awas nanti kebayanya tiba-tiba nggak muat, Mbak Ran!"


"Kan katanya mau nikah!" Ibu pemilik warung mengingatkan.


"Eh, iya!" Rania meringis lalu berhenti mengambil donat dari dalam box. Namun kemudian gadis itu merengut karena ia masih ingin makan donat.


"Tapi kayaknya nggak apa-apa! Kan kebayanya bisa digedein!" Tukas Rania yang akhirnya kembali mengambil donat lalu memakannya dengan lahap.


"Rania, sudah belum yang jajan?" Tanya Pandu yang sudah menyusul Rania.


"Belum! Donatnya belum habis," jawab Rania dengan mulut penuh donat.


Ya ampun!


"Cobain, Mas Sayang! Enak, lho!" Rania menyuapkan satu donat pada Pandu yang merupakan calon suaminya.


"Iya, enak!" Komentar Pandu seraya manggut-manggut.


"Mas Randu kemana?" Tanya Rania yang tak melihat keberadaan Randu. Tadi padahal Randu dan Pandu izin ke warung kopi yang mereka lalui untuk minum kopi. Lalu kenapa sekarang Pandu tinggal sendiri?


Mas Randu ketinggalan di warung kopi?


"Udah ke villa duluan. Katanya harus ngerjain laporan," jawab Pandu seraya mengendikkan kedua bahunya.


"Kok ngerjain laporan?" Rania berdecak tak senang.


"Di suruh liburan, malah ngerjain laporan!" Gerutu Rania lagi seraya mengeluarkan dompetnya untuk membayar donat.


"Berapa semua, Bu?" Tanya Rania pada ibu pemilik warung.


"Tiga kali lima belas berarti-"


"Empat puluh lima ribu, Bu!" Sahit Pandu cepat seolah sedang pamer kemampuan berhitungnya.


Hhh! Anak SD juga bisa.


"Ini, Bu!" Rania mengangsurkan uang lima puluh ribuan pada ibu pemilik warung.


"Kembali lima-"


"Tidak usah, Bu!" Tolak Rania cepat. Ibu pemilik warung langsung tersenyum bahagia dan mengucapkan terima kasih.


"Tapi tolong pesankan donat lagi pada Lia, ya, Bu!" Ujar Rania selanjutnya pada ibu pemilik warung.


"Mau berapa box, Mbak?"


"Satu box begini isi berapa biasanya?" Rania malah balik bertanya


"Dua puluh!" Jawab Ibu pemilik warung.


"Dari Lia harganya lima puluh ribu satu box," ujar ibu pemilik warung lagi.


"Murah sekali! Padahal enak," Komentar Rania seraya mengirim pesan pada Randu.


[Bang, mau donat enak)] -Rania-


[Rasa apa? Kalau coklat aku tidak mau!] -Randu-


"[Meses, Bang! Pelangi, warna-warni!] -Rania.-


[Mau! Belikan yang meses coklat, ya!] -Randu-


"Ck! Ujung-ujungnya tetap rasa coklat!" Cibir Rania.


"Bu, tolong pesankan tiga box, ya!"


"Yang satu box topping meses coklat semua," ujar Rania sebelum gadis itu pamit.

__ADS_1


"Siap, Mbak Ran." Jawab ibu pemilik warung.


"Trus nanti mau diambil atau-"


"Bisa minta tolong diantar saja ke villa, Bu? Nanti bilang ke Lia kalau aku yang menyuruh!" Tukas Rania pada ibu pemilik warung.


"Baik, Mbak Ran."


"Untuk tim fotografer?" Pandu mengingatkan Rania.


'"Ya ampun!" Rania mengetuk keningnya sendiri karena lupa.


"Bu, donatnya tambah tiga kotak, ya!" Rania kembali mengangsurkanuang untuk ibu pemilik warung.


"Siap, Mbak Ran! Berarti semua enam kotak, ya!"


"Iya! Jangan lupa yang satu kotak meses coklat semua!" Ujar Rania kembali mengingatkan sebelum gadis itu kembali ke villa bersama Pandu.


****


"Bu, beli teh!" Ucap Lea yang rambutnya masih basah usai mandi sore. Lea lupa membeli teh sekalian saat tadi mengantar donat. Jadilah sekarang Lea harus kembali lagi.


"Bu!" Panggil Lea lagi pada pemilik warung yang sepertinya tak dengar.


"Bu, beli-"


"Lia!" Ibu pemilik warung akhirnya keluar dan menghampiri teh.


"Iya, Bu! Saya mau beli teh!" Ucap Lea sekali lagi. Ibu pemilik warung segera mengambilkan satu bungkus teh untuk Lea.


"Ini tehnya, lalu ini ada titipan," ujar ibu pemilik warung seraya menyodorkan lembaran uang warna merah pada Lea.


Hah?


Titipan apa maksudnya?


"Titipan apa, Bu?" Tanya Lea bingung.


"Mbak Ran pesan donat enam box tadi," tukas ibu pemilik warung.


"Mbak Ran siapa?" Tanya Lea semakin bingung.


"Itu, putrinya Bu Rika! Yang punya kebun teh sama villa di sana itu!" Ibu pemilik warung menunjuk ke villa putih yang tadi sempat Lea pandangi.


"Oh. Trus donatnya buat kapan?" Tanya Lea lagi.


"Besok pagi. Nanti kamu antar sendiri ke villa, ya! Tadi pesannya Mbak Ran begitu," ujar ibu pemilik warung pada Lea.


"Baik, bu!"


"Yang satu box meses coklat semua, dan yang lain campur," jelas ibu pemilik warung lagi.


"Oke!"


"Sekalian besok kamu bawa satu kotak lagi ke sini, ya, Lia!" Ibu pemilik warung memberikan kotak donat yang sudah kosong pada Lea.


"Lah, sudah habis, Bu?" Lea terkekeh.


"Mbak Ran tadi yang ngicipin kebablasan. Masa ngicipin tapi habis lima belas donat," ibu pemilik warung ikut terkekeh.


"Yaudah, Lea pulang dulu, Bu! Mau siapin bahan-bahan buat donatnya, biar besok bisa diantar pagi," pamit Lea selanjutnya sebelum garis itu berlalu pulang ke rumah Eyang Wida.


****


Jam masih menunjukkan pukul delapan pagi, saat Lea sudah berjalan menyusuri jalan aspal yang akan mengantarnya ke villa putih besar yang sejak kemarin ia kagumi. Semakin dekat, villa terlihat semakin besar dan megah. Sudah ada tiga mobil yang terparkir di halaman villa.


Lea langsung menuju ke pintu utama villa dan baru saja akan mengetuk pintu, saat ternyata pintu malah sudah dibuka dari dalam.


"Maaf, saya mau antar donat pesanannya Mbak Ran," ucap Lea pada dua orang pria dan wanita yang mengenakan seragam sebuah studi foto.


Apa sedang ada pemotretan di dalam villa, makanya putri pemilik villa memesan banyak sekali donat?


"Rania! Sini deh!" Panggil si wanita yang tadi membuka pintu.


Lea sontak membelalak mendengar ia menyebut nama Rania.


Rania?


Itu kan nama adiknya Randu!


Tapi mustahil kalau Rania....


Lea masih belum berhenti bertanya dalam hati, saat seorang gadis yang baru saja Lea batin sudah keluar dari dalam villa dan menghampiri Lea.


"Loh! Mbak Azza!" Seru Rania lebay sambil berlari dan memeluk Lea yang langsung shock.


Mbak Ran?


Putri pemilik villa dan kebun teh?


Apa itu artinya bu Rika yang selalu dibicarakan oleh Eyang Wida dan warga lain itu adalah Mamanya Randu?


"Mbak Azza ngapain kesini?" Tanya Rania selanjutnya pada Lea sembari memandangi kedua tangan Lea yang kini menenteng kotak berisi donat.


"Mau antar donat," jawab Lea seraya meringis.


"Donat? Yang Rania pesan ke Lia?" Tanya Rania yang terlihat bingung.

__ADS_1


"Lia...."


"Lea!" Koreksi Lea cepat masih sambil meringis.


"Mbak Azza cucunya Eyang Wida?" Tanya Rania memastikan.


"Iya," jawab Lea lirih bersamaan dengan seorang pria yang tiba-tiba ikut muncul dari dalam villa.


"Rania! Charger Mas kamu taruh dimana sema-" Randu tak jadi melanjutkan pertanyaannya pada Rania, saat pria itu melihat Lea yang kini berdiri di depan pintu villa.


Lea sendiri buru-buru menundukkan wajahnya dan tak berani menatap pada Randu.


"Mas, lihat!" Rania sedikit menyingkir agar Randu bisa melihat Lea yang masih menundukkan wajahnya seraya menahan malu.


Bukan malu karena Lea sekarang berjualan donat. Tapi malu karena sikap Lea di masa lalu pada Randu yang ternyata anak seorang...


Ah, sudahlah!


Rasanya Lea sudah benar-benar kehilangan muka di depan Randu.


"Hai, Lea! Sedang liburan juga?" Tanya Randu berbasa-basi pada Lea.


"Mbak Azza ternyata yang bikin donat yang kemarin Rania ceritain itu, Mas! Mbak Lea ternyata cucunya Eyang Wida!" Cerita Rania penuh semangat.


"Oh!" Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Randu.


"Kok oh saja, Mas? Nggak merasa kagum begitu? Mas juga nggak kangen sama Mbak Azza?" Cecar Rania pada Randu yang tetap berekspresi datar.


"Kan dia memang koki! Jadi wajar donat buatannya enak," ucap Randu dengan nada santai.


"Iya kah? Mbak Azza koki, ya? Kok nggak pernah cerita? Ayo masuk dulu!" Rania sudah merangkul Lea dan bersiap mengajaknya masuk, namun Lea menolak dengan cepat.


"Aku harus pulang, Rania! Ini donatnya," Lea menyodorkan donat yang sejak tadi ia bawa pada Rania.


"Kok buru-buru, sih?"


"Mas Randu! Bantuin bawa donatnya ini!" Ucap Rania pada Randu yang hendak pergi.


"Ck! Manja!" Cibir Randu seraya mengambil alih semua donat dari tangan Lea.


"Charger dimana, Rania?" Tanya Randu sekali lagi pada Rania sebelum pria itu membawa donat-donat Lea masuk ke dalam villa.


"Di kamar aku!" Jawab Rania cepat.


"Ayo masuk dulu, Mbak Azza! Kenapa buru-buru, sih?" Paksa Rania seraya merangkul Lea untuk masuk ke dalam villa.


"Rania!" Lea benar-benar sungkan sekarang.


"Ck! Rania masih mau ngobrol banyak sama mbak Azza!"


"Kenapa, sih Mbak Azza dan Mas Randu putus kemarin? Padahal kan sudah tunangan," cecar Rania pada Lea. Rania lalu memaksa Lea untuk duduk di sofa di dalam villa mewah yang dalamnya bak istana tersebut.


Ya ampun!


"Jadi, kenapa Mbak Azza kemarin putus sama Mas Randu?" Tanya Rania sekali lagi pada Lea.


"Dia mau fokus jadi koki! Kan mas sudah bilang, Rania!" Seru Randu yang terlihat sudah menggigit donat meses coklat buatan Lea.


Pria itu lalu masuk ke dalam lagi seolah tak terlalu peduli dengan keberadaan Lea.


"Benar, Mbak? Memang Mbak Azza jadi koki dimana?" Tanya Rania penuh selidik.


"Di resto Opa," jawab Lea cepat.


"Trus ini kenapa Mbak Azza malah jualan donat disini? Udah nggak kerja?" Tanya Rania lagi kepo.


"Kebetulan lagi nemenin Eyang aja! Trus daripada nggak ada kerjaan, iseng jualan donat," jawab Lea seraya meringis.


Randu sudah kembali lagi masih sambil memegang donat di tangan kanannya. Masih donat dengan topping meses coklat. Apa jangan-jangan yang satu box donat coklat tadi memang untuk Randu?


"Rania, donat kamu dihabisin crew fotografi itu!" Lapor Randu pada sang adik.


"Biarin! Kan ada Mbak Azza disini! Nanti tinggal minta dibuatin lagi!" Jawab Rania enteng.


"Randu hanya mengendikkan bahu lalu masuk lagi ke dalam.


"Mas! Nggak mau ngobrol sama Mbak Azza?" Panggil Rania lagi pada Randu.


"Mau buat laporan!" Jawab Randu setengah berteriak.


"Aku langsung pulang saja, Rania," pamit Lea akhirnya seraya bangkit berdiri.


"Tapi besok ke sini lagi, ya, Mbak! Bawa donat lagi!" Pesan Rania pada Lea.


"Atau nanti Rania saja yang ke rumah Eyang Wida! Mau lihat mbak Azza bikin donatnya bagaimana kok bisa enak!" Ujar Rania lagi mengungkapkan rencananya.


Lea hanya mengangguk mengiyakan, sebelum kemudian gadis itu meninggalkan dari villa mewah milik keluarga Randu tersebut.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2