
"Bukan Rayyen nama yang terdaftar!" Gumam Randu yang sedang berkutat dengan komputer di depannya.
"Salah nomor apa, ya?" Gumam Randu lagi serraya memeriksa kembali nomor yang kemarin Randu lihat di ponsel Azzalea.
Jangan tanya bagaimana caranya Randu bisa menghafalkan nomor tersebut dalam hitungan detik!
Karena bukan Randu namanya, jika menghafal nomor dalam hitungan detik saja tak bisa!
"Lokasinya juga di kota ini dan bukan di luar kota."
"Apa jangan-jangan Rayyen memang membohongi Lea dan hanya memanfaatkan gadis itu selama ini?" Randu mulai menerka-nerka saat pria itu memeriksa lokasi terakhir dari ponsel Rayyen. Randu lalu mencoba untuk menelepon nomor Rayyen, namun hanya operator yang menjawab dan mengatakan kalau nomor sedang tidak aktif.
"Sedang menyelidiki nomor siapa?" Tanya Haezel yang langsung membuat Randu terlonjak kaget.
"Kau sudah datang, Pak Kepala?" Randu balik bertanya dan sedikit tergagap. Sebenarnya, tadi Randu memang sengaja datang pagi agar bisa segera menyelidiki tentang nomor Rayyen, sebelum Haezel dan rekan kerjanya yang lain datang.
"Kau sedang menyelidiki nomor siapa itu?" Tanya Haezel sekali lagi seraya melihat ke layar monitor di depan Randu.
"Bukan nomor siapa-siapa!" Jawab Randu yang buru-buru menghapus nomor Rayyen.
"Apa ini ada hubungannya dengan tunanganmu saat ini?" Tanya Haezel lagi yang mendadak jadi kepo..
"Tidak ada!"kilah Randu cepat. Randu meraih tumbler di atas meja yang tadi pagi dibawakan oleh Lea bersama bekal dan camilan Randu.
Randu bahkan tidak tahu Lea bangun jam berapa, hingga gadis itu bisa memasak bekal lengkap untuk Randu.
Benar-benar calon istri idaman!
"Ini apa?" Tanya Haezel seraya menunjuk ke kotak bekal Randu.
"Bekalku!" Jawab Randu yang langsung menggeser kotak bekal tadi agar lebih mendekat ke arahnya.
"Sejak kapan kau bawa bekal?" Haezel terlihat menahan tawa.
"Sejak aku punya tunangan yang ternyata adalah seorang koki!"
"Masakan Mayra tak ada apa-apanya dengan masakan Lea!" Jawab Randu pamer.
"Tunangan?"
"Tunangan yang katamu hanya sandiwara itu?" Tanya Haezel yang langsung membuat Randu merengut.
"Meskipun hanya sandiwara, aku akan menganggap kalau Lea tetaplah tunanganku!"
"Setidaknya sampai Rayyen brengsek itu kembali." Jawab Randu yang kembali menatap ke layar di depannya.
"Kau tahu lokasi ini?" Tanya Randu selanjutnya seraya menunjuk ke titik merah di layar monitor. Haezel segera men-zoom area tersebut sebelum menjawab pertanyaan Randu.
"Ada banyak pertokoan dan tempat hiburan malam di lokasi itu setahuku."
"Apa ini ada hubungannya dengan kaaus yang baru-baru ini kau tangani?" Tanya Haezel menatap serius pada Randu.
"Sebenarnya..." Randu meringis dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bukan," jawab Randu akhirnya.
"Lalu, kau sedang menyelidiki apa?" Tanya Haezel penuh selidik.
"Bukan apa-apa!"
"Ponselmu berbunyi!" Sergah Randu cepat mengalihkan pembicaraan. Masih bagus ponsel Haezel benar-benar berbunyi, hingga Randu sedikit terselamatkan.
__ADS_1
Haezel sudah berlalu meninggalkan Randu untuk mengangkat telepon.
"Fiuuh! Selamat kau, Randu!" Gumam Randu pada dirinya sendiri. Randu lalu menandai titik lokasi terakhir ponsel Rayyen yang berhasil ia temukan, sebelum kemudian pria itu memeriksa beberapa berkas kasus di atas mejanya. Nanti saja saat ada waktu luang Randu akan menyelidikinya.
****
Randu sudah tiba di titik lokasi terak4dari ponsel Rayyen. Pria itu mengedarkan pandangannya ke sebuah ruko yang terlihat tutup di depannya. Tak lupa, Randu juga memeriksa billboard yang ada di depan ruko tersebut. Tertulis dengan jelas kalau itu adalah sebuah tempat hiburan malam.
Pantas saja rukonya tutup!
Randu datang kesiangan!
Kalau benar Rayyen disini semalam, berarti pria itu memang sudah menipu Lea mentah-mentah!
Kenapa juga Lea mudah percaya pada pria yang hanya berpacaran dengannya via online?
Sulit dimengerti!
Randu kembali menghubungi nomor Rayyen dan jawaban dari operator masih sama sepertisebelumnya. Nomor Rayyen sedang tidak aktif!
Sialan!
Randu akhirnya kembali ke mobil dan mengambil kotak bekal yang tadi pagi dibawakan oleh Lea. Randu membuka kotak dia susun tersebut, lalu mengulas senyum sumringah.
Ada nasi putih yang dibentuk bola-bola oleh Lea, lalu ada ayam paprika saus mentega dan jangan lupakan dimsum beserta sausnya yang hanya tinggal dua biji, karena tadi Randu sudah memakannya di kantor.
"Aku tak akan kekurangan gizi, jika Lea membawakan aku bekal setiap hari begini," gumam Randu sebelum pria itu menyantap makanannya.
Randu lalu berinisiatif untuk menelepon Lea dan mengucapkan terima lasih atas bekal lezat yang gadis itu siapkan pagi ini.
Cukup lama Randu menunggu, namun teleponnya tak kunjung diangkat oleh Lea. Apa mungkin gadis itu masih sibuk sekarang?
[Masakan ayam paprikamu enak sekali! Besok buatkan lagi untuk bekalku, ya!] -Randu-
Pesan terkirim bersamaan dengan makanan Randu yang sudah tandas tak tersisa. Randu segera membereskan kotak bekalnya, lalu pergi meninggalkan deretan ruko dan kembali ke kantor.
****
Bruuk!
"Astaga, maaf!" Lea bergegas mengambil beberapa buah yang terhambur dari keranjang belanja seorang wanita yang tak sengaja Lea tabrak. Lea tadi memang buru-buru pergi ke supermarket di dekat B&D Resto untuk mencari pembalut, karena mendadak ia kedatangan tamu bulanan saat sedang bekerja.
Sial memang!
Pantas saja dari kemarin Lea badmood terus!
"Tidak apa-apa!" Jawab wanita yang mengenakan blouse warna peach tersebut.
"Sayang, ada apa?" Tanya seorang pria yang sudah menghampiri Lea dan wanita yang tadi ia tabrak. Pria itu juga menggandeng seorang gadus kecil yang Lea taksir berusia lima tahun.
"Tidak apa-apa, Mas! Tadi May kurang hati-hati jadi menabrak mbak ini," terang wanita berbaju peach tadi pada pria yang Lea terka adalah suaminya.
Tapi wajah pria itu terlihat tak asing dan Lea seperti pernah melihatnya.
Tapi dimana?
"Kau, bukankah kau Azzalea, tunangan Randu?" Tanya pria tadi tiba-tiba yang langsung membuat Lea meringis.
Ya ampun, Lea baru ingat kalau ternyata pria itu adalah teman Randu yang waktu itu.
"Randu sudah bertunangan?" Wanita yang tadi Lea tabrak terlihat kaget.
__ADS_1
"Iya, ini tunangannya-"
"Sebenarnya aku dan Randu tidak bertunangan!" Lea menyela dengan cepat untuk mengoreksi.
"Aku bertunangan dengan pacarku yang bernama Rayyen dan Randu hanya menggantikan Rayyen di acara pertunangan kemarin sampai nanti Rayyen kembali!"
"Kau teman Randu, kan? Jadi Randu pasti sudah mengatakannya padamu!" Cecar Lea pada pria di depannya tersebut.
"Aku Haezel! Dan, ya! Aku temannya Randu."
"Lalu ini Mayra istriku dan yang kecil ini adalh putri kami, Zelyra!" Ucap Haezel panjang lebar yang malah memperkenalkan dirinya serta keluarganya pada Lea.
Astaga!
Ternyata teman Randu ini juga sama anehnya dengan Randu.
"Jadi sebenarnya, dia tunangan Randu atau bukan?" Tanya Mayra menatap bingung pada Haezel.
"Bukan!" Jawab Lea tegas.
"Itu hanya sebuah sandiwara!" Bisik Lea selanjutnya pada Haezel
"Mom! Sudah belum ngobrolnya? Zelyra lapar," celetukan dari gadis kecil yang sejak tadi masih digandeng oleh Haezel seolah menghentikan perdebatan Lea dan pasutri di depannya tersebut.
Tapi tunggu!
Kenapa nama gadis kecil ini adalah Zelyra?
Bukanlah Zelyra itu nama putrinya Randu?
Mustahil Haezel dan Randu memberikan nama yang sama pada putri mereka!
"Gadis kecil ini putri kalian?" Tanya Lea akhirnya seraya memperhatikan dengan seksama wajah Zelyra. Wajahnya sama persis dengan foto di ponsel Randu!
"Ya! Zelyra putri kami!" Jawab Haezel cepat.
"Putri kandung?" Tanya Lea lagi.
"Putri kandung! Apa ada masalah?" Jawab Haezel yang sepertinya sedikit tersinggung dengan pertanyaan Lea yang terakhir.
"Maaf, jika pertanyaanku lancang!" Ucap Lea yang mendadak jadi tak enak hati.
"Ngomong-ngomong, kau kan sahabatnya Randu, boleh aku bertanya satu hal tentang Randu?" Tanya Lea selanjutnya pada Haezel.
"Satu hal apa?" Jawab Haezel cepat.
"Apa Randu punya seorang putri berumur lima tahun yangvbernama Zelyra juga?" Tanya Lea yang sesaat langsung membuat Haezel dan Mayra melebarkan kedua matanya.
Oo!
Apa Lea baru saja melontarkan pertanyaan yang salah?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1