Pengganti Calon Suami Azzalea

Pengganti Calon Suami Azzalea
LEA DIMANA?


__ADS_3

"Lea!!" Randu memanggil-manggil Lra saat tiba-tiba telepon diputus sepihak oleh Lea.


Sial!


Randu mencoba menghubungi nomor Lea lagi, tapi nomor sudah tidak aktif!


Apa Lea mematikan ponselnya? Atau gadis itu memblokir nomor Randu?


"Mas!" Tepukan dari Rania membuat Randu terlonjak kaget.


"Mbak Lea-"


"Eh, Mbak Azza mana, Mas? Rania beli dua ponsel buat Mas Randu dan Mbak Azza, lho!" Rania memamerkan sebuah paperbag yang kini ia tenteng pada Randu. Sepertinya itu ponsel keluaran terbaru.


"Lea pergi!" Jawab Randu frustasi.


"Pergi kemana, Mas? Ke kantin rumah sakit?" Cecar Rania pada Randu.


"Pergi dari rumah sakit dan dari kota ini!"


"Ck!" Randu tak menggubris adiknya lagi dan pria itu malah berlalu pergi.


"Loh! Mas Randu!" Panggil Rania pada Randu yang sudah dengan cepat masuk ke dalam lift.


"Mas! Ponselnya bagaimana?" Seru Rania yang hanya diabaikan oleh Randu. Pintu lift sudah tertutup dan Rania tak sempat mengejar Randu yang terlihat antara bingung, frustasi, atau mungkin marah.


"Rania, Randu dan Azza mana?" Tanya Nyonya Wiyata yang sudah keluar dari kamar perawatan. Mama kandung Randu dan Rania itu sudah terlihat segar dan tak seperti orang sakit pada umumnya.


Lhoh!


"Mama sudah sembuh? Kok sudah pakai baju rapi kayak mau pergi?" Tanya Rania menatap bingung pada sang mama.


"Mama mau ke butik untuk fitting baju pengantinnya Azza!" Jawab Nyonya Wiyata seraya memakai kaca mata hitamnya.


"Mana Azza?" Tanya wanita paruh baya itu selanjutnya.


"Pergi tadi kata Mas Randu. Baru disusul juga sama Mas Randu," jawab Rania yang langsung membuat Nyonya Wiyata kembali melepaskan kacamata hitamnya.


"Pergi kemana?" Wanita paruh bayavitu menatap tajam pada sang putri.


"Rania tidak tahu, Ma! Tadi Mas Randu cuma bilangnya Mbak Azza itu pergi dari rumah sakit ini dan dari kota ini juga. Rania kan bingung!" Jawab Rania panjang kali lebar.


"Randu dan Azza bertengkar memangnya? Kok Azza tiba-tiba pergi?" Cecar Nyonya Wiyata lagi pada Rania.


"Rania tidak tahu, Ma! Jangan tanya ke Rania terus, dong! Rania pusing!" Rania mendaratkan bokongnya ke kursi di depan kamar perawatan dan gadis itu juga membanting paperbag yang sejak tadi ia bawa. Sepertinya Rania lupa kalau isi dari paperbag itu adalah dua ponsel mahal untuk Randu dan Lea.


"Itu kamu bawa apa?" Tanya Nyonya Wiyata mengendikkan dagunya pada paperbag yang masih dibawa Rania.


"Ponsel-" Rania meringkuk sebentar, lalu kembali mempraktekkan saat dirinya tadi membanting paperbag itu tadi.


"Eh, iya lupa! Kok Rania banting-banting, ya?" Gadis itu meringis namun tangannya kembali membanting paperbag berisi ponsel.


"Banting terus saja ponsel Masmu, Rania!" Sinis Nyonya Wiyata seraya mengambil alih paperbag tadi dari tangan Rania, lalu membantingnya sekuat tenaga.


Lah!

__ADS_1


Malah barbar!


"Kok malah dihancurin, Ma?" Tanya Rania bingung.


"Kamu tahu nomor ponsel masmu, tidak?" Tanya Nyonya Wiyata tanpa menjawab pertanyaan sang putri.


"Katanya ponsel Mas Randu hilang? Gimana, sih, Ma? Rania bingung!" Rania memijit pelipisnya sendiri yang mendadak pening.


"Ck! Masmu itu bawa ponsel tadi! Tapi bohong ke mama dan bilang ponselnya hilang-" Nyonya Wiyata belum menyelesaikan kalimatnya, saat Rania tiba-tiba malah sudah tertawa terbahak-bahak.


"Dan mama percaya gitu aja sama kebohongan Mas Randu?" Seloroh Rania yang tetap tergelak.


"Ck! Malah ngetawain Mama!" Nyonya Wiyata berdecak dengan kelakuan sang putri.


"Habisnya, Mama selalu saja percaya pada omongan Mas Randu sejak dulu. Mau dibohongin juga percaya aja nggak diselidiki dulu!" Ledek Rania pada sang mama.


"Kamu juga sama saja! Pas mama suruh beliin ponsel baru untuk Randu langsung nurut saja tidak protes atau mengingatkan mama!" Nyonya Wiyata balik menyalahkan Rania.


"Wah kalau soal belanja ya tidak usah ditanya dua kali, Ma! Kan Rania sekalian ganti ponsel juga tadi!" Rania memamerkan ponsel barunya pada sang mama.


"Halah! Sukanya cari-cari kesempatan!" Nyonya Wiyata balik mencibir sang putri.


"Jadinya ini Randu dan Azza kemana? Coba kamu telepon masmu!" Perintah Nyonya Wiyata pada Rania.


"Siap!" Rania langsung mencari kontak Randu dan menelepon mas-nya tersebut.


"Halo! Ada apa, Rania?"


"Mas dan Mbak Azza kemana? Ini Mama-" kalimat Rania belum selesai saat Nyonya Wiyata sudah dengan cepat merebut ponsel putrinya tersebut.


"Nikahi dulu Azza! Di sahkan dulu! Nanti setelah itu, Azza mau kamu bawa kesana kesini terserah!"


"Jangan macam-macam kamu sama anak gadis orang!" Cerocos Nyonya Wiyata memperingatkan sang putra.


"Randu tidak membawa kabur Lea, Ma!"


"Lea sendiri yang tiba-tiba kabur tadi tanpa pamit tanpa bilang apa-apa setelah menerima telepon entah dari siapa!"


"Iya teleponnya dari siapa? Kamu kan detektif! Ya kamu selidiki! Masa iya memecahkan kasus bisa tapi mencari istri yang kabur tidak bisa! Detektif payah kamu!" Cerocos Nyonya Wiyata lagi.


"Iya ini Randu sedang mencari Lea, Ma! Memangnya mama kira Randu sedang apa? Membajak sawah?"


"Yasudah cepat kamu cari Azza!"


"Punya istri kok sukanya kabur-kaburan!" Pungkas Nyonya Wiyata seraya mematikan teleponnya pada Randu.


"Lah, Ma! Kok dimatiin? Rania kan juga mau bicara sama Mas Randu!" Cebik Rania pada sang mama.


"Kan bisa kamu telepon lagi! Begitu saja manja!"


"Mama pusing!" Nyonya Wiyata memegangi kepalanya dan kembali masuk ke kamar perawatan.


"Ma! Nggak jadi pulang?" Tanya Rania seraya menyusul Nyonya Wiyata ke dalam kamarnya perawatan.


"Mama pusing! Kamu panggilin dokter dulu sana! Mama mau tiduran di rumah sakit lagi!" Nyonya Wiyata sudah naik ke atas bed perawatan.

__ADS_1


"Trus kamu bilang ke Randu, kalau Azzasudah ketemu suruh langsung bawa kesini! Ini mama sakit gara-gara Azza kabur-kaburan! Jadi dia harus tanggung jawab!" Tukas Nyonya Wiyata lagi yang langsung membuat Rania garuk-garuk kepala.


Sakit bisa mood-mood-an begitu, ya?


Rania baru tahu!


****


"Pasien atas nama Rayyen!" Azzalea yang baru tiba di rumah sakit langsung menanyakan keberadaan Rayyen di meja informasi.


"Dia korban kecelakaan," ujar Lea lagi menambahkan informasi. Lea sedang tidak bisa menelepon Rayyen karenq ponselnya mati kehabisan baterei dan Lea tak membawa charger.


Payah!


"Masih di UGD karena pihak keluarga belum datang," ucap petugas di bagian informasi akhirnya memberitahukan Lea.


"Terima kasih!" Lea bergegas berlari ke arah UGD untuk mencari Rayyen.


"Rayyen!" Panggil Lea bersamaan dengan Rayyen yang langsung menoleh pada Lea.


"Sayang!" Sambut Rayyen seraya merentangkan kedua tangannya ke arah Lea.


Lea langsung menghampiri dan memeluk Rayyen.


"Aku langsung kesini tadi setelah kau telepon," cerita Lea yang masih memeluk Rayyen dengan erat.


"Apa luka-lukamu parah?" Tanya Lea yang sudah ganti memindai sekijur tubuh Rayyen.


"Hanya luka di kaki saja yang sedikit parah," ujar Rayyen seraya menunjuk ke kaki kirinya yang diperban.


"Apa patah?" Tanya Lea lagi khawatir.


"Tidak! Hanya luka lecet dan tidak ada tulang yang patah," terang Rayyen yang langsung membuat Lea bernafas lega.


"Uhuuk! Uhuuk!" Seorang wanita yang batuk-batuk di samping Rayyen langsung bisa menarik perhatian Lea. Sepertinya wanita itu juga korban kecelakaan karena tangan dan kakinya juga mengalami lecet-lecet seperti halnya Rayyen.


"Dia siapa, Sayang?" tanya Lea berbisik-bisik pada Rayyen.


"Aku juga tidak tahu! Tapi dia korban kecelakaan juga karen atadi kecelakaannya melibatkan beberapa kendaraan."


"Dan dia mengatakan kalau keluarganya tak ada di kota ini, lalu dompetnya hilang saat kecelakaan."


"Astaga!" Lea membungkam mulitnya sendiri dan menatap iba pada wanita di samping bed perawatan Rayyen.


"Kalau kita membantu biaya perawatannya bagaimana?" Tanya Rayyen selanjutnya meminta pendapat Lea.


"Tidak masalah!" Jawab Lea cepat. Lea menghampiri wanita tadi dan mengajak berkenalan lalu sedikit berbasa-basi. Tak lupa Lea juga menyampaikan niat baiknya untuk menanggung biaya perawat wanita tersebut.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2