
"Tidak!" Tolak Haezel tegas saat Randu dan Lea meminta izin untuk membawa Zelyra honeymoon bersama mereka.
"Kalian sudah gila! Mana ada orang honeymoon membawa anak kecil?" Omel Haezel lagi.
"Kan sekalian mengajak Zelyra liburan dan jalan-jalan!" Randu masih saja beralasan.
"Tidak!" Tegas Haezel sekali lagi seraya mengibaskan tangannya ke arah Randu.
Haezel sedang mengusir Randu?
"Zelyra harus sekolah dan ini bukan musim liburan!" Sergah Haezel lagi mengingatkan Randu.
"Ck!" Randu akhirnya hanya bisa berdecak pasrah.
"Jiwa keibuan pasti akan muncul dengan sendirinya saat nanti kau hamil dan melahirkan, Lea! Jadi tak perlu khawatir," ujar Mayra seolah sedang menenangkan Lea.
"Kau dulu juga begitu, May?" Tanya Lea penasaran.
"Mayra dulu sudah lincah mengasuh Latisha sebelum menikah denganku!" Bukan Mayra melainkan Haezel yang menjawab sekaligus pamer mungkin.
Lea sontak kembali merasa insecure pada dirinya yang sama sekali tak menyukai anak-anak. Kenapa juga Lea harus jadi manusia seperti ini?
"Mas!" Tegur Mayra pada Haezel yang malah membuat Lea kembali merasa insecure.
"Apa? Aku hanya berkata jujur dan apa adanya."
"Mungkin kita harus menunda punya momongan sampai aku siap menjadi orang tua, Randu!" Bisik Lea yang langsung ditolak oleh Randu.
"Aku yakin kau sudah siap!" Ujar Randu bersungguh-sungguh.
"Tapi bagaimana kalau nanti aku tak bisa sesabar dan setelaten Mayra saat mengasuh anak kita kelak?" Tanya Lea yang sudah sangat pesimis.
"Ck! Jangan berpikir begitu!" Sergah Randu yang sudah merangkul Lea.
"Bagaimana kalau kalian ikut kelas persiapan menjadi orang tua baru?" Cetus Haezel tiba-tiba.
"Memang ada kelas seperti itu?" Tanya Randu dan Lea serempak.
"Ada!" Jawab Haezel yakin.
"Nanti aku daftarkan!" Imbuh Haezel lagi.
"Atau mungkin kau bisa membuka kelas memasak untuk anak-anak, Lea! Kau kan seorang koki."
"Di sekolah Zelyra juga suka ada kelas memasak untuk anak-anak," ujar Mayra mencetuskan ide lain.
"Boleh itu, Sayang! Nanti kita minta bantuan Rania untuk membuat acaranya," timpal Randu yang langsung setuju dengan usulan Mayra.
"Enggak!" Lea langsung cepat menggeleng.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku paling nggak bisa ngajarin anak buat masak apalah!"
"Demo masak di depan ibu-ibu aja kadang udah bikin emosi karena mereka bawel. Apa kabar kalau anak-anak? Mereka berisik!" Komentar Lea panjang lebar yang langsung mendapat tatapan aneh dari Randu, Haezel, dan Mayra.
"Iya ciri khas anak-anak kan memang berisik, Lea!" Ucap Mayra yang langsung membuat Lea salah tingkah.
"Nanti kita coba dulu demo masak di depan anak-anak, ya! Lalu baru lanjut kelas memasak untuk anak-anak!" Bujuk Randu seraya merangkul Lea yang masih merasa keberatan.
"Kalau aku tidak bisa sabar bagaimana?" Tanya Lea tetap pesimis.
"Pasti bisa, Lea! Kan belum dicoba!" Ujar Mayra memberikan semangat untuk Lea.
"Mayra benar! Kau tidak akan tahu sampai kau mencobanya!" Timpal Haezel yang ikut-ikutan merangkul Mayra. Sekarang Randu dan Haezel sudah sama-sama merangkul istri mereka masing-masing.
"Sudah saatnya menjemput Zelyra!" Mayra mengingatkan sang suami yang turut didengar juga oleh Randu.
"Tenang!"
"Aku dan Lea yang akan menjemput Zelyra, lalu sekalian mengajaknya belanja!"
"Nanti setelah itu Lea akan memasak pizza bersama Zelyra!" Cetus Randu yang langsung membuat kedua mata Lea membelalak.
"Hari ini?"
"Kau, Mayra dan Zelyra memasak pizza, lalu aku dan Haezel akan kembali ke kantor untuk bekerja!" Jawab Randu enteng.
"Sebenarnya aku sudah berjanji untuk menemani Mami Emily ke salon setelah menjemput Zelyra," sela Mayra mengungkapkan rencana kegiatannya.
"Oh, kalau begitu biar Lea saja yang memasak pizza bersama Zelyra!" Jawab Randu enteng.
"Randu!" Lea susah panik sekarang.
"Bagaimana, Pak Kepala? Kau mengizinkan Zelyra memasak pizza bersama Lea di apartemenku, kan?" Tanya Randu meminta izin pada Haezel yang tampak berpikir.
"Jangan berikan izin!" Lea memperingatkan Haezel seraya menuding pada atasan Randu tersebut.
"Mmmmm, setelah aku timbang-timbang, sepertinya tak masalah Lyra belajar membuat pizza bersama Lea. Mungkin saja setelah itu nanti Lyra bisa lanjut jadi koki cilik," jawab Haezel yang langsung membuat Lea menghentakkan satu kakinya karena kesal. Kenaoa tak ada satupun yang berpihak pada Lea hari ini?
"Randu!" Lea kembali merengek pada Randu.
"Nanti aku temani belanjanya!" Ujar Randu menenangkan Lea.
"Lalu memasaknya?"
"Ya kau bersama Zelyra saja! Aku kan tidak bisa membuat pizza apalagi memasak," jawab Randu beralasan.
"Dan kau masih harus ke TKP kasus yang kemarin kita tangani, Randu!" Timpal Haezel mengingatkan sang sahabat.
__ADS_1
"Dengar! Aku harus bekerja!" Randu menambah alasannya dan Lea kembali harus menghentakkan satu kakinya karena kesal.
"Kalian berdua jadi menjemput Lyra atau tidak?" Mayra mengingatkan Randu dan Lea yang masih asyik berdebat.
"Jadi!" Jawab Randu cepat yang langsung merangkul Lea, lalu meninggalkan rumah Haezel.
****
"Tante Lea!" Pekik Zelyra yang baru keluar dari gerbang sekolah. Gadis lima tahun itu langsung memeluk Lea.
"Balas peluk!" Randu memberikan aba-aba pada Lea yang terlihat bingung. Namun Lea akhirnya balas memeluk Zelyra meskipun kedua tangannya masih kaku.
"Mommy kemana? Kok nggak jemput Lyra?" Tanya Lyra pada Lea.
"Mommy sedang pergi bersama Omi! Jadi hari ini Lyra akan...." Lea menatap pada Randu seraya menirukan apa yang dikatakan oleh Randu untuk Lea katakan pada Zelyra.
"Lyra akan membuat pizza bersama tante Lea di apartemen," ucap Lea yang masih setengah hati.
"Lyra suka?" Randu masih memberitahu Lea apa yang harus ia katakan memakai gerakan bibir.
"Lyra suka?" Tanya Lea pada Zelyra yang kini harus mendongakkan kepalanya karena Lea yang berbicara tanpa menyamakan posisinya dengan Lyra.
"Jongkok!" Randu memberikan aba-aba pada Lea agar berjongkok dan menyamakan posisinya dengan Zelyra.
"Lyra mau membuat pizza di apartemen bersama tante Lea?" Lea terpaksa mengulangi ajakannya pada Lyra.
"Lyra tidak terlalu suka pizza, Tante! Lyra lebih suka roti manis atau burger," tukas Zelyra yang langsung membuat Lea menarik nafas panjang.
"Baiklah, bagaimana kalau kita membuat donat dan burger saja?" Usul Lea setelah wanita itu mengumpulkan kesabarannya dan berusaha untuk tak meledak.
"Lyra mau!" Jawab Zelyra akhirnya penuh semangat.
"Oke! Kita belanja dulu!" Lea sudah bangkit berdiri, lalu berbalik dan meninggalkan Zelyra begitu saja.
"Lea! Gandeng tangan Zelyra dan bantu naik ke mobil!" Randu kembali memberikan aba-aba pada Lea dan sekali lagi Lea harus menarik nafas panjang agar emosinya tak meledak.
Serumit ini menjadi care pada anak-anak!
Lea mungkin akan gila tak lama lagi!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1