Pengganti Calon Suami Azzalea

Pengganti Calon Suami Azzalea
MENCARI LEA


__ADS_3

"Randu, kau sudah kembali?" Sapa Haezel yang sedikit membuat Randu kaget. Randu memang ke kantor pagi-pagi atau tepatnya setelah tiba di kota ini, Randu langsung menuju ke kantor karena ia ingin secepatnya melacak nomor Lea serta dimana sebenarnya gadis itu.


"Bagaimana keadaan mamamu? Sudah membaik?" Tanya Haezel lagi pada Randu yang belum menjawab sapaannya tadi.


"Ya! Mama sudah sehat dan baikan," jawab Randu sambil matanya masih fokus menatap ke layar monitor.


"Kau sedang melacak nomor siapa? Itu lokasinya dekat jalan tol. Kemungkinan pemilik nomor melakukan panggilan saat berada di dalam kendaraan," ujar Haezel setelah membaca titik lokasi yang berkedip-kedip di layar.


"Ya!"


"Lokasi terakhirnya di jalan tol berarti." Gumam Randu merasa frustasi.


"Kau melacak nomor siapa memangnya?" Haezel mengulangi pertanyaannya pada Randu.


"Bukan siapa-siapa!" Jawab Randu seraya meraih ponselnya. Randu lalu mencoba menghubungi nomor Lea sekali lagi, namun lagi-lagi hanya operator yang menjawab dan mengatakan kalau nomor sedang tidak aktif.


Ya ampun!


Apa Lea sengaja mematikan ponselnya agar Randu tidak bisa melacak keberadaan gadis itu?


"Randu, kau melamun?" Tegur Haezel yang langsung membuat Randu tersentak.


"Tidak!" Sanggah Randu berdusta. Padahal sebenarnya Randu tadi memang tengah melamun.


"Apa kemarin ada kasus kecelakaan yang masuk, Ezel?" Tanya Randu pada sang atasan.


"Kita bukan polisi lalu lintas yang menangani kecelakaan! Kita di bagian kriminal dan hanya menangani kasus-kasus kriminal seperti pembunuhan," terang Haezel seolah sedang mengingatkan Randu.


"Iya, aku ingat! Aku hanya bertanya barangkali kau tahu," Randu mengendikkan kedua bahunya.


Tidak ada titik terang sama sekali mengenai keberadaan Lea!


Atau jangan-jangan gadis itu malah sudah pulang ke rumah orang tuanya?


Bodoh!


Kenapa Randu tadi tak mampir ke sana untuk mengecek?


Randu bangkit dari duduknya dengan cepat, lalu menyambar jaketnya juga.


"Mau kemana, Randu? Ini sudah masuk jam kerja!" Haezel mengetuk-ngetuk arloji di pergelangan tangannya.


"Aku hanya izin sebentar, Pak kepala! Ada hal mendesak yang harus aku selesaikan!" Ujar Randu beralasan.


"Hal mendesak apa? Ini tentang kasus yang saat ini kau tangani?" Tanya Haezel memastikan.


"Bukan! Ini soal hal lain. Tapi ini sangat mendesak. Jadi, aku pergi dulu!" Randu berlari cepat ke arah tangga, meninggalkan Haezel yang hanya geleng-geleng kepala.


Dasar Randu!


****

__ADS_1


"Jadi kau membayar seorang pria untuk berpura-pura menjadi aku di depan semua keluargamu?" Tanya Rayyen setelah Lea menyelesaikan ceritanya tentang acara pertunangan yang nyaris kacau karena Rayyen tidak datang.


Ya, seharusnya saat ini, Lea marah pada Rayyen atau memaki pria di depannya ini!


Tapi Lea tak bisa melakukannya karena Lea sudah sangat tergila-gila pada Rayyen.


"Aku terpaksa melakukannya karena kau tidak datang!" Sergah Lea beralasan.


"Kau kemana sebenarnya saat itu, Rayyen? Kau bahkan belum bercerita apapun kepadaku hingga detik ini.


"Aku berani bersumpah kalau saat itu aku sudah dalam perjalanan ke lokasi acara. Aku bahkan sudah mengenakan jas yang kau kirimkan kepadaku-"


"Lalu kau belok kemana? Kenapa tak sampai di lokasi acara, hingga acara selesai?" Lea mencecar Rayyen dengan sejuta pertanyaan yang sudah Lea tahan beberapa minggu ini!


"Aku hanya mampir sebentar ke ATM untuk mengambil uang. Tapi mendadak aku dihadang oleh perampok bersenjata tajam yang merampas semua ponsel, dompet, semua-semua yang aku bawa mereka ambil!" Cerita Rayyen dengan raut wajah melas, seolah hanya dia satu-satunya orang di dunia ini yang pernah kerampokan


"Lalu kenapa kau tak menghubungiku setelahnya? Aku pasti akan membantumu," Tanya Lea lagi pada Rayyen.


"Aku sama sekali tak ingat nomormu, makanya aku tak bisa menghubungimu, Sayang!" Jawab Rayyen beralasan.


"Lalu selang beberapa hari aku menemukan kartu namamu di apartemen jadi aku bisa kembali menghubungimu," lanjut Rayyen lagi.


Lea hanya menghela nafas mendengar semua cerita Rayyen tersebut.


"Lalu kenapa kau tak langsung menemuikan setelahnya? Aku merasa sedikit kecewa dengan sikapmu!" Cecar Lea lagi menatap tak mengerti pada Rayyen.


"Itu karena aku sudah ada janji bertemu klien penting di luar kota! Tapi bukankah aku langsung menghubungimu setelahnya?"


"Seharusnya kau lebih berhati-hati, Rayyen!" Lea meraih tangan Rayyen dan menggenggamnya dengan erat.


"Aku baik-baik saja," ucap Rayyen bersungguh-sungguh.


"Tapi pertunanganmu dengan pria asing, siapa namanya?" Rayyen terlihat mengingat-ingat nama Randu.


"Randu!" Sahut Lea cepat.


"Namanya lumayan kampungan! Apa dia pria miskin yang sedang butuh uang, hingga mau menjadi tunangan pura-puramu?" Tanya Rayyen meremehkan dan merendahlan Randu.


"Aku tidak tahu!" Jawab Lea yang tak mau banyak bercerita tentang Randu terutama tentang Randu yang tak sepeserpun meminta bayaran karena menjadi tunangan pura-pura Lea.


Lea hanya tak mau Rayyen jadi salah sangka!


Yaiyalah!


Bagaimana Randu mau minta bayaran jika pria itu sudah kaya dari lahir?


Uang Randu pasti juga melimpah ruah dan tak berseri!


"Dan pertunangan itu hanya pura-pura, Rayyen! Kau tenang saja!"


"Keluargaku tahunya aku bertunangan dengan Rayyen," jelas Lea berusaha meyakinkan Rayyen.

__ADS_1


"Jadi, secara tak langsung Randu sudah menyamar menjadi aku, begitu? Kau memberikannya topeng yang mirip denganku?" Tanya Rayyen memastikan.


"Tidak!" Jawab Lea cepat.


"Jadi nanti saat aku bertemu keluargamu, aku harus menakai topeng Randu?" Tanya Rayyen lagi.


"Tidak juga!" Jawab Lea cepat. Rayyen sontak mengernyit.


"Nanti aku akan menjelaskan pada papi semuanya," jelas Lea selanjutnya pada Rayyen.


"Papimu akan mengamuk!" Sergah Rayyen yang seolah sudah hafal dengan tabiat Papi Daniel.


"Aku akan memakai jurus ancaman lagi," ujar Lea memberikan solusi.


"Kau mau membantuku, kan, Rayyen?" Tanya Lea menatap Rayyen dengan puppy eye.


"Iya, baiklah! Tapi nanti kalau lukaku sudah pulih semua!" Jawab Rayyen mengajukan syarat.


"Oke!" Jawab Lea cepat.


"Tapi misalnya papimu menolak hubungan kita bagaimana, Lea?" Tanya Rayyen mengungkapkan kemungkinan terburuk.


"Kita kawin lari saja!" Cetus Lea cepat.


"Hah? Tapi pekerjaanmu bagaimana?" Tanya Rayyen spontan yang sontak langsung membuat Lea mengernyit.


"Maksudku, kau kan sudah punya pekerjaan mapan dengan gaji tinggi sekarang di restoran milik opamu! Jadi apa tidak sayang kalau-"


"Aku tetap bisa bekerja dimanapun, Rayyen! Aku punya kemampuan dan pengalaman! Jadi tak akan sulit bagiku," tutur Lea menatap Rayyen penuh keyakinan.


"Baiklah, aku percaya!" Gumam Rayyen yang seperti terlihat kecewa dengan keputusan Lea jika orang tua Lea tak merestui hubungan mereka.


"Kau punya maid di apartemen?" Tanya Lea selanjutnya pada Rayyen.


"Tidak ada!" Jawab Rayyen cepat.


"Baiklah, aku akan merawatmu di apartemen kalau begitu. Sekalian aku punya rencana agar Papi dan Mami merestui hubungan kita nantinya," ujar Lea lagi.


"Rencana apa, Sayang?" Tanya Rayyen penasaran.


"Kau akan tahu nanti!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2