Pengganti Calon Suami Azzalea

Pengganti Calon Suami Azzalea
JADI DUA


__ADS_3

"Ekornya dulu baru kepalanya." Randu bergumam seraya memutar-mutar sandwich bentuk babyshark di depannya.


Tak lupa Randu juga tersenyum pada kamera ponsel yang saat ini tengah merekam dirinya yang sedang makan sandwich babyshark. Kalau bukan demi menuruti ngidamnya Lea, Randu tak akan melalukan hal konyol ini!


"Katanya tadi trauma dikejar babyshark? Lalu kenapa sekarang malah makan babyshark?" Tanya Haezel bertepatan dengan Randu yang baru saja menggigiti ekor babyshark-nya.


"Sial!" Umpat Randu kesal.


Tadi Randu memang semoat curhat pada Haezel perihal Lea yang ngidam babyshark hingga Randu terpaksa membeli semua boneka Babyshark di toko dan berakhir dengan Randu yang mimpi buruk tentang balita Babyshark.


Rasanya Randu masih begidik jika mengingat mimpinya semalam tentang balita babyshark!


"Ini sandwich, ya?" Tanya Haezel selanjutnya merasa kepo. Rekan sekaligus atasan Randu tersebut menunjuk ke kotak bekal Randu yang tadi dibawakan oleh Lea.


"Ya! Ini namanya sandwich babyshark, Pak Kepala! Tidak dijual dimanapun dan hanya dibuat oleh Lea! Limited edition!" Jawab Randu pamer.


Haezel malah justru tergelak mendengar jawaban lebay Randu.


"Jangan lupa hari ini ada pemeriksaan beberapa saksi," ujar Haezel mengingatkan Randu yang sudah lanjut menyantap bekal sandwich-nya.


"Kau duluan saja! Nanti aku menyusul," ujar Randu dengan mulut yang masih penuh sandwich. Randu bahkan baru ingat, kalau kamera ponselnya masih menyala sejak tadi.


Apa itu artinya obrolannya bersama Haezel tadi turut terekam juga?


Sudahlah, nanti tinggal Randu cut saat dikirim ke Lea.


"Aku makan ekor babyshark-nya, Sayang!" Ucap Randu pada kamera ponselnya, seolah-olah kamera itu adalah Lea.


Sudah mirip orang gila, ya?


"Sekarang aku ganti makan kepalanya!" Ujar Randu lagi seraya menggigit kepala sandwich babyshark yang ternyata berisi telur.


"Wow! Ada kejutannya!" Gumam Randu seraya terkekeh sendiri.


"Randu!" Panggil Haezel lagi dan Randu hanya bisa berdecak. Randu segera menghabiskan sandwich-nya, sebelum kemudian pria itu mematikan kamera ponselnya dan menyusul Haezel ke ruang pemeriksaan.


****


[Sudah dimakan sandwich-nya?] -Lea-


Randu masih berdiskusi dengan Haezel saat pesan dari Lea masuk ke ponselnya. Randu hendak mengetikkan balasan pesan, namun Haezel dengan cepat melontarkan pertanyaan,


"Kau paham maksudku tadi?"


"Iya, tentu saja paham! Aku menyimak sejak tadi dan tidak sedang melamun!" Jawab Randu sedikit bersungut.


"Tapi tanganmu sibuk mengutak-atik ponsel!" Haezel mengendikkan dagunya ke tangan Randu yang memang masih berada si atas layar, dan tentu saja hal itu sontak membuat Randu meringis.


"Hanya sedang membuka pesan dari Lea!"


"Seperti kau tak pernah bucin saja pada Mayra!" Ujar Randu beralasan sekaligus meledek Haezel.


"Ngomong-ngomong soal bucin, aku harus pulang cepat hari ini," ujar Haezel seraya menutup map di depannya.


"Ada acara apa?" Tanya Randu kepo.


"Mayra ulang tahun, dan aku sudah berjanji akan mengajaknya berkunjung ke makam kedua orangtuanya," jelas Haezel.


"Happy birthday!" Randu bertepuk tangan dengan lebay.


"Yang ulang tahun Mayra dan bukan aku!" Ujar Haezel memperjelas.


"Nanti bisa kau sampaikan ucapanku tadi pada Mayra," tukas Randu yang hanya membuat Haezel mengangguk.


"Jadi, kau akan cuti?" Tanya Randu selanjutnya.


"Paling lama satu pekan! Aku yakin kau bisa menggantikanku selama aku pergi," Haezel mengerling pada Randu.


"Aku boleh minta naik jabatan bulan depan?" Randu mengajukan negosiasi.


"Mau naik jadi apa? Pak kepala juga?" Tanya Haezel.


"Bukan! Diatasnya Pak Kepala," jawab Randu mengingat-ingat.


"Kau bisa jadi kepala rumah tangga kalau begitu!" Ujar Haezel akhirnya yang langsung membuat Randu tergelak.


"Aku pulang duluan," pamit Haezel selanjutnya pada Randu yang hanya mencibir.


Randu lanjut mengetikkan pesan balasan pada Lea yang tadi belum jadi ia ketik.


[Sudah aku makan sandwich-nya, Sayang! Terima kasih bekal cantiknya] -Randu-

__ADS_1


Tak berselang lama, balasan pesan dari Lea sudah masuk ke ponsel Randu.


[Kenapa lama sekali membalas pesan? Dari tadi mengetik terus, mengetik terus! Isi pesannya padahal juga hanya sembilan kata! Kau sedang bersama siapa?] -Lea-


Randu sontak mengernyit dengan pesan garang Lea.


[Aku bersama Haezel tadi] -Randu-


[Tadi? Lali sekarang? Bersama seorang wanita? Kau selingkuh di belakangku?] -Lea-


"Hah? Lea kenapa?" Gumam Randu yang mendadak bingung dengan isi pesan Lea yang tiba-tiba menuduhnya selingkuh. Segera Randu menelepon istrinya itu via video call agar Lea percaya.


"Sayang," sapa Randu setelah Lea mengangkat video call-nya.


"Kau sedang dimana? Di rumah selingkuhanmu?" Cecar Lea yang wajahnya sudah berubah merengut.


"Aku masih di kantor!"


"Lihat! Tidak ada siapa-siapa di depanku." Randu mengarahkan kamera ponselnya ke setiap sudut ruangan Haezel. Tadi Randu memang sedang berada di ruangan Pak kepala itu, untuk membahas kasus.


"Itu ada foto siapa di atas meja?" Tanya Lea dengan suara yang sudah meninggi.


"Foto Haezel, Mayra, dan Zelyra. Aku sedang di ruangan Haezel, Sayang!" Jelas Randu pada sang istri.


"Kenapa tidak di ruanganmu sendiri? Kau menyembunyikan sesuatu di ruanganmu?" Tuduh Lea lagi yang langsung membuat Randu garuk-garuk kepala.


"Tadi aku sedang membahas kasus bersama Haezel, Sayang!" Sergah Randu kembali menjelaskan pada Lea.


"Lalu Haezel mana? Aku tak melihatnya dimana-mana!" Cecar Lea lagi.


"Dia sudah pulang tadi. Mayra ulang tahun dan Haezel mau mengajaknya pergi!"


"Lalu kenapa kau tidak pulang juga? Kenapa kau masih betah di kantor? Ada siapa sebenarnya di kantor? Kau punya wanita simpanan karena sekarang aku hamil dan berubah jelek?" Lea tiba-tiba sudah menangis sesenggukan setelah wanita itu melayangkan tuduhan-tuduhan konyol pada Randu.


Lea kenapa sebenarnya? Apa ini efek dari hormon kehamilannya juga?


"Lea, Sayang!" Panggil Randu yang merasa bingung harus berkata-kata bagaimana untuk membujuk Lea. Randu melihat ke arlojinya yang bahkan masih menunjukkan pukul satu siang. Jam pulang kantor masih lama!


"Lea," panggil Randu lagi.


"Aku ngantuk! Aku mau tidur!" Ucap Lea tiba-tiba setelah wanita itu menyeka airmatanya sendiri memakai tisu.


Orang sedang bekerja dan pusing dengan berbagai kasus, malah dituduh sedang selingkuh!


Ada-ada saja!


"Siapa yang marah sama kamu? Ck!" Lea berdecak sebelum kemudian wanita itu terlihat bangkit dari sofa dan pergi masuk ke kamar. Sepertinya Lea baru saja meninggalkan ponselnya di meja ruang tengah dan sengaja tak membawanya.


"Lea, Lea!" Randu hanya geleng-geleng kepala dan tertawa sendiri dengan kelakuan Lea yang memang sering labil belakangan ini. Kalau menurut artikel yang Randu baca, apa yang terjadi pada Lea masih masih termasuk wajar karena hormon kehamilan memang membuat mood ibu hamil jadi naik turun.


Baiklah, Randu hanya perlu meningkatkan kesabaran saja untuk menghadapi mood swing yang Lea alami.


****


"Ini kenapa kamu motongnya besar-besar begini, Sayang?" Komentar Lea setelah wanita itu memeriksa wortel hasil potongan Randu.


"Lalu aku harus memotongnya seberapa? Kau tadi tidak mencontohkan," ujar Randu seraya garuk-garuk kepala.


Lea langsung mengambil alih pisau dari tangan Randu dan mencontohkan cara memotong wortel sembari menggerutu.


"Kau saja yang tak mau bertanya, dan sekarang malah menyalahkan aku!" Gerutu Lea kesal.


Saat ini, Randu dan Lea memang sedang memasak bersama. Atau mungkin lebih tepatnya, Lea sedang memaksa untuk mengajari Randu cara memasak capcay.


Kenapa memaksa?


Karena dalam hati sebenarnya Randu tidak mau!


Randu paling malas ke dapur sejak dulu, dan hanya baru-baru ini saja ia mau pergi ke dapur demi menuruti yang katanya adalah ngidamnya Lea.


Ngidam kok semakin hari semakin aneh dan Randu malah seperti sedang dikerjai oleh Lea!


Tapi mau protes, nanti pasti Lea akan langsung lapor pada Mama Rika, dan yang ada Randu malah bakal kena omel Mama Rika tujuh hari tujuh malam.


Sebenarnya disini yang anaknya Mama Rika Randu atau Lea, sih?


"Oh, jadi harus dibelah dulu begitu, ya, Sayang?" Ujar Randu setelah memperhatikan Lea yang begitu terampil memotong wortel.


Set set set set!


Yaiyalah! Lea seorang koki!

__ADS_1


"Iya, dibelah dan potongnya tipis-tipis! Bukan seperti kamu tadi!" Jawab Lea yang tetap saja masih sambil menyalahkan Randu.


"Kamu lanjutin! Tanganku pegel!" Keluh Lea seraya menggeser talenan ke hadapan Randu.


"Aku pijitin!" Ujar Randu cepat yang sudah langsung memijit pundak Lea.


"Kamu lanjut potong sayurannya, aku pijitin kamu begini," tukas Randu lagi yang langsung membuat Lea tertawa kecil.


Marah dan kesalnya si ibu hamil sudah menguap pergi sepertinya!


"Ponsel kamu bunyi, Sayang!" Ujar Lea selanjutnya yang mendengar dering ponsel Randu dari atas meja. Randu juga dengar sebenarnya. Hanya saja, jika Randu lanjut mengangkatnya tanpa persetujuan dari Lea terlebih dahulu, istri Randu itu biasanya akan langsung mengomel tak jelas.


Ya, beginilah derita suami yang istrinya sedang hamil dan ngidam balas dendam.


Randu segera meraih ponselnya, lalu mengangkat telepon yang rupanya dari Haezel tersebut.


"Halo, Pak Kepala! Liburanmu sudah selesai?" Sapa Randu sedikit menggoda Haezel.


"Belum! Jadwal cutiku masih sampai lusa,"


"Lalu kenapa menelepon? Mau menawari oleh-oleh?" Tanya Randu lagi yang kini sudah duduk di sofa dan sedikit menyamankan diri. Mumpung Lea sudah sibuk berkutat di dapur sendiri dan sepertinya lupa untuk meminta bantuan Randu.


"Ya! Kau mau oleh-oleh apa memangnya?"


"Apa saja. Asal jangan istri-"


Praang!


Randu sontak terlonjak saat Lea tiba-tiba sudah membanting panci di tangannya dengan keras.


Ternyata oh ternyata, meskipun Lea terlihat sibuk memasak, namun telinga Lea ternyata mendengarkan obrolan Randu dan Haezel di telepon. Dan sialnya, Randu lupa kalau ia sedang berada di rumah.


Haezel dan Randu memang kerap bergurau soal memiliki lebih dari satu istri saat mereka tengah suntuk menangani kasus. Namun bukan berarti Randu punya niatan untuk punya istri lagi selain Lea.


Satu istri saja sudah membuat Randu mengelus dada berkali-kali. Apa kabar kalau punya dua istri, mungkin kepala Randu akan langsung botak apalagi jika dua-duanya ngidam seperti Lea!


"Lea mengamuk?"


Terdengar gelak tawa dari Haezel di ujung telepon. Sialan memang teman Randu itu! Suka sekali tertawa di atas penderitaan Randu.


"Aku keceplosan! Sial!" Umpat Randu yang langsung menatap pada Lea yang kini sudah menggosok-gosokkan pisau ke pengasah.


Astaga!


Lea mau apa?


"Kau mau bicara apa tadi? Aku harus menjinakkan Lea!" Tanya Randu selanjutnya pada Haezel dengan nada panik.


"Pergilah kalau begitu. Nanti aku telepon lagi,"


"Oke!" Randu langsung mematikan telepon dari Haezel dan mekempar ponselnya serampangan. Pria itu bergegas menghampiri Lea yang masih mengasah pisaunya.


"Sayang!" Bujuk Randu yang hampir mendekati Lea.


"Ambilkan wortel lagi di kulkas!" Titah Lea seraya menatap tajam pada Randu.


Randu tak berkomentar lagi dan segera mengambil sekotak wortel dari dalam kulkas, lalu memberikannya pada Lea.


"Lihat wortel ini!" Lea meletakkan satu wortel yang lumayan besar ke atas talenan.


"Iya, aku lihat, Sayang! Mau aku bantu kupaskan?" Tawar Randu yang masih berusaha mendinginkan suasana.


"Tidak perlu dikupas!" Jawab Lea galak.


"Memangnya kau mau milikmu aku kuliti?" Lanjut Lea lagi yang langsung membuat Randu mengernyit. Namun sesaat kemudian Randu yang sudah paham langsung memegangi pangkal pahanya sembari menggeleng.


"Bayangkan ini adalah milikmu!" Lea kembali menunjuk ke wortel di atas talenan, lalu meletakkan pisaunya tepat di tengah-tengah wortel tadi.


"Jika kau punya dua istri, maka milikmu juga harus aku potong menjadi dua!" Lea memotong wortel tadi dengan sekuat tenaga hingga menimbulkan suara yang lumayan keras, serupa dengan jeritan panik dari Randu.


"Tidaaaaakkk!!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2