
"Mas Randu sudah mau kembali?" Tanya Rania saat gadis itu menghampiri Randu ke kamarnya dan melihat sang Mas yang sedang berkemas.
"Ya! Waktu cuti sudah habis!" Jawab Randu tegas.
"Tapi nanti dua minggu dari sekarang, Mas Randu bakal pulang lagi, kan?" Tanya Rania penuh harap.
"Untuk? Pernikahanmu dengan Raden Mas Pandu kan masih bulan depan. Mas pulangnya bulan depan!" Jawab Randu tegas.
Rania sedikit terkikik saat Randu menyebut nama lengkap calon suami Rania yang memang masih berdarah biru.
"Tapi dua minggu lagi kan foto prewedding Rania, Mas!"
"Di kebun teh! Mas Randu udah lama nggak ke sana juga, kan?"
"Ikut, ya!" Bujuk Rania yang kini sudah menggamit lengan Randu.
"Memang yang mau foto prewedding siapa?" Tanya Randu sekali lagi pada Rania.
"Rania dan Mas Pandu!"
"Iya lalu kenapa Mas harus ikut juga? Mas kan nggak ikut foto prewedding kamu!" Tukas Randu merasa heran pada sang adik.
"Yaudah, Mas kesana lihat-lihat kebun teh saja! Sekalian refreshing!" Ujar Rania yang tak pernah kehabisan alasan.
"Ck! Enggak!"
"Mas udah cuti ini. Dua minggu lagi tidak bisa ambil cuti!" Ucap Randu tegas.
"Bisa! Nanti Rania yang ngomong ke Mas Haezel!" Ujar Rania santai yang sontak membuat Randu membelalakkan kedua matanya.
"Kok kamu tahu Haezel?"
"Tahulah! Mas Haezel itu kan atasannya Mas Randu. Istrinya, Mbak Mayra itu ternyata seusia sama Rania! Tapi anaknya udah lima tahun," Cerocos Rania panjang lebar yang ternyata sudah tahu banyak tentang Haezel.
Ini gadis punya mata-mata di mana-mana atau bagaimana?
Kenapa suka sekali menyelidiki orang seperti detektif?
Bukankah yang profesinya detektif disini adalah Randu?
"Kamu ketemu Ezel dimana?" Tanya Randu lagi penuh selidik.
"Di layar ponsel! Kemarin cuma video call, setelah Rania ngambil nomor Mas Ezel dari ponsel Mas Randu." Rania terkikik tanpa dosa.
"Eh, langsung dikenalin dong sama Mbak Mayra dan Zelyra juga!" Lanjut Rania lagi seolah sedang pamer pada Randu kalau ia sudah dekat dengan keluarga Ezel sekarang.
Ya ampun!
"Jadi kamu ngambil nomornya Ezel diam-diam dari ponsel Mas?" Tanya Randu menatap tegas pada Rania.
__ADS_1
"Iya!" Jawan Rania jujur.
"Nanti pokoknya, Rania yang bakal izin ke Mas Ezel biar Mas Randu bisa pulang pas Rania foto prewedding!" Ucap Rania seolah sedang mengancam Randu.
"Mas tidak akan pulang! Foto prewedding sana sendiri!" Jawab Randu kesal.
"Berarti nanti Rania sama Mas Pandu tinggal berdua saja di villa, ya!"
"Asyik, dingin-dingin bisa-"
"Rania!!!!" Geram Randu seraya mendelik pada sang adik yang malah cengengesan.
"Jangan macam-macam bersama Pandu sebelum ada kata sah!" Randu menuding sekaligus berucap tegas pada sang adik.
"Makanya Mas awasin, dong!" Seloroh Rania yang ternyata cerdik juga alasannya.
Dasar!
"Iya!"
"Nanti Mas pulang dua minggu lagi dan ikut ke kebun teh!"
"Puas kamu!" Jawab Randu akhirnya yang langsung membuat sang adik bersorak senang dan memeluk Randu dengan lebay.
"Yeay! Ditemani!" Sorak Rania lebay.
"Udah! Mas mau berangkat!" Ucap Randu akhirnya seraya melepaskan pelukan Rania yang hampir mencekik lehernya.
Dasar Rania.
"Hati-hati, ya, Mas!"
"Nanti balik dua minggu lagi! Kalau nggak balik, Rania bakal telepon Mas Ezel dan bikin laporan yang akan langsung membuat Mas Ezel menyuruh Mas Randu pulang tanpa nengok-nengok lagi," tegas Rania panjang lebar yang lebih terkesan sebagai ancaman.
"Mas penasaran, alasan apa yang akan kamu pakai untuk membuat Ezel mengusir Mas dari kantor!" Ujar Randu seraya berpikir.
"Ada, deh! Pokoknya rahasia!" Bisik Rania lebay.
"Udah ah! Mau pulang!" Tukas Randu sekali lagi.
Randu segera keluar dari kamar, lalu menuju ke pintu depan dan langsung mengambil mobilnya yang terparkir di garasi.
Namun saat membuka pintu mobil, Randu refleks berteriak.
"Astaga! Rania!!!!" Teriak Randu geram pada sang adik yang menyumpalkan banyak sekali paperbag ke dalam mobil Randu.
Dasar kurang kerjaan.
"Apa, Mas! Rania cuma nitip hadiah untuk Zelyra dan Mbak Mayra!" Tukas Rania beralasan.
__ADS_1
"Apa harus sebanyak ini?" Randu masih menatap geram pada Rania.
"Iya nggak apa-apa, kan? Rania cuma kalap dikit pas beliin hadiah kemarin," ujar Rania beralasan.
"Begini sedikit?" Cibir Randu seraya masuk ke mobil. Randu akan pulang sebelum hari gelap. Ia tak mau kemalaman tiba di apartemennya.
****
"Sebuah truk yang hilang kendali tiba-tiba menyeruduk satu unit rumah seeta booth jualan di depan rumah hingga hancir berantakan. Satu orang penghuni rumah, yang bernama Suryanto berusia tiga puluh tahun, tewas di tempat setelah tubuhnya tertimbun puing-puing rumah. Di duga Suryanto, masih tertidur saat kejadian."
"Sedangkan istri Suryanto yang tengah hamil tua dan putranya berusia tiga tahun justru selamat, karena saat kejadian berlangsung, keduanya sedang pergi belanja ke-"
Lea mematikan televisi di rumah Eyang Wida setelah berita tentang kecelakaan yang menghancurkan rumah Rayyen atau yang nama aslinya Suryanto itu tayang di televisi.
Lea bahkan baru tahu kalau nama penipu baj*ngan yang sudah menguras uang Lewat tersebut adalah Suryanto!
Dan sekarang, Suryanto sudah menerima ganjaran atas perbuatan jahatnya! Pria penipu itu benar-benar tewas diseruduk truk di rumah yang tqk pernah Lea ikhlaskan menjadi milik Suryanto alias Rayyen dan anak istrinya!
Rumah itu dibeli dengan uang hasil keringat Lea yang dirampas Suryanto begitu saja!
Baguslqh, kalau sekarang semuanya sidah hancur dan rata dengan tanah!
"Kok dimatiin, Lea?" Tanya Eyang Wida yang langsung menyentak lamunan Lea.
"Nggak apa-apa, Eyang!"
"Lea ngeri saja lihat berita kecelakaan seperti tadi," ujar Lea beralasan seraya memeluk Eyangnya tersebut.
"Sudah jam sepuluh itu, Lea! Tadi katanya nunggu jam sepuluh-"
"Oh, iya! Adonan donat Lea!" Tukas Lea cepat seraya melepaskan pelukannya pada Eyang Wida lalu pergi ke dapur untuk memeriksa adonan donatnya.
Uang lima juta yang kemarin Lea pinjam dari Keano, memang Lea putar sebagai modal usaha di kampung Eyang Wida. Awalnya Lea berjualan aneka kue basah. Namun seiring meningkatnya permintaan donat, Lea akhirnya fokus jualan donat saja sekarang.
Kata warga, donat buatan Lea enak dan pas.
"Pesanan banyak, Lea?" Tanya Eyang Wida yang sudah menyusul Lea ke dapur.
"Sepuluh kotak, Eyang!" Jawab Lea yang sudah mulai membagi adonan dan menimbangnya agar ukuran donat Lea nantinya sama semua.
"Trus kamu mau tinggal disini sampai kapan?" Tanya Eyang lagi.
"Masih belum tahu, Eyang! Selama mungkin kalau bisa, biar Eyang nggak kesepian," jawab Lea lagi seraya terkekeh dan Eyang Wida pun ikut terkekeh.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.