Pengganti Calon Suami Azzalea

Pengganti Calon Suami Azzalea
KENAPA?


__ADS_3

Flashback beberapa hari sebelumnya....


"Halo, Ma!" Sapa Randu setelah teleponnya diangkat oleh Mama Rika.


Padahal Randu baru tiba di apartemennya, setelah melakukan perjalanan dari kebun teh. Namun Randu seolah tak membuang waktu dan malah langsung menghubungi Nyonya Rika Wiyata yang merupakan mama kandung Randu.


"Ma? Kamu siapa?"


"Astaga!" Randu menepuk keningnya sendiri.


"Ini Randu, Ma! Randu Wiyata!" Jawab Randu menahan kesal di hatinya.


"Oh, kok nomor kamu tidak ada namanya di ponsel Mama? Makanya jangan gonta-ganti nomor!"


"Nomor Randu cuma ganti satu kali. Apa Rania belum menyimpannya di ponsel Mama?" Randu malah mengkambinghitamkan Rania sekarang.


"Belum sepertinya. Jadi kenapa, Randu? Kamu masih di villa?"


"Sudah pulang ke apartemen, Ma!"


"Dan Randu mau melamar seorang gadis, Ma!" Ujar Randu to the point.


"Melamar gadis? Calon menantu untuk mama?"


"Iya!"


"Kapan?"


"Mama kapan ada waktu?" Randu balik bertanya pada sang mama.


"Sekarang mama ada waktu!"


"Ini sudah malam, Ma! Masa iya melamar anak gadis orang malam-malam?" Gerutu Randu melayangkan protes.


"Lebih cepat lebih baik! Semua hal baik harus disegerakan! Malam ini kamu ke rumahnya melamar, besok langsung menikah!"


"Gampang sekali!" Cibir Randu pada sang mama yang selalu melakukan sesuatu dengan efisien tapi tetap totalitas.


"Harus!"


"Jadi Mama ke tempatmu sekarang? Rumah calon menantu mama di mana?"


"Di kota ini. Tapi kita melamarnya besok sore saja, Ma!" Usul Randu.


"Kenapa bukan besok pagi? Sukanya kok menunda-nunda pekerjaan!"


"Besok pagi mama ke sana! Kita lamar...."


"Siapa nama gadis itu?"


"Azzalea Andreas, Ma!" jawab Randu cepat seraya membayangkan wajah Lea yang terlihat kecewa saat kemarin Randu mengatakan kalau ia akan melamar seorang gadis.


"Kamu mau melamar Azza, Ndu? Katanya kemarin putus?"


"Iya, memang! Tapi kan kata Mama Randu disuruh balikan lagi! Katanya Mama udah sreg sama Azza!" Tukas Randu beralasan.


"Jadi, Azza sudah mau menikah dan tidak fokus karier lagi?"


"Tidak tahu!" Randu mengendikkan kedua bahunya.


"Yang jelas, Randu mau melamar Azza dulu! Urusan dia sudah mau menikah atau belum, penting kan Randu sudah melamarnya, Ma!" Ungkap Randu lagi yang mungkin sekarang langsung membuat sang mama mengernyit heran.


"Ini bagaimana maksud kamu? Kalau nanti Azza menolak-"


"Azza sedang tidak di rumah, Ma!" Sela Randu cepat.


"Azza masih di rumah Eyangnya, dan Randu mau melamar langsung ke orang tua Azza," jelas Randu lagi.


"Baiklah, Mama akan ke sana besok pagi! Nanti kita langsung ketemu orang tua Azza!"


"Yess!" Randu bersorak senang dan merasa tak sabar untuk segera bertemu Uncle Daniel dan Aunty Thalia.


****


"Jadi kita tak usah mencari Lea, Pi?" Tanya Mami Thalia pada Papi Daniel yang sudah selesai sarapan dan bersiap pergi ke kantor .


"Tidak usah! Biarkan Lea berpikir dan merenungi kesalahannya!" Jawab Papi Daniel.


"Tapi bagaimana kalau Lea melakukan hal nekat-"


"Tidak akan!" Sela Papi Daniel cepat bersamaan dengan bel pintu depan yang tiba-tiba berbunyi.


Siapa yang bertamu pagi-pagi?


Mami Thalia bergegas membuka pintu depan, dan wanita paruh baya itu langsung kaget saat mendapati Randu yang sedang berdiri di depan pintu.


"Siapa yang datang, Mi?" Tanya Papi Daniel yang sudah bergegas menyusul ke depan.


"Selamat pagi, Uncle, Aunty!" Sapa Randu sopan seraya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kau sedang apa disini, Randu? Bukankah Uncle sudah melarangmu untuk datang ke sini lagi?" Cecar Uncle Daniel bukan dengan raut marah, melainkan raut bersalah.


"Maaf, tapi Randu tidak bisa, Uncle!"


Uncle Daniel menghela nafas, sebelum akhirnya mempersilahkan Randu untuk masuk. Toh Lea juga sedang tak di rumah.


"Ada apa kesini pagi-pagi? Kau tidak sedang mencari Lea, kan?" Tanya Papi Daniel setelah ia dan Randu duduk di sofa ruang tamu.


"Sebaiknya memang kau tak usah lagi mencari Lea," gumam Papi Daniel lagi.


"Randu tahu kalau Lea sedang tidak di rumah, Uncle," ucap Randu yang langsung membuat Uncle Daniel menatap lekat pada Randu.


"Kau masih saja mengawasi Lea dan mencari info tentangnya?" Tebak Uncle Daniel merasa tak paham dengan sikap keras kepala Randu.


"Sepertinya sudah bawaan dari pekerjaan Randu sebagai penyelidik kasus, Uncle," tukas Randu beralasan seraya tertawa kecil.


"Oh, ya! Kau seorang detektif di kantor yang sama dengan Haezel, ya?"


"Uncle kenal Haezel?" Tanya Randu antusias.


"Tidak terlalu. Hanya sebatas tahu saja karena dia keponakan dari rekanku-"


Ponsel Uncle Daniel berdering.


"Panjang umur sekali! Baru juga dibicarakan!" Gumam Uncle Daniel sebelum kemudian pria paruh baya itu mengangkat telepon.


"Halo, Kyle! Aku sedikit terlambat ke kantor karena ada urusan penting di rumah!"


"Tapi aku tetap ke kantor, kan?"


"Ya! Mungkin setelah makan siang!"


"Baiklah. Hanya memastikan."


Uncle Daniel sudah selesai menelepon.


"Barusan paman dari Haezel yang menelepon. Kyle Arthur. Kau kenal?" Uncle Daniel sedikit mengajak Randu berbasa-basi. Namun kemudian Randu hanya menggeleng.


"Jadi, kau datang kesini pagi-pagi untuk?" Tanya Uncle Daniel sekali lagi


"Untuk melamar Azzalea Andreas menjadi istri Randu, Uncle!" jawab Randu dengan nada tegas dan lantang. Bahkan tak terlihat keraguan sama sekali dari nada bicara Randu serta ekspresi wajah pemuda itu.


"Randu, kau tahu bagaimana Lea! Bagaimana sikapnya kepadamu kemarin-kemarin!"


"Randu tahu, Uncle!" Jawab Randu tegas.


"Tapi bukankah setiap orang bisa berubah dan merenungi kesalahannya, Uncle?"


"Mungkin saja kemarin sikap Lea ketis pada Randu karena dia masih tergila-gila pada Rayyen. Tapi sekarang setelah Lea tahu semua kebusukan Rayyen, mungkin saja Lea juga sudah merenungi kesalahannya, sudah berubah lebih baik juga." Randu sedikit menerawang dan kembali mengingat Lea yang lebih banyak menundukkan wajah saat bertemu Randu. Tak ada lagi sikal ketis dan arogan dari gadis itu.


Randu yakin kalau Lea sudah menyadari kesalahan serta kekhilafannnya selama ini dan Lea pantas mendapatkan kesempatan kedua.


"Bagaimana kau bisa sangat yakin akan hal itu? Kita semua bahkan tak ada yang tahu saat ini Lea sedang berada dimana-"


"Randu tahu Lea dimana, Uncle!" Sergah Randu cepat.


"Dimana?" Tanya Aunty Thalia yang sejak tadi hanya diam menyimak pembicaraan Uncle Daniel dan Randu.


"Di atas bukit dekat kebun teh. Aunty pasti tahu Lea di rumah siapa," jawab Randu yang langsung membuat Uncle Daniel dan Aunty Thalia kompak bergumam.


"Rumah ibu." Kedua orang tua Lea itu saling berpandangan.


"Kau bertemu dengannya?" Tanya Uncle Daniel lagi pada Randu.


"Kebetulan iya, Uncle! Saat Randu sedang menemani adik Randu yang foto prewedding di kebun teh."


"Lea berjualan kue dan donat di sekitar rumah Eyang Wida dan dia sudah terlihat menyadari kesalahannya. Dia lebih kalem sekarang dan tak lagi ketus," jelas Randu panjang lebar pada Uncle Daniel dan Aunty Thalia.


"Jadi alasan itu yang akhirnya membuat kamu mantap melamar Lea sekarang?" Tanya Uncle Daniel memastikan.


"Iya, Uncle! Dan karena Randu juga masih mencintai Lea," ucap Randu bersungguh-sungguh.


Uncle Daniel hanya geleng-geleng kepala dengan sikap keras kepala Randu.


"Dan satu hal lagi," ucap Randu lagi seraya menatap serius pada Uncle Daniel dan Aunty Thalia.


"Randu membawa Mama Randu pagi ini untuk melamar Lea," sambung Randu lagi bersamaan dengan sebuah mobil yang masuk ke halaman rumah keluarga Andreas.


"Sebentar, Uncle!" Izin Randu seraya bangkit berdiri, lalu menjemput Mama Rika yang sudah turun dari mobil.


Tak berselang lama, Randu sudah masuk lagi ke rumah Uncle Daniel bersama dengan Mama Rika.


"Bu Rika?" Sapa Uncle Daniel yang rupanya juga sudah kenal dengan Mama Rika.


"Pagi, Pak...." Mama Rika terlihat mengingat-ingat nama Uncle Daniel.


"Putranya Eyang Wida, kan?" Tanya Mama Rika memastikan.


"Iya, benar! Saya Daniel dan ini istri saya Thalia!" Uclncle Daniel menyebutkan namanya yang tak dingat oleh Mama Rika.

__ADS_1


"Ah, iya! Pak Daniel! Maaf, saya lupa!"


"Jarang pulang ke gunung, ya!" Kelakar mama Rika yang membuat Uncle Daniel dan Aunty Thalia terkekeh juga.


"Jadi, Azza itu cucunya Eyang Wida, Randu? Kenapa tidak bilang?" Mama Rika menyikut perut sang putra dan sedikit mengomel.


"Kan kejutan, Ma! Randu juga baru tahu kemarin." Ringis Randu beralasan.


"Mari silahkan duduk, Bu Rika!" Ucap Mami Thalia pada Mama Rika yang masih berdiri.


"Ah, iya!"


"Benar-benar kejutan, ya!" Mama Rika masih saja terkekeh.


"Kami juga terkekut, Bu Rika! Karena tak menyangka kalau Randu ternyata adalah putra anda," ujar Papi Daniel yang masih terlihat kaget.


"Dia putra sulung saya, Pak Daniel! Jarang pulang juga kalau mamanya belum terbaring di rumah sakit! Sibuk dengan pekerjaannya sebagai apa itu disini!"


"Kau kerja apa disini, Randu?" Tanya Mama Rika sok galak pada Randu.


"Detektif, Ma!" Jawab Randu sedikit geram.


Papi Daniel dan Mami Thalia sontak terkekeh.


"Jadi, Azza mana?" Tanya Mama Rika selanjutnya.


"Masih di rumah Eyang Wida, Ma! Kan Randu sudah bilang." Jawab Randu cepat.


"Ah, iya!" Mama Rika mengetuk keningnya sendiri.


"Lalu Randu sudah menyampaikan niatnya untuk melamar Azza, Pak Daniel?" Mama Rika ganti bertanya pada Papi Daniel.


"Sudah, Bu Rika!" Jawab Papi Daniel cepat.


"Apa lamarannya diterima? Atau jangan-jangan ditolak karena pekerjaanmu tak jelas, Randu?" Kelakar Mama Rika yang lagi-lagi membuat semuanya tertawa.


"Diterima, Ma!" Ucap Randu yakin.


"Benar diterima, Pak Daniel?" Tanya Mama Rika memastikan.


"Iya, Bu! Kami menerima lamaran Randu untuk putri kami Azzalea," jawab Papi Daniel.


"Pernikahan mereka satu pekan lagi, ya , Pak Daniel!" Ucap Mama Rika selanjutnya yang langsung membuat Papi Daniel dan Mami Thalia membelalak.


"Satu pekan lagi?"


"Hal baik sebaiknya disegerakan dan tak perlu ditunda-tunda, Pak Daniel! Nanti saya yang akan mengurus semuanya!" Ujar Mama Rika lagi dengan nada santai. Benar-benar santai seolah tanpa beban.


"Saya pribadi sebenarnya, maunya itu pernikahan Randu dan Azza digelar besok atau lusa saja. Tapi berhubung saya ada acara penting yang tak bisa ditangguhkan hingga pekan depan. Jadi, terpaksa pekan depan saja Randu dan Azza menikahnya," tutur Mama Rika panjang lebar yang menbuat Papi Daniel dan Mami Thalia tak bisa lagi berkata-kata.


"Dan Randu juga punya satu permintaan, Uncle!" Ucap Randu menambahkan.


"Permintaan apa?"


"Tolong jangan beritahu Lea tentang siapa yang akan menikahinya sampai hari H nanti."


Flashback off


****


"Randu Wiyata dan Azzalea Putri Andreas, kini kalian sudah sah sebagai suami istri!"


Tepuk tangan langsung menggema di halaman rumah kedua orang tua Lea. Randu juga terlihat mengucap syukur berulang kali, sedangkan Lea masih merasa shock dan merasa kalau ini hanya mimpi. Lea bahkan lebih terlihat seperti orang linglung sekarang.


Suami Lea ternyata adalah Randu?


Ini seperti mimpi.


"Psssttt!" Randu menyenggol pundak Lea, hingga membuat wanita itu terlonjak.


Lea lalu menoleh dan menatap pada wajah Randu yang begitu berseri. Pria itu juga terlihat sangat bahagia.


"Jangan dilihatin terus! Nanti jatuh cinta!" Bisik Randu yang rupanya tahu kalau Lea tengah memandanginya.


"Kenapa tiba-tiba kau menikahiku?" Tanya Lea bingung.


"Karena aku mencintaimu!"


"Aku mencintaimu, Azzalea!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2