
Kesultanan Tanjung Hira seketika menjadi hening Dan berlahan-lahan cahaya mentari Tertutup Oleh bulan hingga membuat Alam seketika menjadi gelap gulita,
"Apa yang sedang terjadi Sultanah!? " Tanya lavud dengan nada yang terdengar cemas
"Saat titik Matahari Bulan dan bumi berada pada satu garis yang sama makan akan terjadi seperti ini dan hal ini terjadi sangat langka!? " Sultanah arisha menjelaskan tentang fenomena alam yang terjadi lain halnya yang terjadi Di Kesultanan lembayung,.
Ketika kegelapan melanda Kesultanan lembayung Seluruh warga terlihat sangat panik,
"Tuan Sultan, Apa yang sedang terjadi kenapa Alam Begitu sangat gelap, Apakah Ini pertanda Akhir zaman telah tiba!? " Ujar Ki palangi dengan gusar,.
"Paman ini terjadi karena titik Matahari Bulan dan bumi berada dalam satu garis yang sama kejadian seperti ini terjadi sekitar 4500 Bulan purnama sekali Dan ini disebut gerhana matahari, gerhana matahari dan bulan menujukkan keesaan Allah SWT. Peredaran dan silih bergantinya yang teratur merupakan ketetapan aturan Penguasa Jagad Semesta ini. Allah SWT berfirman dalam surah Ar-Rahman:"Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan." dalam surah (Ar-Rahman: 5) Maka semua yang menakjubkan dan luar biasa pada matahari dan bulan, menunjukkan akan keagungan dan kebesaran serta kesempurnaan Penciptanya.
Oleh karena itu, Allah SWT membantah fenomena penyembahan terhadap matahari dan bulan. Namun yang sangat disayangkan ternyata keyakinan kufur tersebut banyak dianut oleh "bangsa-bangsa besar" di dunia sejak berabad-abad lalu, seperti di sebagian bangsa China, Jepang, Yunani, dan masih banyak lagi.
Allah SWT berfirman: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian sujud (menyembah) matahari maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya." (Fushshilat: 37)
Syariat Islam yang diturunkan oleh Penguasa Alam Semesta ini memberikan bimbingan dan pencerahan terhadap akal-akal manusia yang sempit dan terbatas. Orang-orang mengira, gerhana sebadai mukjizat atau tanda matahari turut bersedih. Usai salat gerhana, Nabi menjelaskan tidak ada kaitannya dengan kematian seseorang: Berikut ini ringkasan Shahih Bukhari:
Abu Bakrah berkata, "Kami berada di sisi Rasulullah lalu terjadi gerhana matahari. Maka, Nabi berdiri dengan mengenakan selendang beliau (dalam satu riwayat: pakaian beliau sambil tergesa-gesa (surah 7/ayat 34)) hingga beliau masuk ke dalam masjid, (dan orang-orang pun bersegera ke sana (surah 2/ayat 31)), lalu kami masuk. Kemudian beliau salat dua rakaat bersama kami hingga matahari menjadi jelas. Beliau menghadap kami, lalu bersabda, 'Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dan sesungguhnya keduanya (surah 2/ayat 31) bukan gerhana karena meninggalnya seseorang. Abu Mas'ud berkata, "Nabi bersabda, 'Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana karena meninggal (dan hidupnya (surah 4/ayat 76)) seseorang. Tetapi, keduanya adalah dua dari tanda-tanda dari kebesaran Allah. Apabila kamu melihatnya, maka berdirilah untuk mengerjakan salat gerhana."
__ADS_1
Senada seperti diriwayatkan Al-Mughirah bin Syubah berkata, "Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah pada hari meninggalnya Ibrahim. Orang mengatakan, 'Matahari gerhana karena meninggalnya Ibrahim.' Lalu Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya matahari dan bulan (adalah dua dari tanda tanda kebesaran Allah (surah 2/ayat 30))."Keduanya tidak gerhana karena meninggal atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka salatlah (gerhana) dan berdoalah kepada Allah sehingga ia menjadi cerah kembali.'' Abiyan menjelaskan secara terperinci
"Dari pada kita berdebat mari kita shalat gerhana dia rakaat karena Allah SWT!? " Ujar Sultan aryo menimpali penjelasan Abiyan putranya.,
"Baik untuk shalat gerhana matahari tidaklah seperti shalat lima waktu pada umumnya adapun tata caranya sebagai berikut
;1. Niat
Takbiratul Ihram
Membaca doa iftitah yang dilanjutkan Al-Fatihah dan surat lain dengan ayat yang panjang dan suara yang keras
Bangkit dari ruku (itidal)
Tidak langsung sujud namun kembali membaca Al-Fatihah dan surat dengan ayat yang lebih pendek
Kembali ruku yang bacaannya tidak sepanjang yang pertama
__ADS_1
Itidal
Sujud yang lamanya seperti ruku dilanjutkan duduk di antara dua sujud serta sujud kembali
Bangkit dari sujud dan mengerjakan rakaat kedua dengan bacaan dan gerakan seperti sebelumnya namun lebih singkat
Salam.
jika kalian semua sudah paham mari kita lakukan!?" ujar Sultan Aryo sambil bersiap untuk melaksanakan shalat gerhana matahari,.
sementara itu Arisha yang masih bingung harus melakukan apa ketika mendapati gerhana matahari, mendapat bisikan ghaib untuk shalat dua rakaat beserta tata caranya sehingga dia memerintahkan Imam masjid Untuk melakukan hal itu,.
Ketika gerhana telah berlalu, Perasaan Sultanah Arisha menjadi sedikit cemas namun dia sendiri tidak mengetahui kenapa perasaannya sangat gelisah.,
"Sultanah Saya lihat sepertinya Tuan Sultanah lagi ada masalah!? Bukankah sebaiknya Tuan berbagi kepada saya Siapa tau Saya bisa mencari solusi akan apa yang Tuan Sultanah risaukan!? " Mendengar pertanyaan Lail Sultanah Arisha hanya tersenyum hambar,.
"Lail, sepertinya Allah SWT, Memberikan Saya peringatan akan Sesuatu yang akan terjadi di Kesultanan tanjung Hira ini, Namun saya pun belum mahami apa yang akan terjadi?, Lail tolong kamu jaga Perbatasan saya mau shalat istikharah dulu memohon petunjuk dari Allah SWT!? " Titah Sultanah Arisha pada lail, Jin Yang selalu setia menemani setiap perjuangan yang dia lakukan,.
__ADS_1
"Baik Tuan Sultanah, Saya akan menjaga perbatasan dengan nyawa saya" tandas Lail dengan wajah serius.,
"Ampun Tuan Sultanah Arisha, Saya merasakan Ada hal Ghaib yang sedang terjadi Hawa terasa sangat Aneh, Udara terasa panas padahal mendung masih bergelayut, Jika saya tidak salah dalam mengingat Suatu peristiwa hal ini pernah terjadi ketika Lahirnya Ranabumi Iblis yang dikurung oleh pasukan langit Dibawah kawah gunung merapi yang tempatnya hingga saat ini tidak bisa di temukan oleh pasukan Iblis di muka bumi ini!? " Mendengar penjelasan Raja Masauth, Sultanah Arisha menaikan sedikit alisnya tanda bingung dengan penjelasan Raja Masauth yang bersedia membantunya karena patuh pada Titah Abiyan.,