
"Ndre! Bisakah kamu memberikan waktu sebentar saja untuk aku bercerita dengan Meylan berdua!?." Ucap Bobby.
Mendengar perkataan dari Bobby tersebut, Andre langsung menatap kearah Maylan dengan dan langsung menjawab dengan meninggalkan kedua teman sekelasnya itu.
Melihat hal itu, Meylan pun langsung bersuara.
"Ndre! Kamu itu aku yang ajak, jadi aku tidak ingin kamu jauh dariKu karena permintaan orang lain." Ucap Meylan.
Andre langsung menghentikan langkah kakinya dan langsung berbalik ketempatnya semula.
Bobby langsung merasa tidak senang dengan hal itu. Namun pria muda itu masih tetap menunjukan sikap yang bersahabat.
"Mey! Aku ingin meminta waktuMu sebentar saja untuk berbicara dengan diriKu." Ucap Bobby.
"Bob! Aku berencana untuk datang kesini bersama dengan Andre, bukan untuk mendengar atau menghadapi situasi seperti ini. Sebenarnya aku juga tidak ingin kamu ikut bersama, namun karena saya merasa tidak enak untuk menolaknya, sehingga aku bisa mengiyahkannya. Jadi aku mohon, jangan pernah lagi untuk membuat situasi hatiKu saat ini menjadi lebih tidak nyaman lagi untuk berada di dekatMu." Ucap Meylan dengan penuh penekanan.
"Mey! Akan tetapi hal yang akan aku katakan ini juga adalah hal yang sangat penting." Ucap Bobby.
"Bob! Tolong jangan lagi mengikuti kami berdua." Ucap Meylan.
"Ndre! Ayo kita pergi dari sini." Ucap Meylan lagi sambil meraih dan menggenggam tangan Andre serta menariknya dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Mendengar kata - kata serta sikap yang di tunjukan oleh gadis tersebut, Bobby langsung mengurungkan niatnya untuk mengejar gadis itu.
"Sialan! Kamu kira semudah itu menolak diriKu ini!? Aku punya 1000 cara untuk meluluhkan hatiMu itu." Gumam Bobby sambil tersenyum licik.
"Sepertinya Si Andre itu akan menjadi sasaran yang empuk untuk membalaskan rasa sakit ini." Gumam Bobby sambil meninju telapak tangan kirinya dengan tinju tangan kanannya.
Sedangkan Meylan dan Andre sudah berada di atas angkot untuk menuju ke suatu tempat yang Meylan inginkan.
Andre masih terdiam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ndre! Kenapa dari tadi kamu hanya diam saja?." Tanya Meylan.
"Eeemmm...aku juga tidak tau harus berkata apa." Ucap Andre.
"Apakah kamu tidak mengerti apa yang ingin Bobby katakan kepadaKu?." Tanya Meylan.
"Iya! Aku tidak mengerti!." Jawab Andre tidak ingin berterus terang.
"Huh! Masa begitu saja tidak mengerti!?." Ucap Meylan dengan nada ketus.
"Sebenarnya apa yang ingin Bobby katakan?." Tanya Andre.
"Bobby ingin mengutarakan isi hatinya kepadaKu." Jawab Meylan.
__ADS_1
"Kenapa tidak di dengarkan saja?." Tanya Andre.
"Kalau hanya mendengarnya saja, itu tidak masalah untukKu, tetapi setelah itu dia akan menyatakan cintanya kepadaKu dan mengharapkan jawaban dariKu. Itu yang tidak aku inginkan." Jawab Meylan dengan nada suara yang meninggi.
"Apakah kamu takut dengan hal itu?." Tanya Andre.
"Takut!? Aku tidak takut, tetapi aku tidak ingin untuk mendengarkan kata - kata rayuan dari seorang lelaki." Ucap Meylan.
"MenurutKu, dengarkan saja dahulu, jika Meylan tidak mau, Meylan bisa langsung menolaknya." Ucap Andre.
"Tidak bisa seperti itu! Hal itu tidak sesederhana seperti yang kamu katakan, karena dia tidak akan berhenti sampai disitu saja, melainkan dia akan mengunakan segala cara untuk merayuKu." Ucap Meylan.
"Berarti Meylan takut tergoda dengan setiap rayuannya kalau begitu." Ucap Andre sambil tersenyum kecil menatap gadis itu.
Akhirnya mereka tiba di depan pintu masuk sebuah terminal.
Meylan langsung memencet bel agar sang sopir menghentikan angkot yang mereka tumpangi.
Meylan langsung membayar biaya angkot.
Andre langsung mengikuti Meylan dan berjalan menyusuri pinggiran jalan raya yang di sebelah kanannya berjejer warung tenda yang menjual berbagai jenis gorengan yang juga terletak tidak jauh dari pinggiran pantai.
Setelah memilih tempat yang tepat untuk mereka berdua tempati. Kedua muda - mudi itu langsung duduk dan menikmati pemandangan laut dan juga gedung - gedung yang berdiri di pusat kota yang terlihat dari tempat itu.
"Ndre! Apa yang ingin kamu pesan?." Tanya Meylan.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Meylan sambil berjalan mendekati pemilik warung tenda tersebut.
"Tante! Aku ingin memesan pisang goreng dan tahu isi masing - masing 5 buah." Ucap Meylan.
"Apakah tidak memesan minuman?." Tanya sang pemilik warung tenda tersebut.
Akhirnya Meylan memesan air mineral untuk mereka berdua.
"Ndre! Apakah kamu sudah punya pacar?." Tanya Meylan.
"Iya! Setahun yang lalu aku punya pacar, namun dia meninggalkan diriKu tanpa memberitahukannya kepadaKu." Ucap Andre.
"Oh begitu yah!?." Ucap Meylan menanggapi perkataan Andre.
"Apakah kamu masih berharap untuk bisa berkomunikasi dengannya?." Tanya Meylan.
"Iya! Aku sangat berharap untuk bisa berkomunikasi dengannya dan itu hanya untuk menanyakan kenapa dia melakukan hal itu kepada diriKu." Ucap Andre lagi.
"Apakah kamu tidak mempunyai nomor telepon rumah atau pun telepon kantor milik ayahnya?." Tanya Meylan.
__ADS_1
"Mana mungkin aku memilikinya, ayahnya sangat tidak menyukai keluargaKu." Jawab Andre.
"Kenapa bisa seperti itu?." Tanya Meylan.
"Mungkin karena perekonomian keluarga kami yang tidak menentu atau bisa di kategorikan sebagai orang miskin." Jawab Andre sambil tersenyum menatap Meylan.
"Tidak mungkin seperti itu." Ucap Meylan sambil mendorong pelan tubuh Andre.
"Yah! Entalah! Aku juga tidak mengerti dengan cara berpikir kedua orang tua kami." Ucap Andre sambil membuang napas panjang seperti melepaskan beban yang sangat berat.
"Apakah kamu sangat mencintainya?." Tanya Meylan.
"Iya! Aku sangat mencintainya, karena dia adalah cinta pertamaKu." Jawab Andre.
"Jika ada gadis lain yang menyukai diriMu, apakah kamu akan menerima gadis tersebut?." Tanya Meylan.
"Jika itu ada! Tetapi menurutKu hal itu tidak akan mungkin terjadi." Ucap Andre sedikit berbohong kepada Meylan.
"Mengapa kamu pesimis seperti itu?." Tanya Meylan.
"Karena memang seperti itulah kenyataannya." Ucap Andre.
"Situasi di kota ini sangat berbeda jauh dengan keadaan di desa kami. Jika di desa kami, gadis - gadisnya tidak melihat ekonomi pria yang mereka sukai." Lanjut Andre.
"Jadi kamu menganggap aku gadis yang seperti itu?." Tanya Meylan yang merasa tersinggung dengan perkataan Andre.
"Aku tidak mengatakannya seperti itu! Aku hanya mengatakan perbedaan antara gadis di desaKu dengan gadis - gadis di kota ini." Ucap Andre seakan merasa tidak bersalah.
"Aku inikan gadis yang tinggal di kota ini. Jadi kamu pikir aku ini gadis yang matrealistis? Begitu?." Ucap Meylan.
"He...he...he...he...he...Oh iya yah! Aku hampir melupakan hal itu." Ucap Andre sambil tertawa menggoda.
"Ternyata gadis di depanKu ini adalah gadis yang tinggal di kota ini juga." Ucap Andre sambil tersenyum.
"Jadi kamu menganggap aku seperti yang kau pikirkan itu? Iya, begitu?." Ucap Meylan.
"Kalau untuk berteman mungkin tidak memandang status sosial seseorang. Namun tentunya jika untuk memilih pacar, pasti Meylan akan melihat dan menilai status sosial dari pria yang akan menjadi pacar Meylan. Iyakan?." Ucap Andre.
"Sudahlah! Ayo kita pulang!." Ucap Meylan dengan nada suara yang sedikit marah kepada Andre.
"Meylan terlihat makin cantik jika sedang ngambek seperti ini!." Ucap Andre dengan nada suara yang menggoda.
Mendengar perkataan Andre, tangan Meylan langsung menampar bahu pria muda itu.
"Sialan kamu! Baru saja aku menghindari salah satu buaya darat, sudah bertemu lagi dengan buaya darat yang lain." Ucap Meylan sambil tersenyum.
__ADS_1
"Apa? Jadi menurut Meylan aku ini laki - laki buaya darat? Kalau begitu aku tidak mau lagi di ajak untuk jalan - jalan." Ucap Andre dengan nada suara sedikit memelas.
"Iya...iya! Kamu bukan salah satu dari mereka. Puas!?." Ucap Meylan menanggapi perkataan Andre.