
Setelah Andre tidak bisa membujuk Windi dan gadis itu langsung pergi.
Andre langsung berjalan kembali ke tempat duduknya semula dengan mimik wajah yang datar.
"Kenapa dengan wajahMu itu? Apakah kamu merasa menyesal dengan keputusan Windi?." Tanya Enjel seperti sedang mengejek Andre.
"Sebenarnya aku tidak menyesali keputusan Windi, tetapi aku tidak mau hubunganKu dengannya berakhir seperti ini!." Tutur Andre dengan nada suara yang kecewa.
"MaksudMu, kamu harus tetap menjalin hubungan dengannya dan juga dengan banyak wanita lainnya juga! Begitu?." Tanya Enjel.
"Tidak seperti itu! Aku ingin jika hubungan kita berakhir, itu dengan cara baik - baik! Bukan dengan hati yang terluka seperti itu!." Balas Andre menanggapi perkataan Enjel.
"Hei! Kamu ini sedang bermimpi atau sedang berkhayal? Mana ada wanita yang hubungannya berjalan baik - baik saja terus ingin mengakhirinya!?." Tutur Enjel.
Cindy hanya tetap memperhatikan perdebatan kedua orang yang sedang duduk bersama tersebut.
"Njel! Mungkin kamu belum pernah mendengar akan hal itu! Tetapi ada banyak contoh yang terjadi untuk bisa membuktikan bahwa hal itu bisa terjadi!." Tutur Andre membenarkan jalan berpikirnya.
"Apa alasannya sehingga itu bisa terjadi? Coba kamu jelaskan!." Tantang Enjel kepada Andre.
"Njel! Contohnya jika seorang wanita di jodohkan oleh kedua orang tuanya dengan pria yang lain dan dia tidak bisa menolaknya! Pasti dia akan memutuskan hubungannya dengan pria yang bukan menjadi pilihan kedua orang tuanya!." Andre memberikan contoh serta menjelaskannya.
"Iya! Tetapi wanita itu juga akan merasa hatinya sakit dengan keputusan tersebut!." Balas Enjel.
"Itu benar! Tetapi dia tidak akan merasa sakit hati kepada pacarnya! Melainkan kepada keputusan kedua orang tuanya! Sehingga wanita itu tidak akan membenci pacarnya!." Tutur Andre lagi menimpali argumen dari Enjel.
Mendengar apa yang di katakan oleh Andre, Enjel pun terdiam sesaat dan mulai memikirkan apa yang baru saja di katakan oleh pria tersebut.
"Okey kalau begitu! Tetapi ini kasusnya berbeda! Karena kamu adalah pria mata keranjang, jadi sudah seharusnya hal itu terjadi kepadaMu!." Tutur Enjel lagi sambil sedikit tersenyum mengejek.
"Sudahlah kak Andre! Tidak usah terlalu memikirkan hal itu! Ada aku yang bisa menggantikannya untuk menjadi pacarMu!." Tutur Cindy memotong perdebatan keduanya sambil menatap ke arah Andre dan juga langsung menatap kearah Enjel.
Enjel pun langsung membalas tatapan Cindy dengan raut wajah yang tidak senang dengan pernyataan gadis tersebut.
"Kenapa kamu menatapKu seperti itu!? Apa ada yang salah dengan kata - kataKu barusan?." Tutur Cindy menanggapi tatapan Enjel.
Enjel langsung merubah mimik mukanya dan langsung membalas perkataan Cindy.
"Tidak juga! Tidak ada yang salah dengan perkataanMu itu!." Sambil tersenyum yang di paksakan.
"Oh, aku pikir ada yang salah dengan perkataanKu!?." Ucap Cindy lagi.
"Wajar saja jika kamu mau mengajukan diri untuk menjadi pacarnya! Sebab saat ini Andre sudah tidak memiliki pacar lagi!." Ucap Enjel yang bermaksud untuk menyindir Andre.
"Sudahlah! Jangan di perpanjang lagi masalah itu! Aku sudah tidak ingin lagi untuk membahasnya!." Tutur Andre memotong pembicaraan kedua gadis itu.
"Jadi secepat itu kamu melupakan Windi?." Tanya Enjel.
"Wanita ini sangat pintar untuk mempermainkan hati setiap orang! Dia pikir siapa dirinya itu!?." Pikir Cindy dengan penuh kebencian di hatinya.
__ADS_1
"Cin! Bagaimana dengan pendidikanMu?." Tanya Andre mengalihkan pembicaraan dan tidak menanggapi perkataan Enjel.
"Sialan! Dia tidak menanggapi perkataanKu! Malahan mengalihkan pembicaraan dengan gadis itu!." Pikir Enjel yang merasa terabaikan.
"Semuanya baik - baik saja!." Jawab Cindy.
"Terus malam ini kamu maunya kemana?." Tanya Andre lagi.
"Malam ini memang tujuan aku ingin datang menemui kak Andre!." Jawab Cindy lagi.
"Jadi ceritanya aku sudah tidak di anggap lagi disini? Begitu?." Tutur Enjel dengan nada suara yang ketus.
"Oh, ternyata kamu ingin di anggap juga? Kalau ingin di anggap, jangan suka membuat masalah dengan ingin memprovokasi setiap orang! Hal itu tidak baik!." Tutur Cindy menyerang Enjel dengan kata - kata yang terdengar menusuk hati Enjel.
"Besok pagi, kita berdua harus secepatnya kembali ke kota! Aku sudah jenuh dengan tingkah orang - orang di desa ini!." Tutur Enjel yang ingin menyinggung Cindy.
"Terima kasih yah! Aku pikir kamu membenciKu juga! Ternyata kamu hanya membenci orang - orang yang berada di desa ini!." Tutur Cindy sambil tersenyum menatap Enjel.
"MaksudMu?." Tanya Enjel.
"Kamu belum mengerti juga? Aku ini bukan penduduk desa ini! Jadi kata - kataMu itu tidak mengena kepadaKu!." Jawab Cindy sambil tersenyum mengejek.
"Oh, jadi gadis ini berasal dari luar desa kita?." Gumam Enjel di dalam hatinya.
"Baru tinggal di kota, sudah membenci kampung halaman sendiri! Orang macam apa kamu ini yang melupakan asalMu!?." Tutur Cindy menghina Enjel.
Mendengar perkataan Cindy, Enjel langsung terprovokasi.
"Sudahlah! Sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran kalian berdua ini? Masalah yang satu baru saja terjadi! Kini kalian berdua juga ingin memulai membuat masalah yang baru!." Tutur Andre menengangi kedua gadis itu.
"Jika kalian berdua masih ingin berdebat lagi! Aku akan masuk ke dalam untuk tidur saja! Dari pada mendengar perdebatan kalian berdua itu yang tidak ada gunanya!." Ujar Andre yang mulai merasa terusik hatinya saat sedang memikirkan cara untuk mengatasi masalahnya dengan Windi.
Kedua gadis itu langsung diam saat mendengar perkataan Andre.
"Sepertinya gadis ini juga ingin menjadi pacar Andre, sehingga dia ingin menyingkirkan semua setiap gadis yang dekat dengan Andre! Licik juga gadis kota ini!." Pikir Cindy.
Ibu Andre yang mendengar permasalahan serta perdebatan yang terjadi di teras rumahnya hanya bisa tersenyum dengan situasi tersebut.
"Anak - anak ini, mereka pikir cinta itu sama seperti permen sehingga harus di perebutkan!." Pikir ibu Andre.
Sedangkan Sinta dan Dinda juga merasa terganggu konsentrasi belajar keduanya.
"Ada apa dengan kakakMu dan juga kak Windi dan kak Cindy?." Bisik Sinta kepada Dinda merasa bingung.
"Aku juga tidak tahu! Yang aku tahu sifat kakakKu biasanya tidak seperti itu!." Jawab Dinda.
"Sebenarnya seperti sih apa sikap kakakMu itu?." Tanya Sinta lagi.
"KakakKu itu kalau di rumah sifatnya pendiam, tidak terlalu banyak berkata! Tetapi tanpa di perintah, dia langsung mengerjakan semua pekerjaan rumah! Aku saja sampai saat ini belum pernah sekali pun mengerjakan pekerjaan rumah saat dia sudah berada di rumah!." Jawab Dinda.
__ADS_1
"Oh, jadi seperti itu yah? Tetapi kenapa sifatnya jadi berubah seperti itu? Apakah itu karena kakakMu menyukai kak Andre!?." Tutur Sinta lagi.
"Iya juga! Bisa jadi apa yang kamu katakan itu ada benarnya!." Dinda menanggapi perkataan Sinta.
"Suuutttt...!!! Lanjutkan saja tugas kalian berdua itu! Tidak usah memikirkan masalah mereka!." Tutur ibu Andre menegur kedua remaja tersebut.
Keduanya saling menatap dan langsung tersenyum satu sama lain dan melanjutkan tugas keduanya.
Sedangkan situasi di teras rumah masih dalam keadaan yang belum kondusif.
Kedua gadis itu masih dalam keadaan perang walaupun dalam keterdiaman keduanya.
"Njel! Besok pagi kita akan berangkat jam berapa?." Tanya Andre memecah keterdiaman yang sedang terjadi.
"Kita berangkat jam tujuh pagi!." Jawab Enjel dengan nada suara yang datar.
"Baiklah! Aku akan bersiap malam ini, sehingga saat besok aku tinggal mandi dan sarapan!." Ucap Andre menanggapi jawaban Enjel.
"Kak Andre! Aku bisa tidak untuk mengunjungiMu di kota?." Tanya Cindy menyela pembicaraan Andre dan Enjel.
"Tidak boleh!." Jawab Enjel dengan nada suara yang terdengar merasa jengkel.
"Aku tidak bertanya kepadaMu! Tetapi aku sedang bertanya kepada kak Andre!." Balas Cindy.
"Sudahlah! Kenapa kalian berdua tidak bisa akur?." Ujar Andre.
Kedua gadis itu langsung terdiam.
Mereka berdua bisa menilai bahwa Andre mulai merasa jengkel dengan tingkah keduanya.
Sehingga kedua gadis itu pun langsung tidak melanjutkan perdebatan tersebut.
Dinda yang merasa sudah tidak fokus lagi untuk mengerjakan tugasnya, langsung berniat untuk menyudahinya dan segera mengajak kakaknya untuk pulang.
"Sin! Kita lanjutkan besok saja yah!? Saat ini Aku ingin mengajak kakakKu untuk pulang!." Tutur Dinda.
Sinta yang mendengar perkataan temannya itu, langsung mengiyahkannya.
Sebab Sinta sudah mengerti apa yang Dinda pikirkan.
Gadis itu pun langsung berpamitan dengan ibu Sinta.
"Tante! Dinda pamit dulu yah? Nanti tugasnya kami lanjutkan besok saja!." Ucap Dinda.
"Baiklah!." Jawab ibu Andre sambil berdiri dan mengantarkan Dinda kedepan.
"Kak! Ayo kita pulang!." Tutur Dinda mengajak kakaknya.
Mendengar perkataan Dinda, Enjel langsung menjadi salah tingkah, apa lagi ada ibu Andre yang berdiri di samping adiknya itu.
__ADS_1
~Bersambung~