Penjahat Cinta Penakluk Wanita

Penjahat Cinta Penakluk Wanita
Bab 57. Jangan Egois


__ADS_3

Andre pun segera mengantarkan Enjel ke rumah tantenya, dimana tempat gadis itu tinggal.


Enjel merangkul dengan erat pinggang Andre dengan kedua tangannya seakan tidak ingin lagi untuk berpisah dari pria itu.


Itu karena dia telah memberikan kepada Andre hal yang paling berharga didalam dirinya.


Akhirnya keduanya pun tiba dan Enjel masih tetap duduk di jok sepeda motor Andre.


"Njel! Apakah kau sudah tetidur?" Tanya Andre dengan niat bercanda.


"Kalau aku sudah tertidur, pasti aku sudah tidak ada lagi dibelakangmu." Balas Enjel.


"Ohhh...aku pikir kamu sudah tertidur dan tidak mengetahui jika kita sudah sampai." Ucap Andre lagi.


"Ndre! Apakah kau tidak akan meninggalkan diriku?" Tanya Enjel lirih.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apakah aku terlihat akan meninggalkan dirimu?" Balas Andre sambil menatap mata gadis itu.


Enjel hanya menggelengkan kepalanya untuk menanggapi perkataan Andre.


"Njel, masuklah...nanti kau akan dimarahi oleh tantemu." Ucap Andre.


Setelah mendengar perkataan Andre, Enjel menatapnya dan langsung mengecup bibir pria yang dia cintai itu.


"Ndre...aku masuk dulu...kau langsung kembali ke kost saja dan jangan keluyuran lagi yah?" Ucap Enjel.


"Iya...besok aku masuk sekolah, bagaimana mungkin aku akan keluyuran lagi malam ini!?" Balas Andre.


"Bagus kalau begitu...kau harus dengar-dengaran kepadaku." Ucap Enjel manja sambil mengacungkan jari jempolnya.


Gadis itu pun segera berjalan memasuki kediaman tantenya dan sesekali berbalik untuk menatap Andre yang masih tetap memandanginya dari belakang.


Setelah tubuh Enjel sudah tidak terlihat lagi, akhirnya Andre pun menggeber sepeda motor miliknya dan langsung kembali ke tempat kostnya.


Malam itu dilalui oleh Enjel tanpa bisa menutup matanya, pikirannya terus mengingat apa yang telah dia lakukan dengan Andre.


Hingga pagi menjelang, Enjel tidak bisa tidur dan memaksakan dirinya untuk tetap berangkat kesekolah.


Berbeda dengan Andre, dia tertidur lelap sepanjang malam itu setelah selesai mengantarkan Enjel.


Andre pun segera mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke sekolah.


Setelah siap, dia segera berangkat dengan sepeda motor miliknya.


Setelah sampai di sekolahnya, Andre pun segera memarkirkan sepeda motor miliknya dan segera memasuki ruang kelasnya.


Saat itu Meylan belum datang, sehingga Andre hanya duduk diam saja dan hanya membuka serta membaca kembali buku pelajarannya.


Saat dirinya sedang serius membaca buku pelajarannya, sosok seorang gadis langsung mendekati dan menyapanya "Hai Ndre!"


"Hai Meri...apakah kau baru saja tiba?" Balas Andre.


"Iya! Soalnya hari ini jadwal ku untuk membersihkan kelas." Jawab Meri.


"Ohh iya...terus dimana yang lainnya?" Tanya Andre lagi.


"Entahlah...mungkin mereka saat ini masih di tengah perjalanan." Jawab Meri.

__ADS_1


"Baiklah, biar aku membantumu." Ucap Andre dan langsung menghentikan aktivitasnya.


Andre mulai membersihkan ruang kelasnya untuk membantu Meri agar bisa cepat selesai.


Memang Andre terlalu pagi datang ke sekolah, sehingga belum terlalu banyak siswa yang ada.


Sedangkan para siswa yang sudah ada, Itu karena mereka semua mendapatkan jadwal kebersihan yang sama di hari itu.


Setelah beberapa saat membantu Meri, akhirnya mereka berdua pun selesai membersihkan ruang kelas mereka.


Teman satu kelompok Meri yang mendapatkan jadwal kebersihan hari itu merasa terkejut karena ruang kelas mereka telah selesai dibersihkan.


"Mer...ternyata kau hebat juga, bisa membersihkan sendiri ruangan kelas kita dengan cepat." Tutur salah satu temannya.


"Apakah kau sudah tiba sejam yang lalu?" Lanjut temannya itu bertanya.


"Tidak, aku dibantu oleh Andre untuk membersihkannya." Jawab Meri jujur.


"Ohh...jadi begitu yah!? Apakah kau dan Andre sudah janjian untuk datang ke sekolah lebih cepat?" Tanya temannya lagi.


"Husss...jangan sembarangan bicara." Balas Meri untuk menghentikan bualan temannya itu.


Andre hanya duduk diam dan terus fokus membaca catatan didalam buku pelajarannya karena tidak ingin menanggapi perkataan salah satu teman sekelasnya itu.


Tidak lama kemudian, akhirnya Meylan pun memasuki ruang kelas dan pandangannya langsung tertuju ke kursi milik Andre.


Hal itu karena dia telah melihat sepeda motor milik Andre yang telah terparkir, sehingga dia mengetahui jika Andre sudah berada di dalam kelas.


"Hai Ndre!" Meylan menyapa dan segera duduk disampingnya.


"Maksudmu? Dari tadi aku terus membaca kembali pelajaran kita sebelumnya...apakah itu tidak menunjukkan semangat untuk belajar?" Balas Andre sambil tersenyum tipis menatap gadis disampingnya itu.


"Bagaimana hari-harimu saat tidak bertemu dengan ku? Apakah kau merindukanku?" Tanya Andre sambil berbisik menggoda Meylan.


"Siapa juga yang merindukanmu?" Balas Meylan cuek.


"Ohh...jadi begitu yah!? Baiklah, aku tidak akan merindukanmu juga." Balas Andre.


"Coba saja kalau kau berani." Ucap Meylan santai menanggapi perkataan Andre.


"Siapa takut!?" Balas Andre lagi.


"Jadi...jadi kau benar-benar ingin melupakanku?" Tutur Meylan sambil mencubit perut Andre.


"Aduh...duh...duh! Ampun...ampun...ampun." Teriak Andre mengeluh.


Tingkah mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian teman sekelas mereka.


Bel pun berbunyi menandakan sudah waktunya mereka berkumpul di tanah lapang yang ada di area sekolah untuk melaksanakan upacara bendera.


"Mey...ayo kita pergi." Ajak Andre.


Mereka berdua pun segera pergi untuk mengikuti upacara bendera di sekolah itu.


Tidak ada hal istimewa yang terjadi disekolah hari itu sampai tiba saatnya untuk pulang.


Meylan pun segera mengajak Andre untuk bersantai sebelum pulang ke rumah.

__ADS_1


"Mey...maaf yah!? Mulai saat ini, aku tidak bisa lagi berlama-lama untuk pulang, sebab Om Hendra tidak suka dengan hal itu." Ucap Andre.


Meylan hanya bisa terdiam setelah mendengar apa yang baru disampaikan oleh Andre.


"Jadi, bagaimana dengan waktu kebersamaan kita? Apakah kita akan sulit untuk mendapatkan waktu bersama?" Tanya Meylan terlihat kecewa.


"Aku juga sedang memikirkan bagaimana caranya aku bisa untuk mengatasi masalah ini." Jawab Andre dengan berat hati.


Tiba-tiba Meylan seperti tercerahkan dan berkata "Bagaimana jika kamu indekos saja? Apakah kau mau?" Tanya Meylan.


"Aku mau sih...tetapi bagaimana dengan biaya sewa dan biaya makanku sehari-hari?" Tutur Andre menanggapi solusi yang Meylan tawarkan.


"Begini saja...ayo kita pergi ke tempat yang biasa kita kunjungi untuk membahas hal itu...bagaimana menurutmu?" Ujar Meylan lagi.


"Baiklah...ayo kita pergi." Jawab Andre menyetujui apa yang Meylan ajukan.


Keduanya pun segera pergi ke pantai tempat yang biasa mereka berdua kunjungi.


Saat diperjalanan, Meylan terus memikirkan solusi yang dia tawarkan kepada Andre agar bisa memenuhinya.


Setelah sampai, keduanya pun segera duduk dan kembali membahasnya.


"Ndre...bagaimana jika kita berdua mencari tempat kost dengan biaya yang terjangkau?" Ucap Meylan.


"Menurutmu berapa biaya terjangkau yang kau pikirkan?" Tanya Andre.


"Jika harga sewanya perbulan sebesar lima ratus ribu rupiah, aku bisa mengatasinya dengan uang jajan milikku."


"Tidak hanya itu saja...aku juga bisa memberikan uang untuk biaya hidupmu...bagaimana menurutmu? Keren kan?" Tutup Meylan dengan pertanyaan sambil tersenyum bangga.


"Apanya yang keren jika uang jajanmu yang harus di korbankan untuk ku? Aku tidak mau kau merasa kesulitan karena diriku." Andre menanggapi.


"Ndre...jadi kau tidak mau menghargai pemberianku?" Tanya Meylan lirih.


"Jika Meylan telah mengetahui bahwa aku sudah tidak tinggal bersama dengan tante Ria dan sudah indekos, pasti dia akan selalu datang untuk menemuiku...bagaimana dengan Enjel?" Pikir Andre.


"Mey...sepertinya kita tidak boleh berpikir terlalu egois...dalam sepekan, pasti kita akan memiliki waktu untuk bersama...yang terpenting adalah, aku harus selalu mengikuti keinginan suami tante Ria." Jawab Andre menanggapi pertanyaan Meylan.


"Coba kau pikirkan dampaknya jika aku tidak tinggal lagi di rumah tante Ria!?"


"Yang pertama, itu berdampak pada hubungan ibuku dengan tante Ria."


"Yang kedua, apa yang akan ibuku pikirkan jika aku sudah bisa membiayai hidupku sendiri tanpa bekerja?"


"Ibuku pasti berpikir hal yang tidak-tidak terhadapku."


"Dan bagaimana jika ibuku mengetahui bahwa demi memenuhi kebutuhan ku, kau rela mengorbankan jajanmu...coba kau pikirkan itu."


"Untuk itu, bukannya aku tidak menghargai pemberianmu, tetapi hal itu akan mendatangkan masalah yang lebih serius lagi bagi keluarga ku." Tutup Andre.


"Sepertinya apa yang Andre katakan itu, ada benarnya juga...memang sepertinya aku yang terlalu egois dan tidak mau memikirkan apa dampak yang akan Andre hadapi kemudian." Pikir Meylan.


"Baiklah...Ndre...maaf yah jika aku terlalu egois!?" Balas Meylan.


"Kalau begitu, kau ikuti saja kemauan suami tante Ria itu, biar kita bisa memiliki waktu untuk bersama." Ucap Meylan.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2