Penjahat Cinta Penakluk Wanita

Penjahat Cinta Penakluk Wanita
Bab 35. Kemarahan Sang Kakak Kelas


__ADS_3

Akhirnya Joni bersama dengan tiga orang temannya sudah lebih dulu tiba di tempat biasa mereka nongkrong bersama dengan anak - anak muda yang biasa juga nongkrong di situ.


Joni pun langsung mengemukakan niatnya untuk memberi pelajaran kepada Bobby.


Anak - anak di tempat itu langsung mengiyahkan apa yang Joni katakan, hal itu di sebabkan karena Joni sudah terlebih dahulu bergaul dengan mereka, serta selalu memberikan uang untuk mereka di saat mereka ingin menikmati minuman keras mau pun rokok.


Tidak lama kemudian sosok yang mereka tunggu - tunggu itu pun kini sudah terlihat dan sedang berjalan menuju tempat dimana mereka berada.


Saat Bobby menajamkan penglihatannya, pemuda itu melihat juga ada empat orang siswa yang sedang duduk bersama dengan orang - orang yang selalu dia cari.


Bobby langsung mengenali ke empat siswa tersebut dan mereka adalah para senior di sekolahnya yang baru saja bersih tegang di kantin sekolah.


"Sialan! Mengapa mereka juga berada di tempat itu? Apakah aku harus menunda untuk bertemu dengan mereka? Ataukah aku harus mendekati mereka dan menghadapi keempat kakak kelasKu itu". Gumam Bobby di dalam hatinya yang merasa bimbang dengan situasi yang dia hadapi saat itu.


Setelah sedikit berpikir, akhirnya Bobby terus melanjutkan langkah kakinya dan menuju ke arah mereka.


"Berani juga anak ini...rupanya dia tidak merasa takut dengan kita yang sedang berada disini". Gumam Joni sambil menatap ke arah datangnya Bobby.


"Biarkan saja dia kesini Jon, agar kita tidak sulit lagi untuk mencari dirinya dan memberikan pelajaran kepada anak ini". Ucap salah satu temannya.


Akhirnya Bobby sampai di tempat mereka sambil tersenyum menatap ke arah pemuda - pemuda yang biasa dia temui, namun Bobby seakan tidak menghiraukan keberadaan dari Joni dan juga tiga orang temannya.


"Hai Bang...!!! Bagaimana dengan bisnis kita yang kemarin? Apakah Abang mau untuk melanjutkannya?". Ucap Bobby yang langsung menyapa salah satu pemuda yang sedang duduk.


Pemuda yang di sapa oleh Bobby bernama Iwan, dia adalah pemuda yang sangat di hormati oleh teman - temannya di wilayah lingkungan rumah penduduk yang tidak jauh dengan area sekolah itu berada.


Pemuda itu di kenal sangat nakal, sehingga dirinya sudah sering masuk keluar kantor polisi dan dirinya juga sudah sekali masuk Lembaga Pemasyarakatan karena melakukan tindak pidana penganiayaan.


Saat Bobby menyapa Iwan, pemuda itu langsung menyambutnya.


"Hei Bob...!!! Ayo kamu duduk disini dulu, ada hal yang akan aku tanyakan kepadaMu". Ucap Iwan sambil memberikan isyarat dengan tangannya agar Bobby duduk di sampingnya.


Bobby pun langsung menuruti perkataan Iwan dan langsung duduk di samping pemuda tersebut.


"Apakah kamu mengenal mereka?". Tanya Iwan sambil menunjuk ke arah Joni dan tiga orang lainnya.


"Oh...kalau mereka aku tidak mengenal dengan baik, karena aku baru saja bertemu dengan mereka saat jam istirahat makan tadi". Ucap Bobby seakan tidak merasa kalau dirinya sedang bermasalah dengan Joni dan juga tiga orang lainnya.


"Apakah kamu merasa telah melakukan kesalahan terhadap mereka?". Tanya Iwan lagi.

__ADS_1


"MenurutKu, aku tidak pernah melakukan kesalahan kepada mereka berempat, sebab tadi aku lagi berdebat dengan seorang gadis yang aku sukai". Jawab Bobby tanpa merasa terbeban sedikit pun.


Mendengar apa yang di katakan oleh Bobby, wajah Joni langsung memerah karena merasa emosi dengan juniornya itu, Joni langsung bersuara dengan nada suara yang membentak kepada Bobby.


"Apa kamu bilang? Kamu tidak merasa telah melakukan kesalahan kepada kami? Jadi apa yang kamu lakukan saat di kantin tadi bukan masalah untukMu? Baiklah kalau menurutMu seperti itu, tetapi hal itu adalah masalah buat kami". Ucap Joni sambil dengan cepat mendekat ke arah Bobby dan langsung meninju wajahnya.


Karena posisi duduk Bobby di apit oleh Iwan dan juga salah satu temannya, sehingga bogem mentah milik Joni langsung mengenai pipinya.


Tubuh Bobby langsung terjatuh kebelakang saat terkena tinju milik Joni.


Joni tidak menghentikan perbuatannya, pemuda itu terus melanjutkan tindakannya kepada Bobby.


Setelah dari sudut bibir Bobby telah mengeluarkan darah seŕta tidak melakukan perlawanan kepada Joni, akhirnya Joni meraih kerah baju milik Bobby dan menariknya hingga tubuh Bobby kembali ke posisi berdiri.


"Apakah kamu ingin menantang diriKu? Ataukah kamu ingin tunduk kepadaKu?". Tanya Joni dengan membentak kepada Bobby.


"Aku tidak ingin kedua - duanya". Ucap Bobby sambil tersenyum sinis menatap wajah Joni.


Mendengar perkataan Bobby, emosi Joni langsung kembali memuncak dan ingin menghajar Bobby lagi, namun pergerakannya langsung di hentikan oleh Iwan.


"Sudah...!!! Jangan di teruskan lagi, apa yang kamu lakukan itu sudah cukup bagi dirinya". Ucap Iwan dengan nada suara yang tegas.


"Lepaskan genggamanMu itu, dan mari kita duduk kembali". Ujar Iwan lagi.


Akhirnya Joni melepaskan genggamannya di kerah baju milik Bobby dan langsung duduk kembali seperti biasanya.


"Apakah kamu sudah merasa puas atau merasa belum puas dengan apa yang telah kamu lakukan kepadanya?". Tanya Iwan kepada Joni.


Joni tidak menjawab dengan apa yang Iwan tanyakan, sebab dirinya masih merasa belum puas dengan apa yang baru saja dia lakukan kepada Bobby.


"Jon...!!! Kamu tidak ingin menjawab pertanyaanKu?". Tanya Iwan lagi dengan nada suara yang tegas.


Setelah mendengar kembali apa yang di katakan oleh Iwan, akhirnya Joni langsung berusaha menekan emosinya dan langsung menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Iwan.


"Sebenarnya aku memang belum merasa puas dengan apa yang aku lakukan, tetapi karena Abang sudah menghentikannya, sehingga aku hanya mengikuti saja apa yang Abang inginkan". Ucap Joni dengan nada suara seperti merasa kecewa dengan situasi saat itu.


"Saat ini aku mengharapkan agar permasalahan di antara kalian berdua sudah selesai, jika aku mendengar kalian berdua kembali bermasalah, aku yang akan memberikan pelajaran kepada kalian berdua". Ucap Iwan dengan tegas.


"Apakah kalian semua sudah mendengar apa yang aku katakan?". Tanya Iwan lagi.

__ADS_1


"Iya Bang!". Jawab Bobby.


"Iya Bang!". Jawab Joni.


"Bagus kalau kalian sudah mengerti, saat ini aku ingin mendengarkan apa yang ingin Bobby katakan kepadaKu". Ucap Iwan sambil menatap ke arah Bobby.


"Begini Bang, orang yang aku maksudkan itu adalah teman sekelasKu dan dia adalah orang yang sama seperti yang pernah aku sampaikan kepada abang". Ucap Bobby.


"Baiklah! Apakah dia masih berada di dalam area sekolah ataukah dia sudah pulang?". Tanya Iwan.


"Oh, iya yah...jangan - jangan dia sudah meninggalkan area sekolah, aku juga tidak memperhatikan dirinya. Kalau begitu aku akan pergi lagi untuk mengecek keberadaannya". Ucap Bobby sambil berdiri dan melangkah pergi untuk memasuki kembali area sekolah.


Sedangkan Andre dan Meylan kini sudah berada di tempat dimana sepeda motornya di parkirkan.


"Tumben, apakah ini benar - benar sepeda motor milikMu Ndre?". Tanya Meylan penasaran.


"Ini sepeda motor milik tanteKu, sebab dia yang membelikannya untuk aku gunakan sehari - hari". Jawab Andre dengan jujur.


"Kalau seperti itu, bisa di katakan sepeda motor ini milikMu". Ucap Meylan.


Andre pun langsung menunggangi sepeda motor tersebut dengan memboncengi Meylan.


Andre pun langsung melaju keluar dari area sekolah.


Saat langkah Bobby telah memasuki pintu gerbang sekolah, dirinya melihat Andre melaju keluar mengendarai sepeda motor sambil membonceng Meylan di belakangnya.


"Sialan! Ternyata anak itu sudah makin berani dengan sepeda motor miliknya itu, aku harus memberitahukan hal ini kepada Abang Iwan". Gumam Bobby sambil berbalik dan kembali ke tempat dimana Iwan berada.


Saat Bobby menatap ke arah Andre dan Meylan, gadis itu sempat menatap ke arah Bobby.


"Ndre! MenurutKu, sepertinya Bobby sedang merencanakan sesuatu terhadap kita berdua". Ucap Meylan.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?". Tanya Andre.


"Tadi pas kita berdua baru saja meninggalkan area sekolah, aku melihat sepertinya Bobby sedang tergesah - gesah untuk memasuki area sekolah, namun setelah dirinya melihat kita berdua sudah meninggalkan area sekolah, dia langsung berhenti sambil menatap ke arah kita dan kembali lagi menyeberang jalan". Meylan menjelaskan.


"Oh, seperti itu yah...biarkan saja dia merencanakan sesuatu untuk kita berdua, yang terpenting saat ini kita berdua harus melakukan rencana kita kemarin". Ucap Andre sambil tersenyum mesum.


"Rencana apa itu?". Tanya Meylan pura - pura lupa dengan rencana mereka berdua.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2