
Melihat perubahan wajah tante Ria saat mendengar Andre mengatakan bahwa Meylan lebih cantik dari dirinya, Andre langsung berpikir dalam hatinya.
"Mengapa tingkah tante Ria langsung berubah seperti itu? Apakah kecantikannya tidak ingin tersaingi? Ataukah ada hal yang lain yang membuat sikap tante Ria berubah seperti itu?." Gumam Andre dalam hatinya namun dengan wajah yang tetap tersenyum.
"Kenapa kamu senyam - senyum?." Tanya tante Ria.
"Ah, ti...tidak kok tante!." Jawab Andre singkat.
"Apakah kamu sedang memikirkan tentang gadis itu?." Tanya tante Ria lagi dengan nada suara sedikit ketus.
Mendengar pertanyaan yang di lontarkan tante Ria, di dalam pikiran Andre langsung terlintas sefikit otak mesumnya untuk menguji tante cantik dan sexynya itu.
"Iya tante! Andre sedang memikirkan kecantikannya." Ucap Andre ingin mencoba apakah tantenya itu akan bertambah merasa lebih tidak baik lagi atau hanya biasa - biasa saja.
"Apakah kamu tidak cukup melihat kecantikan tanteMu ini yang berada di dekatMu, sehingga memikirkan kecantikan gadis itu?." Ucap tante Ria dengan nada yang semakin ketus.
"Apa!? Jadi seperti itukah pemikiran tante Ria? Aku inikan ponakannya walau pun usia kita tidak terpaut jauh. Ataukah ini pengaruh karena berada jauh dari suaminya? Baiklah aku akan mencobanya lagi." Gumam Andre dalam hatinya.
"Iya! Memang buat Andre tante juga terlihat sangat cantik, tetapi tante itu berbeda dengan Meylan. Dia itu teman sekelasKu, sedangkan tante he...he... he...he...he termasuk orang tua aku." Ucap Andre sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa? Apakah aku bukan seorang wanita juga?." Ucap tante Ria yang perkataannya sudah mulai melepaskan posisinya sebagai saudara sepupu dari ibunya Andre.
Memang Ria menikah di usianya yang baru 18 tahun, itu pun terjadi karena dirinya yang berpemikiran bahwa pria yang di nikahinya itu akan memberikan kebahagiaan lahir batin untuknya, sehingga walau pun usia berpacaran mereka berdua hanya beberapa bulan saja, namun karena pemikiran Ria tersebut dan juga karena kecantikannya, sehingga suaminya langsung menikahi Ria. Setelah beberapa bulan mereka menikah dan Ria sudah di nyatakan positif mengandung, suaminya langsung kembali pergi untuk melakukan pekerjaannya sebagai seorang kapten kapal di suatu perusahaan asing diluar negeri.
Memang jika berbicara kebutuhan hidup untuk Ria dan anaknya, tidak perlu di tanya lagi, karena jumlah uang yang selalu masuk di nomor rekening miliknya, masih tersisa banyak jika di gelontorkan untuk membiayai kebutuhan di dalam rumah dan juga untuk kebutuhan perawatan diri Ria dan juga putrinya.
Tetapi untuk kebutuhan batin Ria, hal itulah yang tidak terpenuhi dan membuat keinginan di dalam diriNya menggebu - gebu pada waktu dirinya melihat milik Andre saat sedang tertidur. Walau pun hal itu masih tetap di pendamnya dalam - dalam agar Andre tidak mengetahuinya.
Tetapi Ria juga pernah untuk mencobai Andre saat tubuhnya di lihat Andre dalam keadaan hanya menggunakan CD saja.
Usia Andre saat ini sudah 16 tahun, sedangkan Ria berusia 23 tahun, jadi keduanya terpaut 7 tahun saja, sehingga jika mereka berdua berjalan bersama - sama, terlihat seperti sepasang kekasih atau sepasang suami istri jika sedang memeluk Anggi.
Karena Andre terbiasa hidup dengan bekerja keras di kebun sehingga wajah dan kulit remaja itu sudah terlihat dewasa.
Sebaliknya untuk Ria, tubuh dan kulitnya selalu terawat dengan baik, sehingga jika dirinya terlihat seperti seorang gadis yang masih berusia belasan tahun.
Dan semua mata lelaki yang melihat Ria, pasti akan berkeinginan untuk memiliki dirinya.
"Iya! Tante itu juga seorang wanita. Siapa bilang tante bukan seorang wanita? Dan juga seorang wanita yang sangat cantik!." Puji Andre sambil tersenyum menggoda.
Hal itu di lakukan oleh Andre agar supaya wanita di sebelah kanannya itu terhibur dan berhenti dari sifatnya yang ketus tersebut.
Mendengar perkataan Andre, senyum kecil mulai tergambar di wajah catik wanita tersebut.
"Ternyata tante Ria ini lagi butuh perhatian dari seorang pria dan juga rayuan yang selama beberapa tahun belakangan tidak pernah dia rasakan. Jika bukan karena kamu saudara ibuKu pasti aku jugà akan mengeksekusi diriMu ini." Gumam Andre di dalam hatinya sambil tersenyum dan menatap kearah wanita cantik yang dia maksudkan.
Ekor mata Ria tetap memperhatikan juga tingkah Andre walau pun dirinya sedang fokus menyetir mobilnya.
__ADS_1
Akhirnya mobil Ria memasuki sebuah parkiran di depan sebuah rumah makan.
Ria langsung menarik rem tangan mobilnya dan mematikan mesin mobil tersebut.
Mereka bertiga langsung turun dari mobil sambil Andre memeluk tubuh Anggi.
"Ayo! Kita maakan dahulu baru setelah itu kita balik pulang kerumah." Ucap Ria sambil berjalan memasuki rumah makan tersebut.
Saat mereka bertiga sedang makan, tiba - tiba seorang pemuda yang bertubuh proporsional dengan raut wajah yang tampan datang mendekat dan menyapa Ria.
"Hai Ria! Bagaimana kabarMu?." Sapa pemuda itu.
Ria langsung menatap kearah sumber suara yang menyapa dirinya.
"Hei! Aku kira siapa yang menyapa diriKu, ternyata diriMu!." Ucap Ria sambil tersenyum menanggapi pria tersebut.
"KabarKu! Sesuai dengan apa yang kau lihat sekarang. Seperti inilah diriKu."
"Bagaimana juga dengan kabarMu Vic?." Lanjut Ria.
"Bukan itu maksud pertanyaanKu!." Ucap pria itu menyanggah jawaban yang di berikan oleh Ria.
"Terus, apa maksud pertanyaanMu?." Tanya Ria dengan senyum yang menggoda.
"Bagaimana kabarMu dengan suamiMu?." Ucap pria itu dengan senyum yang usil menatap Ria.
"Boleh aku duduk?." Tanya pria itu.
"Silahkan duduk saja, tidak ada kok orang yang melarangnya." Ucap Ria.
"Jadi dimana suamiMu? Kenapa tidak bersama denganMu saat ini?." Tanya pria itu lagi.
"Oh, dia lagi bekerja saat ini. Jadi tidak bersama - sama dengan kami." Jawab Ria.
"Terus ini putriMu?."
"Iya! Dia putriKu."
"Wah, cantik juga! Cantik seperti ibunya!."
"Terus, bagaimana denganMu?." Tanya Ria.
"Apanya yang bagaimana?." Tanya pria itu sambil tersenyum.
"Apakah kamu sudah punya istri?." Tanya Ria.
"Istri! Wanita mana yang mau dengan laki - laki seperti diriKu ini?." Ucap pria tersebut.
__ADS_1
"Kamu jangan terlalu merendahkan diri. Aku tau kamu itu rebutan para gadis waktu kita masih bersekolah dulu." Ucap Ria.
"Memang seperti itu adanya, jadi untuk apa aku merendahkan diri?." Ucap pria tersebut.
"Vic! Aku serius mau tau, sekaranga apa kegiatanMu?." Tanya Ria.
"Aku saat ini sedang bekerja di salah satu bank swasta." Jawab pria itu.
"Hebat itu!." Ucap Ria sambil mengacungi jempolnya.
"Trus yang ini siapa?." Tanya pria itu sambil menatap kearah Andre.
"Oh, dia itu adalah ponakanKu, anak dari kakak sepupuKu." Jawab Ria.
"Oh, begitu yah!." Ucap pria itu.
"Trus setelah ini kalian mau kemana?." Lanjut pria itu.
"Setelah ini kami akan langsung pulang." Jawab Ria.
"Ria! Kapan kamu punya waktu?." Tanya pria itu.
"Waktu untuk apa?." Tanya Ria.
"Waktu agar aku bisa bertemu denganMu. Tetapi hanya kita berdua." Ucap pria itu.
"Aduh Victor! Kalau waktu sendiri aku tidak bisa, karena aku itu harus menjaga dan merawat putriKu, kamu taukan pekerjaan seorang ibu rumah tangga seperti diriKu ini!?." Ucap Ria.
"Oh, begitu yah?." Ucap pria itu.
"Iya Vic! Sebenarnya aku juga pengen untuk bersantai, namun untuk saat ini aku belum bisa." Ucap Ria.
Andre masih tetap menyantap makanan yang ada di depannya, dia seakan - akan tidak memperdulikan kedua orang di depannya yang sedang berbincang - bincang.
Namun pandangan Andre tetap menelisik setiap sikap dan tingkah dari pria di depannya.
"Ternyata, dia ini ingin menjadikan tante Ria sebagai targetnya, aku harus bertindak cepat." Gumam Andre dalam hatinya.
"Tante! Apakah Anggi sudah cukup makannya?."
Ria langsung tersadar bahwa dirinya sudah terlalu serius berbincang - bincang dengan pria di sampingnya dan sudah tidak lagi menyuapi Anggi.
"Oh iya! Vic! Lanjutkan saja ceritaMu aku akan tetap mendengarnya." Ucap Ria yang langsung meraih sendok dan menyuapi putrinya.
Pria itu tetap melanjutkan ceritanya, tetapi Andre seakan - akan menyibukan dirinya untuk menarik perhatian Ria agar tidak terfokus dengan cerita pria di sampingnya.
"Kurang ajar! Anak ini sengaja mengalihkan perhatian Ria agar tidak terlalu fokus mendengar perkataanKu." Gumam pria tersebut di dalam hatinya.
__ADS_1
~Bersambung~