
Keesokan harinya Andre melakukan kegitan seperti biasa yaitu berangkat kesekolah.
Sedangkan Ria sendiri kini sudah menyiapkan dirinya untuk menyambut kedatangan suaminya.
Saat jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, Hendra tiba dirumahnya dan langsung di sambut oleh Ria istrinya yang juga sedang memeluk Anggi putri mereka berdua.
"Hai Mas Hendra...!!! Itu ayah sudah pulang". Ucap Ria kepada Anggi sambil menunjuk ke arah Hendra yang baru saja turun dari sebuah taxi.
Wajah Hendra pun sangat bahagia saat melihat istri dan putrinya yang menyambut kedatangannya itu.
Kedua suami istri itu langsung berpelukan.
Saat Hendra mau mencium putrinya, Anggi langsung menangis dan menolak untuk di cium oleh ayahnya.
Hal tersebut karena memang Anggi tidak mengenal ayahnya itu, sebab Hendra baru saja kembali.
Ria pun langsung membujuk putrinya agar mau untuk di peluk atau pun di cium oleh ayahnya.
Tetapi gadis kecil itu masih tetap rewel dan terus menolak untuk di peluk atau pun di cium ayahnya.
"Mas, biarkan saja, nanti Anggi akan terbiasa juga dengan diriMu, lebih baik mas Hendra langsung masuk dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu dan langsung beristirahat". Ucap Ria.
"Baiklah! Tetapi aku tidak merasa capek kok, jadi aku belum akan beristirahat". Ucap Hendra menanggapi perkataan Ria.
"Oh, kalau begitu terserah mas Hendra saja, aku hanya mengingatkan". Ucap Ria lagi.
Hendra pun tersenyum sambil membawa koper serta tas dan memasuki ruang tamu serta langsung menuju ke kamar milik keduanya.
Ria pun mengikuti suaminya itu dari belakang sambil memeluk putrinya yang kini sudah tenang kembali.
Setelah tiba di dalam kamar, Hendra pun membuka koper dan tas yang di bawahnya serta mulai mengeluarkan isi dari koper serta tas tersebut.
Setelah selesai mengeluarkan serta meletakkan setiap barang - barang yang di bawahnya, akhirnya Hendra langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Ria pun menanti Hendra di ruang makan, agar di saat Hendra sudah selesai mengganti pakaiannya, suaminya itu langsung menuju ke ruang makan untuk mengisi perutnya.
Dan apa yang di lakukan Ria tersebut pun benar adanya, sebab setelah selesai mengganti pakaiannya, Hendra langsung menuju ke ruang makan.
"Ayo mas makan dulu, mas Hendra kan sudah lama tidak mencicipi masakan yang aku buat, jadi saat ini mas Hendra harus makan yang banyak, karena aku telah menyiapkan masakan ini khusus untuk mas Hendra". Ucap Ria sambil tersenyum menggoda menatap suaminya.
"Oh, begitu yah!? Apakah hanya masakan ini yang kamu sediakan untuk menyambut kepulanganKu ini!?". Tanya Hendra kepada Ria.
"Tidak juga! Ada hal lain juga yang aku siapkan untuk mas Hendra, tetapi hal itu harus di lakukan setelah Anggi tertidur". Ucap Ria menjawab pertanyaan dari Hendra dengan malu - malu.
__ADS_1
"Memangnya hal apa itu sehingga harus menunggu Anggi tertidur lebih dulu!?". Tanya Hendra lagi.
"Ah, masa mas tidak tahu tentang hal itu, hal itu kan harus di lakukan tanpa sepengetahuan putri kita, masa kita melakukan hal itu dan di ganggu atau di lihat oleh putri kita!?". Ucap Ria.
Hendra pun langsung mengerti dengan apa yang di maksudkan oleh istrinya tersebut.
"Kalau begitu, kita harus secepatnya mencari seorang pembantu rumah tangga yang juga bisa pengasuh putri kita". Ujar Hendra kepada Ria.
Ibu muda itu pun langsung menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang di katakan oleh suaminya.
Saat Andre berada di sekolah, dirinya kembali bertemu dengan Meylan.
Wajah gadis itu terlihat sangat bahagia melihat kedatangan Andre.
"Hai Mey...!!! Bagaimana kamu melewati malamMu? Apakah baik - baik saja?". Ujar Andre menyapa gadis tersebut saat memasuki ruang kelasnya.
Meylan yang mendengar perkataan dari Andre langsung membuat pipinya berubah menjadi berwarna merah karena merasa malu dengan kata - kata dari pria itu.
Gadis hanya bisa diam dan tidak membalas perkataan dari Andre.
Saat pria itu sudah duduk di kursi yang bersebelahan dengan Meylan, gadis itu langsung mencubit perut Andre.
"Auuuu...!!! Aduh...sakit...sakit". Teriak Andre.
"Iya...iya...ampun...ampun...ampun". Ucap Andre.
Meylan pun langsung melepaskan kedua jarinya yang mencubit perut Andre.
Andre pun langsung berbisik kepada Meylan.
"Apakah kamu merindukan lagi untuk melakukan hal itu?".
"Apa kamu bilang? Tidak...aku tidak merindukan untuk melakukan hal itu". Jawab Meylan dengan malu - malu.
"Oh jadi seperti itu yah!? Baiklah, aku tidak mau berharap lagi dengan hal itu". Ujar Andre yang berpura - pura merasa sedih.
Meylan yang melihat tingkah Andre langsung tersenyum dan merayu pria muda itu.
"Kacian...ternyata ada orang yang sedang berharap untuk melakukan hal itu lagi". Ucap Meylan sambil tersenyum menggoda menatap Andre.
"Pokoknya aku selalu mau jika kamu ingin untuk melakukan hal itu, tetapi kamu jangan lagi melirik gadis lain, awas kalau aku mengetahui hal itu". Ujar Meylan sambil merubah mimik mukanya yang menjadi serius menatap kearah Andre.
"Iya, aku janji kok!". Jawab Andre.
__ADS_1
Bobby yang melihat kedekatan mereka berdua semakin bertambah kesal kepada Andre, niatnya untuk memberikan pelajaran kepada Andre semakin besar.
Tidak lama kemudian aktivitas belajar mengajar mereka pun telah di mulai.
Setelah beberapa jam kemudian akhirnya bel sekolah langsung berbunyi, pertanda waktu istirahat telah tiba.
Murid - murid pun mulai keluar dari dalam ruang kelas mereka masing - masing.
Andre dan Meylan pun demikian, keduanya langsung berjalan menuju ke kantin sekolah.
Saat berjalan menuju ke kantin sekolah, Andre dan Meylan berpaspasan di jalan dengan Joni.
Joni karena merasa penasaran serta merasa ada sesuatu yang aneh dengan masalah yang di hadapi oleh Bobby dan juga Andre langsung menyapa Andre.
"Hei...!!! Apakah kamu yang bernama Andre?". Tanya Joni.
"Iya, ada apa yah!?". Jawab Andre yang langsung kembali bertanya kepada Joni.
"Apakah kamu memiliki masalah dengan Bobby!?". Tanya Joni.
"Masalah!? Masalah apa!? Aku merasa tidak mempunyai masalah dengannya, karena yang aku tahu dia sangat menyukai Meylan, tetapi Meylan tidak menyukai dirinya". Jawab Andre dengan jujur.
Setelah mendengar apa yang Andre katakan, Joni langsung teringat kejadian saat di kantin kemarin.
"Oh, jadi seperti itu yah!? Kalau begitu kamu harus berhati - hati, sebab dia sedang merencanakan sesuatu yang buruk kepadaMu". Ujar Joni memberitahukan kepada Andre.
"Mohon maaf kak kalau aku lancang! Tetapi jika aku boleh tahu, rencana buruk apa yang di siapkan Bobby untuk saya!?". Tanya Andre dengan nada suara yang santun.
"Bobby sudah menyuruh seorang preman di kampung yang berada di dekat sekolah ini, untuk menghajar diriMu saat keluar sekolah nanti". Jawab Joni.
"Apa? Jadi Bobby sudah bertindak sejauh itu?". Ujar Meylan yang merasa kaget dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh Joni.
"Iya! Memang dirinya sudah bertindak sejauh itu, tetapi saat kemarin dirinya gagal di karenakan kalian berdua sudah pergi meninggalkan sekolah dengan menggunakan sepeda motor". Ucap Joni menjelaskan kepada mereka berdua.
"Terima kasih yah kak, karena sudah memberitahukan hal itu kepadaKu". Ucap Andre.
"Iya! Kalau begitu kami pergi dulu". Ucap Joni sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.
Hal itu di lakukan oleh Joni karena dirinya belum benar - benar menerima Bobby untuk menjadi temannya, karena sikap Bobby seperti tidak menghargai dirinya juga.
"Ternyata Bobby ini pikirannya sangat egois, hal ini tidak bisa di biarkan, aku harus bertemu dengannya saat ini juga". Ujar Meylan sambil matanya melihat - lihat ke segala arah untuk mencari sosok Bobby.
~Bersambung~
__ADS_1