Penjahat Cinta Penakluk Wanita

Penjahat Cinta Penakluk Wanita
Bab 47. Pembicaraan Di Tepi Pantai


__ADS_3

Kedua kendaraan roda dua itu kini meluncur dengan cepat untuk menuju kepantai yang Enjel maksudkan.


Tidak lama kemudian, kedua sepeda motor itu langsung berbelok ke kiri mengikuti jalan yang mengarah ke pantai tempat tujuan mereka.


Sepeda motor Andre tetap mengikuti Enjel dari belakang.


Akhirnya mereka pun tiba di pantai.


Dinda dan Sinta langsung turun dari kedua sepeda motor itu.


Sedangkan Andre dan juga Enjel memilih tempat yang tepat untuk memarkirkan sepeda motor keduanya.


Hamparan pasir putih yang memanjang di sepanjang pesisir pantai serta deburan ombak yang tidak terlalu besar itu membuat pemandangan di pantai tersebut sangat indah untuk di pandang serta untuk di nikmati para wisatawan yang akan datang mengunjunginya.


Di pesisir pantai tersebut juga berjejer pohon ketapang yang rindang dan sangat nyaman untuk di jadikan tempat berteduh.


Di pesisir pantai itu berdiri juga tenda - tenda yang berukuran delapan kali dua belas meter yang menyediakan makanan serta minuman untuk di beli oleh para pengunjung di pantai tersebut.


Andre, Enjel serta adik mereka berdua langsung berjalan dan memilih tempat untuk mereka tempati.


Keempatnya langsung memilih sebuah tempat duduk sepanjang kurang lebih empat meter yang sudah di siapkan di bawa salah satu pohon ketapang.


Saat sudah menempati tempat itu, Dinda langsung mengajak Sinta untuk berenang di pantai.


"Sin! Ayo kita berenang!?". Ajak Dinda sambil kembali meraih tas punggungnya untuk menuju ke kamar ganti.


Mendengar ajakan temannya, Sinta langsung meraih juga tas punggungnya.


Kedua gadis remaja itu pun langsung bergegas pergi ke kamar ganti untuk mengganti pakaian mereka dengan pakaian yang sudah di siapkan untuk mereka gunakan saat berenang nanti.


Sedangkan Andre dan Enjel masih saling diam dan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya.


Tidak lama kemudian, akhirnya kedua gadis remaja yang pergi untuk mengganti pakaian mereka pun kembali.


Keduanya langsung meletakkan kembali tas punggung yang mereka bawah serta langsung bergegas untuk menuju ke pantai.


"Sin! Jangan terlalu jauh untuk berenangnya". Tutur Andre mengingatkan adiknya.


"Din! Kamu juga yah!?". Tutur Enjel menyambung perkataan Andre.


"Iya kak!". Jawab Sinta dan Dinda.


Kedua remaja itu pun langsung menghamburkan tubuh keduanya ke atas permukaan air laut.


Saat kedua remaja itu sedang berenang.


Andre dan Enjel masih tetap saling diam.

__ADS_1


"Njel!".


"Ndre!".


Seru keduanya secara bersamaan untuk mencairkan situasi canggung yang ada.


Tatapan mata keduanya saling bertemu.


Pipi Enjel langsung memerah saat saling memandang dengan Andre.


Senyum yang malu - malu langsung terlihat di wajah gadis tersebut.


Andre langsung menebarkan pesona di wajahnya untuk di tujukan kepada gadis yang duduk sebangku dengannya itu.


Sifat Andre saat ini mulai serakah, lelaki itu kini mulai berpikir untuk memiliki setiap gadis yang dekat dengannya, namun hal itu juga di sesuaikan dengan situasi yang ada juga.


Jika terlihat gadis itu menyukai dirinya, Andre sudah pasti tidak akan menyia - nyiakan kesempatan tersebut.


Di dalam kamus percintaannya saat ini, tidak ada kata setia.


Yang ada hanyalah menikmati tubuh setiap gadis yang menyukainya.


Dan pada kesempatan itu, Andre melihat sikap dan tingkah Enjel seperti menunjukkan rasa tertarik kepadanya.


Sehingga Andre pun langsung menyambut hal itu dengan pesona yang memancar di wajahnya.


Enjel kini semakin menjadi salah tingkah saat melihat mimik muka Andre yang seakan sedang menggodanya.


"Ehh...aku...aku sudah lupa apa yang ingin aku katakan". Jawab Enjel gelagapan sambil masih tersipu malu.


"Mengapa Enjel tidak pergi untuk berenang!?". Tanya Andre lagi.


"Aku hanya datang untuk menikmati pemandangan di pantai ini saja". Jawab Enjel.


"Oh, begitu yah!?...namun hal yang aku pikirkan sangat berbeda dengan apa yang Enjel katakan itu". Tutur Andre sambil tersenyum tipis menatap Enjel.


"MaksudMu hal apa yang berbeda dari perkataanKu!?". Enjel kembali bertanya dengan penasaran.


"MenurutKu, kemungkinan besar alasan mengapa Enjel tidak pergi untuk berenang, karena Enjel tidak bisa berenang". Ujar Andre sambil melebarkan senyumannya untuk menggoda gadis yang duduk di sampingnya itu.


"Siapa yang tidak bisa berenang!? Aku bisa berenang kok!". Ujar Enjel menanggapi perkataan Andre sambil membalas senyuman yang di tunjukkan oleh lelaki di sebelahnya itu.


Beberapa saat kemudian, Andre kembali bertanya kepada Enjel.


"Njel! Apakah kamu sudah memiliki pacar!?". Tanya Andre penasaran.


Mendengar pertanyaan Andre, pipi gadis itu kembali memerah sambil menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Andre.

__ADS_1


Mengetahui jawaban tersebut, Andre pun mulai menggoda gadis itu dengan candaan yang sedikit menjurus ke arah apa yang di lakukan oleh sepasang kekasih.


"Berarti Enjel belum pernah berciuman kalau begitu". Ujar Andre sambil tersenyum menatap ke arah Enjel.


Gadis itu kini sudah tidak berani lagi menatap ke arah wajah Andre karena sudah merasa malu dengan apa yang Andre katakan.


Walau pun gadis itu tidak berani menatap wajah Andre, namun Enjel masih berani untuk membalas pertanyaan dari Andre tersebut.


"Apakah Windi adalah pacarMu!?". Tanya Enjel sambil menundukkan mukanya dengan jari - jari tangannya yang sedang memainkan tepian bagian bawah kaosnya.


Mendengar pertanyaan Enjel itu, Andre pun langsung tersentak, namun dia masih bisa menyembunyikan keterkejutannya itu terhadap Enjel.


"Kalau iya kenapa!? Dan kalau bukan kenapa!?". Ujar Andre menjawab pertanyaan Enjel sambil bertanya balik.


Jawaban Andre yang juga adalah sebuah pertanyaan itu langsung membuat Enjel menjadi lebih bingung untuk menanggapinya.


Namun gadis itu tetap mencoba untuk menjawabnya.


"Jika Windi adalah pacarMu, menurutKu kalian berdua sangat cocok".


"Tetapi jika Windi bukan pacarMu, tidak mengapa juga menurutKu".


Kata - kata yang keluar dari mulut Enjel menanggapi perkataan Andre.


"Tidak mengapa bagaimana maksudMu!?." Tanya Andre yang memang ingin mencoba untuk menjebak gadis itu agar menuju kemaksud yang sebenarnya dia inginkan, karena telah berpikir untuk bisa memiliki gadis tersebut.


"Yah, tidak mengapa!". Jawab Enjel yang tidak bisa mengucapkan kata - kata yang lain.


"Tidak mengapa jika aku menjadi pacarMu!? Begitu!?". Ujar Andre menekan gadis tersebut.


Mendengar perkataan Andre, Enjel menjadi lebih bingung untuk mengatasinya.


Gadis itu hanya bisa terdiam membisu saat mendengar kata - kata yang keluar dari mulut lelaki muda yang duduk di sampingnya.


"Bagaimana jika kamu menjadi pacarKu!? Apakah kamu menerimanya!?." Tanya Andre lagi.


Enjel masih tetap diam saat mendengar apa yang Andre katakan.


Hati, pikiran serta perasaan gadis itu kini menjadi berkecamuk karena apa yang Andre katakan.


Dirinya seakan telah di perhadapkan dengan pilihan yang sangat berat untuk di pilihnya.


"Kalau Enjel tidak mau juga untuk menjadi pacarKu tidak mengapa kok! Aku juga menyadari dengan kekurangan yang ada pada diriKu, karena aku bukanlah pria yang tampan". Ujar Andre merendah.


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Aku tidak pernah berpikir untuk menyukai seorang lelaki dari tampangnya saja". Ujar Enjel menanggapi perkataan Andre.


"Terus, menurut kamu, apa kurangnya diriKu jika Enjel tidak mau untuk menjadi pacarKu!?". Ucap Andre yang memulai siasatnya untuk memenangkan hati gadis di sampingnya itu.

__ADS_1


"Aku...aku...!". Enjel tidak bisa melanjutkan kata - katanya.


~Bersambung~


__ADS_2