Penjahat Cinta Penakluk Wanita

Penjahat Cinta Penakluk Wanita
Bab 50. Perdebatan Di Rumah Andre


__ADS_3

Windi pun melangkah kakinya untuk mendekati Andre dan juga Enjel yang sedang duduk.


Kursi yang tersedia di teras rumah Andre hanya tersedia dua buah, sehingga tidak ada lagi kursi yang bisa di duduki oleh Windi.


Andre pun langsung berdiri dan mempersilahkan Windi untuk duduk.


"Win! Silahkan duduk!." Ujar Andre.


"Terus kamu mau duduk dimana!?." Tanya Windi berbasa - basi.


"Inikan rumahKu! Kamu itu tamuKu! Jadi nanti aku ambilkan kursi yang lain untuk diriKu!." Tutur Andre sambil tersenyum.


Saat Andre memasuki ruang tamu, Windi langsung menatap ke arah Enjel dan berkata.


"Hai Enjel! Apakah kamu sudah sedari tadi disini!?." Tanya Windi yang sok tidak baik.


"Aku baru saja tiba kok!." Jawab Enjel apa adanya.


"Ada keperluan apa kamu kesini!?." Tanya Windi lagi.


"Aku baru saja mengantar Dinda untuk belajar bersama Sinta! Karena tante Mira menyuruhKu untuk duduk sebentar, sehingga aku menurutinya!." Jawab Enjel santai.


"Oh, jadi seperti itu yah!? Oh iya! Tunggu sebentar yah Njel, aku mau menyapa tante Mira dulu!." Ucap Windi sambil berdiri dan melangkah menuju ke pintu yang mengarah ke ruang tamu.


"Selamat malam tante!." Ucap Windi menyapa ibu Andre sambil tersenyum manis.


"Eh, nak Windi! Mari masuk!." Ujar ibu Andre.


"Terima kasih tante! Tetapi Windi disini saja!." Tutur gadis tersebut.


Andre kini berjalan keluar sambil membawa sebuah kursi untuk di dudukinya.


"Win! Tunggu sebentar yah! Tante mau buatkan teh hangat untukMu!." Tutur ibu Andre.


"Terima kasih tante! Maaf sudah merepotkan!." Tutur Windi.


"Ahhh, tidak merepotkan kok! Kamu itu kan tamunya Andre, jadi sudah sewajarnya di layani!." Ujar ibu Andre.


"Nak Enjel! Apa kamu mau menambah teh hangatnya!?." Tanya ibu Andre.


"Sudah tante! Sudah cukup!." Jawab Enjel.


Baru saja ibu Andre berjalan menuju ke dapur, sebuah sepeda motor langsung memasuki pekarangan rumah Andre.


Dan pengendara sepeda motor itu adalah Cindy.


"Bisa hancur hidupKu malam ini! Mengapa mereka semua datang kesini!?." Gumam Andre di dalam hatinya.


Saat kedua gadis itu melihat ke arah pengendara sepeda motor tersebut, dan melihat seorang gadis cantik juga yang mengendarainya, pandangan mata Windi dan Enjel langsung berpaling menatap kearah Andre.


Lelaki muda itu langsung menjadi seperti seorang pencuri yang sedang tertangkap tangan melakukan kejahatan.


Andre langsung menjadi salah tingkah dengan situasi tersebut.


Cindy pun langsung memarkirkan sepeda motornya dan langsung berjalan memasuki rumah Andre.


Gadis itu pun langsung memberi salam dan langsung juga di balas oleh ketiga remaja tersebut.


"Ini gawat! Bisa terjadi perang dunia ketiga kalau begini keadaannya!." Gumam Andre lagi yang bingung mau berkata apa lagi.

__ADS_1


Andre langsung berdiri dan mencoba mempersilahkan Cindy.


"Cin! Silakan masuk!." Tutur Andre.


"Kalau aku masuk, terus kamu duduknya dimana? Di teras sini?." Ujar Cindy.


"Tidak! Aku juga harus duduk disini bersama kalian!." Lanjut Cindy dengan nada suara seperti tidak senang dengan situasi saat itu.


"Kalau begitu, kamu duduk saja disini!." Tutur Andre dan mempersilahkan Cindy untuk duduk di kursi yang baru saja di bawa keluar oleh Andre.


Andre pun kembali masuk untuk mengambil satu kursi lagi untuk dirinya.


"Hai kak Windi!." Sapa Cindy.


"Hai Cin!." Balas Windi.


"Tumben malam - malam kesini!?." Ujar Windi melanjutkan kata - katanya.


"Iya! Aku lagi punya urusan untuk bertemu dengan kak Andre!." Tutur Cindy dengan nada suara datar.


"Kalau boleh aku tahu, ada urusan apa sehingga kamu malam - malam begini datang sendiri kesini!?." Tanya Windi lagi.


"Rahasia dong!...kak Windi kenapa kepo dengan urusanKu!? Apakah kak Windi tidak punya urusan sendiri!?." Ujar Cindy menanggapi pertanyaan Windi.


Mendengar tanggapan dari Cindy, emosi Windi seakan mau meledak, wajahnya kini sangat terlihat sedang marah.


Tidak lama kemudian, ibu Andre pun datang sambil membawa segelas teh hangat untuk Windi.


Setelah keluar ke teras rumahnya, ibu Andre langsung terkejut saat melihat kini sudah ada Cindy yang duduk di teras rumahnya.


"Selamat malam tante!." Sapa Cindy.


"Baru saja tiba tante!." Jawab Cindy.


"Oh, begitu! Tunggu sebentar yah!?." Ujar ibu Andre lagi.


"Iya tante!." Jawab Cindy sambil tersenyum.


Andre pun kini sudah kembali dengan sebuah kursi di tangannya.


Andre pun langsung melepaskan kursi tersebut di posisi yang menurutnya tepat untuk dia tempati.


Saat Andre duduk, Cindy pun langsung berkata.


"Kak Andre kapan balik ke kota!?." Tanya Cindy.


"Mungkin besok sore!." Jawab Andre.


"Oh, begitu yah!." Tutur Cindy menanggapi jawaban Andre.


Cindy seakan tidak menganggap akan keberadaan dari dua orang gadis lainnya.


"Bagaimana kalau malam ini kita jalan bareng! Apa kak Andre mau!?." Tanya Cindy.


"Kita berempat jalan bareng!? Begitu?." Ucap Andre pura - pura tidak tahu apa yang di maksudkan oleh Cindy.


"Siapa yang mau jalan berempat!? Tentu hanya kita berdua saja!." Ujar Cindy lebih memperjelas maksud dari tawarannya itu.


"Terus bagaimana dengan mereka berdua!?." Tanya Andre.

__ADS_1


"Biarkan saja mereka berdua disini!." Tutur Cindy dengan sikap yang jutek.


"Tidak boleh seperti itu, kita itu harus selalu baik dengan orang lain!." Tutur Andre.


"Cin! Kenalkan! Ini Enjel kakaknya Dinda teman sekelas Sinta!."


"Njel! Ini Cindy! Adik kelasKu dan juga kakak kelasnya Dinda saat ini!."


Andre memperkenalkan Enjel dan Cindy.


"Oh jadi kamu kakaknya Dinda!?." Ucap Cindy sambil bertanya.


"Iya! Aku Enjel kakaknya Dinda!." Jawab Enjel.


"Tetapi, mengapa aku baru kali ini melihatMu? Apakah kamu tidak tinggal di kampung ini sehingga tidak bersekolah disini!?." Tanya Cindy.


"Iya! Aku bersekolah di kota, dan sekolahKu berdekatan dengan sekolah Andre!." Tutur Enjel.


"Jadi seperti itu yah!?."


"Apakah kamu sering bertemu dengan kak Andre!?." Lanjut Cindy bertanya lagi.


"Tidak juga! Aku baru saja bertemu dengan Andre di rumah ini! Karena aku selalu mengantar Dinda untuk belajar bersama Sinta!." Ujar Enjel menanggapi pertanyaan Cindy.


"Oh, aku pikir kalian berdua sudah sering bertemu saat berada di kota!." Gumam Cindy.


"Kenapa jika mereka sering bertemu? Apa urusanMu!?." Tanya Windi.


"Sudahlah! Percakapan macam apa itu! Apakah kalian berdua memiliki masalah satu sama lain!?." Tanya Andre.


"Iya! Masalahnya ada kamu!?." Tutur Cindy dan Windi secara bersama - sama.


Memang keduanya sudah saling tidak suka saat Andre masih kelas tiga SMP.


Hal itu karena Cindy selalu ingin dekat dengan Andre.


Sedangkan Windi tidak menyukai hal itu.


Sehingga saat mereka berdua bertemu lagi, hal itu kembali terjadi.


"Apakah kalian berdua adalah pacar Andre!?." Tanya Enjel menyangga pembicaraan kedua gadis tersebut.


Mendengar pertanyaan Enjel, keduanya saling menatap dan menjawab.


"Iya!." Jawab Windi.


"Tidak!." Jawab Cindy.


"Terus, kenapa kalian seperti bermusuhan!?." Tanya Enjel lagi.


"Aku tidak mau dia dekat - dekat dengan Andre!." Jawab Windi dengan nada suara yang ketus.


Jawaban Windi itu bersamaan dengan munculnya ibu Andre dan langsung bertanya.


"Ada apa ini? Tante dengar sepertinya sedang terjadi perdebatan!?."


"Tidak tante!." Jawab keduanya serentak.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2