
Andre yang melihat perubahan sikap Meylan serta tingkahnya yang sedang mencari - cari seseorang langsung di tegur oleh Andre.
"Mey! Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan hal itu, yang terpenting kita sudah mengetahui rencana Bobby dan kita bisa menghindari hal itu agar tidak akan pernah terjadi".
"Kamu berkata seperti itu karena hal itu belum terjadi, bagaimana jika hal itu telah terjadi dan membuat diriMu berada di dalam bahaya? Apakah kamu masih bisa berkata seperti itu lagi?". Ujar Meylan menanggapi perkataan dari Andre dengan nada suara yang sedikit meninggi karena merasa emosi dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Iya, aku mengerti dengan apa yang kamu pikirkan saat ini, tetapi semua itu harus di selesaikan dengan pikiran yang dingin, sehingga hasil yang akan di capai bisa sesuai dengan harapanMu". Ujar Andre lagi.
"Ndre...pokoknya aku harus bertemu dengan Bobby dan langsung melabraknya, agar dia tahu dengan siapa dia berurusan". Balas Meylan lagi.
Saat mereka berdua sedang adu mulut, sosok yang di carinya pun muncul di depan keduanya.
"Hai Meylan...apakah kamu punya waktu sebentar untuk berbicara denganKu?". Ucap Bobby yang belum mengetahui bahwa gadis yang di sapanya tersebut sangat membenci dirinya.
"Oh iya, aku memiliki waktu untukMu, sebab ada hal penting juga yang akan aku bicarakan denganMu". Ucap Meylan dengan nada suara yang datar.
"Oh, begitu yah!? Sangat kebetulan sekali, bagaimana kalau kita berdua pergi saja ke taman belakang...apakah kamu mau!?". Ucap Bobby dengan penuh harap.
"Tidak perlu! Kita bicara disini saja". Balas Meylan yang masih bisa menahan emosinya.
"Oh begitu yah!? Terus hal apa yang ingin kamu bicarakan denganKu?". Tanya Bobby dengan rasa yang penasaran.
"Bob...! Mengapa diriMu sejahat itu sehingga berencana untuk menghajar Andre? Sebenarnya apa kesalahan Andre kepadaMu? Jika itu berhubungan dengan diriKu, kenapa Andre yang akan kamu celakai?". Ujar Meylan yang memberondong Bobby dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
"Siapa yang mengatakan hal itu kepadaMu? Itu tidaklah benar". Ujar Bobby untuk membela diri.
"Kamu ingat baik - baik, jika terjadi sesuatu dengan Andre, aku akan melaporkan diriMu kepada kepala sekolah, kedua orang tuaMu, serta akan melaporkan diriMu ke kantor polisi". Ucap Meylan untuk mengancam Bobby.
Mendengar apa yang di katakan oleh Meylan, mulut Bobby langsung tertutup rapat, seakan tidak ada kata - kata lagi yang bisa di ucapkan olehnya.
Setelah beberapa saat terdiam, Bobby pun langsung memberanikan diri untuk berbicara.
"Tetapi aku ingin untuk menjadi pacarMu". Ucap Bobby dengan nada suara seperti sedang memohon.
"Aku sudah katakan kepadaMu kalau aku tidak menyukaiMu, apa lagi aku saat ini sudah memiliki seorang pacar dan Andre orangnya....jadi mulai saat ini, kamu jangan lagi menggangguKu dan juga mengganggu Andre, karena jika kamu melakukannya, aku akan melakukan apa yang tadi aku katakan". Ucap Meylan dengan penuh ketegasan.
"Sialan, ternyata mereka berdua sudah pacaran, apa yang harus aku lakukan jika rencanaKu sudah di ketahui oleh mereka berdua!? Dan siapa orang yang memberitahukan hal itu kepadanya!? Apakah orang itu adalah Joni?". Gumam Bobby di dalam hatinya dengan perasaan yang sangat kesal.
Saat Bobby masih di sibukkan dengan pikirannya sendiri, Meylan langsung menarik tangan Andre dan berjalan meninggalkan Bobby sendiri.
Akhirnya keduanya memasuki kantin sekolah dan langsung memesan makanan untuk keduanya.
__ADS_1
Kini hati Meylan kini terlihat seperti amarahnya sudah meredah, sehingga Andre langsung lebih dulu mulai membuka pembicaraan.
"Mey...!!! Setelah pulang sekolah nanti, kita langsung pulang saja yah!? Soalnya suami tanteKu sudah kembali, sehingga aku tidak bisa untuk berleha - leha di rumah mereka".
"Kenapa harus seperti itu?". Tanya Meylan.
"Aku kan sudah tinggal di rumah mereka dan juga mendapatkan makanan dengan gratis, masa aku tidak memberikan sedikit kontribusi kepada mereka?".
"Terus, apa yang akan kamu lakukan?". Tanya Meylan lagi.
"Aku akan membantu mereka untuk membersihkan rumah serta pekarangannya". Jawab Andre.
"Terus, kapan waktu kita untuk berdua?". Tanya Meylan.
"Bagaimana kalau nanti besok saja!?". Jawab Andre.
"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan". Ucap Meylan pasrah.
Beberapa saat kemudian akhirnya mereka berdua selesai menikmati pesanan keduanya.
Meylan langsung mengajak Andre untuk kembali kedalam kelas sambil terus memikirkan tentang rencana jahat yang telah Bobby siapkan untuk Andre.
"Ndre...!!! Sebentar saat kamu pulang, kamu harus selalu berhati - hati yah!? Sebab aku masih merasa takut dengan rencana jahatnya Bobby". Ujar Meylan dengan nada suara yang penuh penekanan kepada Andre, agar Andre selalu waspada.
"Iya sayangKu! Aku akan selalu berhati - hati saat pulang nanti". Ucap Andre yang sedikit menggoda gadis di sampingnya.
Mendengar perkataan Andre, gadis itu langsung tersipu malu menatap pria di sampingnya itu.
"Dalam situasi seperti ini, kamu masih saja mau menggodaKu". Ucap Meylan dengan datar namun tetap menatap wajah Andre dengan manja.
"Terus, aku harus bagaimana jika memang hal itu akan terjadi!?". Ujar Andre sambil tersenyum.
"Apakah kamu takut untuk kehilangan diriKu!?". Lanjut Andre bertanya kepada Meylan dengan tatapan mengoda.
Meylan hanya mengganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Andre dengan wajah yang sudah berubah sedih.
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada diriMu". Ucap Meylan.
"Iya...iya...aku pasti akan selalu waspada agar hal itu tidak akan terjadi, tetapi kamu harus tersenyum dong... jelek tau jika kamu sedang bersedih". Ucap Andre menggoda Meylan.
"Kenapa kalau aku jelek!? Apakah kamu sudah tidak lagi menyukai dan mencintaiKu!?". Tanya Meylan dengan nada suara yang ketus.
__ADS_1
"He...he...he...he...he...kamu tetap cantik kok walau pun saat sedang bersedih, apa lagi jika saat kamu marah, kamu terlihat makin cantik lagi". Ujar Andre mencoba untuk merayu gadis itu agar tidak terus mengambek.
Gadis itu pun langsung tersenyum saat mendengar rayuan yang di layangkan oleh Andre.
Akhirnya keduanya memasuki ruang kelas mereka.
Disana Bobby sedang duduk dan menatap ke arah keduanya yang baru memasuki ruang kelas.
Kini Bobby sedang dilema dengan rencananya tersebut, karena jika dia memaksakan hal itu, semuanya akan bertambah menjadi kacau buat hidupnya, sebab ayahnya sangat tidak senang jika dia melakukan kesalahan, dan sudah pasti ayahnya tidak akan membela dirinya, melainkan akan memarahi dirinya.
"Jika aku akan tetap memaksakan hal tersebut, sudah pasti Meylan akan sangat membenci diriKu, dan sudah pasti pula, aku tidak akan bisa memilikinya".
"Bukan hanya itu saja, pasti aku akan mendapatkan sanksi dari sekolah ini dan juga pasti akan mendapatkan hukuman dari ayahKu, dan hal yang lebih serius lagi jika aku di laporkan ke kantor polisi". Gumam Bobby dengan hati yang gelisah.
Andre dan Meylan kini sudah kembali duduk di kursi mereka masing - masing.
Keduanya terus berbincang - bincang dan saling bersenda gurau sambil menunggu jam pelajaran akan di mulai.
Sedangkan hati Bobby sangat cemburu saat melihat tingkah mereka berdua.
Tidak lama kemudian bel sekolah berbunyi yang bertepatan dengan seorang guru mata pelajaran yang memasuki ruang kelas mereka.
Akhirnya aktivitas belajar mengajar mereka pun di mulai.
Bobby sedang tidak fokus dengan penjelasan yang guru berikan.
Guru tersebut yang melihat tingkah Bobby, langsung melontarkan pertanyaan kepadanya.
Bobby masih tetap tidak mendengarkan apa yang di tanyakan oleh sang guru.
Guru itu kembali memanggil namanya berulang - ulang kali hingga akhirnya Bobby tersentak kaget dan menatap ke arah sumber suara yang memanggil namanya.
Para murid yang berada di dalam ruang kelas tersebut langsung tertawa melihat tingkah laku Bobby yang seperti kebingungan.
"I...iya mner...ada apa mner memanggilKu!?". Ucap Bobby dengan wajah yang masih terlihat linglung.
"Kenapa kamu tidak memperhatikan apa yang telah aku jelaskan? Sebenarnya apa yang kamu pikirkan sehingga tidak konsen dengan penjelasanKu!?". Ujar guru tersebut.
"Bobby pun langsung terdiam karena tidak bisa untuk menjawabnya.
~Bersambung~
__ADS_1