Penjahat Cinta Penakluk Wanita

Penjahat Cinta Penakluk Wanita
Bab 8. Harapan Yang Kembali


__ADS_3

" Apakah kamu masih ingin menjadi temanKu...???." Tanya Andre lagi kepada Windi.


" Iya...!!! Kamu akan tetap menjadi temanKu untuk selamanya." Jawab Windi.


" Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi temanKu." Ucap Andre menanggapi jawaban Windi.


" Baiklah, kamu sekarang sudah bisa pergi ke sekolah, kamu akan telat nanti jika berlama - lama berada disini." Ucap Andre.


" Ndre...!!! Apakah kamu tidak bisa membatalkan rencanaMu itu...???." Tanya Windi lagi.


" Di saat seseorang sudah membuat hidupKu berantakan. Aku juga akan membuat hidup mereka berantakan." Ucap Andre.


" Tetapi bagaimana dengan masa depanMu nanti...???." Ucap Windi.


" Masa depanKu akan di tentukan mulai hari ini." Jawab Andre.


" Sebaiknya kamu cepat pergi, aku tidak ingin kamu melihat apa yang akan aku lakukan." Ucap Andre.


Dengan berat hati serta wajah yang sedih, akhirnya Windi pun segera melanjutkan perjalanannya untuk menuju ke sekolah.


Windi hanyalah bisa memanjatkan doa di dalam hatinya, agar Sandi tidak masuk sekolah.


Waktu sudah menunjukan pukul delapan lewat tiga puluh menit.


Akhirnya orang yang di tunggu - tunggu pun pada hari itu tidak muncul - muncul juga.


Hal itu menambah kegeraman di dalam hati dan pikiran Andre.


Dirinya tidak menyangka rencananya yang sudah matang itu, tidak dapat di realisasikan pada pagi itu.


Di tempat lain dua jam yang lalu.


Sandi bersikeras tidak ingin untuk pergi ke sekolah, pikirannya selalu teringat akan kata - kata yang telah Andre lontarkan saat mereka berdua berada di ruang guru BP ( Bimbingan Penyuluhan) atau yang saat sekarang ini di sebut guru Bimbingan Konseling.


" Ayah, aku tidak ingin lagi bersekolah di sekolah itu. Andre pasti akan melakukan sesuatu hal yang lebih nekat lagi."


" Kamu tidak usah terlalu seserius itu untuk menanggapi kata - kata anak itu, dia tidak akan berani untuk melakukan hal yang kamu pikirkan itu." Ucap ayah Sandi.


" Tidak ayah, pokoknya aku sudah tidak ingin lagi untuk pergi ke sekolah itu."


Mendengar hal itu, ayah Sandi langsung memikirkan cara lain agar supaya anaknya itu mau untuk bersekolah lagi.


" Baiklah, kalau begitu, ayah akan melaporkan anak itu ke Kantor Polisi, agar supaya dia sudah tidak lagi bisa mengganggu diriMu."


" Ayah, Andre anaknya tidak boleh di ancam, karena dia akan lebih berani lagi untuk berbuat nekat."


" Waktu kejadian itu, Sandi yang mengancam dirinya terlebih dahulu, tetapi dia langsung menghajarku."


" Dan juga saat Sandi berbohong di depan guru BP, Andre semakin marah dan mengancam Sandi walau pun saat itu masih berada di depan guru BP."


" Oh, jadi semua ini adalah ulah dari diriMu sendiri yah...!!! Pantas saja anak itu akan sangat marah kepadaMu."


" Kalau begitu ayah akan pergi kesekolah hari ini dan akan menarik semua tuntutan yang ayah ajukan untuk dirinya, serta akan pergi meminta maaf kepada ibunya."


" Ternyata apa yang aku dengar selama ini memang benar adanya, kamu hanya bisa membuat ayah malu saja."

__ADS_1


" Mulai hari ini, kamu tidak akan ayah berikan jajan, itu adalah hukuman untukMu."


Tutup ayah Sandi.


Mendengar semua yang di katakan ayahnya, Sandi hanya terdiam dan tidak membantah lagi.


Andre sudah berpikir untuk kembali ke rumahnya.


Pada saat Andre baru melangkahkan kakinya sejauh beberapa puluh meter, terdengar dari belakang ada bunyi suara klakson mobil dari belakang.


Andre pun memalingkan mukanya ke belakang.


Setelah di lihatnya, hati, pikiran serta perasaannya mulai berkecamuk lagi, karena melihat sosok yang berada di dalam mobil tersebut.


Dan sosok itu adalah ayahnya Sandi.


Sedangkan ayah Sandi langsung berpikir untuk membenarkan apa yang anaknya katakan, karena saat ini dirinya melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa Andre sedang menggenggam sebuah pentungan.


" Memang anak ini tidak bisa di tekan, semakin di tekan, maka dirinya akan semakin nekat untuk melakukan apa yang di pikirkannya." Gumam ayah Sandi.


" Mungkin pikirannya masih sangat marah dan benci kepadaKu, lebih baik aku pergi ke sekolah saja." Gumamnya lagi sambil meluncur dengan mobilnya untuk menuju ke sekolah.


Melihat hal itu, Andre melanjutkan juga langkahnya untuk kembali ke rumahnya, namun di dalam pikirannya ada banyak hal yang sedang berkecamuk.


" Setelah melihatku seperti ini, apakah ayahnya akan melaporkan ku ke Polisi...???."


" Apakah Sandi sudah tidak akan aku temukan...???."


" Kemampuanku belum cukup untuk menghajar anak itu jika dirinya berada di kampungnya."


Setibanya dirumah, Andre tidak lagi membawa pentungan di tangannya.


" Ndre...dari mana saja kamu...???." Tanya ibunya.


" Andre dari rumahnya Tommy Bu."


" Untuk apa kamu ke rumah Tommy...???."


" Hanya ingin mengatakan jika Andre sudah tidak lagi bersekolah di sekolah itu."


" Kamu sarapan dulu dan setelah itu, kamu pergi mengurus kebun saja untuk sementara ini." Ucap ibunya.


" Baik Bu."


Andre pun langsung sarapan dan menuruti perintah ibunya untuk pergi ke kebun.


Tidak lama kemudian, muncul sebuah mobil dan parkir di depan rumahnya Andre.


Ibu Andre yang melihat itu langsung bertanya - tanya di dalam hatinya.


" Mobil siapa itu...???."


" Mengapa berhenti tepat di depan rumahku...???."


Tutup ibu Andre.

__ADS_1


Akhirnya ibu Andre melihat sosok yang bertemu dengannya waktu kemarin saat berada di sekolah, dan itu adalah ayah dari Sandi.


" Selamat pagi Ibu...!!!." Ucap ayah Sandi menyapa ibu Andre.


" Selamat pagi Pak."


" Apakah masih ada hal yang belum terselesaikan kemarin...???." Lanjut ibu Andre.


" Oh, tidak Bu...apakah saya boleh duduk...???." Tanya ayah Sandi.


" Oh, silakan duduk."


Ayah Sandi langsung duduk di kursi yang sudah tersedia di teras rumahnya Andre.


" Begini ibu, saya sudah mendengar sendiri dari Sandi, apa yang sebenarnya terjadi waktu itu, sehingga saya pribadi langsung datang ke sekolah dan ke rumah ini untuk bertemu lagi dengan ibu."


" Saya ingin memohon maaf sebesar - besarnya kepada ibu dan lebih khususnya kepada Andre, sebab saya tidak mendengar terlebih dahulu apa yang guru - guru katakan."


" Ternyata diriku ini yang telah gagal mendidik anakku."


" Sekali lagi saya mohon maaf kepada ibu dan kepada Andre."


" Besok Andre sudah bisa bersekolah lagi."


" Saya sangat berharap, ibu dan Andre bisa memaafkan saya dan juga Andre bisa memaafkan saya dan juga Sandi."


Tutup ayah Sandi.


" Baiklah Pak...saya memaafkan Bapak dan juga saya sangat berterima kasih karena Bapak mampu bertindak bijaksana serta bisa datang secara pribadi ke kediaman kami ini."


Setelah sedikit berbincang - bincang, akhirnya ayah Sandi beranjak dan pergi dari rumah Andre.


Ibu Andre kembali langsung merasa senang saat mendengar apa yang baru saja ayah Sandi katakan.


" Akhirnya Andre bisa bersekolah lagi." Gumam ibu Andre.


Padahal ibu Andre sudah berpikir untuk menghubungi saudaranya yang tinggal di ibu kota Propinsi untuk menanyakan, bisa tidak Andre tinggal dengan mereka dan bersekolah disana.


Sore hari sudah hampir berakhir, Andre baru sampai di rumahnya setelah membersihkan kebun milik keluarganya.


Ibunya pun langsung menyambut serta langsung menyapa Andre.


" Ndre...cepatlah kamu mandi dan setelah itu kamu makan, karena ada hal yang akan ibu bicarakan denganmu.


" Baik Bu."


Andre pun langsung bergegas untuk pergi membersihkan tubuhnya, setelah selesai dia pun segera menggunakan pakaiannya dan langsung menuju dapur untuk makan.


Setelah dirinya selesai makan, akhirnya dia pergi ke ruang tamu untuk menemui ibunya.


" Hal apa yang ingin ibu bicarakan dengan Andre...??."


Tanya Andre sambil berjalan mendekati ibunya.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2