Penjahat Cinta Penakluk Wanita

Penjahat Cinta Penakluk Wanita
Bab 33. Kejadian Di Sekolah


__ADS_3

Keesokan harinya seperti biasa Andre sudah bersiap untuk pergi kesekolah.


Di dalam tas sekolahnya sudah di persiapkan baju ganti untuk dirinya.


Hal itu tidak di ketahui oleh Ria.


Setelah selesai sarapan, Andre pun mulai bergegas untuk meninggalkan rumah.


Namun sebelum pria muda itu pergi, seperti biasa Andre mencium Ria terlebih dahulu.


Akhirnya Andre pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda motor yang di belikan oleh Ria.


Saat dirinya tiba di sekolah dan memarkir sepeda motor miliknya, Bobby langsung menatap Andre dengan tatapan yang sinis.


"Sialan! Ternyata dia sudah mempunyai sepeda motor yang baru, hal itu akan lebih menyulitkanKu untuk memberikan pelajaran kepadaNya". Gumam Bobby di dalam hatinya.


Bobby pun langsung berjalan menuju ke luar area sekolah untuk melihat ke arah tempat dimana orang - orang yang di suruhnya untuk memberi pelajaran kepada Andre, namun setibanya di tempat tersebut, Bobby tidak menemukan sosok yang dia cari.


"Sialan! Ternyata mereka satu pun belum datang....biarlah, nanti aku temui mereka saat jam istirahat". Gumam Bobby sambil berbalik dan memasuki area sekolah lagi.


Andre yang selesai memarkir sepeda motornya, pandangan matanya langsung menyusuri setiap sudut halaman sekolah.


Namun sosok yang di carinya tidak terlihat, sehingga Andre langsung berjalan menuju ke dalam kelasnya.


Setelah Andre memasuki kelasnya, dia langsung menemukan sosok yang di carinya.


"Hai Ndre! Tumben jam segini kamu sudah tiba!?". Sapa Meylan.


Memang biasanya Andre tiba di sekolah saat waktu belajar sudah akan di mulaikan, namun baru kali ini Andre setengah jam sebelum waktu belajar sudah tiba di sekolah, dan hal itu di sebabkan karena Andre sudah memiliki sepeda motor.


"Memangnya aku tidak boleh datang ke sekolah jam segini?". Tanya Andre sambil tersenyum menatap ke arah Meylan.


"MaksudKu tidak seperti itu! Tetapi aku hanya heran saja....jam berapa kamu jalan dari rumah?".


"Jam enam pagi!". Jawab Andre sambil tersenyum menggoda gadis di sampingnya.


Meylan pun tertawa mendengar jawaban yang Andre berikan.


"Kamu tahu kenapa aku cepat tiba? Itu karena aku terus memikirkan apa yang kamu katakan kemarin, hal itulah yang membuat diriKu lebih bersemangat untuk datang kesekolah". Ucap Andre dengan nada suara yang serius.


"Apa? Karena hal itu? Apakah kamu tidak sedang bercanda!?". Ucap Meylan merasa tidak percaya dengan apa yang Andre sampaikan.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau bercanda dengan hal seperti itu!? Aku juga sudah menyiapkan baju ganti untuk sebentar". Ucap Andre.


"Oh, jadi begitu yah!?". Ucap Meylan singkat dan dengan nada suara yang datar.


"Kok hanya seperti itu cara kamu menanggapinya?". Ucap Andre heran.


"Terus, bagaimana lagi aku menanggapinya?". Meylan menyela pertanyaan Andre.


"Yah...katakan saja jika kamu juga sudah membawa pakaian ganti untuk diriMu...simplekan!?".


"Memangnya kenapa kalau aku tidak membawa pakaian ganti? Apakah kamu akan memarahi diriKu? Begitu!?". Ucap Meylan sambil tersenyum menatap Andre.


"Kalau memang seperti itu, untuk apa aku memarahi diriMu!? Itu hak kamu! Aku tidak bisa memaksakan hal itu kepada diriMu". Ucap Andre dengan nada suara yang ketus.


"Cie...cie! Baru begitu saja sudah ngambek". Ucap Meylan sambil menggoda Andre.


"Siapa juga yang ngambek?". Ucap Andre lagi dengan nada suara yang datar.


"Benar!? Tidak ngambek!?". Goda Meylan lagi.


Andre pun hanya diam dan tidak menanggapi pertanyaan dari Meylan.


"Kok kamu hanya diam saja!? Berarti benar dugaanKu kalau kamu itu sedang ngambek!".


"Iya...iya! Aku juga membawa kok baju ganti untukKu...sudah!? Kamu sudah puas!?....senyum dong!". Ucap Meylan menggoda Andre.


Saat kedua muda mudi itu saling menggoda satu sama lain, ada seorang pria muda juga yang terus memperhatikan keduanya dengan wajah yang tidak senang.


"Sepertinya anak desa ini harus secepatnya aku singkirkan, kalau tidak, dia akan lebih bertingkah lagi di depan Meylan". Gumam Bobby dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.


Bel sekolah pun berbunyi yang menandakan bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut akan segera di mulaikan, murid - murid di dalam kelas yang sama dengan Andre langsung duduk di kursi mereka masing - masing.


Mereka pun memulaikan kegiatan belajar mengajar mereka. Hingga akhirnya jam istirahat pun tiba.


Bobby langsung bergegas keluar dari dalam kelas untuk menuju ke depan pintu masuk lingkungan sekolah.


Pria muda itu pergi untuk bertemu dengan orang - orang yang dia perintahkan untuk memberi pelajaran kepada Andre.


Setelah tiba di depan gerbang masuk sekolah, Bobby tidak bisa menemukan orang - orang yang ingin di temuinya.


"Sialan! Mengapa mereka tidak muncul juga hari ini? Bagaimana caranya untuk menghubungi mereka? Hal ini tidak bisa di biarkan terlalu berlarut - larut". Gumam Bobby.

__ADS_1


Andre dan Meylan kini sudah berada di kantin sekolah sambil berbincang - bincang seperti tidak memperhatikan keadaan di sekitar mereka.


Bobby kini sedang berjalan menuju kantin sekolah tersebut dengan langkah kakinya yang cepat karena terpengaruh dengan rasa cemburu yang membara di dalam hati, pikiran serta perasaannya.


Setelah memasuki kantin sekolah, Bobby lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari posisi dimana Andre dan Meylan berada.


Setelah dirinya sudah bisa memastikan posisi kedua muda mudi itu, akhirnya Bobby langsung berjalan mendekati keduanya.


Bobby dengan susah payah menyembunyikan rasa marah dan rasa bencinya terhadap Andre dan berusaha dengan kuat untuk menunjukan sikapnya yang biasa - biasa saja.


"Hai Meylan! Bolehkah aku bergabung!?". Ucap Bobby dengan wajah yang ramah.


"Eeemmmm...bagaimana yah!? Inikan kantin sekolah, jadi tentunya sebagai seorang siswa di sekolah ini, kamu juga berhak untuk duduk disini...tetapi sebelumnya aku minta maaf yah...biar pun kamu duduk disini, tetapi aku berharap untuk tidak mengganggu pembicaraan aku dan Andre yah!?".


Mendengar perkataan yang keluar dari mulut gadis yang di sukainya itu, air muka Bobby tidak bisa lagi untuk di kendalikannya, wajahnya langsung berubah berwarna merah padam, dia tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Meylan.


Bisa di katakan bahwa sudah jatuh, ketimpa tangga lagi.


Tidak menemukan orang yang di suruhnya untuk melukai Andre, kini mendapatkan kata - kata yang tidak mengenakkan dari gadis yang di sukainya.


Emosi Bobby kini sudah tidak terbendung lagi, dan akhirnya langsung meledak saat itu juga.


"Kenapa!? Apa istimewanya anak desa ini bagi diriMu? Mengapa kamu lebih memilihnya di bandingkan dengan diriKu?".


Suara Bobby tersebut langsung membuat seluruh siswa siswi yang sedang menikmati pesanan mereka masing - masing memalingkan pandangan mereka dan melihat ke arah sumber suara tersebut.


Ada yang hanya terdiam tanpa menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya. Ada yang menunjukkan ekspresi merasa heran dengan apa yang Bobby ucapkan. Ada juga yang tersenyum geli mendengar perkataan Bobby itu.


Di kantin tersebut juga terdapat kakak - kakak kelas mereka.


Para senior tersebut langsung berjalan dan mendekati tempat dimana Andre, Meylan dan Bobby berada.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi sehingga membuatMu berteriak seperti itu?". Tanya salah satu kakak kelas yang mendekati mereka bertiga.


Para senior itu berjumlah empat orang, dan mereka ini juga adalah para siswa yang sangat di takuti oleh siswa - siswa yang lain di sekolah itu.


"Hei! Aku sedang bertanya kepadaMu, apakah kamu tidak memiliki mulut untuk menjawabnya? Ataukah kamu ingin aku membantu mulutMu agar bisa terbuka!?". Ucap senior itu lagi.


"Bro! Aku dengar dia ini anak yang ingin memimpin seluruh anak - anak kelas satu (kelas 10 saat ini), apakah kamu sudah mendengarnya?". Ucap salah satu dari mereka.


"Oh! Jadi seperti itu yah!? Jadi kamu yang bernama Bobby itu?". Tanya senior yang awalnya bertanya kepada Bobby.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2