Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Rasa yang aneh


__ADS_3

Sang surya sudah mulai mengakhiri tugasnya, kini berganti dengan sang dewi rembulan yang memulai tugasnya.


Pernikahan yang terjadi karena hal konyol itu dilaksanakan 30 menit yang lalu, tanpa ada yang istimewa. Istimewa? Mana mungkin, pernikahan ini bertujuan hanya untuk membuat para warga puas.


Pasangan yang baru saja menikah itu, kini tengah duduk di sofa rumah milik Danu, sebelum Arini menyetujui pernikahan siri ini, Ardan menghubungi Danu untuk menjadi wali dari Arini. Dan Danu pun setuju walaupun dengan beribu pertanyaan di otaknya.


Wajah gadis remaja itu tampak datar, tatapannya juga kosong. Sedangkan Ardan tengah memainkan ponselnya dengan santai. Pemuda itu begitu tenang menghadapi kekacauan ini, menurutnya pernikahan ini hanya sementara setelah itu mereka akan berpisah.


Mirae yang baru saja datang bersama ibunya setelah berbelanja sedikit terkejut karena kehadiran mereka.


"Es batu? Tumben ke sini malam-malam?mau nonton drakor bareng ya? Tapi kok sama Rizky," cecar Mirae dengan polos.


Arini yang ditanya hanya tersenyum kecut.


"Ada Kak Ardan juga? Kebetulan banget aku sama Mama beli 2 pizza ukuran jumbo, jadi kita bisa makan-makan bareng. Hmmm senangnya, rumahku jadi rame," celoteh Mirae.


Danu yang baru saja keluar dari ruang kerjanya menghampiri istri dan anaknya yang baru saja datang itu dan menyuruh istrinya untuk membuatkan minuman.


"Nduk, yang sopan kalau bicara, 'kan ada Mas Ardan," sahutnya seraya duduk dengan kertas ditangannya.


"Apaan sih Pa, lebay deh." memonyongkan mulut layaknya bebek.


"Udah cepat bersihkan diri kamu! Papa ada urusan sama Mas Ardan dan Arini, sekalian ajak Rizky ke kamar kamu ya!"


"Baiklah kalau gitu."


Mirae pun pergi ke kamarnya bersama Rizky sambil melambaikan tangan kepada Arini, yang hanya dibalas Arini dengan anggukan.


"Ini Mas Ardan surat perjanjiannya, silahkan dibaca dulu!" menyodorkan selembar kertas.


Ardan pun mengambil kertas tersebut dan membacanya, setelah itu memberikannya kepada Arini yang duduk tidak jauh darinya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Ardan.


Dibacanya surat perjanjian itu,


"Di sini tertulis pernikahannya hanya 3 bulan dan selama 3 bulan kami tidak boleh melakukan apa-apa, menurutku aku setuju saja selama tidak merugikan diriku," jawab Arini datar.


"Baiklah ..., kalau kau setuju aku juga setuju, lagian kita tidak saling mencintai 'kan. Pernikahan ini terjadi hanya karena kesalahpahaman saja," kata Ardan.


Mendengar kata-kata yang diucapkan Ardan, entah mengapa ada rasa sedikit nyeri di hati Arini. Seperti itukah pemuda ini menyepelekan ikatan pernikahan, walaupun hanya secara agama? Tapi Arini tidak peduli dengan itu, ia juga tidak akan menyukai pemuda di sampingnya itu.


Danu pun mengangguk mengerti, "Kalau begitu, silahkan tanda tangan dulu!" menyerahkan bulpoin kepada Ardan.


Setelah menanda tangani surat perjanjian, Arini dan Rizky pun pergi menuju rumah sakit yang diantar oleh Ardan, karena memang tujuan awal Ardan menemui Arini dia ingin mengantar ke rumah sakit menemui Rahmi


Di perjalanan menuju rumah sakit, hanya suara lalu lalang yang terdengar tanpa ada yang berbicara satu pun dari mereka. Situasinya sekarang menjadi canggung, Arini yang sedang memangku kepala adiknya yang sudah tertidur hanya memandangi jalanan kota Malang dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Sedih dan takut bercampur aduk dalam hatinya.

__ADS_1


Mobil mewah Ardan telah sampai di parkiran rumah sakit tersebut, mereka bertiga keluar dengan Rizky yang masih mengantuk sambil menggandeng lengan kakak keponakannya itu.


Sampai di ruang tempat ibunya di rawat, Arini, Rizky serta Ardan pun masuk. Di sana ada seorang dokter dan suster yang lagi memeriksa tekanan darah Rahmi.


"Selamat malam, kalian anak-anak ibu Rahmi?" tanya dokter itu.


"Iya, bagaimana keadaan ibu saya Dokter?" tanya Arini.


"Tekanan darah ibu Anda tinggi, jadi harus selalu di jaga pola makan dan jangan memikirkan sesuatu yang berlebihan. Untuk penyakitnya sudah saya terapi, sekarang kondisinya sudah sedikit membaik" jelas Dokter bernama Rizal itu.


"Syukurlah... terimakasih, Dokter"


"Sama-sama, oh iya waktu besuknya tinggal 15 menit lagi ya." seraya melihat jam yang ada di tangan kanannya lalu berpamitan untuk pergi.


"Iya, dokter"


"Ibu tidak apa-apa 'kan? Ada yang masih sakit?" tanya Arkni khawatir


"Ndak apa-apa, Nduk. Ibu baik-baik aja malah udah mendingan" jawabnya dengan senyum bahagia.


"Buk, cepet sembuh to, nanti Kiki bantuan deh kalo panen sayur biar ibuk gak kecapek'an lagi," celetuk bocah yang masih duduk di kelas 6 sekolah dasar itu.


"Belajar yang rajin dulu, baru nanti bantu ibuk." seraya mengusap puncak kepala cucunya itu.


Ardan yang melihat itu tersenyum, ada rasa haru dihatinya. Karena walaupun dia memiliki keluarga tapi tidak sehangat ini, ibunya meninggal setelah almarhum ayahnya yang menikah lagi. Itulah yang membuat dia merasa merindukan kehangatan sebuah keluarga. Dia tinggal bersama nenek, ibu dan adik tirinya. Setelah ibu tirinya menikah lagi dia hanya tinggal bersama neneknya.


"Ada Tuan Ardan to, terimakasih sudah repot-repot mengantarkan Arii ke sini," ucap Rahmi. Sebenarnya Rahmi tidak ingin melihat pemuda di depannya ini, hatinya merasa sakit jika tahu kalau Ardan cucu dari seseorang yang membunuh suami dan anaknya.


Arini merasa bersalah kepada ibunya atas peristiwa tadi sore yang menyebabkan dia menikah diusianya yang sangat muda. Walaupun itu hanya menikah secara siri.


"Kak Ardan, aku ingin bicara sebentar!"


Arini menarik tangan Ardan untuk mengikutinya. Rahmi yang melihat sedikit bingung. Sudah sedekat itukah majikannya dengan putrinya? Pikir Rahmi.


"Kak Ardan, bisakah Kakak merahasiakan soal pernikahan kita kepada ibuku? aku takut ibu akan tambah sakit mendengarnya" pinta Arini


"Iya tidak masalah, aku akan merahasiakannya"


Setelah itu mereka kembali masuk ke dalam ruangan ibunya dan berpamitan untuk pulang karena jam besuknya sudah habis.


**


Sesampainya di rumah Arini, Rizky yang tertidur di gendong Ardan untuk masuk kedalam rumah karena Arini tidak tega untuk membangunkan adiknya yang terlihat sangat pulas.


Arini yang baru keluar dari kamar Rizky pun menghampiri Ardan yang duduk di ruang tamu.


"Kak, mau aku bikinkan minum?" tanya Arini basa-basi, sebenarnya Arini bukan tipe yang suka berbasa-basi. Dia akan langsung ke topik pembicaraan, karena menurutnya berbasa-basi itu membuang-buang waktu. Tapi tidak untuk saat ini, karena Arini merasa sungkan terhadap Ardan yang sudah banyak membantunya.

__ADS_1


"Tidak usah. Arini, aku minta maaf ,aku tidak bermaksud membuat semua ini menjadi kacau," ucap Ardan sambil memandang Arini.


"Tak apa Kak, ini sepenuhnya bukan salah Kakak. Aku juga terlalu ceroboh. Toh ... ini juga sudah terlanjur," jawab Arini datar.


Ada rasa marah terhadap pemuda di depannya ini, namun karena kebaikannya rasa marah itu berusaha dia lenyapkan.


"Kalau kau masing terlalu canggung dengan hubungan kita yang sekarang, kau boleh menganggap aku kakak mu. Agar kita bisa lebih akrab" tawarnya dengan sedikit memohon.


"Oh iya ... " seraya mengambil sesuatu di dalam saku celananya. "Ini, pakailah ...!" menyerahkan benda pipih canggih itu kepada Arini


Arini yang melihatnya sedikit bingung, untuk apa benda itu diberikan kepadanya?


"Maksudnya?" tanya Arini tidak mengerti.


"Sebagai permintaan maaf ku, pakailah ponsel milikku ini! Memang ini bukan baru, aku akan membelikanmu yang baru setelah aku pulang dari Jakarta nanti.Tapi setidaknya ini bisa membantumu menghubungi pihak rumah sakit untuk menanyakan kabar ibumu."


"Tidak perlu, Kak, aku bisa langsung ke rumah sakit untuk menanyakan kondisi ibuku," tolak Arini dengan sopan.


"Jarak rumah sakit dengan rumahmu sangat jauh, belum lagi kau harus menaiki bus untuk sampai ke sana. Itu akan menguras uangmu," jawab Ardan.


Sejenak Arini berfikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan pemuda itu. Belum lagi uangnya juga untuk kebutuhan yang lain, tapi dia tidak enak hati bila terus merepotkan pemuda ini.


Akhirnya Arini memutuskan untuk menerima ponsel milik suami sirinya itu.


"Baiklah ... aku janji akan mengganti semuanya, Kak."


"Bukankah aku sudah pernah bilang, Kau cukup merawat villaku saja" seraya tersenyum tipis.


"Iya Kak, terimakasih"


"Baiklah, aku harus pulang. Jika kau butuh sesuatu hubungi aku jangan sungkan." Aran pun berdiri dari duduknya dan mengusap puncak kepala Arini dengan lembut.


Arini pun terkesiap dengan perlakuan Ardan kepadanya, baru pertama kali dia diperlakukan seperti ini oleh seorang laki-laki kecuali ayahnya. Wajahnya seketika memerah, ada rasa panas menyelimuti kedua pipi cabinya. Malu? Mungkin itu yang dia rasakan.


Ardan yang tidak mengetahuinya pun berlalu begitu saja menuju mobilnya. Gadis itu pun juga masuk ke dalam rumah untuk mengistirahatkan tubuh dan otaknya, hari yang sangat melelahkan bagi Arini.


***


Pagi sudah datang, aktivitas pun juga sudah dimulai. Jam menunjukkan pukul 06.30 WIB, Arini tengah sibuk memasak nasi goreng untuk sarapan dirinya dan Rizky. Rizky kala itu baru selesai mandi karena hari ini dia harus masuk sekolah.


"Mbak Arini, nanti kalau ke rumah sakit aku ikut ya, Mbak? Masa aku di rumah sendirian terus?" sambil mengancing baju seragamnya.


"Iya Ki, habis ini Mbak mau ke villa dulu untuk bersih-bersih. Kalau kamu sudah pulang sekolah nanti Mbak belum pulang, kamu tungguin, jangan nyusul soalnya jauh!" sambil sibuk mengaduk nasi goreng yang ia masak.


"Iyo, Mbak"


"Kamu udah selesai ganti baju belum? Ini nasi gorengnya udah matang"

__ADS_1


"Iyo, Mbak, ini udah selesai"


Rizky pun berlari menuju dapur untuk memulai sarapannya begitu juga dengan Arini


__ADS_2