
Setelah makan malam selesai, kini Ardan dan Arini sedang berjalan-jalan di sekitar resort tersebut.
Ardan yang berjalan di belakang Arini, terlihat sangat bahagia saat melihat gadis itu tersenyum. Lalu pria itu pun menghampirinya.
"Kita duduk di samping kolam renang?" ajak Ardan.
"Iya, tapi aku ingin ke toilet dulu," kata Arini.
"Baiklah, ayo aku antar!"
"Tidak usah, aku sendiri saja"
"Tempat ini luas, kau bisa salah jalan"
"Baiklah"
Sampai di toilet khusus wanita, Arini pun segera melepas sepatunya. Sebenarnya gadis itu tidak bisa menggunakan sepatu yang berhak tinggi, sedari tadi gadis itu menahan rasa sakit di kakinya. tapi sepatu itu adalah pemberian dari dari Ardan. Rasanya tidak pantas kalau pemberian seseorang tidak ia kenakan.
"Aduh ..., kenapa makin parah lecetnya?" keluh Arini sambil mengelus kakinya yang lecet.
"Tapi gimana lagi, aku harus tetap memakainya." Arini pun terpaksa memakai sepatu berwarna hitam itu lagi.
Ia pun keluar dari toilet dengan menahan rasa sakit dikakinya.
"Sudah?" tanya Ardan yang sedari tadi menunggu di depan pintu toilet.
"Su–sudah," jawab Arini.
Ardan merasa aneh dengan ekspresi wajah istrinya, seperti menahan sakit. Matanya pun menulusuri penyebabnya, cara berjalan gadis itu sedikit berbeda.
Ardan pun menghadang langkah Arini.
"Kenapa?" tanya Arini heran.
Pria berkemeja hitam itu pun bersimpuh di hadapan Arini, ia memegang kaki istrinya itu lalu menyuruhnya untuk melepas sepatu yang dikenakan Arini.
"Lepas sepatumu!" perintah Ardan.
"A–ada apa dengan sepatuku?" Arini balik bertanya.
"Sudah lepas saja!"
Arini perlahan melepas sepatunya.
Ternyata dia menyadarinya.
Ardan melihat kedua kaki istrinya itu memerah.
"Kenapa tidak bilang kalau kakimu sakit?" tanya Ardan.
"Ti–tidak, kakiku tidak sakit!" sanggah Arini.
Ardan pun membuang sepatu itu di tempat sampah dekat toilet.
"Kenapa dibuang? Itu 'kan masih bagus," kata Arini.
__ADS_1
"Akan ku belikan lagi nanti, yang jauh lebih nyaman," jawab Ardan santai. Lalu pria itu bersimpuh dihadapan Arini lagi membelakangi Arini.
"Ayo!" seru Ardan.
"Ayo, apa?" tanya Arini kebingungan.
"Ayo, naik ke punggungku!" kata Ardan.
"Tidak perlu, aku masih bisa berjalan"
"Apa kau mau, lecet di kaki mu itu semakin parah, heh? Lalu kakimu di amputasi," ucap Ardan menakut-nakuti Arini.
Mau tidak mau Arini pun naik ke punggung Ardan.
"Sudah?" tanya Ardan
"Iya"
Ardan pun menggendong Arini menuju resepsionis.
"Kita mau kemana?" tanya Arini.
"Kita ke resepsionis dulu, untuk minta obat," jawab Ardan. Pria itu tidak merasa kesusahan ketika menggendong tubuh Arini.
"Berapa berat badanmu?" tanya Ardan penasaran.
"43 kg, memangnya kenapa?"
"Pantas saja, menggendongmu seperti menggendong busa," celetuk Ardan sambil tersenyum.
Sampai di ruang resepsionis, Ardan mendudukan Arini di sofa ruang tunggu.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya pegawai di sana.
"Bisakah ambilkan aku obat luka," jawab Ardan.
"Baik, sebentar saya ambilkan?"
Selang beberapa menit, pegawai resort itu membawakan kotak P3K dan menyerahkannya pada Ardan.
"Terimakasih," kata Ardan.
"Ayo!" ajak Ardan kepada Arini.
"Kemana lagi?" tanya Arini.
"Ke kamar kita lah, aku akan mengobati lukamu di sana," jawab Ardan sambil menyuruh Arini menaiki punggungnya lagi.
"Apa kita tidak pulang?" tanya Arini.
"Aku menyewa seluruh resort ini khusus untuk bulan madu kita. Jadi, untuk apa kita pulang?" jelas Ardan.
"Udah, ayo naik!"
Arini pun menuruti Ardan.
__ADS_1
Mereka pun telah sampai di salah satu kamar di resort itu. Ardan pun memasukan id card–nya, lalu mendudukan Arini di sofa.
"Apa masih sakit lukamu?" tanya Ardan seraya mengambil obat luka.
"Tidak terlalu," jawab Arini.
"Kenapa kau tidak bilang, kalau kau tidak bisa memakai sepatu dengan hak tinggi?" tanya Ardan sambil mengolesi luka di kaki Arini.
"Aku takut membuatmu tersinggung, karena pemberianmu tidak aku gunakan," jawab Arini seraya mengernyitkan wajahnyanya menahan sakit.
Ardan tersiap dengan jawaban Arini, demi dirinya, Arini menahan rasa sakit sedari tadi di kakinya. Pria itu pun memandang wajah cantik istrinya, lalu duduk di samping Arini.
"Kau tidak perlu menahan sakit demi orang lain, lepaskan jika itu membuatmu sakit!" ucap Ardan sambil mengelus pipi Arini.
"Kau suamiku, bukan orang lain," jawab Arini malu-malu.
"Hhmm ... seperti itu ya? Kalau aku suamimu, maka jika aku meminta hak ku, apa kau mau menurutinya?" tanya Ardan. Ekspresi pria itu seketika berubah menjadi ekspresi genit.
"Ha–hak apa?" tanya Arini takut.
"Apa kau tidak tahu, hak istri di malam pertama?" goda Ardan.
"A–aku ... takut," jawab Arini.
"Apa yang kau takutkan? Aku akan memulainya dengan hati-hati." ucap Ardan.
Ardan pun mulai menciumi wajah Arini yang bersemu merah karena malu. Ciumannya berhenti pada bibir tipis Arini yang berwarna pink itu. Arini hanya diam, ia tidak tahu cara membalasnya.
Pria itu pun membawa Arini ke tempat tidur dengan tidak melepaskan tautannya. Kini tubuh Arini berada di bawahnya. Melepaskan ciumannya, Ardan menatap nanar wajah Arini. Satu persatu Ardan melepas pakaian milik Arini dan membuangnya secara sembarangan. Tubuh Arini yang putih, mulus dan bersih itu membuat ia tidak bisa menahan gairahnya yang sedari tadi muncul.
Ardan pun menanggalkan kemeja yang ia kenakan, dan memulai mencumbui istrinya. Sedangkan Arini hanya memejamkan kedua matanya, menerima setiap sentuhan-sentuhan yang suaminya berikan. Tibalah saat Ardan ingin memasukan miliknya pada lubang kenikmatan milik Arini yang masih tersegel itu.
Pria bertubuh atletis itu pun memandang sang istri lalu tersenyum. Ia pun mulai menerobos masuk ke perisai milik Arini.
Arini meringis kesakitan, bagian bawahnya terasa di koyak benda tajam, perih dan juga nyeri.
"Sa–sakit," pekik Arini menahan sakit yang menyelimuti tubuh bagian bawahnya.
"Tenanglah, Honey, sebentar lagi akan terasa nikmat!" ucap Ardan dengan suara parau menahan kenikmatan.
Mata Arini sayup-sayup melihat wajah Ardan yang tengah sibuk memaju- mundurkan tubuhnya. Sinar bulan menembus kaca kamar itu, membuat wajah yang sudah tidak kuat menahan hawa panas dalam dirinya itu terlihat semakin tampan. Untuk kesekian kalinya, Arini terpana oleh pesona dari pria yang kini sudah menjadi suaminya itu. Kini, ia sudah menyerahkan semuanya pada Ardan. Ia berharap, Ardan akan tetap ada untuknya. Melawan rasa sakit yang selama ini menyelimuti kehidupannya.
Rasa sakit yang tadi Arini rasakan kini berubah menjadi kenikmatan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Arini pun menuruti semua keinginan sang suami yang berulang-ulang kali meminta berganti posisi bercintanya.
Nafas kedua pengantin baru itu tersengal-sengal. Berulang kali Ardan meminta Arini untuk terus melayaninya, tapi tetap saja pria itu masih terlihat gagah dan kuat. Sedangkan Arini, tubuh gadis itu sudah tidak kuat menanggapi ***** sang suami yang terus menerus menggembur tubuhnya.
"Sa–yang, a–ku, a–ku su–dah tidak kuat lagi!" kata Arini terputus-putus.
"Sebentar lagi, Honey, akan aku menuntaskan," jawab Ardan.
Ardan semakin mempercepat gerakannya, dan beberapa saat pelepasannya pun tiba. Cairan berwarna putih itu membasahi punggung Arini. Tubuh Arini, yang kini sudah tidak gadis itu pun hampir ambruk ke lantai. Dengan sigap Ardan membawa gadis itu ke atas tempat tidur.
Nafas Arini tersengal-sengal, matanya sudah tidak mampu terbuka, namun telinganya masih mendengar jelas deru nafas Ardan yang juga tersengal-sengal.
"Terimakasih, Honey." ucap Ardan. Kemudian Ardan mengambil tisu yang ada di atas nakas untuk membersihkan sisa pelepasannya di tubuh Arini. Lalu pria itu mengecup singkat kening Arini yang mungkin sudah tertidur dengan posisi tengkurap itu, kemudian ia berlalu ke kamar mandi.
__ADS_1