Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Bertemu dia lagi


__ADS_3

Beberapa hari sudah semenjak Arini bertemu dengan Sean waktu itu, ia merasa tenang karena tidak ada yang mengganggunya lagi.


Pagi ini ia sedang mengantarkan bunga kepada para pelanggannya, kali ini Arini mengantarkan bunga dengan menaiki motor matic milik toko bunga Gardenia Floris yang memang dikhususkan untuknya. Seperti itulah kehidupan yang Arini jalani sekarang, bekerja dan bekerja untuk dirinya dan Rizky. Tidak ada kata lelah baginya untuk mencari rezeki.


Saat ini Arini telah sampai di sebuah rumah mewah, pemilik rumah mewah itu memang sering memesan bunga pada Denia. Ia pun turun dari motornya dan tidak lupa bunga pesanan pemilik rumah itu.


"Selamat pagi, Pak" sapanya pada penjaga rumah itu.


"Pagi juga, Neng. Mau ngantar bunga ya? Masuk aja langsung!"


"Terimakasih, Pak"


Arini pun memasuki rumah bercat abu-abu itu dan memencet bel. Tidak berselang lama, pemilik rumah itu pun keluar.


"Selamat pagi, Bu Anna" sapa Arini pada wanita bernama Anna itu.


"Pagi juga, Arini. Ini bunganya ya?"


"Iya, Bu Anna." menyerahkan buket bunga pada wanita berambut coklat itu.


"Heemm... harumnya, masuk dulu gih! Aku ambil uangnya dulu ya?"


"Terimakasih, saya tunggu di sini aja?"


"Ya sudah, bentar ya!"


Anna pun masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Arini menunggu di luar.


"Pagi Mami," sapa putra Anna yang ternyata adalah Sean itu.


"Pagi juga, Sayang," sahut Anna.


"Bunga dari siapa, Mi?" tanya Sean.


"Ya belilah," jawab Anna. "Oh iya, Dim kamu tolong kasihkan uang ini sama pengantar bunga yang di depan dong! Mami lagi masak, nanti gosong kalo Mami tinggal," perintah Anna.


"Mana uangnya?"


"Nih!" menyerahkan beberapa lembar uang. "Ini buat bayar bunganya dan ini tip buat pengantarnya!"


"Heemm." Laki-laki yang masih menggunakan baju tidur itu pun berjalan menuju luar dengan rambut yang masih acak-acakan. Saat ia telah sampai di luar, ia melihat seorang perempuan tengah duduk sambil membelakanginya.


Kayak kenal sama postur ini cewek.


Sean pun menepuk bahu perempuan itu yang ternyata adalah Arini. Keduanya sama-sama terkejut dan kebingungan.


"Ka–kamu?" ucap Arini gagap.

__ADS_1


"Hai, selamat pagi!" sapa Sean dengan gaya songongnya.


"Ngapain kamu disini?" tanya Arini.


Perempuan itu tidak mengetahui kalau Sean adalah anak dari pemilik rumah ini, jelas saja dia sangat terkejut.


"Gue disini karena ini rumah gue," jawab Sean.


"Jadi kamu anaknya Bu Anna?" tanya Arini kepo.


"Yapp, betul banget"


Arini sedikit malu karena hampir saja berfikir yang aneh-ane tentang laki-laki didepannya ini.


"Nih uangnya!" menyerahkan uang pada Arini.


Arini menerimanya. "Kebanyakan, ini sisanya!" mengembalikan sisa uang yang menurutnya kebanyakan itu.


"Kata Mami sisanya buat lo," timbal Sean.


"Terimakasih banyak," jawab Arini, lalu ia pergi tanpa melihat Sean.


Sean tersenyum simpul ketika melihat Arini pergi. Ia pun akhirnya juga masuk ke dalam rumah.


**


"Sabar dong, Mi" jawab suami Anna yang bernama Beni itu.


"Udah dari tadi, Pi itu anak gak selesai-selesai mandinya"


"Apaan sih, Mami teriak-teriak aja?" sahut Sean yang baru turun.


"Kamu juga sih lama banget, kaya anak cewek aja kalo dandan," jawab Anna.


"Udah-udah, ayo kita berangkat!" sahut Beni diantara ibu dan anak itu.


Beni memang bukan ayah kandung dari Sean, namun pria itu sangat menyayangi Sean seperti anaknya sendiri, begitu juga dengan Sean. Anna menikah lagi dengan Beni setelah beberapa tahun menjanda karena sang suami pertamanya Jooniean Daviez telah meninggal. Sean adalah anaknya bersama dengan Jooniean, sedangkan dengan Beni ia tidak memiliki anak.


Beni, Anna dan Sean pun telah sampai di sebuah rumah bercat putih yang sangat megah. Rumah itu adalah kediaman Maria, nenek Sean dan juga Ardan.


Sampai di dalam rumah, mereka langsung menghampiri Maria yang tengah duduk di sofa dekat kolam renang.


"Selamat pagi, Ma!" sapa Anna.


Maria pun menoleh. "Kalian rupanya? Sedang apa kalian disini?" tanya Maria sinis. Wanita tua itu memang tidak menyukai Anna sejak dulu, karena latar belakang Anna yang dulunya adalah wanita malam. Namun Anna tidak memperdulikan itu, ia tetap berusaha bersikap baik pada nenek dari anaknya itu.


"Aku dapat kabar kalau Mama sudah pulang dari Jerman, maka dari itu kami kesini ingin menjenguk Mama. Ini Anna bawakan bunga kesukaan Mama!" ucap Anna sambil menyerakan buket bunga lili itu pada Maria.

__ADS_1


Buket bunga lili itu disambut oleh Maria, namun seketika bunga itu diinjaknya dan dibuang ke kolam renang. Anna terkejut, walaupun Maria sering melakukan itu padanya, namun masih saja terasa sakit. Beni yang mengetahui keadaan hati sang istri pun menggenggam erat tangan Anna.


"Mana Sean?" tanya Maria tanpa rasa bersalah.


"Se–"


"Aku disini Oma," sahut Sean menyela. Laki-laki itu memberi isyarat pada Anna dan Beni agar pergi meninggalkan Maria. Anna dan Beni pun beranjak dari tempatnya, saat mereka hendak pergi, Anna melihat Ardan yang baru saja turun dari tangga.


"Ardan!" sapa Anna.


Laki-laki itu menoleh pada Anna dan Beni. "Ada apa?" tanya Ardan dingin.


Anna pun menghampiri Ardan. "Kamu sehat 'kan?" tanya Anna seraya mengusap lengan Ardan. Namun Ardan mengelak.


"Heem," jawab Ardan singkat, lalu Ardan pun pergi.


Beni mengahampiri Anna yang sedari tadi menahan air matanya. "Ayo, Ma kita pulang!" ajak Beni dan dibalas anggukan oleh Anna.


Di sofa pinggir kolam tempat Maria dan Sean duduk, Ardan menghampiri mereka.


"Kak Ardan, gimana kabarnya?" tanya Sean basa-basi.


"Baik," jawab Ardan singkat. "Aku berangkat, Oma!" ucap Ardan pada Maria. Yang dibalas Maria dengan anggukan.


"Jangan lupa obatnya diminum dan jangan terlalu memikirkan sesuatu yang tidak penting," ucap Ardan lagi. Setelahnya Ardan pun pergi.


"Oma, Kak Ardan kenapa sekarang jadi berubah?" tanya Sean penasaran.


"Mungkin kakak kamu sedang lelah, karena beberapa bulan ini kakak kamu harus menjaga Oma di rumah sakit," jawab Maria.


"Ooohh...," jawab Sean mengerti. "Kalau begitu aku juga mau pulang, Oma. Aku harus kembali syuting."


"Hemm... pergilah!" jawab Maria.


Sean pun pergi meninggalkan Maria sendirian.


Wanita tua itu tersenyum licik, kemudian ia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Bagaimana?"


"Seperti yang saya katakan tempo hari, Nyonya. Perempuan itu sekarang ada di Jakarta, kemungkinan perempuan itu mencari Tuan Muda"


"Seperti itu, biarkan saja dia mencari cucuku. Kau tidak perlu mengawasinya lagi!"


"Baik, Nyonya."


Maria menutup teleponnya.

__ADS_1


Bagus, kalau perempuan itu ada di kota ini, aku jadi lebih mudah menyiksa dan mengawasinya. Aku ingin tahu seberapa kuat perempuan itu bertahan.


__ADS_2