Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Rahasia Rizky


__ADS_3

Selagi Rizky diperiksa, Arini menyempatkan diri untuk mencari tahu penyebab traumatik pada Rizky. Ia takut Rizky mendapat pembullyan di sekolah maupun di lingkungan bermainnya. Arini sekarang sudah berada di sekolah menengah pertama tempat Rizky menimba ilmu, ia sendirian ke sekolah Rizky karena Sean sudah harus kembali dengan aktivitasnya syutting.


"Permisi, Buk!" ucap Arini pada pegawai guru yang ada di ruangan guru.


"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya pegawai guru itu.


"Apa saya boleh bertemu dengan kepala sekolah?"


"Tentu saja boleh, mari saya antar!"


Arini pun diantar oleh pegawai guru itu untuk menemui kepala sekolah. Sampai di dalam ruang kepala sekolah, Arini sedikit berbasa-basi sebelum ia menanyakan tentang Rizky.


"Oohh jadi Anda kakaknya Rizky?" tanya Kepala Sekolah pria itu.


"Iya, Pak," jawab Arini.


"Apakah kamu tidak tahu kalau adik kamu itu sudah berhenti dari sekolah ini sekitar 3 bulan yang lalu?" ujar Kepala Sekolah itu.


Arini begitu terkejut dengan pertanyaan dari kepala sekolah itu. "Be–berhenti?"


"Iya, adik kamu itu terpaksa kami keluarkan karena dia sikapnya yang tidak seperti remaja normal, dia sering mengamuk. Selain itu, dia sering memalak teman-temannya yang lain, dia juga pernah ketahuan mencuri uang kas sekolah ini," jelas Kepala Sekolah itu.


Arini kembali terkejut dengan penjelasan kepala sekolah itu, ia tidak langsung saja percaya dengan yang diucapkan oleh kepala sekolah itu. "Pak, adik saya tidak mungkin melakukan itu semua? Dia anak yang baik dan patuh!" ucap Arini.


"Iya, memang adik kamu baik dan sangat patuh pada awalnya. Tapi saya tidak tahu beberapa bulan kemudian, adik kamu berubah menjadi liar. Para guru yang mengajar Rizky banyak yang melaporkan pada saya kalau adik kamu bersikap buruk," jelas Kepala Sekolah bernama Edi itu. Ia lalu mengambil berkas yang berisi catatan tentang kepribadian Rizky di sekolah.


"Silahkan kamu liat catatan ini!" Kepala Sekolah itu menyerahkan pada Arini.


Arini membaca dengan teliti kata demi kata buku catatan itu. Catatan itu berisi tentang sikap Rizky selama di sekolah, memang benar yang dikatakan Kepala Sekolah Edi padanya, Rizky hampir setiap hari tidak pernah masuk sekolah, ia juga memiliki nilai yang sangat buruk.


"Kalau itu belum membuat Anda percaya, saya mempunyai rekaman CCTV di sekolah!" Kepala sekolah Edi memperlihatkan rekaman video di laptopnya, dimana saat Rizky berkelahi dengan teman sekelasnya, memalak teman-temannya.


Rekaman CCTV itu membuat Arini yang awalnya ragu-ragu kini menjadi yakin jika itu memang Rizky keponakannya. Hati Arini kembali tergores oleh rasa sakit, ia tidak sepenuhnya menyalahkan Rizky. Semua ini karena dirinya, jika saja dirinya lebih protektif pada Rizky, Rizky tidak akan akan melakukan semua itu. Dan yang amat membuat Arini merutuki dirinya adalah, ia terlalu egois memikirkan laki-laki yang belum tentu menyayanginya dengan tulus.

__ADS_1


Kau bodoh Arini! Kau bodoh!


Setelah Arini mendapat penjelasan dari Kepala Sekolah Edi, Arini pun pamit untuk segera pulang. Ia ingin menanyakan semuanya pada Rizky. Dengan langkah cepat Arini bergegas meninggalkan sekolahan itu. Saat hendak menyetop angkutan umum, ponsel Arini berbunyi. Ternyata yang menelepon adalah Mirae.


"Ada apa, Mirae?" tanya Arini.


"Ar, kamu cepat ke rumah sakit sekarang! Kiki hilang!"


"APA?" Tanpa mendengar penjelasan dari Mirae, Arini menutup sambungan teleponnya dan langsung menyetop taksi.


"Rumah sakit Permata Kasih, cepat ya Pak!" perintah Arini.


"Iya, Neng"


Sampai di rumah sakit, Arini segera membayar taksi itu dan langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit. Di ruangan Rizky di rawat, di sana sudah ada Mirae, Denia dan Aliya. Sebelum Arini pergi ke sekolahan Rizky, ia sengaja menghubungi Mirae untuk menjaga Rizky sementara dia keluar. Sedangkan Denia yang mendapat kabar dari Aliya bahwa Rizky di rumah sakit pun ikut menjenguknya.


"Arini?" ucap mereka bersamaan.


"Kenapa Rizky bisa hilang?" Arini berucap dengan napas yang tidak beraturan.


Arini memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pening, ia tidak habis pikir dengan Rizky yang tiba-tiba kabur.


"Kamu yang tenang, Sayang! Rizky pasti ketemu!" ucap Denia menenangkan Arini.


"Iya, Rin," Aliya menyahut.


"Pihak rumah sakit sudah menghubungi polisi, sebentar lagi mereka juga datang," ucap Mirae.


Denia pun membawa Arini duduk di sofa. "Kamu ada masalah dengan Kiki, Sayang?" tanya Denia.


"Tidak," jawab Arini singkat.


Denia kemudian mengelus pundak Arini, agar Arini merasa sedikit lebih tenang.

__ADS_1


Selang beberapa menit, Dokter datang bersama dua orang polisi.


"Selamat siang!" ucap salah satu polisi itu.


Arini yang melihat kedatangan dokter dan polisi pun menghampiri. "Dokter, bagaimana adik saya bisa kabur?" tanya Arini tidak sabaran.


"Nona sebaiknya ikut ke ruangan saya, ada yang mau saja jelaskan!" kata Dokter itu.


"Iya, masalah hilangnya adik Anda, kami akan minta penjelasan dari saksi yang tahu kejadian detailnya," sahut polisi itu.


Arini mengangguk mengerti. Lalu ia menghampiri Mirae. "Mirae!"


"Aku mengerti Arini, aku akan ikut polisi untuk memberi penjelasan. Kamu tenanglah!" ucap Mirae seraya mengelus pundak Arini.


Mirae pun mengikuti kedua polisi itu untuk ke kantor polis. Sedangkan Arini bersama Denia dan juga Aliya mengikuti dokter yang tadi memeriksa Rizky.


Di ruangan Dokter, Arini ditemani Denia pun mendengarkan penjelasan demi penjelasan dari Dokter psikolog itu. Hati Arini kembali tercambuk oleh penjelasan dari Dokter. Dokter bernama Darma itu menjelaskan pada Arini bahwa Rizky positif menggunakan barang terlarang yaitu narkoba dan juga minuman keras. Demam yang dialami Rizky ternyata akibat dari kecanduannya hingga menyebabkan sakau, sedangkan luka lebam di tubuh Rizky, Dokter menduga bahwa Rizky mengalami kekerasan. Mental Rizky juga terganggu, ia akan bersikap normal jika tidak dalam ketakutan, namun jika dia merasa ketakutan, sikapnya akan berubah seperti mengamuk dan sering membenturkan dirinya sendiri pada benda di sekitarnya.


Air mata Arini sudah tidak bisa terbendung lagi, ia menangis dan hatinya begitu sakit. Ia tidak menyangka Rizky akan berbuat seperti itu. Denia reflek memeluk Arini, berusaha memberikan pelukan ketenangan.


"Sayang, kamu yang tenang ya!" ucap Denia.


"Adik Anda harus di rehabilitasi secepatnya, kalau tidak kecanduannya akan semakin parah," Dokter Darma menjelaskan lagi.


Tuhan, drama apalagi yang buat untukku? Tidakkah Kau merasa iba pada makhlukMu ini?


Setelah Dokter Darma selesai menjelaskan semuanya, Denia pun membawa Arini keluar.


"Ma, Arini kenapa?" tanya Aliya yang sedari tadi menunggu di luar.


"Nanti Mama jelaskan, lebih baik sekarang kita pulang dulu!" ucap Denia. Namun tiba-tiba Arini melepas rangkulan Denia dan berlari.


"Arini, kamu mau kemana?" teriak Denia.

__ADS_1


"Arini!" Aliya ikut memanggil.


__ADS_2