
Di dalam kamar Sean, ternyata Arini di suruh oleh laki-laki itu untuk menyiapkan pakaian yang hendak ia gunakan untuk tampil di suatu acara televisi.
Sean sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, sesekali dia memperhatikan gerak-gerik Arini yang tengah sibuk merapikan baju-baju miliknya yang sengaja ia berantakan.
"Dasar pria menyebalkan!" gerutu Arini.
"Heh, lo kira gue gak denger lo ngatain gue?" sahut Sean tiba-tiba.
Arini hanya memutar bola matanya malas. "Selesai juga," ucap Arini seraya berlalu keluar dari walk in closed.
"Bentar!" Sean menarik tangan Arini hinggi ia terjatuh di pangguan laki-laki itu.
Sean menatap mata Arini dengan nanar. Tapi seketika tatapannya beralih pada leher Arini yang terdapat tanda merah di sana.
"Lepasin! Dasar mesum!" Arini seketika berdiri.
"Leher lo kenapa?" tanya Sean penasaran, ia hafal benar dengan tanda merah itu. Tapi ia tidak yakin jika Arini memilikinya. Mungkinkah Arini tidak sepolos yang ia pikir?
Arini segera menutupi lehernya dengan tangan. "Bukan urusan kamu!"
"Eh ... tunggu, gue mau bicara!" Sean kembali menarik tangan Arini.
"Apa lagi sih?" Arini sedikit takut kalau Sean akan mengintrogasinya masalah tanda merah di lehernya ini.
"Gue udah bertekad buat mengakhiri hubungan gue sama Elsa, menurut lo gimana?"
Arini merasa lega, karena Sean tidak menanyakan soal tanda merahnya. "Sebenarnya aku tidak suka ikut campur urusan orang lain. Tapi menurutku, jika hubungan kalian dari awal memang tidak sehat, lebih baik kamu akhiri. Daripada kamu harus tertekan dengan rasa sakit dan cemburu, dari awal hubungan kalian juga sudah salah." ungkap Arini panjang lebar.
"Lo benar, hubungan gue dari awal memang salah. Gue iri sama Kak Ardan, dia cerdas, bisa dalam segala hal, tidak pernah merepotkan orang lain. Sedangkan gue, ya ... gini lah," ucap Sean dengan lirih.
"Setiap orang punya sisi terbaik mereka sendiri-sendiri," jawab Arini. "Aku baru tahu kalau kamu punya kakak kandung."
"Serius? Sebenarnya dia bukan kakak kandung gue, gue sama Kak Ardan lahir dari ibu yang berbeda tapi satu ayah."
"Heemm ...." Arini sedikit mengerti sekarang, ia dulunya hanya tahu kalau kedua orangtua Ardan sudah meninggal, tapi dia tidak mengetahui kalau Ardan mempunyai adik yang beda ibu.
__ADS_1
"Jadi, Tante Anna itu ibu kandung kamu?"
"Iyalah," jawab Sean. "Berangkat yuk, telat nanti gue!"
Sean pun mengajak Arini untuk ikut dengannya menghadiri acara di stasiun televisi. Tidak lupa, Mr.Park selalu mendampingi Sean setiap menghadiri setiap acara.
Acara itu berlangsung sangat lama, hingga malam tiba, sekitar pukul 10 malam Arini baru saja pulang ke kostannya. Dia pulang diantar oleh Mr.Park, karena Sean masih harus melanjutkan syutting di acara lainnya.
Mr.Park mengantarkan Arini sampai depan kostan yang Arini huni.
"Mr.Park, terimakasih banyak sudah mengantarkan saya sampai di sini!" ucap Arini.
"Saya hanya menjalankan tugas dari Boss, Nona," jawab Mr.Park.
"Jangan panggil saya Nona lagi, Mr.Park, saya bukan majikan Anda lagi!"
"Tidak masalah, Nona." Mr.Park pun ingin melangkah pergi, tapi Arini memanggilnya.
"Mr.Park, bisakah saya menitipkan sesuatu pada Anda!" pinta Arini.
"Sebentar, Mr.Park!" Arini mengambil kunci kostannya, ia menyuruh Mr.Park untuk masuk ke dalam kostannya.
"Mr.Park, bisakah Anda memberikan ini pada Ardan!" Arini menyerahkan amplop coklat pada Mr.Park.
"Sebenarnya, saya dan Tuan Ardan tidak pernah berhubungan lagi, Nona. Saya dipecat oleh beliau," ungkap Mr.Park.
"Dipecat? Ke–kenapa bisa dipecat?" tanya Arini yang sangat penasaran. Karena selama ini yang dia tahu, hubungan Ardan dan Mr.Park sangat baik.
"Suatu ketika saya mengetahui sesuatu yang selama ini Nyonya Maria rahasiakan, saya mencoba bercerita pada Tuan Ardan, namun beliau sama sekali tidak mempercayainya. Saya saat itu memang tidak memiliki bukti yang akurat tentang kejahatan Nyonya Maria, sampai akhirnya saya dipecat."
Mr. Park menceritakan semuanya pada Arini tentang semua kenyataan bahwa pembunuh orangtua Arini adalah Maria. Wanita itu juga yang sengaja menjebak Ardan dalam suatu pilihan antara Arini dan dirinya, sayangnya Ardan lebih mempercayai Maria.
"Nona, Tuan Ardan tidak pernah menyuruh orang untuk mengusir Anda dari villa. Mereka adalah suruhan dari Nyonya Maria, dengan mengatas namakan Tuan Ardan, agar Anda membenci Tuan Ardan," lanjut Mr.Park.
"Tapi kenapa dia menceraikanku, Mr.Park?" Arini bertanya dengan lirih seperti menahan tangis.
__ADS_1
"Soal itu saya tidak tahu, Nona, karena saya sudah tidak bekerja bersamanya lagi."
Yang diucapkan Mr.Park benar, mungkin percerainya ini atas kehendak Ardan sendiri. Sudahlah, Arini sudah berjanji untuk tidak mengingat Ardan lagi.
"Jika ada waktu senggang, saya akan memberikannya pada Tuan Ardan," ucap Mr.Park sambil berdiri dari duduknya.
"Kalau begitu saya permisi untuk pulang."
Mr.Park pun akhirnya pulang dengan membawa amplop dari Arini.
Arini masih tetap duduk di ruang tamu sambil memegang pelipisnya. "Kenapa rumit sekali?"
Pyaarr ...
Tiba-tiba dari dalam kamar Rizky terdengar gelas jatuh, Arini pun segera menuju kamar Rizky.
"Kiki, kamu gak papa?" tanya Arini sambil memeriksa kondisi keponakkannya itu.
"Badan kamu panas banget, Ki?"
Arini segera berlari menuju kamarnya mengambil selimut miliknya untuk Rizky yang terlihat menggigil, ia juga mengambilkan air untuk mengompres Rizky. Ketika Arini membuka selimut yang menyelimuti tubuh Rizky, Arin begitu terkejut saat melihat luka lebam di kaki keponakannnya itu.
"Ki, kaki kamu kenapa kok lebam semua?" tanya Arini yang tidak dijawab oleh Rizky.
Arini pun memeriksa lagi tubuh Rizky, saat ia membuka kaos yang dikenakan anak itu. Terdapat ledam dibagian perut dan dadanya. Arini semakin kebingungan, ingin ia menanyakan lebih jelas pada Rizky, tapi anak itu tengah demam dan tubuhnya juga menggigil.
Arini mengambik ponsel di dalam saku celananya, ia berusaha untuk menghubungi Mirae maupun Aliya, namun kedua temannya itu tidak bisa dihubungi.
"Gimana aku bawa Rizky ke rumah sakit?" pikir Arini.
Arini ingin menghubungi Sean, tapi laki-laki itu tengah sibuk syutting. Dia juga kemungkinan tidak akan mau menolongnya.
"Mbak, Kiki gak papa kok," ucap Rizky dengan lemah.
"Gak papa apanya, coba lihat badan kamu?"
__ADS_1