Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Sebuah pertolongan


__ADS_3

Tiga hari sudah Arini terbaring pingsan diapartemen milik Sean, tubuhnya tidak bergerak, dengan infus menancap di lengannya. Sean yang setia menjaga Arini merasa khawatir akan kondisi perempuan itu, ia menyuruh sang ibu untuk merawat Arini selama dia bekerja. Karena saat ini Sean tengah sibuk dengan lagu barunya, yang mengharuskan dia untuk latihan dan tampil di acara-acara televisi. Seperti topeng kaca, Sean akan terlihat baik-baik saja ketika sedang di layar televisi, sedangkan di dunia nyatanya ia sangat mengkhawatirkan Arini yang tengah pingsan di apartemennya. Entahlah rasa apa yang sebenarnya ia rasakan pada Arini, yang jelas ia merasa tidak tega dengan perempuan malang itu.


Dreet ... dreet ...


Ponsel Sean bergetar, buru-buru mengangkat. "Ya Mi, ada apa? ... Apa? Baiklah nanti aku hubungi lagi."


Sean yang tengah istirahat syutting iklan pun menghampiri sang sutradara.


"Bang, berapa tag lagi?" tanya Sean.


"Banyaklah, lo sih gak fokus jadi diulang-ulang!" jawab sang sutradara.


Sean nampak gusar, ia tidak sabar untuk pulang ke apartemennya melihat kondisi Arini. Karena tadi sang mami meneleponnya jika Arini sudah bangun, tapi Arini berontak ingin mencari Rizky.


"Ya udah, ayo cepetan syuttingnya! Pumpung gue lagi fokus," ucap Sean.


"Ayo!"


Syutting selesai ketika jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tanpa berpamitan dengan staff yang lain, Sean cepat pergi meninggalkan lokasi syutting.


Sampai di apartemennya, Sean langsung menuju kamar miliknya, namun yang ia lihat hanya sang mami.


"Dimitri?" ucap Anna.


"Dimana Arini?" tanya Sean tidak sabaran.


Saat Anna ingin menjawab, Arini masuk. "Dimitri?"


Sean dengan cepat mendekati Arini dan membawa perempuan itu ke dalam pelukkannya. "Syukurlah lo gak papa, Rin!" Sean merasa lega melihat Arini dalam kondisi baik-baik saja. Sedari tadi menuju apartemen, Sean merasa tidak tenang. Ia juga mengendarai mobilnya dengan kencang.


Anna yang melihat Sean memeluk Arini hanya tersenyum. Sedangkan Arini yang di peluk Sean memberontak untuk melepaskan diri, ia malu karena ada Anna di sana.


"Dimitri, lepasin! ucap Arini.


Sean melepas pelukkannya. " Maaf! Tapi lo beneran gak papa 'kan?"


"Aku gak papa," jawab Arini. Lalu ia menghampiri Anna yang tengah membersihakan tempat tidur.


Selama tiga hari Arini pingsan, Anna yang merawatnya. Jangan tanya mengapa Arini tidak di bawa ke rumah sakit! Karena status Sean yang sebagai artis membuat dia harus sembunyi-sembunyi memasukan Arini ke apartemennya. Ia hanya menyewa suster untuk mengawasi kondisi Arini jika terjadi sesuatu, selain itu Anna lah yang merawatnya, mengganti pakaian Arini, juga menyeka tubuh Arini. Saat Arini terbangun tadi sore, Anna memanggil dokter untuk melihat kondisi Arini. Sekarang Arini baik-baik saja, ia hanya kelelahan dan butuh tidur.


Anna tidak langsung menanyakan mengapa Arini bisa pingsan di jalan, walaupun ia sudah mendengarnya dari Sean, tapi ia tidak tahu alasannya.


"Tante, terimakasih sudah merawat saya," ucap Arini pada Anna.


"Sama-sama, kamu beneran sudah baikan 'kan?" tanya Anna memastikan.

__ADS_1


"Iya Tante, aku beneran sudah baik." Arini lalu menghampiri Sean, yang tengah memperhatikannya. "Dimitri, terimakasih."


"Cuma itu doang? Gak cipika cipiki gitu?" jawab Sean dengan usil.


"Dimitri ...!" sahut Anna.


"Cuma bercanda Mami, ya 'kan Rin?" jawab Sean cengengesan.


Arini hanya tersenyum kecut.


"Sebaiknya kamu menginap aja di sini, udah malam kalo kamu maksa buat pulang. Besok biar Sean anter kamu pulang," tutur Anna pada Arini.


"Ya udah, Mami pulang dulu, kasian Papi kamu di rumah sendirian." Anna beranjak dari duduk di tepi kasur.


"Aku antar Mam,"


"Gak usah, Mami udah di jemput supir," jawab Anna sambil mengedipkan satu matanya pada Sean, seperti mengisyaratkan sesuatu, tapi Sean tidak mengerti.


Sean dan Arini mengantar Anna sampai di pintu apartemen.


"Hati-hati Tante!" ujar Arini.


"Tentu Arini, jangan lupa hubungi Tante kalau Dimitri macam-macam sama kamu, oke!"


"Apaan sih Mam?"


Setelah kepulangan Anna, Arini berniat memasak sesuatu untuk Sean sebagai ucapan terimakasihnya pada laki-laki itu. Sedangkan Sean sedang membersihkan diri.


"Lo bisa masak?" tanya Sean tiba-tiba, ia baru saja muncul.


"Bisa sedikit," jawab Arini sambil mengaduk masakannya.


"Lo masak apa?" tanya Sean, lalu ia menghampiri Arini.


"Entahlah, aku gak tahu namanya, asal masak aja."


"Aneh!" Sean kemudian duduk di kursi ruang makan. Ia mengeluarkan ponselnya ingin menghubungi seseorang, tapi Arini keburu datang membawa masakan yang ia masak tadi.


"Nih buat kamu!" Arini menyodorkan semangkuk sup pada Sean.


"Ini buat gue, gue kira lo masak buat lo sendiri?" Sean meletakkan ponselnya, ia lalu menyicipi semangkuk sup buatan Arini. Ternyata rasanya sangat enak.


"Enak gak?" tanya Arini.


"Enak banget," jawab Sea dengan mulut yang penuh.

__ADS_1


"Pelan-pelan!"


Sean kemudian berhenti mengunyah. "Perhatian banget lo sama gue, lo gak amnesia 'kan?"


Andaikan kau gak nolong aku, males banget aku perhatian sama kamu.


"Sebenarnya, aku buatin sup buat kamu sebagai ucapan terimakasih karena sudah nolong aku," kata Arini lirih.


"Oohh, gak masalah, gue emang orangnya baik," jawab Sean bangganya.


Arini memutar bola matanya malas. Ia lalu berniat ingin pergi, namun di tahan Sean.


"Mau kemana? Temenin gue makan!"


"Makan sendiri emang kenapa sih?"


"Udah duduk aja!"


Arini pun duduk persis di samping Sean.


"Lo kenapa bisa pingsan di jalan sih? Ada masalah?"


Mengingat itu, Arini menghembuskan napasnya kasar. "Rizky kabur dari rumah sakit. Waktu itu aku mau cari dia, tapi pas aku ingin menyebrang kepalaku pusing dan akhirnya pingsan."


"Hah, kabur? Kenapa bisa kabur?" tanya Sean dengan terkejut.


"Aku sendiri gak tahu kenapa dia kabur. Tapi mungkin saja dia takut jika aku marah karena dia sudah membohongiku," jawab Arini dengan suara lemah.


"Emang dia bohongin lo apa?"


Arini pun mulai menceritakan kejadian yanh dia alami beberapa hari yang lalu. Sean sangat terkejut mendengarnya, ia tidak menyangka remaja polos seperti Rizky bisa melakukan hal seperi itu.


"Berat banget hidup lo, Rin. Lo udah coba hubungi polisi?"


"Udah, tapi aku gak tau gimana kelanjutannya. Ponsel dan tasku ketinggalan di rumah sakit tempat Rizky di rawat."


"Besok gue akan bantu lo cari adik lo dimana, lo tenang aja," ucap Sean mencoba menenangkan Arini.


Arini mengangguk, ia masih beruntung ada orang yang mau menolongnya, walaupun ia tidak mengenal dekat.


"Ya udah, tidur sana! Lo tidur di kamar tamu!"


"Iya aku tahu kok,"


Arini pun beranjak dari duduknya menuju kamar milik tamu. Sean yang melihat Arini berlalu pun menyunggingkan senyumnya tipis.

__ADS_1


__ADS_2