Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Pertemuan tidak disengaja


__ADS_3

Arini muncul dengan penampilan yang sangat berbeda dari biasanya. Dress tanpa lengan berwarna biru muda menempel indah di tubuh mungil Arini, dengan make up yang natural menghiasi wajah ayunya. Rambut hitam lebatnya dibiarkan terurai dengan sedikit bergelombang menambah cantik penampilan Arini.


Sean ternyata membawa Arini kesebuah salon kecantikan untuk mengubah penampilan Arini, karena ia ingin mengajak Arini makan malam bersama keluarganya. Sekitar 5 jam lamanya Arini di make over, dengan setia Sean menunggu.


"Tuan!" panggil seorang wanita yang mengubah penampilan Arini.


Sean menoleh, tatapannya lalu fokus pada Arini yang baru datang penampilan barunya.


Cantik


Sean segera menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia menghampiri Arini yang sedang berdiri.


"Untuk apa diginiin?" tanya Arini.


"Tadi gue 'kan udah bilang lo kerja!" jawab Sean.


"Kerja kok pake baju kaya gini, mana bisa?"


"Bawel, ayo ikut gue!" ajak Sean sambil menyodorkan lengannya pada Arini.


"Bisa jalan sendiri!"


Arini dan Sean meninggalkan pusat perbelanjaan itu. Ia langsung membawa Arini menuju rumah mami-nya.


Tidak berselang lama, mereka telah sampai.


"Kamu ngapain ngajak aku ke rumah kamu?" tanya Arini penasaran.


"Mami gue ngadain makan malam keluarga, jadi gue ngajak lo," jawab Sean sambil menuntun Arini keluar dari mobilnya.


"Kenapa harus aku? Kamu 'kan punya pacar?"


"Nanti lo tau sendiri," jawab Sean seraya berhenti melangkah. "Nanti kalo yang lain pada datang, lo harus romantis dan perhatian sama gue. Lo juga harus panggil gue 'Sayang', ngerti!" lanjut Sean.


"Gak mau!" tolak Arini.


"Aduh ... ni cewek gak bisa apa dimintai bantuan, gue bayar lo kok!"

__ADS_1


"Wani piro?" sahut Arini dengan bahasa jawanya.


"Ngomong apa lo?" tanya Sean yang tidak mengerti bahasa yang diucapkan Arini.


Arini menaikan bahunya, lalu ia masuk ke dalam rumah Anna ibu dari Sean.


Sampai di dalam, keluarga besar Sean dari sang papi dan mami berkumpul di ruang keluarga. Sekitar ada empat orang yang ada di sana, sedangkan Anna sedang sibuk menyiapkan makan malamnya.


"Sean, akhirnya bintang kita malam ini datang juga," kata Kakek Sean.


"Iya dong," jawab Sean dengan bangga. Ia lalu menarik Arini.


"Ooww ...." Semua yang ada di ruang keluarga itu bersorak heboh karena kedatangan Arini. Anna yang sedari tadi sibuk di dapur pun berlari untuk melihat kehebohan di ruang keluarga.


Wajah Arini memerah karena malu, ia bingung harus melakukan apa. Arini dengan terpaksa tersenyum pada orang-orang yang ada di sana.


"Arini, kamu cantik banget," puji Anna pada Arini.


"Terimakasih, Tante," ucap Arini sambil mengecup punggung tangan Anna. Lalu ia juga menghampiri yang lain dan memberi salam pada mereka dengan sopan.


"Aaww ... sakit Mami!" Sean terkejut.


"Gak salah 'kan pilihan Mami untuk ngajak dia ke sini?" bisik Anna. Wanita itu memang menyuruh Sean untuk mengajak Arini. Entah mengapa Anna merasa bahwa Sean menyukai Arini.


"Enggak juga," bantah Sean.


Sean pun menghampiri Arini dan yang lain untuk berkumpul bersama. Sean memilih duduk berjauhan dari Arini, karena ia merasa salah tingkah jika dengan perempuan itu.


Suasana di ruang keluarga itu ramai oleh perbincangan dan canda tawa. Arini sedikit terharu melihat suasana seperti ini, ia jadi teringat oleh keluarganya. Andaikan kedua orangtua dan kakaknya masih hidup, pasti juga akan seperti ini. Wanita tua di sebelah Arini menepuk pelan pundak Arini.


"Sayang, kamu kenapa?" wanita tua itu yang adalah nenek Sean dari sang ayah.


"Tidak papa, Oma."


Tiba-tiba ditengah perbincangan keluarga Sean, terdengar suara ketukan langkah kaki seseorang. Laki-laki itu datang bersama seorang wanita cantik.


"Nah ... itu yang kita tunggu dari tadi!" ucap Anna. Anna menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


"Ardan, Elsa, Mami kira kalian gak datang?" ujar Anna.


"Maaf ya, Tante kita telat!" balas Elsa.


"Gak masalah, ayo kumpul sama yang lain!" Anna membawa Ardan dan Elsa menuju ruang keluarga.


"Hei semua ... coba lihat siapa yang datang?"


Ardan dan Elsa muncul, betapa terkejutnya Sean dan juga Arini dengan kedatangan mereka berdua.


"Ardan? Apa yang dia lakukan disini?"


"Elsa?" Sean mengepalkan tangannya.


Ardan tersenyum begitu juga dengan Elsa. Namun senyum Ardan secepat kilat hilang, karena netranya menemukan sosok perempuan yang tengah duduk diantara mereka. Tatapan Ardan dan Arini bertemu, walau penampilan Arini berbeda, namun Ardan dengan cepat mengenalinya. Sesak dihati Arini kembali muncul, baru beberapa hari ia bisa sedikit melupakan rasa sakitnya, kini rasa sakit itu hadir kembali.


"Baby, ayo duduk!" Elsa mengajak Ardan duduk. Ardan tidak hentinya menatap Arini, sedangkan Arini memalingkan wajahnya.


Saat duduk, Ardan tepat duduk di samping Arini yang memang kosong. Ardan mencium aroma tubuh Arini yang tidak pernah berubah dari pertama kali ia bertemu dengan perempuan itu. Kalau boleh jujur, Ardan sangat merindukan sosok Arini. Ia ingin memeluk Arini dengan erat seperti yang dulu. Tapi keadaannya sekarang berbeda, ada rasa benci di hati laki-laki itu pada Arini.


Sean beralih duduk, ia mendekati Arini dan merengkuh pinggang Arini. Kini Arini diapit oleh dua kakak beradik.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Sean sambil mengedipkan mata pada Arini.


"A–aku gak papa," jawab Arini gugup.


Melihat Sean yang merengkuh pinggang Arini, hati Ardan terasa terbakar. Ia cemburu, ia tidak rela laki-laki lain menyentuh Arini yang memang masih istrinya itu.


"Kakak kamu aja sudah bertunangan, kamu kapan?" tanya Nenek Sean.


"Aku sebenarnya ingin juga seperti Kak Ardan, tapi gadis di sampingku ini belum siap," jawab Sean sambil tersenyum manis pada Arini.


Mendengar Sean berkata 'Kak Ardan', Arini langsung terkejut. Ternyata Sean adalah adik dari Ardan.


Jadi mereka berdua saudara? Dan ... ini adalah keluarga Daviez?


Beribu pertanyaan berkecamuk di dalam hati Arini. Kenapa dirinya baru tahu kalau Ardan dan Sean bersaudara?

__ADS_1


__ADS_2