Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Sahabat lama


__ADS_3

Di kostan, Arini sudah bersiap ingin berangkat ke toko bunga.


"Mbak Arini, aku berangkat dulu ya?" ucap Rizky sambil mengambil tangan sang kakak.


"Iya, Ki. Kamu hati-hati ya!" balas Arini.


Setelah Rizky berangkat, Arini pun juga berangkat dengan berjalan kaki untuk ke depan gang. Kostan Arini yang tidak terlalu jauh dari jalan raya membuat dia lebih cepat mendapatkan angkutan umum.


Saat ia tengah ingin menghentikan angkutan umum, sebuah mobil berwarna hitam logam berhenti tepat di depannya. Arini menyipitkan matanya.


"Siapa?" lirih Arini.


Kaca mobil itu pun terbuka, menampilkan sosok laki-laki tampan di hadapannya. Pemilik mobil itu pun keluar dari mobilnya.


"Good Morning!" sapa laki-laki bernama Sean.


"Ya Tuhan, kenapa dia selalu muncul di hadapanku? Aku sangat bosan melihat wajahnya," batin Arini.


Arini memutar bola matanya malas.


"Kenapa sih selalu muncul di hadapanku? Gak ada kerjaan lagi apa? Kamu tahu, aku bosan liat wajahmu itu!" ujar Arini.


"Jangan sok kepedean lo! Nih ...." menyerahkan kotak bekal pada Arini.


"Itu dari nyokap gue," jawab Sean. Setelah itu ia masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi.


**


Di dalam sebuah mobil, seorang laki-laki tengah memperhatikan seorang perempuan yang baru saja turun dari angkutan umum. Mata laki-laki itu menatap nanar dari kejauhan perempuan yang sedang berjalan itu.


"Kenapa kau ada di kota ini, Arini. Apa kau ingin menghancurkan keluargaku lagi?"


Ada rasa rindu yang menyelimuti hati Ardan pada perempuan yang masih berstatus istrinya itu. Tapi rasa dendam telah mengalahkan cintanya pada Arini, kini hanya kebencian dan dendam yang ada di dalam hati Ardan.


"Boss, apa kita sudah bisa jalan lagi?" tanya asisten Ardan.


"Hemm."


***


Malam harinya, Arini masih tetap bekerja keras di restoran cepat saji itu. Ia tahu, para pegawai yang lain sangat tidak menyukai dirinya. Ditambah lagi kejadian kemarin lusa yang dirinya dipaksa oleh Sean untuk mengikuti kemauan laki-laki itu. Tidak ada satu pun pegawai yang mengajaknya bicara. Namun Arini sama sekali tidak memperdulikan mereka, perempuan itu tetap berusaha bekerja dengan baik.


Saat Arini sedang membersihkan meja kotor bekas pelanggan, bahunya tiba-tiba dipegang oleh seseorang. Arini pun respon menoleh.

__ADS_1


"Mirae?" ucap Arini kaget.


"Hai ... es batu!" sapa Mirae.


"Kamu kok bisa ada disini?" tanya Arini heran.


"Nanti aku ceritain, sekarang selesaikan dulu pekerjaan kamu!"


"Oke, tungguin aku ya!"


Mirae mengangguk.


Setelah itu Arini pun pergi membawa sisa kotoran di meja ke belakang.


Sekitar 30 menit Mirae menunggu, akhirnya Arini pun keluar. Perempuan itu berjalan menghampiri sang sahabat yang sudah lama tidak bertemu.


"Maaf menunggu lama!" ucap Arini.


"Iya gak papa kok, ya udah ayo!"


"Bentar, aku ambil sepedaku dulu!" Arini pun mengambil sepedanya. "Yukk!"


Kedua sahabat itu berjalan menelusuri jalanan kota Jakarta yang masih terlihat ramai itu.


"Arini, kamu setiap hari kerja naik sepeda?" tanya Mirae.


"Kamu gak capek, jarak rumahmu ke daerah sini 'kan jauh?" tanya Mirae lagi.


"Tentu saja capek, tapi kalau dilakukan dengan iklas semuanya akan terasa ringan," jawab Arini.


Hati Mirae terasa teriris setiap mendengar jawaban dari sahabatnya, sebegitu gigihnya Arini menjalani hidup tanpa kedua orangtua. Dirinya merasa kalah jauh dari Arini. Sabarnya, kuatnya, dan kegigihannya membuat Mirae kagum.


"Masih jauh gak?" tanya Mirae yang mulai kelelahan.


"Sedikit lagi," jawab Arini.


"Dari tadi jawabannya gitu terus," ucap Mirae. "Gimana kalo kamu boncengin?"


"Boleh juga, yuk!"


Mirae yang merasa kasihan dengan sahabatnya pun memcoba membonceng Arini, walaupun sebenarnya dirinya juga lelah.


Jarak yang cukup jauh mereka tempuh, kadang mereka juga bergantian untuk berboncengan. Perjalanan mereka terasa seru karena ditemani canda gurau dari sahabat yang lama tidak bertemu itu.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun sampai di kostan milik Arini. Kedua sahabat itu terkejut, karena saat masuk ke dalam kostan itu. Bagaimana tidak? Makanan dan minuman berjejer di atas meja mau pun kursi. Tidak hanya satu tapi sangat banyak.


"Siapa yang beli ini semua?" gumam Arini.


"Ya ampun, Ar, banyak banget makanan di kostan kamu! Habis pesta ya?" tebak Mirar.


"Pesta apaan? Aku sendiri juga gak tahu."


"Mungkin Rizky kali yang beli?"


"Rizky? Bisa jadi tapi besok deh aku tanyain ke dia."


"Kamu nge-kost di sini sama siapa, Ar?" tanya Mirae sambil melihat sudut-sudut ruangan yang terbilang sempit itu.


"Aku, Rizky dan juga temen yang aku ceritain tadi, tapi sekarang dia jarang pulang ke kostan, dia lebih sering pulang ke rumah mamanya." seraya menuju kamar mandi. "Aku mandi dulu, kamu tunggu aja di kamarku!"


Mirae mengangguk, ia memasuki kamar Arini dan juga Aliya. Kamar itu hanya diisi sebuah kasur dan lemari berukuran kecil, namun walaupun sempit, kamar itu selalu terlihat rapi. Gadis yang kini berambut pendek itu duduk di kasur, ia melihat hasil gambaran Arini yang sangat indah tertempel di kaca lemari.


"Kamu masih tetap suka gambar, Ar?" tanya Mirae ketika Arini baru saja masuk.


Arini duduk di samping Mirae. "Iya."


"Kiki tidur di kamar sebelah ya?"


"Iya, kamu gak ngantuk?" tanya Arini.


"Belum, aku masih ingin tahu bagaimana kamu bisa ada disini?"


Arini menghembuskan nafasnya kasar. Ia menceritakan pada Mirae semua yang ia alami setahun ini. Tentang Ardan yang meninggalkannya tanpa sebab, ia hampir dijual, sampai saat kaki kirinya ditembak oleh orang-orang yang ingin menjualnya.


Mirae seketika memeluk Arini dengan erat. "Maafin aku, Arini. Gak dapat bantuin kamu!" ucap Mirae sambil menangis.


"Kenapa harus minta maaf, kamu sama sekali tidak salah," bantah Arini.


"Hiikss ... hiks ..., aku iri sama kamu Ar. Kamu masih bisa sekuat ini dalam kondisi hidup kamu yang sangat sulit."


"Aku harus bagaimana lagi, Mirae? Ingin menyerah pun sudah terlanjur hancur. Satu-satunya yang bisa aku lakuin hanya bertahan."


Mirae melepas pelukannya pada Arini. "Aku akan bantu kamu buat ketemu Kak Ardan, kamu harus dapat jawaban dari semua perlakuannya terhadapmu."


"Aku tidak berani, Mirae," jawab Arini sambil menundukkan kepalanya.


"Apa yang kamu takutkan?" tanya Mirae.

__ADS_1


"Aku takut ... kalau semua kenyataannya memang benar," jawab Arini dengan suara bergetar.


"Kenyataan itu kadang memang pahit, tapi semua itu harus diterima," ucap Mirae memberi dukungan pada Arini.


__ADS_2