Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Ibu


__ADS_3

Acara kelulusan pun akan berjalan sebentar lagi, para siswa-siswi sudah duduk di tempatnya masing masing.


Seorang laki-laki yang tidak terlalu tua berlari menuju aula tempat acara kelulusan yang akan segera berlangsung tersebut. Dengan tergopoh-gopoh dia berusaha mencari sosok gadis muda yang kini tengah duduk diantara siswa-siswi yang begitu ramai, matanya menelusuri setiap wajah siswa-siswa di sana.


Dan sampai matanya menemukan gadis yang dia maksud.


Laki-laki yang berumur sekitar 40 tahun tahun itu pun hendak melangkah memasuki aula, namun langkahnya di hentikan seorang penjaga yang menjaga aula tersebut.


"Maaf, Bapak di sini tidak boleh masuk tanpa undangan dari sekolah," kata seorang penjaga sekolah berseragam lengkap itu.


"Tapi Pak satpam, ibu dari siswi di sini ada yang sakit dan sekarang ada di rumah sakit. Beliau sedang sekarat." jelas laki-laki yang masih memakai baju kerja kotornya itu.


"Baiklah, Bapak tunggu lah di sini, saya akan panggilkan siswinya. Kalau boleh tau siapa nama siswi yang Napak maksud?" tanya satpam itu.


"Namanya Arini Elina Putri"


"Baik ,sebentar ya Bapak."


Selang beberapa menit Arini pun mengikuti penjaga sekolah itu untuk menemui laki-laki yang bernama pak Kholis.


"Pak de, wonten nopo ten mriki?" tanya Arini yang penasaran dengan kedatangan tetengganya tersebut.


"Nduk, ibuk kamu masuk rumah sakit.Tadi ketika ibuk kamu sedang kerja tiba-tiba dia tidak sadarkan diri dan langsung di bawa ke rumah sakit." jelasnya


"Ibu." sontak seluruh tubuh Aroni langsung lemas seketika mendengar kabar itu.


Tanpa berfikir apa pun Arini langsung meninggalkan acara kelulusan yang sebentar lagi akan di mulai. Air matanya perlahan mengalir dari mata sayunya, sudah tidak terbayang akan hal-hal aneh mengenai ibunya itu. Memang beberapa hari ini kondisi ibunya tidak sehat, tapi beliau tetap bersikeras untuk bekerja.


Ketika hendak melangkah meninggalkan ruang aula, pergelangan tangan Arini di hentikan oleh tangan seseorang.


Arini seketika menoleh ke orang tersebut.


"Biar aku antarkan kamu ke rumah sakit," ajaknya.

__ADS_1


**


Saat penjaga sekolah menghampiri Arini, Ardan tidak sengaja mendengar obrolan singkat mereka karena jarak kursi yang Arini tidak jauh dari Ardan yang duduk di kursi khusus orang tua siswa. Melihat Arini yang berjalan dengan tergesa-gesa keluar ruang aula, dia pun mengikutinya.


Dengan wajah Arini yang sedikit kebingungan, Arini pun hanya mengangguk saja.


**


Di rumah sakit


Arini, Ardan dan Kholis pun sudah sampai di rumah sakit tempat ibunya Arini di bawa tadi. Mereka bertiga menuju resepsionis rumah sakit yang cukup besar itu.


"Permisi, Suster, pasien yang tadi di bawa ke sini dengan kondisi pingsan di ruang sebelah mana ya?" tanya Arini.


"Pasien dengan nama siapa?" tanya suster itu.


"Rahmi Pratiwi, " jawab Arini.


"Sebentar saya lihat dulu." sembari membuka buku pasien yang baru masuk.


"Terimakasih suster"


"Sama-sama"


Mereka bertiga langsung menuju lantai 2 dan mencari ruang Anggrek. Tidak lama untuk mencari ruang tersebut karena letaknya yang berada di ujung.


Memasuki ruang tersebut langkah mereka tertahan oleh suster yang menjaga di sana.


"Maaf, tuan-tuan pasien sedang diperiksa, mohon tunggu sebentar," kata suster penjaga itu.


Tanpa menjawab mereka pun duduk di ruang tunggu, dengan hati yang tidak karuan.


"Nduk, Arini kalo gitu pak de kembali ke tempat kerja ya?" kata Kholis pria yang membawa ibunya ke rumah sakit tadi.

__ADS_1


"Oh iya, Pak de terima kasih banyak sudah mengantar ibu saya kesini," ucap Arini.


"Sama-sama Nduk."


Kholis tetangga Arini itu pun pergi meninggalkan dirinya bersama Ardan di ruang tunggu.


Sekitar 15 menit mereka menunggu akhitnya dokter yang memeriksa pun keluar,


Arini pun langsung menghampiri dokter tersebut. "Bagaimana Dokter kondisi ibu saya?"


"Kamu anaknya?" tanya dokter berkaca mata tebal itu.


"Iya, " angguk Arynni


"Mari ikut saya" ajak dokter itu.


"Kak Ardan, aku tinggal sebentar," ucapnya pada Ardan dan di balas dengan anggukkan.


Di ruangan dokter,


"Dengan mbak siapa?" tanya dokter itu.


"Arini," jawab Arini dengan wajah yang menegang.


"Masih sekolah ya?" tanya dokter yang bernama Rizal dengan sedikit basa-basi agar suasana tidak tegang.


Arini hanya menjawab seadanya, "iya."


"Begini ya, Dek, ibu kamu mengidap penyakit Bronkitis . Bronkitis disebabkan oleh infeksi virus dan menyerang sistem kekebalan tubuh yang lemah, ciri-cirinya batuk disertai keluarnya darah," jelas Dokter Rizal.


"Apa penyakit bronkitis bisa sembuh, Dokter?" tanya polos Arini.


"Orang penderita bronkitis bisa sembuh dengan sendirinya, tapi kondisi ibu kamu sudah terlalu parah jadi disarankan ibu kamu untuk melakukan terapi bronkitis menggunakan bronkodilator." jelas dokter itu lagi.

__ADS_1


Arini pun terdiam mendengar penjelasan Dokter Rizal itu.


__ADS_2