Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Remember


__ADS_3

Dua minggu sudah berlalu semenjak Rahmi meninggalkan Arini dan juga Rizky. Gadis itu tidak mau keluar dari kamarnya. Rizky, keponakannya berusaha untuk membujuk Arini keluar kamar sekedar untuk makan, namun gadis itu tetap tidak mau. Setiap hari yang dilakukan Arini hanya duduk melamun, gadis itu sudah hampir seperti orang yang depresi. Tubuhnya kurus, penampilannya sangat memprihatinkan.


Sekarang ini ia tengah duduk di kursi belajarnya sambil menggambar sesuatu di buku yang sudah berisi hasil gambaran tangannya. Di dekatnya ada Mirae yang selalu setia menemani Arini, walaupun tidak dihiraukan sama sekali oleh Arini.


"Es batu, aku bawain kamu makanan enak. Kamu makan ya!" rayu Mirae.


Arini hanya memandang datar sahabatnya, lalu kembali fokus pada aktivitas menggambarnya. Menggambar adalah salah satu hobi Arini, dengan menggambar ia bisa mengungkapkan perasaannya tanpa harus ada yang mengetahui isi hatinya. Seperti sekarang ini, saat ia tengah dalam kondisi terpuruk. Ia bisa menggambar apa yang ia rasakan.


"Arini, ayo makan dulu! Udah 3 hari kamu gak makan, nanti kamu sakit. Apa kamu gak kasian sama aku? Udah bawain makanan tiap hari buat kamu, tapi gak di makan," kata Mirae memelas, berharap sahabatnya akan luluh.


Akhirnya Arini menghentikan kegiatannya, lalu menghampiri Mirae yang duduk di tepi kasur. Mirae pun tersenyum karena ia berhasil membuat Arini luluh.


"Aku suapin ya, Ar?" tanyanya.


Di balas anggukan Arini, baru suapan ketiga gadis itu mengakhirinya. Mirae hanya pasrah yang terpenting sahabatnya itu sudah mau makan, walaupun hanya sedikit. Saat Mirae akan keluar kamar, Arynni memanggilnya. "Mirae, maukah kamu temani aku ke danau?"


"Tentu saja, tunggu bentar ya! Aku mau taruh makanan ini dulu ke dapur," kata Mirae.


***


Di Jakarta, Ardan tengah sibuk dengan pekerjaannya beserta berkas-berkas yang menumpuk. Selama seminggu ia berada di Malang membuat pekerjaannya jadi terbengkalai, di tambah lagi dengan pikirannya yang selalu tertuju pada Arini. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi gadis itu. Terakhir kali, gadis itu tidak mau menemuinya sama sekali. Mungkin gadis itu masih syok atas meninggalnya ibu yang sangat ia cintai, pikir Ardan. Ardan pun memakluminya, mau tidak mau ia juga harus segera kembali ke Jakarta.


"Shitt," umpat Ardan. Pemuda itu sama sekali tidak fokus dalam pekerjaannya. Ia pun berdiri dari kursi kebesarannya, berjalan menuju jendela kaca yang memperlihatkan deretan gedung-gedung kota Jakarta seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Bagaimana keadaanmu sekarang, Arini? Aku sangat mengkhawatirkanmu." gumamnya dalam hati. Saat tengah sibuk memikirkan Arini, terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk!" ucapnya.


"Permisi, Tuan. Di depan ada Oma Anda bersama seorang perempuan, Anda di harap menemui beliau sekarang. Beliau ada di ruang tunggu" ujar sekretaris Ardan.


"Ya, aku akan menemuinya" kata Ardan.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi, Tuan"


Ardan pun pergi untuk menemui oma nya. Sampai di ruang tunggu, Ardan menghampiri mereka berdua.


"Oma, tumben ke kantor? Ada apa?" tanya Ardan datar.


"Memangnya gak boleh Oma ke kantor cucu Oma sendiri? Gini, Ardan, ini 'kan sudah hampir memasuki jam makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang di luar?" tawar sang Oma.


"Pekerjaanku masih sangat banyak, Oma. Aku juga tidak lapar, lebih baik Oma saja yang pergi" jawabnya.


"Hei, kamu jangan gitu dong. Liat, siapa di samping Oma?" katanya seraya menggandeng pundak perempuan yang ada di sampingnya.


Ardan hanya melirik sekilas. Ia tidak berniat ingin tahu dan tidak mau tahu. Otaknya sudah penuh oleh pekerjaan dan juga Arini. Jadi dia tidak memperdulikan hal yang menurutnya tidak penting.


"Kamu masih ingat, Sayang?" tanya sang oma lagi.


"Tidak," jawab Ardan singkat.


"Oohh..." jawabnya cuek.


"Hai, Ardan. Lama tidak bertemu," sapa perempuan bernama Elsa itu.


"Hai juga, Elsa. Apa sudah selesai perkenalannya? Aku ingin segera kembali ke ruanganku," kata Ardan malas.


"Sayang, kamu kok tega sih sama kita. Udah jauh-jauh lo Oma dan Elsa ke sini. Mau ya makan siang di luar sama Oma dan Elsa?" pinta Maria sekali lagi.


Menimang-nimang sebentar, akhirnya ia pun menyetujuinya. "Baiklah, tapi jangan terlalu jauh. Aku sedang tidak mood untuk menyetir.


Ardan pun mengalah dan mengikuti kemauan sang Oma. Mereka bertiga pergi ke sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor Ardan. Sampai di restoran, Maria memesan ruang vvip yang berada di lantai atas. Di sana, Ardan tidak banyak bicara. Ia berbicara jika di tanya saja, selebihnya ia hanya diam. Mereka duduk di meja yang berbentuk persegi, dengan Elsa yang berada di samping Ardan. Perempuan itu sesekali memperhatikan setiap gerak gerik yang Ardan lakukan. Ardan yang menyadari hal itu, berusaha tidak meghiraukannya walaupun sebenarnya dia sangat risih.

__ADS_1


Pramusaji pun datang ke meja mereka. " Permisi, Tuan dan Nyonya. Ini buku menunya!" kata pramusaji tersebut seraya menyerahkan buku menu.


"Kalian berdua mau pesan apa?" tanya Maria kepada Ardan dan Elsa.


"Aku steak aja tapi yang medium rare," jawab Elsa.


"Kamu, Ar?" tanya Maria lagi.


"Milk shake pisang."


"Kamu gak pesen makan, Ardan?" tanya Elsa.


"Bukankah tadi aku sudah bilang, aku tidak lapar." jawab Ardan jutek.


Elsa yang mendengar jawaban dari Ardan merasa terhina, diam-diam ia mengepalkan tangannya. "Aku tidak boleh menyerah begitu saja, aku harus memilikimu Ardan. Kau yang sudah membuat aku terperangkap oleh pesonamu, jadi apapun akan aku lakukan untuk mendapatkanmu" batin perempuan berbaju biru muda itu.


"Kamu gak berubah ya, Ar. Masih suka susu pisang?" kata Elsa.


"Tentu saja" jawabnya.


"Ardan, kamu ga boleh jutek gitu dong sama Elsa. Elsa gak salah kok, Oma yang minta dia untuk ikut menemuin kamu" ucap Maria.


"Ya udah, Mbak. Aku pesan steak 2, satu well done, satunya medium rare. Minumnya fruit tea dan milk shake pisang. Segera ya, Mbak!" ucap Maria.


"Baik, Nyonya. Di tunggu!" kata pramusaji tersebut.


Sambil menunggu pesanan datang, Ardan yang bosan pun mengeluarkan ponselnya berniat menghubungi seseorang. Maria yang melihat Ardan tengah sibuk memainkan ponselnya pun berusaha untuk mengajak Ardan mengobrol. Namun Ardan hanya menjawab seadanya sambil masih memainkan ponsel.


Beberapa saat, pramusaji datang membawa pesanan mereka bertiga.

__ADS_1


"Selamat menikmati, Tuan dan Nyonya," kata laki-laki pramusaji itu.


Maria dan Elsa pu mulai menyantap makanan mereka, kecuali Ardan. Ia hanya meminum milk shake pisang yang ia pesan tadi. Mengingat milk shake pisang, Ardan teringat oleh Arini. Milk shake buatan gadis datar itu lebih enak dari yang ia minum sekarang, apa memang karena ia menyukai gadis itu?


__ADS_2