
Jam menunjukan pukul 00.30, perempuan yang menaiki sepeda itu baru saja sampai di sebuah kos-kosan sederhana. Di kos-kosan itu, ia tinggal bersama Rizky dan juga Aliya teman satu kos-kosannya.
"Aliya, aku pulang!"
Menunggu beberapa menit, akhirnya perempuan berambut pendek itu membukakan pintu dengan wajah yang lesu dan rambut acak-acakan.
"Kamu udah tidur, Al?" tanya Arini seraya memasukan sepedanya.
"Iya, aku ketiduran. Habisnya kamu lama banget," kata gadis itu.
"Maaf, ya udah kamu tidur lagi sana!" jawab Arini.
"Laper, masak mie instan yuk!" ajak Aliya.
"Ya udah masak sana, aku mau mandi dulu," jawab Arini seraya menuju kamar mandi.
"Oke deh...."
Tidak lama, Arini selesai mandi dan Aliya pun juga selesai memasak mie instannya.
"Rin, mie instan punya kamu!" kata Aliya sambil meletakkannya di meja depan tv.
Arini pun menghampiri Aliya yang sudah duduk di depan tv dengan dua mangkuk mie instan.
"Makasih, Aliya"
Mereka berdua pun memakan mie instan tersebut dengan perbincangan ringan.
"Eh, Rin. Kamu mau gak besok anterin aku?"
"Anterin kemana?" tanya Arini sambil matanya fokus pada televisi berukuran kecil itu.
"Ke fansign," jawab Aliya.
"Fansign tuh apa?" tanya Arini.
"Ya ampun, Arini fansign kamu gak ngerti?" tanya Aliya heran.
Arini pun menggelengkan kepalanya.
"Semacam acara bertemu artis gitu, tapi ini lebih dekat gitu," jelas Aliya.
"Besok 'kan hari minggu, toko bunga ibu kamu pasti sedang rame-ramenya," jawab Arini.
"Gampang deh kalo itu, nanti aku ijinkan kamu ke ibu aku. Gimana?"
"Gak bisa, kasihan ibu kamu sendirian"
"Ayolah Arini, pliiss...!!" memohon.
"Aliya, aku harus kerja. Lagian nanti Rizky sendirian di rumah"
"Rizky 'kan bisa ke toko bunga ibu aku, Rin"
__ADS_1
Arini berfikir sejenak, dan akhirnya ia mengangguk.
"Yeeyy... makasih Arini," kata Aliya sambil memeluk Arini.
"Ya udah, ayo tidur!"
Arini dan Aliya pun masuk ke kamar mereka masing-masing. Kostan itu memiliki dua kamar, dapur dan ruang tv yang sekaligus ruang tamu.
**
Kesokan harinya, Aliya dan Rizky sudah siap. Sedangkan Arini sedang mandi.
"Rin... udah apa belum mandinya?" teriak Aliya yang berada di ruang tamu.
"Bentar lagi," jawab Arini yang berada di kamar mandi.
"Kakak kamu lama banget kalo mandi, Ki?" ucap Aliya pada Rizky.
"Ya begitulah," jawab Rizky.
15 menit berlalu, Arini keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa.
"Ayo, Rin nanti telat!"
"Sabar," jawab Arini singkat sambil mengikat rambutnya, setelah itu ia memakai sepatunya sambil berjalan menghampiri Aliya dan Rizky. "Ayo!"
Mereka bertiga pun berangkat menuju toko bunga milik ibu Aliya dengan menaiki angkutan umum. Jarak toko bunga milik ibu Aliya tidak terlalu jauh dari kostan mereka, hanya butuh waktu kurang lebih 15 menit.
"Ma!" panggil Aliya seraya mencari keberadaan sang mama.
"Ya," sahut wanita bernama Denia itu dari dalam ruangannya. Wanita yang berpenampilan ceria itu pun keluar.
"Lohh... kalian rupanya, tumben kesini bareng-bareng?" tanya Denia.
"Selamat pagi Bu Denia," sapa Arini.
"Pagi juga, Rin," balas Denia.
"Kamu sa–" belum selesai Denia berucap, dirinya sudah di tarik oleh sang anak Aliya.
"Ee... ee... apa ap sih, Al?"
"Ma, aku boleh minta sesuatu gak?"
"Minta uang? Uang jajan kamu habis?"
"Bukan itu, Ma?
" Terus?"
"Boleh ya aku ajak Arini ke fansign? Hehehe,"
"Ya jangan dong, Al, Arini 'kan haruss bantuin Mama. Apalagi hari ini hari minggu, toko bunga pasti rame," jelas Denia.
__ADS_1
"Sekali aja, Ma. Aku gak ada yang temenin," rayu Aliya. "Lagian, aku sudah punya member card–nya buat Arini"
Denia pun menghembuskan nafasnya, pasrah dengan kemauan sang anak. "Ya udah, terserah kamu. Tapi kamu harus janji minggu depan bantuin Mama."
Mendapat persetujuan dari sang mama, Aliya langsung bersorak kegirangan. "Yeeeyyy... makasih ya Ma, aku sayang Mama." seraya memeluk dan mencium pipi Denia.
Denia dan Aliya pun menghampiri Arini dan juga Rizky.
"Rin, ayo berangkat!" ajak Aliya.
"Emang boleh?" tanya Arini.
"Boleh kok." menarik tangan Arini.
"Tapi, Rizky?"
"Dia sama Mama, tenang aja"
"Bu Denia, maaf merepotkan," ucap Arini sambil tangannya di tarik oleh Aliya.
"Iya, tenang aja," jawab Denia.
"Rizky, mau bantuin Tante?"
"Mau,"
**
Tiba di sebuah gedung, taksi yang ditumpangi Arini dan juga Aliya berhenti tepat di depan gedung itu. Setelah Aliya membayar taksi itu, mereka berdua pun segera masuk ke dalam dengan sedikit berlari.
"Al, jangan lari-lari!"
"Kalo gak lari nanti kita ketinggalan," jawab Aliya seraya mengeluarkan barang-barang untuk fansign, apalah itu namanya.
Sampai di tempat acara fansign, mereka berdua duduk di kursi paling belakang.
"Yahh... dapat kursi paling belakang," keluh Aliya.
Arini tidak menjawab, ia tengah sibuk memperhatikan sekitarnya yang ramai oleh para penggemar yang kebanyakan adalah remaja. Tapi saat melihat poster yang baru saja di pajang, Arini terkejut dengan wajah pria yang ada di poster itu. Berkali-kali ia mengerjapkan kedua matanya.
"Sepertinya aku pernah melihat laki-laki di poster itu?" gumam Arini sendiri. Gumaman Arini terdengar oleh Aliya yang duduk si sampingnya.
"Ya jelas lah pernah liat, dia 'kan penyanyi yang sering muncul di tv," celetuk Aliya.
Saat ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba tepuk tangan dari penggemar yang hadir membuat Arini mengurungkannya.
Munculah seorang laki-laki menggunakan sweater coklat dengan 4 bodyguard yang menjaganya. Laki-laki itu tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada para penggemar yang hadir.
Arini memperhatikan dengan seksama wajah laki-laki itu, tiba-tiba ia teringat laki-laki yang tadi malam berdebat dengannya soal pesanan yang dia antar. Wajah laki-laki itu sangat mirip dengan laki-laki yang ada di acara fansign ini. Mungkinkah mereka kembar? Di lihat dari sikapnya memang jauh berbeda dari laki-laki yang tadi malam.
Arini menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan lamunannya.
Mau dia kembar atau tidak, bukan urusan aku.
__ADS_1