
Di dalam studio rekaman, Sean sedang melakukan rekaman untuk lagu barunya. Tapi beberapa kali dia melakukan kesalahan, membuat waktu rekaman menjadi lebih lama. Para staff merasa keheranan terhadap sikap sang artis yang tidak seperti biasanya.
"Ian, yang fokus dong, kasian tuh yang lain pada nungguin lo!" kata manager Sean yang bernama Genta itu.
"Gue udah coba fokus, Bang dari tadi," jawab Sean frustasi.
"Kalo emang lo fokus, dari tadi juga udah selesai, cumi asin!" ucap Genta.
"Ranting lo!" kata Sean mengatai Genta yang bertubuh kurus ceking itu.
"Cabut aja, yuk! Besok aja kita lanjutin lagi," ajak Sean pada Genta.
"Enak aja lo, udah tiga kali lo rekaman ngajak pulang duluan. Lagu baru lo kapan lounching-nya, cumi, kalo lo gini terus!" ucap Genta yang sedari tadi mengakatai Sean.
"Tau ah, gua cabut dulu!" ucap Sean seraya mengambil jaketnya dan berlalu pergi meninggalkan Genta dan yang lain.
"Eh... cumi asin, sialan lo, rekaman lo belum selesai bego!" teriak Genta, namun tidak dihiraukan oleh Sean.
"Bodo amat, gue gak peduli!" gerutu Sean sambil berjalan.
Sampai di dalam mobilnya, Sean langsung melesat melewati jalan raya. Entah tujuan laki-laki itu kemana.
"Kemana tujuan gue, ya?" gerutu Sean di dalam mobil. Ia pun menghentikan mobilnya secara mendadak, membuat mobil yang berada di belakangnya membunyikan klakson.
"Berisik!" Sean pun meminggirkan mobil mewahnya. Sejenak ia berfikir di dalam mobil, dimana dia akan menemukan gadis pengantar makanan itu? Alamatnya saja dia tidak tahu. Tiba-tiba Sean mengingat sesuatu.
"Aaahh... gue baru ingat! Waktu itu 'kan gue ada di apartemennya pacar gue, mungkin aja dia kerja di restoran deket situ?" ucap Sean sendiri.
Laki-laki itu pun menghidupkan mobilnya dan melesat ke tempat yang hendak ia tuju dengan kecepatan dia atas rata-rata.
Tidak membutuhkan waktu lama, Sean sudah sampai di daerah dekat apartemen pacar rahasianya itu. Ia mengurangi laju mobilnya, mengawasi setiap tempat yang ada di pinggir jalan. Mobilnya sudah berjalan cukup jauh dari gedung apartemen mewah itu, tapi ia juga tidak menemukan restoran cepat saji di sekitar situ. Akhirnya Sean pun menghentikan mobilnya.
"****! Dimana sih tuh cewek kerjanya?" gerutu Sean sambil mengacak-acak rambutya.
Sejenak laki-laki itu meletakkan kepalanya di kemudi mobil. Jam sudah hampir tengah malam, tapi dia juga belum menemuka gadis itu. Dia sudah terlanjur mengambil resiko meninggalkan studio saat sedang rekaman.
Tiba-tiba,
"Oh iya... gue 'kan punya Mr.Park? Bodoh lu Dimitri!" ucapnya. Ia pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Mr.Park yang kini jadi asistennya. Tidak menunggu lama, sambungan teleponnya pun di angkat oleh Mr.Park.
"Pak Korea, sibuk gak?"
"Memangnya ada apa, Tuan?"
"Pak Korea tahu gak jalan **** ? Kira-kira di daerah sekitar situ ada restoran cepat saji gak?"
"Kalo dulu masih belum ada, Tuan, mungkin sekarang sudah ada. Akan saya coba cari dengan komputer saya"
"Good, thank's Pak Korea"
__ADS_1
Sambungan telepon pun ia matikan, Sean menunggu sambil menatap ponselnya.
Ting...
Pesan dari Mr.Park pun akhirnya sampai, dengan tidak sabar Sean membuka pesan yang berisi lokasi yang dia inginkan tadi. Mengetahui tempat itu, Sean langsung menginjak gas mobilnya untuk menuju lokasi itu.
Ternyata lokasi yang diberikan Mr.Park padanya tidak jauh dari tempat Sean menghentikan mobilnya tadi.
"Kenapa gue bodoh banget ya, segitu besarnya gue gak liat, buta emang!" gerutu Sean sambil keluar dari mobilnya.
Ia pun masuk ke restoran cepat saji itu, yang ternyata memang cabang baru di daerah itu. Tidak lupa ia menggunakan kacamata hitam, syal dan juga jaket serba hitam, ia tidak mau ada yang mengetahui siapa dirinya. Di dalam sana, ia mengawasi setiap pegawai yang bekerja.
"Emang iya dia kerja di sini?"
Saat langkah kakinya hendak menuju kasir, ia melihat gadis itu sedang melayani seorang pembeli. Dugaan Sean ternyata benar, kalau gadis yang ia cari bekerja di sini. Tempat itu memang tidak terlalu ramai, karena jam juga sudah tengah malam. Selangkah demi selangkah kakinya menghampiri Arini yang ada di tempat kasir.
"Selamat malam, ada yang mau Anda pesan?" kata Arini pada Sean dengan wajah yang tanpa ekspresi.
Sean tidak menjawab, ia malah sibuk memperhatikan Arini.
"Tuan?" panggil Arini. Yang langsung mengagetkan Sean.
"Oh, g–gue pesan minuman sodanya satu," jawab Sea terbata-bata.
"Baik, silahkan di tunggu!"
Sean pun duduk di salah satu kursi, entah mengapa jantungnya berdegup sangat kencang saat melihat gadis tanpa ekspresi itu.
Minuman soda yang di pesan Sean pun datang, kali ini yang mengantar bukanlah Arini melainkan Eli.
"Eh Mbak tunggu!" kata Sean menghentikan Eli.
"Ada pesanan lagi, Tuan?"
"Oh enggak kok. Itu... cuma mau tanya, jam berapa tutupnya?"
"15 menit lagi kami akan tutup, Tuan. Memangnya ada apa ya, Tuan?"
"Tidak apa-apa, hanya sedang menunggu pacarku," jawab Sean berbohong.
"Pacar? Siapa nama pacar, Anda?" tanya Eli penasaran.
"Rahasia," jawab Sean.
Setelah itu, Eli pun pergi dengan rasa penasaran.
"Kaya gak asing ya suara cowok itu?" gerutu Eli.
Sean kini tengah ada di dalam mobilnya menunggu Arini keluar dari restoran itu. Laki-laki itu beberapa kali melihat jam ditangannya.
__ADS_1
"Lama banget cewek itu keluar!" gerutu Sean. Tidak lama, Arini pun keluar dari restoran dengan sepedanya.
"Nah tu dia!"
Sean pun dengan cepat menyusul Arini yang sudah dulu lewat terlebih dahulu. Laki-laki yang menggunakan jaket denim itu pun membunyikan klaksonnya berkali-kali, memberi tanda pada Arini yang terus mengayuh sepedanya untuk berhenti.
Tiiiiinnnnn... tiiiinn...
Kesekian kalinya klakson itu berbunyi, Arini pun dengan kesal memberhentikan sepedanya.
"Bukankah aku sudah minggir dari tadi?"
Sean keluar dari mobil mewahnya dan langsung menyeret Arini untuk masuk ke dalam mobil.
"Hei... lepasin!" teriak Arini. "Kamu penculik, ya?"
Sean melepas atribut samarannya, betapa kaget dan juga murka Arini melihat Sean didepannya. Kenapa laki-laki itu ingin menculiknya lagi? pikiran Arini.
"Kamu lagi rupanya? Apa kamu sebenarnya memang penculik, ya?"
"Enak aja gue dikatai penculik, sorry aja kalo gue culik lo, cewek datar."
Arini semakin kesal, ia berusaha untuk keluar dari mobil Sean.
"Eeeh mau kemana lo, urusan kita belum selesai!"
"Bukain gak, kalo enggak aku akan teriak!" ancam Arini.
"Teriak aja, lagian gak ada yang denger kok!" sahut Sean santai.
Arini menggertakkan giginya. "Apa mau kamu sekarang, heh?"
"Gue belum percaya kalo lo gak bakal sebarin berita gue sama cewek gue waktu itu," ungkap Sean.
"Kalo gak percaya ya udah?"
"Lo...!" ingin memukul Arini.
"Mau pukul, pukul aja?!"
"Gue bukan tipe cowok yang suka menghakimi cewek." menurunkan tangannya lalu menghembuskan nafasnya kasar. "Gue cuma pengen bernegosiasi sama lo,"
"Negosiasi buat apa?" tanya Arini bingung.
"Soal gue sama cewek gue-lah," jawab Sean ketus. "Gue akan kasih lo uang sebagai tutup mulut, lo minta berapa pun akan gue kasih?" menyerahkan buku cek.
Arini pun melihat buku cek itu, lalu menyodorkannya pada Sean. "Aku gak butuh uang kamu, aku lebih baik bekerja susah payah daripada harus menerima uang dari hasil tutup mulut."
Mental Ardan seperti tertusuk tombak dengan jawaban Arini, jaman sekarang masih ada orang yang gak mau uang secara gratis tanpa susah payah. Selama ini ia sering memberikan uang pada seseorang secara cuma-cuma sebagai tutup mulut.
__ADS_1
"Tanpa kamu kasih uang, aku juga tidak akan mengatakan pada khalayak tentang kamu dengan pasanganmu. Itu bukan urusan aku," sambung Arini lagi.
"Aku cuma minta, jangan pernah ganggu aku lagi!" Setelah mengatakan itu, Arini keluar dari mobil Sean dan mengambil sepedanya yang tergeletak di pinggir jalan. Ia pun mengayuh sepedanya, meninggalkan Sean yang membeku di dalam mobil.