
"Ya ampun, capek banget!" gerutu Arini sambil memijat leher belakangnya. "Laper lagi."
Arini yang baru saja selesai mandi pun menuju dapur, ia mencari sesuatu yang dapat mengganjal perutnya yang lapar.
"Syukurlah masih ada mie instan!" ucap Arini. Ia pun mulai memasak mie instan tersebut.
Tidak butuh waktu lama, mie instannya pun sudah jadi. Arini ingin segera membawa semangkuk mie instannya itu ke dalam kamar. Tapi tiba-tiba ketukan pintu terdengar, membuat perempuan itu menghentikan langkahnya.
Arini berusaha menebak siapa yang bertamu tengah malam begini. "Siapa ya? Apa Aliya? Tapi bukannya tadi dia bilang mau menginap di rumah teman kuliahnya?"
Perempuan yang masih menggunakan handuk di kepalanya itu pun perlahan mendekati pintu, sedikit ia membuka tirai jendela, sayangnya ia tidak terlalu jelas melihat karena penerangannya redup. Ketukan itu terdengar lagi, membuat Arini terlonjak kaget. Bulu kuduknya merinding. Takut? Tentu saja perempuan itu takut. Bagaimana dia tidak takut, tengah malam begini ada seseorang yang mengetuk pintu.
Dengan penuh keyakinan, Arini memutar kunci pintu dan perlahan membuka pintu. Ia memberanikan diri untuk melihat langsung siapa yang datang. Saat pintu terbuka, sosok laki-laki tinggi dengan hoodie hitam muncul di hadapannya. Mata laki-laki itu terlihat merah dan sembab, ia pun membuka kupluk hoodie–nya. Tubuh Arini yang tadi bergetar ketakutan pun, berubah jadi tegang karena bingung.
"Boleh aku masuk!" ucap laki-laki itu dengan suara bergetar.
Arini tidak menjawab, ia begong seperti orang bodoh.
Tanpa menunggu jawaban dari Arini, laki-laki itu pun menerobos masuk ke dalam rumah Arini. "Sampai kapan mau berdiri disitu?" tanya laki-laki itu, yang membuat Arini tersadar dan menghampiri laki-laki itu dengan wajah kesalnya.
"Mau apa kamu kesini? Dan juga tahu darimana kamu rumahku?" tanya Arini sambil menyilangkan tangannya didada.
"Mudah untuk gue nemuin lo," jawab laki-laki itu yang ternyata adalah Sean. "Boleh gak sebentar aja gue disini?" tanya Sean.
Arini yang melihat raut wajah Sean sedang tidak baik-baik saja pun mengiyakannya.
Kasian juga laki-laki nyebelin ini,
Arini pun pergi ke dapur, ia berniat ingin membuatkan coklat hangat untuk laki-laki itu. Walaupun laki-laki itu sangat menyebalkan bagi Arini, tapi ia juga merasa kasihan.
Arini menghampiri Sean dengan membawa segelas coklat hangat dan semangkuk mie instan yang dibuatnya tadi. "Nih ...! Aku buatkan ...." Arini tiba-tiba terdiam karena Sean langsung merebut mie instan yang ada di tangannya. Perempuan itu mengedipkan matanya berkali-kali, lalu ia duduk dengan sedikit menghentakkan kakinya.
"Thank's, tau banget kalo gue laper?" ucap Sean tanpa menghiraukan Arini melongo tidak percaya.
"Ha ... itu 'kan mie instan ku, mana tinggal satu itu aja lagi. Dasar laki-laki gak tahu diri!" batin Arini.
Arini pun hanya bisa meneguk salivanya ketika Sean dengan lahap memakan mie instan miliknya.
__ADS_1
Menyebalkan!!
Heeekkk ...
Sean dengan santainya bersendawa keras di depan Arini. Lalu laki-laki itu mengambil coklat hangat di depannya. Sedangkan Arini, hanya menatap cuek tingkah laki-laki yang tidak tahu malu itu.
"Lo gak mau tanya gue kenapa gitu?" tanya Sean membuka suara.
"Enggak mau dan gak ingin tahu!" jawab Arini ketus.
"Gitu banget lo sama temen sendiri," ucap Sean dengan wajah yang kini sedikit membaik.
"Temen? Heh, mana ada yang mau temenan sama orang yang gak tahu diri!" sindir Arini.
"Gue gak peduli lo mau ngomong apa? Pokoknya gue mau cerita sama lo tentang kegalauan hati gue," seru Sean.
Sean memulai ceritanya dengan panjang bahkan kali lebar, ia bercerita bahwa kekasih yang sangat ia cintai bertunangan dengan kakaknya. Ia dan kekasihnya terpaksa menjalin hubungan secara diam-diam karena orangtua sang kekasih tidak menyutujui Sean sebagai seorang penyanyi. Sang kekasih pun akhirnya dijodohkan dengan kakak Sean, yaitu Ardan. Namun, ia tidak mengatakan pada Arini bahwa kakaknya bernama Ardan orang yang selama ini ingin Arini temui.
Sean sama sekali tidak mengetahui bahwa perempuan yang ada di depannya ini adalah istri dari sang kakak. Sean dan Ardan memang mempunyai hubungan yang jauh, ditambah lagi Ardan yang sekarang sangat berubah dari yang sebelumnya.
"Aku?" menunjuk dirinya.
"Lo sih gak mau bantuin gue kemarin!" tambah Sean lagi.
"Itu 'kan urusan kamu, kenapa menyalahkan aku?" jawab Arini.
"Andai aja kemarin lo bantuin gue, mungkin cewek gue gak bakalan tunangan sama kakak gue," ucap Sean lirih. Hati Sean terasa sesak saat kemarin ia melihat sang pujaan hati bertunangan dengan kakaknya, Sean pun tidak mau melihat secara dekat acara itu, ia hanya memandang dari kejauhan.
"Cinta itu tidak harus dapat digapai, cukup mencintai dalam diam saja rasanya sudah lebih dari cukup," ujar Arini.
"Lo punya pacar?" tanya Sean pada Arini.
Arini sontak terkejut dengan pertanyaan Sean. "Ti–tidak," jawab Arini gugup.
"Nah itu," —menunjuk ke arah cincin yang melingkar di jari manis Arini— "Lo udah nikah?"
Arini dengan sigap menyembunyikan tangannya ke belakang. "I–ini cuma cincin pemberian dari ibuku," jawab Arini kembali gugup. Perempuan itu tiba-tiba teringat oleh sosok yang sangat ingin ia temui, selalu ada rasa sakit saat mengingat laki-laki itu.
__ADS_1
"Nama lo siapa sih?" tanya Sean.
"Gak perlu tahu."
"Sama nama aja pelit lo!"
"Biarin," jawab Arini singkat. "Pulang sana!" usir Arini.
"Gak mau, gue mau tidur di sini aja," jawab Sean sambil merebahkan tubuhnya pada kursi.
"Tidak boleh!" jawab Arini tegas. "Disini hanya ada aku dan adikku, apa kata tetangga jika ada seorang pria menginap di kostan perempuan?"
"Iya-iya, gue pulang!" jawab Sean.
Sean pun berdiri, ia hendak keluar dari pintu. Namun telinganya mendengar sesuatu.
Kkrrukk ...
Ternyata dari perut ini cewek, kasihan juga.
Suara perut dari Arini berbunyi dengan nyaring, membuat wajah Arini bersemu merah karena malu.
Sean menatap Arini, ia hendak berucap tapi Arini keburu mendorong tubuhnya untuk ke luar dari kostan–nya. Mau tidak mau Sean pun ke luar.
Setelah Sean benar-benar pergi, Arini mengutuki dirinya sendiri.
"Aduh ... malu, kenapa harus bunyi sih?" sambil menggosok perut kurusnya.
Perempuan itu kembali ke dapur, ia tengah mencari sesuatu yang dapat dimakan sebagai pengganjal perut. Akhirnya Arini hanya menemukan satu buah timun, ia pun mau tidak mau memakan timun tersebut.
Selesainya, ia pergi ke kamar.
Huuff ...
Arini menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur yang kecil itu, lalu ia mengangkat tangan kanannya, dimana cincin pernikahannya bersama Ardan masih ia kenakan. Ia juga mengambil gambaran dari wajah laki-laki itu yang ia gambar sendiri di dalam laci.
Aku sangat merindukanmu, Ardan.
__ADS_1