
Malam itu, entah mengapa Arini sulit sekali memejamkan kedua matanya. Gadis itu hanya membalik-balikan tubuhnya saja. Ada rasa tidak tenang dalam hatinya karena beberapa hari ini Ardan tidak menghubunginya lagi.
Kenapa beberapa hari ini sulit sekali untuk tidur?
Arini pun bangun, ia mengambil ponsel yang berada di atas nakas. Dilihatnya ponsel itu, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Pantas saja Rizky tertidur sangat pulas.
Gadis itu pun pergi keluar kamar, ia berniat ingin ke kamar Ardan yang berada di sebelah kamarnya untuk meminjam salah satu buku milik pemuda itu.
Memasuki kamar itu, ia menyalakan lampu dan menuju rak buku yang ada di ujung. Dilihatnya buku-buku yang berjejer rapi itu, kebanyakan buku milik Ardan menggunakan bahasa asing. Arini yang tidak mengerti bahasa asing pun hanya melihat-lihat sampulnya saja. Namun saat melihat satu buku berwarna merah tua, ia merasa penasaran dengan buku itu. Ia pun mengambilnya dan mulai membaca buku itu sambil duduk di sofa dekat jendela.
Tak berselang lama, rasa kantuk mulai menyerang kedua matanya. Tapi gadis itu berusaha untuk menahan rasa kantuknya, karena buku yang tengah ia baca itu sangatlah menarik menurutnya.
"Ayolah ... jangan mengantuk dulu! Baru juga separuh bab aku bacanya," gumam Arini.
Namun ia sudah tidak kuasa menahan rasa kantuknya, dan pada akhirnya gadis itu tertidur juga dengan buku di dadanya.
Pagi hari, saat gadis itu berusaha membuka matanya, ia merasa ada yang berbeda. Ia mencium aroma parfum yang tidak asing baginya.
Kenapa aku ada di tempat tidur? Bukankah tadi malam aku tertidur di sofa. Lalu siapa yang memindahkanku ke tempat tidur?
Arini pun membulatkan matanya dengan sempurna dan berusaha untuk bangun, tapi ada sesuatu yang menindihi tubuhnya.
Bukankah ini aroma parfum yang sering di pakai pemuda mesum itu?
Gadis itu pun perlahan menoleh ke arah sesuatu yang menindihi tubuhnya itu.
Aaagghh ...
Arini berteriak sekaligus berkejut, bagaimana tidak? Sesuatu yang menindihinya itu ternyata adalah tangan besar milik Ardan. Pemuda itu dengan posesifnya memeluk tubuh Arini. Gadis itu segera menutup mulutnya, takut akan membangunkan pemuda yang tidur di sampingnya itu.
__ADS_1
Bagaimana dia ada di sini? Dan mengapa juga dia tidur di sampingku? Haahh ... jangan-jangan dia sudah–
Gadis itu buru-buru melihat kondisi pakaiannya, betapa lega hatinya saat melihat kondisi pakaian yang ia kenakan masih utuh dan tidak terbuka.
Huuff ... syukurlah!!
Arini segera berusaha menyingkirkan tangan besar itu dari pinggangnya dengan sangat hati-hati.
Memangnya berapa berat tangan pemuda ini? Mengapa berat sekali,
"Mengapa berisik sekali? Aku masih sangat mengantuk. Tidurlah!"
Suara khas Ardan mengagetkan Arini yang masih berusaha menyingkirkan tangan pemuda itu. Arini berhenti sejenak, lalu ia berusaha kembali untuk bangun. Tapi tubuhnya malah di tarik oleh Ardan, menyebabkan tubuhnya menindihi tubuh pemuda itu.
"Jangan banyak bergerak!" kata Ardan dengan masih menutup matanya.
Arini menatap nanar wajah yang ada di hadapannya itu lalu tersenyum simpul. Ada rasa bahagia saat melihat wajah pemuda yang ia rindukan itu. Ternyata lebih tampan.
Merasa pelukan Ardan sedikit meregang di tubuhnya, Arini pun berusaha untuk bangun. Dan setelah berhasil lepas dari pelukan Ardan, Arini pun bergegas ke luar dari kamar itu untuk menuju kamarnya bersama Rizky.
Sampai di kamarnya, Arini merasa sangat lega karena bisa keluar dari kamar pemuda yang kini ia sebut dengan mesum itu.
"Mbak Arini, kenapa?" tanya Rizky yang baru saja bangun.
Arini pun menghampiri Rizky. "Gak papa, kamu kenapa baru bangun? Ini sudah hampir jam 7."
"Ini 'kan hari Minggu, Mbak"
"Oohh iya, Mbak lupa" jawab Arini dengan wajah bodohnya.
__ADS_1
"Mbak Arini tadi malam tidur dimana? Rizky kok gak lihat Mbak Arini waktu mau ke kamar mandi."
"M–mbak ketiduran di luar, ya ketiduran di luar"
"Oohh... kenapa tidur di luar?"
"Udahlah, Ki jangan banyak tanya, cepat mandi! Tempat tidurnya mau Mbak bersihin."
"Iya, Mbak iya"
Rizky pun beranjak dari tempat tidurnya dan ingin menuju kamar mandi.
"Ki, bentar!" kata Arini menahan Rizky yang akan menuju kamar mandi.
"Ada apa lagi, Mbak? Tadi di suruh cepat-cepat mandi."
"Ini..., emm itu.... Apa–apa kamu tahu kalau Kak Ardan tadi malam pulang?" tanya Arini dengan gagap.
"Kak Ardan pulang, Mbak? Yeess... aku bisa main dan jalan-jalan sama Kak Ardan."
"Eeehh... gak bisa! Kak Ardan masih tidur."
"Ya nunggu Kak Ardan bangunlah,"
"Gak boleh!!"
"Kenapa? Mbak Arini cemburu ya..?" ejek Rizky, lalu berlari ke kamar mandi.
"Rizky, awas kamu ya..!!" teriak Arini.
__ADS_1