
Buk ... Buk ...
Sebuah batu besar menghantam kepala para pria yang ingin menangkap Arini dan Rizky.
"Ayo cepat masuk ke mobil!" ujar pria itu sambil menunjuk mobil yang berhenti di seberang.
Arini dibantu dengan Rizky berusaha berlari menuju mobil itu, sedangkan pria yang menolong tadi tengah baku hantam dengan para pria yang mengejar Arini.
"Ayo cepat masuk!" ucap wanita yang ada di dalam mobil itu.
Seorang gadis turun dan membantu Rizky membopong tubuh Arini yang sudah hampir kehilangan kesadaran karena tembakan di kakinya.
"Papa mereka sudah ada di mobil, ayo cepat!" ucap wanita berbaju ungu terang itu. Pria yang dipanggil Papa itu berlari menuju mobilnya yang dikendarai sang istri dengan kondisi yang babak belur.
"Woii ... berhenti!" teriak pria yang mengejar Arini tadi.
"Ma, kita harus ke rumah sakit terdekat sekarang! Gadis itu hampir kehabisan darah," ucap pria itu.
Telinga Arini sayup-sayup mendengar perbincangan mereka, matanya sudah tidak sanggup untuk terbuka lagi. Akhirnya, Arini pingsan di dalam mobil orang-orang yang menolong Arini dan Rizky itu.
"Hiks ... hiks ... Mbak Arini bangun, jangan tinggalin Kiki!" isak Rizky.
"Dek, jangan nangis! Kakak kamu gak papa kok," ucap gadis di samping Arini berusaha menenangkan Rizky.
Mobil berwarna putih itu sampai di sebuah rumah sakit yang tidak terlalu besar, Arini segera di bawa oleh para perawan untuk pertolongan pertama.
Keluarga yang menolong Arini bersama Rizky mengikuti perawat itu.
"Mbak Arini, hiks ... hiks ...." Rizky terus menerus terisak, ia sangat takut kehilangan anggota keluarga satu-satunya.
"Sayang, udah ya jangan nangis! Kakak kamu udah diobati kok," ujar wanita yang menolong tadi. "Nama kamu siapa?" tanya wanita itu.
"Nama saya Rizky," jawab Rizky.
"Rizky, kamu tenang ya!"
Pria dan seorang gadis yang menolong mereka pun datang, rupanya pria itu habis saja mengobati memar dan luka di wajahnya akibat berkelahi tadi.
"Papa gak apa-apa 'kan?" tanya sang istri.
"Papa baik-baik saja. Bagaimana kondisi anak tadi?"
__ADS_1
"Masih belum selesai, Pa. Kita tunggu aja!"
Seorang dokter yang mengobati Arini pun akhirnya keluar, dia mengatakan kondisi Arini baik-baik saja da peluru yang ada dikakinya juga sudah diambil. Kini Arini sedang berada dalam masih pingsan karena obat bius.
"Terimakasih banyak, Dokter," ucap wanita yang ternyata bernama Denia itu.
Mereka pun masuk ruangan rawat untuk melihat kondisi Arini.
"Kita tunggu dia sampai besok sadar, untuk sementara kita menginap di hotel dekat sini saja," kata suami Denia.
"Iya, Pa"
Keluarga berhati bak malaikat itu pun membawa serta Rizky untuk menginap di hotel. Mereka tidak tega dengan kakak beradik itu. Kala itu keluarga Denia tengah melintasi jalan raya, mereka habis berlibur di kota Surabaya dan ingin pulang. Namun diperjalanan mereka melihat Rizky yang tengah membopong Arini dengan susah payah, mereka juga tengaj dikejar oleh beberapa pria bertubuh besar. Aliya, putri Denia yang melihat itu pun merasa kasihan. Ia menyuruh sang ayah untuk menolong Arini dan Rizky. Dan untunglah mereka dapat tertolong dan berhasil membawa kakak beradik itu pergi.
Kesokan harinya, Arini sudah tersadar dari pengaruh obat bius. Arini begitu terharu dengan pertolongan keluarga Denia. Ia sangat berterimakasih, dan ia juga menjelaskan siapa dirinya dan juga kenapa dia sampai tertembak.
Mendengar cerita pilu dari Arini, Denia berniat mengajak Arini ke Jakarta. Awalnya Arini tidak setuju, namun setelah berfikir lagi Arini pun mau diajak oleh Denia pergi ke Jakarta.
Mungkin di Jakarta aku dapat bertemu dengan Ardan, dan aku akan minta penjelasan darinya.
***
Flashback On.
Ardan tidak menjawab, ia masih memandang tajam ke arah Arini yang juga menatap Ardan dan Elsa.
Arini tidak tahu apa hubungan mereka, tapi yang jelas Arini mengetahui bahwa wanita yang disamping Ardan itu adalah kekasih rahasia dari laki-laki yang selalu mengganggunya. Rasa cemburu tentu saja merasuki hati Arini. Dia jelas masih istri sah dari laki-laki itu, bahkan dirinya baru saja di setubuhi secara paksa oleh Ardan, namun sepertinya gelar istri itu akan hilang darinya. Melihat kenyataan bahwa Ardan hanya membalas dendam pada dirinya, Arini berusaha menghilangkan rasa cemburu itu.
Terkadang orang yang sering menyakitimu adalah orang yang paling kamu cintai.
Arini berlalu pergi dengan rasa sakit yang teramat sakit, ia tidak mau melihat sesuatu yang menambah sakit hatinya. Berkali-kali ia menarik nafas untuk menahan air matanya yang akan jatuh.
"Baby, siapa sih parempuan itu?" tanya Elsa. Sebenarnya ia tahu siapa Arini, namun yang menjadi pertanyaannya mengapa dia ada di ruangan Ardan. Ditambah lagi penampilan Arini yang sedikit berantakan seperti habis diperkosa.
"Jawab dong?"
"DIAM!" teriak Ardan pada Elsa. "Keluar dari ruanganku sekarang, sebelum robek mulutmu!" usir Ardan dengan wajahnya yang memerah karena marah.
Elsa ketakutan, ia baru kali ini melihat Ardan marah seperti kerasukan iblis. Elsa pun buru-buru pergi, ia tidak mau menambah kemarahan Ardan.
Aarrgghh ...
__ADS_1
Ardan berteriak sambil memukul meja dengan keras.
Dilain sisi, Arini yang baru saja keluar dari ruangan Ardan bertemu dengan Mirae yang sedari tadi menunggu.
"Arini!"
Tanpa banyak kata dan pertanyaan, Mirae langsung memeluk Arini. Ia tahu apa yang baru saja terjadi pada sang sahabat.
"Kamu perempuan yang kuat, Arini," ucap Mirae.
Arini diam tidak menjawab.
"Pergilah terlebih dahulu, Arini, aku akan menyusul nanti!" sambil melepas pelukannya pada Arini.
Ketika Arini akan melangkah pergi, tiba-tiba rambut Arini yang dikuncir kuda itu ditarik oleh Elsa dari belakang. Arini terkejut, lalu ia berbalik badan.
"Apa yang kau lakukan tadi didalam dengan calon suamiku, heh?" tanya Elsa dengan tetap menjambak rambut Arini.
Mirae yang melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu pun membela, ia menghempaskan kasar tangan Elsa.
"Eh, Elsa frozen. Jangan macam-macam dengan sahabatku!" bela Mirae.
"Berani sekali kau pada calon istri boss-mu, kau akan dipecat setelah ini!" balas Elsa.
"Sebelum dipecat aku juga sudah mengundurkan diri," jawab Mirae dengan sinis.
"Mirae, sudahlah!" sahut Arini.
"Dan kau, jika aku mengetahui hubunganmu dengan calon suamiku, akan kubuat kau menderita!" ancam Elsa.
Arini menyeringai. "Lalu bagaimana kalau calon suamimu itu tahu kalau kau berselingkuh?"
Elsa terdiam, ia baru ingat kalau tempo lalu Arini mengetahui hubungannya dengan Sean. Namun Arini tidak mengetahui kalau Sean adalah adik Ardan.
"Kau!" Elsa hendak melayangkan tangannya pada pipi Arini.
"Ingin menamparku? Silahkan!" sahut Arini. Setelah mengucapkan itu, Arini pergi meninggalkan Elsa yang kesal.
"Berani-beraninya dia denganku?" gumam Elsa.
Sedangkan Mirae yang melihat kekesalan Elsa pun tersenyum menang.
__ADS_1
"Kena mental, lo!" ejek Mirae.
Elsa pun akhirnya juga pergi, sedangkan Mirae kembali ke meja kerjanya.