Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Kegugupan Seorang Ardan Daviez


__ADS_3

Beberapa kali Ardan meraba kasur, mencari sosok gadis yang tadi tidur bersamanya. Ia pun perlahan membuka matanya sambil menggeliat.


Hoahmm ...


"Aku sampai tidak sadar kalau gadis itu sudah pergi"


Pemuda itu pun bangkit dari tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi.


Selesai kegiatan mandinya, Ardan berniat untuk mencari Arini.


"Mia, kemana Arini?" tanya Ardan pada Mia yang sibuk membersihkan kaca.


"Tuan Ardan, kapan Anda pulang?" tanya Mia yang terkejut dengan kedatangan Ardan.


"Tadi malam. Dimana Arini?"


"Nona Arini pergi," jawab Mia.


"Pergi? Pergi kemana?" sahut Ardan dengan kaget.


"Pergi ke pasar, Tuan."


"Huuff ... kirain pergi kemana?" gumam Ardan. "Kenapa dia yang pergi ke pasar, bukan kamu? Aku bayar kamu untuk jagain dia."


"Tadi saya lagi sibuk, Tuan. Makanya saya gak dibolehin ikut. Maaf, Tuan"


"Ya ya ya ...." Ardan pun pergi berniat untuk menyusul Arini. Tapi ketika ia hendak berlenggang, Arini muncul bersama Rizky.


"Kamu dari mana?" tanya Ardan.


"Kamu gak liat aku bawa apa?" jawab Arini ketus.


"Galak banget ..." celetuk Ardan.


Arini yang mendengar celetukan Ardan hanya berlalu menuju dapur tanpa menghiraukan pemuda itu. Ardan pun ingin mengikuti Arini menuju dapur, tapi di tahan oleh Rizky.


"Kak Ardan, ayo main game bareng Kiki! Kiki udah jago main gamenya," celoteh Rizky.


"Oke, ayo!!"


Ardan pun mengurungkan niatnya mengikuti Arini, ia memilih untuk bermain game bersama Rizky.


"Tuan," panggil Mr.Park yang baru datang.


Ardan yang mendengar Mr.Park memanggilnya pun menghentikan aktivitasnya bermain game bersama Rizky.


"Brother, main sendiri dulu ya?"


"Iya, Kak Ardan"


Ardan dan Mr.Park berjalan menuju kamar miliknya yang berada di lantai atas.


"Bagaimana Mr.Park, apa sudah beres semuanya?"

__ADS_1


"Sudah, Tuan. Anda hanya perlu bersiap-siap. Mereka akan datang jam 11 siang nanti." jawab Mr.Park.


"Sekarang masih jam 9, berarti masih ada waktu dua jam untuk mempersiapkannya," kata Ardan sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Baiklah Mr.Park, setelah ini suruh Mia untuk menyiapkan Arini untukku!!"


"Baik, Tuan. Tapi apakah Anda tidak menunggu persetujuan dari Nona dulu, Tuan?"


"Tidak perlu!"


"Baiklah kalau seperti itu, saya akan mempersiapkan semuanya, Tuan"


"Iya, terimakasih banyak Mr.Park"


"Sama-sama, Tuan. Sudah kewajiban saya untuk melayani Anda. Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan."


Mr.Park pun keluar dari kamar Ardan.


Di meja makan Arini dan Mia tengah menyiapkan makanan untuk sarapan.


"Mia!" panggil Mr.Park.


Mia pun menoleh ketika namanya di panggil. "Ada apa, Mr.Park?"


"Bisa kita bicara sebentar?"


"Tentu bisa," jawab Mia. "Nona Arini, saya tinggal sebentar ya?"


"Iya, Mbak Mia"


"Nona, bisakah ikut saya sebentar saja?" ucap Mia.


"Kemana Mbak Mia?" tanya Arini bingung.


"Ke suatu tempat, Nona."


"Tapi kita ' kan mau sarapan, Mbak Mia"


"Hanya sebentar, Nona" kata Mia seraya menyeret tangan Arini.


Di dalam mobil, Arini hanya diam dengan beribu pertanyaan dihatinya.


"Kita mau kemana sih, Mbak Mia?"


"Nona nanti akan tahu sendiri kok"


Arini pun mengangguk mengerti.


Berhentilah mobil berwarna hitam itu di sebuah salon kecantikan sekaligus butik yang sangat mewah tersebut.


Mia dan juga Arini pun turun dan mulai memasuki tempat tersebut.


"Mbak Mia, kenapa kita ke sini?" bisik Arini pada Mia.

__ADS_1


"Ya mau dandanin, Nona dong."


"Aku gak mau didandani, Mbak Mia!!"


"Ini perintah dari Tuan Ardan, Nona Arini"


"Apa?"


Mia pun hanya tersenyum melihat reaksi Arini yang terkejut.


Menuju resepsionis, Arini dan Mia sudah di tunggu oleh seorang wanita cantik berpakaian rapi.


"Selamat pagi menjelang siang, perkenalkan nama Jessica pemilik salon dan butik di sini." seraya tersenyum dan mengulurkan tangan kepada Arini dan Mia.


"Terimakasih, Bu Jessica. Ini seseorang yang di bilang Tuan saya tadi" sambil mendorong pelan bahu Arini.


"Oh ini ya..., mari ikut saya Nona cantik!" ajak wanita itu.


"Ayo Non, ikuti Bu Jessica!!"


"Tapi..., kamu??"


"Nanti saya menyusul, Nona"


**


Di villa milik Ardan, beberapa orang tengah sibuk menyiapkan sesuatu. Di sana ada Danuarto beserta istri dan anaknya Mirae. Mereka tengah menunggu kedatangan Arini.


Ardan yang tengah berada di kamar sendirian merasa sangat gugup, ia berulang kali mengucapkan sesuatu di depan cermin. Rasa gugup ini melebihi saat dia sedang rapat dengan klien–nya dan juga saat persentasi di depan dosennya dulu saat masih kuliah.


"Tuan...!" panggil Mr.Park yang tiba-tiba muncul, membuat Ardan terlonjak.


"Mr.Park, kau mengagetkanku saja"


"Maaf, Tuan. Tadi saya mengetuk pintu, tapi tidak di jawab oleh Anda, jadi saya masuk saja" jelas Mr.Park.


"Aku sangat gugup, Mr.Park" ucap Ardan.


"Santai saja, Tuan. Buatlah rileks pikiran Anda. Saya yakin Anda pasti bisa" ucap Mr.Park menyemangati boss–nya.


"Huuff... apa kau dulu juga gugup?"


"Tentu saja, Tuan, semua pria akan merasa gugup ketika menghadapi saat-saat seperti ini" ungkap Mr.Park.


"Apa semuanya sudah siap?"


"Sudah, Tuan. Nona Arini 15 menit lagi juga akan tiba" jelasnya.


"Huufff... baiklah, sebentar lagi aku akan turun"


"Baik Tuan"


Setelah itu, Mr.Park pun keluar dari kamar Ardan. Sedangkan pemuda berkemeja putih itu, tetap berusaha menenangkan kegugupannya.

__ADS_1


Tuhan... berkati aku!!!


Ia pun juga segera keluar kamarnya menuju lantai bawah.


__ADS_2