
"Hai ... Ardan, kamu lupa ya, aku 'kan sekretaris kamu sekarang?"
Ardan sedikit tersentak dengan ucapan seorang wanita yang ada di depannya itu. Sebenarnya tidak ada masalah dengan kehadiran wanita bernama Elsa yang akan menjadi sekretarisnya itu, karena dia juga teman masa kecil Ardan. Namun di hati pemuda itu terselip rasa yang kurang nyaman. Bodohnya dia yang lupa membaca terlebih dahulu data sekretaris baru yang akan bekerja di tempatnya.
Ardan pun pasrah sambil menarik nafas panjang. "Kau rupanya sekretaris baruku? Ada apa?"
"Aku hanya ingin memberikan berkas yang aku kerjakan tadi,"
"Ooh... terimakasih"
"Kau tidak ingin mengajakku berbicara terlebih dahulu, Ardan? Kita 'kan sudah lama tidak bertemu?"
"Panggil aku boss! Karena aku adalah boss–mu dan kau bawahanku," kata Ardan dingin. "Pergilah! Aku sedang sibuk"
Wanita itu pun pergi dengan hati yang kecewa, ia merasa teracuhkan oleh Ardan. Ia sudah berusaha untuk mendekati Ardan, bahkan ia ikut dalam seleksi sekretaris baru agar bisa dekat dengan Ardan, yang mana harus bersaing ketat dengan para calon sekretaris yang lain.
Aku tidak boleh menyerah terlebih dahulu, masih banyak cara untuk mendekatinya.
***
Seperti itu lah hubungan jarak jauh yang di jalani Ardan dan Arini selama 5 bulan ini. Lewat media hanphone–lah mereka dapat melepas rindu. Kesibukkan yang Ardan jalani membuat dia harus ekstra sabar menahan rindu yang selalu membuat dia ingin bertemu dengan sang pemilik hatinya.
Begitu juga dengan gadis datar itu, tapi ia terlalu gengsi untuk mengatakan rindu. Ia lebih memilih untuk mendiamkan rasa rindunya terhadap Ardan.
Sore ini, Arini dan Rizky berniat untuk mengunjungi makam keluarganya bersama dengan Mia. Jarak makam dengan villa memang sedikit jauh, tapi mereka bertiga memilih untuk berjalan kaki sambil menikmati pemandangan sekitar di sore hari.
Sampai di pemakaman tempat ayah, ibu dan kakaknya, Arini berdoa sambil menabur bunga di atas makam tersebut. Ada rasa sesak dan menyesal di dalam hati gadis itu. Saat pemakaman ibunya, ia tidak ikut untuk mengantar ke tempat peristirahatan terakhir ibunya. Hatinya sudah tidak mampu untuk menyaksikan kepergian orang yang amat ia sayangi untuk yang ketiga kalinya.
"Ibu, Bapak, Kak Alda, maafin Arini. Arini masih belum bisa menjadi orang yang berguna bagi kalian," ungkap gadis itu menahan air matanya.
__ADS_1
"Arini akan selalu berdoa untuk kalian semua agar ditempatkan di tempat yang indah"
"Arini dan Rizky pulang dulu ya, Buk, Pak, Kak. Aku dan Rizky akan lebih sering mengunjungi kalian"
"Ayo, Ki kita pulang! Udah mulai mau senja" ajak Arini pada Rizky.
"Iya, Mbak"
Arini dan Rizky pun meninggalkan ketiga makam yang berjejer itu. Mereka pun menghampiri Mia yang sedari tadi menunggu.
"Sudah, Non?" tanya Mia.
"Sudah, Mbak Mia."
"Ya udah... pulang yuk! Dari tadi aku merinding nungguin di sini," ucap Mia sambil bergidik ngeri.
"Biarin, kamu sendiri juga takut 'kan?" sahut Mia.
"Enggak dong..., aku sering kok ke sini sama Mbak Arini"
Arini hanya tersenyum mendengar berdebatan Rizky dan Mia.
Tidak terasa perjalanan mereka sudah hampir dekat dengan villa, kaki Arini terhenti sejenak ketika melihat batu berukuran cukup besar yang berada tidak jauh dari ia berdiri. Batu besar itu mengingatkan dia tentang pertemuan pertamanya dengan Ardan untuk pertama kalinya. Di batu besar itulah saat dirinya tengah menggambar wajah sang ayah di buku miliknya dan sosok Ardan yang datang secara tiba-tiba mengagetkannya.
Mengingat itu, Arini tersenyum tipis. Tidak dipungkiri, dirinya juga sangat merindukan pemuda itu. Meskipun pemuda itu sering menggodanya dengan kata-kata ambigu bagi dirinya yang tidak mengerti. Sesaat, ia teringat dengan perkataan terakhir yang ibunya katakan. Ia harus menemukan maksud dari perkataan ibunya tentang kematian ayah dan kakaknya dulu yang disebabkan oleh keluarga Daviez.
Aku akan menanyakannya ketika Ardan menghubungiku nanti, tapi untuk saat ini mungkin dia tidak bisa menghubungiku, karena dia bilang dia sedang ada di Jepang.
Arini tersadar ketika bahunya ditepuk oleh Mia yang sedari tadi merasa heran pada majikannya yang berdiri sambil melamun.
__ADS_1
"Nona Arini!" panggil wanita itu.
"Ada apa, Mbak Mia?" tanyanya kebingungan.
"Kok ada apa? Ayo pulang, kok malah melamun di sini? Kesambet loh nanti"
"Oohh... iya-iya, maaf Mbak Mia"
Sampai di villa, Arini langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Ketika selesai mandi, ponselnya berbunyi. Gadis itu cepat-cepat mengambilnya dan melihat panggilan video itu bertuliskan 'Ardan', ia pun menekan tombol hijau.
"Kau bilang, kau tidak bisa menghubungiku karena ada di Jepang?"
Bukannya menjawab, mata Ardan terfokus pada belahan dada Arini yang terlihat karena gadis itu baru selesai mandi dan hanya menggunakan kimono berwarna putih.
Arini yang menyadari tatapan Ardan bukan pada wajahnya melainkan pada belahan dadanya yang sedikit terbuka, langsung menutup tubuh bagian atasnya dengan bantal.
"Kenapa ditutup? Aku ingin melihatnya lebih lama!"
"Dasar mesum!" tukas Arini dengan wajah merah, antara marah dan malu.
"Maaf, Honey. Aku khilaf, karena kamu sangat seksi dengan seperti itu. Aku harap saat malam pertama nanti kamu akan lebih terlihat seksi daripada itu, hehhe"
"Kalau menghubungiku hanya untuk membahas kemesumanmu itu, lebih baik aku matikan"
Tut... tut...
Sambungan video itu pun dimatikan oleh Arini, gadis itu sangat kesal dengan otak mesum Ardan yang selalu muncul dalam perdebatan mereka.
Menyebalkan sekali pemuda itu. Dibalik sifat humble–nya ternyata ada pikiran mesum yang bersarang di otaknya.
__ADS_1