Penjara Masalalu

Penjara Masalalu
Sakitnya Rizky


__ADS_3

Sampai di rumah sakit, Rizky segera diperiksa oleh dokter. Sementara ini, dokter menjelaskan pada Arini bahwa kondisi Rizky lemah dan perlu perawatan yang intens, karena selain deman yang tinggi, lebam di tubuh Rizky itu juga penyebab kondisinya lemah.


"Kamu sebenarnya kenapa, Ki?" gumam Arini. Ia menggenggam erat tangan keponakannya itu.


Karena hari sudah larut malam, Arini pun tidur dengan posisi duduk di samping ranjang Rizky.


Saat alam sadar Arini baru saja menuju mimpi, suatu gerakan yang kuat membangunkannya. Seketika Arini langsung terbangun dan membuka matanya, ternyata gerakan kuat itu berasal dari Rizky yang kejang-kejang berteriak seperti orang yang ketakutan.


Arrgghhh .... PERGI! JANGAN GANGGU AKU! ... Arrgghh ... Rizky berteriak dengan sangat histeris, membuat Arini ketakutan jika terjadi apa-apa pada Rizky. "Kiki!"


Sontak Arini berlari keluar ruangan untuk mencari suster, untung saja ada suster yang tengah berjaga.


"Suster!" panggil Arini seraya berlari mengejar suster itu.


Suster itu menghentikan langkahnya. "Ada apa, Nona?"


"Tolong adik saya, Suster, dia kejang-kejang!" ucap Arini dengan panik.


"Baik, Nona, saya akan segera memanggil dokter." Suster itu pun pergi memanggil dokter, sedangkan Arini kembali ke ruangan tempat Rizky di rawat.


Selang beberapa menit, suster datang bersama dengan dokter. Dokter segera memeriksa kondisi Rizky yang masih kejang itu dan menyuntikkan obat penenang. Perlahan tubuh Rizky pun mulai tenang, Arini sedikit lega melihatnya.


"Adik saya kenapa, Dok?" tanya Arini.


"Mari saya jelaskan di ruangan saya!" balas Dokter itu.


Arini pun mengikuti dokter ke ruangannya. Di sana, dokter menjelaskan jika Rizky mengalami sedikit gangguan pada mentalnya. Ada trauma mendalam yang mengakibatkan anak itu mengamuk disertai kejang. Mendapat penjelasan itu, Arini begitu shock. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Rizky mempunyai trauma, selama yang ia lihat Rizky baik-baik saja dan bersikap normal.


"Apa adik Anda pernah mengalami kejadian yang membuat ia trauma? Misalnya seperti mengalami kecelakaan atau biasanya mendapat pembulian di sekolahnya?" tanya Dokter itu pada Arini.


"Setahu saya, adik saya tidak pernah mengalami kecelakaan ataupun pembulian," jawab Arini.


"Kalo lebam di tubuhnya?" Dokter itu kembali bertanya.


"Saya juga tidak tahu, Dok?"


"Bagaimana Anda tidak tahu, Anda 'kan kakaknya? Harusnya Anda lebih protektif pada adik Anda yang masih remaja?" Dokter itu berkata sedikit menyindir Arini.

__ADS_1


"Maaf, Dokter," sahut Arini.


"Haaah .... Baiklah, adik Anda saat ini harus di periksa secara mendalam mengenai mentalnya. Saya akan memeriksanya kembali besok. Oh iya, saya akan menyuruh suster untuk memindahkan adik Anda ke ruangan yang lebih memadai," jelas Dokter itu.


"Apa biaya pemeriksaannya mahal, Dok?"


"Sekitar 10 sampai 15 juta."


Arini terkejut.


Darimana aku dapat uang 15 juta? Uang di rekeningku hanya 3 juta.


Setelah itu, ia berpamitan pada dokter, kali ini Arini kembali berfikir tentang biaya ruangan baru yang akan digunakan Rizky. Biayanya sangat mahal, ruangan yang ditempati sekarang saja belum ia bayar.


Arini pun kembali ke ruangan Rizky, ia melihat sang adik yang terbaring. Ada rasa penyesalan di hati Arini, karena ia tidak bisa menjaga Rizky dengan baik.


"Maafin Mbak ya, Ki!" ucap Arini sembari mengelus tangan sang adik.


"Darimana aku dapat uang sebanyak itu?" gumam Arini sambil berfikir.


"Bagaimana kalau aku meminjam uang dari Bu Denia? Tapi ... toko bunganya 'kan sedang sepi,"


"Kenapa gak diangkat juga?" gerutu Arini. Ia pun melihat jam dinding yang ada di ruangan itu. Pantas saja dari tadi Mirae tidak membalas chat maupun teleponnya, karena jam masih menunjukkan jam 3 pagi.


"Permisi, Nona!"


Seorang suster tiba-tiba datang mengagetkan Arini.


"Ada apa, Suster?" tanya Arini.


"Anda harus segera melunasi biaya ruangan ini dan juga ruangan baru yang akan segera dipakai adik Anda!" ucap Suster itu.


"Baik, Suster." Arini pun berlalu menuju resepsionis.


Sampai di sana, Arini di tolak karena uang yang dimiliki Arini tidak cukup untuk membayar semua administrasi perawatan Rizky. Arini dengan lemas duduk di kursi ruang tunggu.


"Aku harus meminjam dimana uang 15 juta?" gumam Arini. Saat ia tidak sengaja mendengar sebuah lagu yang sedang diputar oleh salah satu Suster, ia mengenal suara itu. Tiba-tiba ia teringat oleh seseorang yag bisa ia mintai bantuan.

__ADS_1


"Dimitri?" Arini cepat-cepat mengambil ponsel di sakunya. Ia berniat menghubungi laki-laki itu. Tuhan kali berpihak padanya, sambungang telepon dari Arini akhirnya diangkat oleh Sean.


Dengan nada menyebalkannya Sean menjawab, "Jam segini ngapain telepon gue? Butuh kehangatan lo?"


Arini sebenarnya sangat malas berurusan dengan Sean, selain laki-laki itu menyebalkan, otaknya juga sedikit tidak beres alias mesum. Tapi Arini mencoba bersabar demi kesembuhan Rizky.


Huuff ...


"Apa kamu sudah pulang?" tanya Arini ragu-ragu.


"Ini udah mau pulang, kenapa?" sahut Sean.


"Apa aku boleh meminta gajiku terlebih dahulu?"


"Kerja aja baru dapat satu hari, mau minta gaji duluan? Buat apa emangnya?" Sean bertanya sedikit penasaran.


"Adikku ada di rumah sakit, tabunganku gak cukup buat bayar pengobatannya," ucap Arini lirih.


"Lo sekarang dimana?"


"Di rumah sakit Permata Kasih," jawab Arini.


"Lo tunggu di sana!" ujar Sean


Sambungan telepon pun dimatikan oleh Sean. Laki-laki itu segera meluncur ke rumah sakit yang dikatakan Arini. Sebenarnya Sean saat ini Sean belum selesai dengan syutting-nya. Ia berbohong pada Arini, kemungkinan jika Arini yang menelepon dirinya terlebih dahulu perempuan itu pasti butuh bantuan, tebak Sean. Hati laki-laki itu entah mengapa ingin selalu membantu Arini dan melindungi perempuan malang itu.


Sekitar 1 jam Arini menunggu, akhirnya Sean pun datang. Laki-laki itu langsung menghampiri Arini yang tengah duduk menunggunya di ruang tunggu.


"Lama ya?" ucap Sean.


Arini menggelengkan kepalanya. Ia sedikit malu pada Sean, karena sudah lancang meminta bantuan pada laki-laki itu.


"Nih!" Sean menyerahkan kartu ajaibnya pada Arini. "Password-nya *******."


"Apa gak ada uang cash?" tanya Arini.


"Gue gak bawa. Udah sana bayarin administrasinya!" Sean mendorong pelan tubuh Arini.

__ADS_1


Selesai membayar semua administrasi, Arini dan Sean pun menuju tempat Rizky di rawat. Kali ini Sean tidak menutupi wajahnya dengan masker ataupun topi, ia sudah bodo amat dengan orang-orang sekitar yang melihatnya bersama Arini.


Arini merasa sedikit lega karena Rizky sudah dipindahkan ke tempat yang lebih memadai. Namun dia juga masih khawatir dengan pemeriksaan yang akan dilakukan besok, ia takut jika Rizky benar-benar memiliki trauma yang mendalam.


__ADS_2