
Di villa, Arini sedang menemani Rizky belajar. Tiba-tiba suara bel berbunyi.
"Mbak, di depan kayaknya ada tamu," seru Rizky pada Arini yang tengah mengambil minum.
"Coba kamu liat, Ki!" sahut Arini dari dapur.
Rizky pun berjalan menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Pintu terbuka, menampakkan seorang wanita cantik memakai kacamata hitam.
Rizky yang melihat wanita itu bingung, karena dia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya.
"Tante siapa?" tanya Rizky.
Wanita itu melemparkan senyum. "Arini ada?"
Rizky menganggukan kepalanya. "Tapi, Tante gak boleh masuk, kata Mbak Arini gak boleh menerima tamu yang tidak dikenal."
Lalu wanita itu tersenyum lagi. "Aku tidak akan menyakiti kakakmu, aku janji. Bisa kau panggilkan kakakmu," kata wanita itu.
Rizky yang polos itu pun menyuruh wanita itu menunggu, sedangkan dirinya berlari untuk memanggil sang kakak.
"Mbak, Mbak Arini!" teriak Rizky.
"Ada apa, Ki?" tanya Arini
"Mbak, di depan ada orang yang cariin Mbak"
"Siapa?"
"Emm... Gak tau!"
"Kok gak tau, Mbak 'kan udah bilang kalo ada orang yang gak kamu kenal gak usah disuruh masuk!" kata Arini sambil berjalan menghampiri wanita itu.
"Aku suruh dia tunggu di luar kok, Mbak," jawab Rizky sambil mengikuti Arini.
"Ya udah, kamu lanjutin belajarnya sana!"
Arini penasaran siapa yang dimaksud dengan Rizky, Arini sampai di depan pintu. Di sana sudah ada wanita yang dikatakan Rizky menunggu.
"Maaf, Anda cari siapa?" tanya Arini, yang mana langsung membuat wanita itu menoleh.
__ADS_1
Wanita itu pun melepas kacamata hitamnya, lalu menghampiri Arini.
"Aku sedang mencarimu, bolehkah aku masuk?" kata wanita itu.
Arini dengan ragu mengangguk dan menyuruh wanita itu untuk duduk.
Arini merasa tidak asing dengan wanita itu, sepertinya dia pernah bertemu wanita di depannya itu, tapi entah dimana.
"Kau pasti bingung, ya, siapa aku?" tanya wanita berbaju coklat itu.
"Sepertinya saya pernah melihat, Anda?" kata Arini sambil berfikir.
"Memang, kau pernah melihatku saat kesalahfahaman di rumahmu tempo hari," jawab wanita yang ternyata Mayang itu.
Arini baru sadar, ia pernah melihat wanita itu saat dirinya difitnah melakukan hal tidak senonoh di rumahnya dulu.
Arini seketika itu langsung berdiri. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arini dengan wajah merah.
Mayang seketika memeluk Arini. "Maafkan aku, Arini, maaf!"
Arini terdiam dengan pelukan Mayang, ia menahan tangisnya.
Mayang lalu mengajak Arini untuk duduk di sofa. "Kamu tau, Tante ini siapa?"
Arini bergeming.
"Tante adalah adik ibu kamu, Rahmi," kata wanita itu.
Arini melototkan matanya, ia terkejut. "Jangan coba-coba Anda membohongi saya!" kata Arini tegas.
"Tante tidak bohong, Tante bawa bukti kalau Tante memang adik ibu kamu." seraya mengambil sesuatu dari tasnya.
"Ini, ini adalah foto kecil Tante dan juga ibu kamu, dan juga ini adalah nenek dan kakekmu." memperlihatkannya pada Arini.
Arini menatap foto itu dengan seksama, memang itu adalah foto masa kecil sang ibu. Dulu, Rahmi pernah memperlihatkannya pada Arini dan juga Alda, ketika mereka masih kecil. Foto itu memang sama. Tidak heran saat kesalahfahaman itu terjadi, Arini melihat kemiripan di wajah Mayang.
"Maafkan, Tante. Saat itu Tante memang salah, Tante terlalu mendahulukan ego Tante," jelas Mayang terisak.
Arini tetap diam, tidak menjawab.
__ADS_1
"Mari kita perbaiki, Arini. Tante benar-benar menyesal," ucap Mayang menunduk.
Tiba-tiba tangan Mayang di genggam oleh Arini, Mayang pun menatap keponakannya itu dengan mata sembab.
"Semua sudah terjadi, Tante. Untuk menyesal pun tidak ada gunanya. Aku akan berusaha memaafkan Tante, selagi Tante tulus," ucap Arini.
Lalu Mayang langsung membawa Arini ke dalam pelukannya. Wanita itu benar-benar menyesali perbuatannya.
Mayang pun melepas pelukannya. "Arini, bagaimana kalau kamu dan Rizky ikut Tante?" ajak Mayang.
"Ikut kemana?"
"Tinggal bersama, Tante. Tante khawatir jika kamu tinggal sendirian di sini," ucap Mayang.
"Tidak apa, Tante. Aku di sini tinggal bersama Rizky dan juga pelayan," jawab Arini.
"Bukan masalah itu, Sayang, tapi... Tante khawatir kalau Maria menemuimu dan menyiksamu," ucap Mayang.
"Siapa Maria?" tanya Arini.
"Maria itu nenek dari suamimu, dialah orang yang menghancurkan keluarga kita, membunuh ayah dan kakakmu."
"APA?" Arini begitu terkejut. "Apa maksud, Tante?"
"Maria menaruh dendam pada ibumu, dia menghancurkan segala yang berkaitan dengan Kak Rahmi," ucap Mayang menjelaskan.
Arini terdiam kembali, ia mengerti sekarang, mengapa waktu itu ibunya melarang hubungannya dengan Ardan. Apa kesalahan sang ibu yang sebenarnya pada keluarga Daviez, sehingga Maria sangat membenci keluarganya?
"Apa sebenarnya yang dilakukan ibu pada keluarga Daviez?" tanya Arini dengan suara yang bergetar.
"Kak Rahmi waktu itu meninggalkan Jooniean ayah dari suamimu, di saat acara pernikahan mereka," jawab Mayang.
"Kejadian itu membuat keluarga Daviez malu dan hampir mengalami kebangkrutan dan yang lebih membuat Maria sedih, suaminya meninggal."
"Pantas Maria sangat membenci ibu," ucap Arini pelan.
Tapi, kenapa dia melibatkan ayah dan Kak Alda? Tidak kah dia mempunyai rasa kasihan?
Arini terdiam sejenak, entah apa yang dia rasakan sekarang. Hatinya begitu kalut, hatinya begitu sakit. Tuhan terus menerus memberikan dia cobaan, baru saja dia merasa bahagia karena menikah dengan Ardan, dan sekarang dia harus menelan hal pahit tentang konflik keluarganya dan juga sang suami.
__ADS_1
Dapatkah dia bertahan bersama Ardan? atau malah Ardan akan melepaskannya?