
Jam makan siang tiba, Ardan pun menutup laptopnya. Ia pun keluar ruangan untuk menemui Mr.Park yang berada di mejanya.
"Mau makan siang dulu, Tuan?" tanya Mr.Park.
"Tidak usah, Mr.Park, kita berangkat langsung berangkat saja"
Ardan dan Mr.Park pun segera pergi ke restoran Blue Sky untuk menemui pemilik perusahaan elektronik.
Sampainya di sana, mereka berdua di sambut oleh manager restoran itu dan di antar ke ruangan vvip yang sudah disiapkan sebelumnya oleh pemilik perusahaan elektronik.
Memasuki ruangan yang tertutup itu, Ardan dan Mr.Park merasa heran, karena ada tiga orang bodyguard yang berjaga di sana.
"Tuan, kenapa harus ada bodyguard di sini?" bisi Mr.Park.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Kau harus bersiaga!"
"Siap, Tuan"
Seorang laki-laki paruh baya datang dan memberi salam. "Selamat siang, Tuan Muda Ardan dan asisten. Silakan duduk!" ucap laki-laki itu.
Ardan pun duduk dengan Mr.Park yang tetap berdiri di sampingnya dengan siaga.
"Terimakasih telah meluangkan waktu untuk bertemu saya selaku juru bicara perusahaan Elektron," ucap laki-laki itu lagi.
"Ya, tidak masalah."
"Tanpa basa-basi, pemilik sah perusahaan Elektron ingin bertemu Anda secara pribadi"
"Pemilik sah?" Ardan merasa tidak paham dengan yang diucapkan laki-laki paruh baya itu, bukannya laki-laki di depannya itulah pemiliknya?
Seseorang perlahan memasuki ruangan itu dengan menggunakan topi dan syal yang hampir menutupi seluruh wajahnya.
__ADS_1
Mr.Park yang melihat itu, diam-diam tangan kirinya mengambil sesuatu di balik saku jasnya. Ardan yang menyadari gerak-gerik Mr.Park pun melayangkan tangannya di udara.
Seseorang itupun duduk tepat di depan Ardan dengan jarak yang cukup jauh. Ia perlahan membuka topi dan syal–nya sambil berbisik pada laki-laki paruh baya di sampingnya, "Suruh orang-orangmu dan asisten itu untuk meninggalkan aku berdua dengan pemuda ini!"
"Baik," jawab laki-laki itu. Ia pun mengisyaratkan kepada ketiga bodyguardnya untuk meninggalkan ruangan itu, termasuk Mr.Park. Pria bertubuh besar itu dengan berat hati meninggalkan boss–nya.
Kini di ruangan itu hanya tertinggal seseorang misterius itu dan juga Ardan.
Seseorang yang misterius itu pun menampakkan wajahnya. "Salam kenal, Tuan Mudan Ardan"
"Apa sebenarnya tujuanmu?" tanya Ardan tanpa basa-basi.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu secara pribadi," jawab seseorang yang ternyata itu adalah seorang wanita. "Apa kau tidak merasa mengenalku sebelumnya?"
"Tidak, dan aku tidak ingin mengenalmu"
"Hhmm seperti itu ya, tapi aku sudah pernah melihatmu di desa **** bersama seorang gadis bernama Arini," kata wanita itu.
"Aaaa... tentu saja aku penggemar beratmu," jawabnya sambil melapas jaket tebal yang menutupi tubuhnya. "Oohh salah bukan dirimu, lebih tepatnya nenekmu Maria Ozar."
"Ada hubungan apa nenekku dan dirimu?" tanya Ardan penasaran, namun ia berusaha untuk tetap tenang.
"Aku dan nenekmu adalah sahabat sekaligus musuh," kata wanita itu. "Kau ingin tahu sebenarnya aku siapa? Aku adalah Mayang Prameswari, adik kandung Rahmi Pratiwi ibu dari Arini Elina putri"
Mendengar nama Arini, Ardan sedikit terkejut. Siapa sebenarnya keluarga Arini?
"Kau tahu beberapa tahun lalu, perusahaan milik keluargaku di ambil alih oleh nenekmu yang tidak punya hati itu. Dia–dia telah membuat keluargaku hancur, sampai kedua orangtuaku meninggal." ungkap wanita itu sambil terisak.
"Gadis yang kau nikahi siri itu adalah keponakanku, akulah yang menyebabkan kalian berdua menikah siri di desa ****" sambungya.
Ardan yang mendengar itu, mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Tujuanku menjebakmu dan Arini agar kalian berdua menjadi dekat dan jatuh cinta, dan setelah itu aku akan memanfaatkan kepolosan Arini untuk menghancurkan keluarga Daviez" kata Mayang sambil terus menangis.
Ardan pun dengan langkah yang cepat mendekati Mayang dan mencekik leher wanita itu, sampai wanita itu kesulitan untuk bernafas.
"Apa kau tidak punya hati, heh? Mengorbankan anak dari kakakmu sendiri untuk kepentingan pribadimu?" pekik Ardan.
"I... ni... se..mua.. gara...gara... ne..nek tua... mu.." jawab Mayang terbata-bata karena tangan Ardan yang masih mencekiknya dengan kuat.
"Oma?" Ardan pun perlahan melepaskan tangannya dari leher wanita itu. "Apa maksudmu? Kenapa kau selalu melibatkan nenekku?"
Uhuk... uhukk...
"Suatu saat kau akan mengetahui semuanya."
Uhuk... uhukk...
"Aku hanya minta, buatlah Arini bahagia! Akan ada seseorang yang akan membuat hidupnya penuh dengan kesedihan"
"A–ku minta maaf telah menjebakmu dan Arini waktu itu, dan aku mohon tetap rahasiakan aku sebagai pemilik sah perusahaan mendiang suamiku ini," ucap wanita itu dengan wajah yang masih memerah.
Ardan terpaku tanpa berkata sedikitpun, apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya dan keluarga Arini? Mengapa serumit ini?
Mayang pun berlalu pergi sambil memegangi lehernya yang masih terasa sakit akibat cekikan dari Ardan.
Beberapa tahun ini, hidup wanita berumur 38 tahun itu juga penuh kepedihan. Sang suami meninggalkannya saat sedang dalam kondisi hamil, penyebab kematian suaminya tidak lain adalah Maria Ozar. Wanita tua itu akan membalas kepada siapa saja yang menyangkut nama Rahmi, sebegitu dendamnya wanita itu pada Rahmi. Bahkan orang-orang yang tidak bersalah pun akan ikut dalam incarannya.
Selama ini Mayang berpura-pura berpihak pada Maria demi untuk melindungi anaknya yang ia sebunyikan di suatu tempat. Sedangkan dengan Arini, awalnya ia akan memanfaatkan gadis itu untuk membalaskan dendamnya. Namun ia mengurungkan niatnya karena merasa tak tega dengan anak kakaknya tersebut. Wanita itu masih memiliki hati nurani terhadap orang-orang yang tidak bersalah.
Saat nanti waktu yang tepat ia akan menjemput Arini dan mengakatakan kebenaran yang selama ini tidak diketahui gadis itu. Sementara ini ia hanya perlu menjalankan perusahaan mendiang suaminya yang hampir bangkrut dengan tetap menyembunyikan identitas aslinya.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" tanya Mr.Park yang sangat khawatir.
__ADS_1
Ardan tersadar, tanpa menjawab ia pun pergi dengan Mr.Park yang mengekor di belakangnya beserta rasa penasaran.