
Arini berlari meninggalkan Denia dan Aliya yang berada di rumah sakit. Ia berinisiatif untuk mencari sendiri keberadaan Rizky, ia yakin Rizky berada di suatu tempat, entah itu dimana.
Dengan masih menggunakan dress yang diberikan Sean, Arini berjalan menyusuri trotoar dengan matahari yang sudah berada di atas kepala. Karena jam makan siang sudah tiba, jalanan mulai ramai oleh kendaraan. Dimana Arini harus mencari Rizky, ia tidak membawa apa-apa, ponsel dan dompetnya ia tinggalkan di rumah sakit. Arini pun hanya seadanya bertanya tentang ciri-ciri Rizky pada orang-orang yang ia temui.
Matahari yang amat terik membuat kepala Arini berdenyut, keringatnya juga mulai mengalir dari pelipisnya. Saat ingin menyeberang di lampu merah, pandangan Arini mulai kabur, matanya juga tidak fokus pada jalanan yang hendak ia lewati. Langkahnya semakin lama semakin melambat . Bersamaan itu, lampu merah sudah mulai berubah menjadi hijau, namun tiba-tiba tubuh Arini ambruk di saat mobil dan motor mulai berjalan. Arini sudah tidak menghiraukan lalu lalang kendaraan yang lewat karena dia pingsan tepat di tengah jalan.
Tiiinnn ...
Klakson dari mobil dan motor mulai bersahutan, tidak ada yang mau menolong Arini yang tengah pinsan itu. Namun satu mobil berhenti, seseorang keluar dari dalamnya. Pengemudi mobil itu langsung menggendong tubuh Arini untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Buka pintunya!" ujar laki-laki itu.
**
Di lain tempat,
Ardan sedang melakukan perjalanan menuju bandara untuk ke luar negeri karena urusan pekerjaan. Saat pandangannya melihat jalanan sekitar, tiba-tiba ia melihat perempuan berbaju putih sedang menunggu lampu merah untuk menyeberang. Lampu merah pun tiba, mobil yang di kendarai Ardan berhenti dan perempuan yang di lihat Ardan itupun mulai berjalan melewati lampu merah. Namun tiba-tiba saja, perempuan yang ternyata Arini itu pingsan di tengah jalan yang dimana lampu hijau sudah menyala.
"Arini?" batin Ardan.
"Kasihan sekali gadis itu gak ada yang nolong!" ucap Asisten Ardan. Lalu ia pun mulai menginjak gas mobilnya.
"Berhenti sebentar!" ucap Ardan pada asistennya.
"Ada apa, Tuan?"
Ardan tak mengiraukan, ia membuka pintu mobil dan berniat ingin menolong Arini yang pingsan. Tapi niatnya itu ia urungkan, karena Arini sudah lebih dulu di tolong oleh laki-laki yang ternyata adiknya sendiri, Sean. Ardan pun kembali masuk ke dalam mobil.
"Apa Anda mengenal gadis itu, Tuan?"
"Tidak," jawab Ardan.
"Tapi dilihat dari reaksinya, sepertinya Tuan mengenal gadis itu?" ucap asisten Ardan bernama Heri itu.
__ADS_1
Mobil pun melanjutkan perjalanan menuju bandara. Hati Ardan terasa nyeri saat melihat Sean menggendong Arini, rasa tidak rela bersarang di hati Ardan. Andaikan laki-laki yang dekat dengan Arini bukanlah Sean, mungkin ia tidak terlalu menghiraukannya. Tapi Sean adalah adiknya, walaupun beda ibu tapi tetap saja Ardan tidak rela.
"Sial!" umpat Ardan dalam hati sambil mengepalkan tangannya.
**
Arini kini sudah berada di apartemen milik Sean, laki-laki itu sengaja tidak membawanya ke rumah sakit atas saran Genta, managernya yang juga ikut bersama Sean saat Arini pingsan.
"Gimana, Bang? Lama banget dokternya datang?" ucap Sean sambil mondar mandir di dekat Arini yang sedang pingsan.
"Sabar kalik, khawatir banget lo sama ni cewek, suka lo?" celoteh Genta.
"Ya–ya enggak lah! Hati gue cuma buat Elsa," sanggah Sean.
Genta kemudian menyebikkan bibirnya. Pria bertubuh kurus itu tidak percaya dengan yang dikatakan oleh Sean. Dari sikapnya saja terlihat sekali jika Sean sangat mengkhawatirkan Arini.
Tidak berselang lama dokter yang dipanggil Genta pun datang, ia langsung saja memeriksa kondisi Arini.
"Gimana, Dok?" tanya Sean tidak sabaran.
"Dia bukan pacar saya," sanggah Arini.
"Oh, maaf kalau begitu. Saya kira cukup, saya akan beri resep obatnya jika dia sudah siuman nanti."
Sean mengangguk, kemudian ia mengantarkan dokter itu untuk keluar dari kamar miliknya.
"Udah?" tanya Genta yang menunggu di luar.
"Udah, nih tebus resep obatnya!" Sean menyuruh Genta tanpa malu sedikit pun.
"Lo bener-bener ya, gak ada sopannya sama manager lu!" protes Genta sambil mengambil kertas dari tangan Sean.
Sean hanya menjulurkan lidahnya, lalu ia masuk ke dalam kamar tepat Arini pingsan.
__ADS_1
"Maaf ya, Dok, dia memang anak durhaka!" ucap Genta.
"Tidak papa, mari saya permisi dulu!"
"Mari saya antar!" Akhirnya Genta pun mengantarkan dokter itu keluar dari apartemen Sean.
Di dalam kamar,
Sean duduk di pinggir ranjang sambil menatap Arini yang pingsan. Laki-laki itu merasa iba dengan kehidupan yang Arini jalani, semuanya dia lakukan sediri tanpa kedua orangtua yang mendukungnya.
"Kasian banget sih lo, cewek datar!" ucap Sean sambil mengusap rambut Arini, perlahan gerakan tangannya menelusuri wajah Arini, sampai akhirnya berhenti di bibir mungil milik Arini. Bibir itu terlihat pucar, namun menggiurkan bagi Sean. Entah karena rayuan setan atau memang Sean sengaja, ia perlahan mendekati wajah Arini. Dilihatnya wajahnya Arini secara dekat, dan penglihatannya berhenti di bibir Arini yang tengah ia pegang. Sedikit demi sedikit Sean mendekatkan bibirnya pada bibir Arini, sampai akhinya Genta sang manager datang mengagetkannya. Sontak Sean terkejut dan langsung menjauh dari Arini.
"Woii ... ngapain lo?" ucap Genta yang memergoki Sean hendak mencium Arini.
"Gu–e gak ngapa-ngapain," jawab Sean dengan gugup.
"Halah, gue tau otak mesum lo," ucap Genta sambil menghampiri Sean. "Lo mau nyabulin asisten lo sendiri, he?" tuduh Genta.
"Si*lan lo! Main nuduh-nuduh aja tanpa bukti, gue laporin lo ke DPR!" bantah Sean.
"Lah terus lo ngapain liatin Arini deket banget?" ucap Genta sambil memasangkan infus pada Arini.
"Gu–e, gue cuma mau selimutin dia," jawab Sean beralasan.
Genta yang mendengar tidak percaya, dia malah menjitak kepala Sean.
"Sakit anj*ng!" pekik Sean.
"Alasan lo! Tuh udah gue pasang infusnya!" ucap Genta sambil berlalu.
"Lo yakin itu bener masangnya?" tanya Sean sambil menyelimuti tubuh Arini. Lalu ia mengikuti Genta keluar kamar.
"Lo ngeremehin keahlian gue sebagai perawat!" balas Genta.
__ADS_1
"Iyalah, lo 'kan gak lulus dari kuliah keperawatan!" ejek Sean.
Kedua sahabat itu terus saja berdebat tentang hal yang tidak penting, seperti itulah mereka. Sean dan Genta memang sahabat dekat, Genta-lah yang membuat Sean menjadi penyanyi terkenal. Dulu, secara tidak sengaja Genta merekam Sean yang tengah menyanyi dengan pianonya, lalu Genta menguploadnya di media sosial dan viral, hingga Sean dilirik oleh agensi besar. Karena wajah yang tampan dan suara yang indah, Sean dengan cepat memuncaki deretan penyanyi terkenal hingga sekarang. Tapi itulah Sean, ia tidak pernah serius dengan profesinya itu. Sering kali ia mendapat teguran dari kepala agensi.